Jumat, 03 April 2020

Sistem Pembelajaran Online dan Alienasi Mahasiswa Kelas Bawah


Ilustrasi dari giphy.com

Sudah dua kali saya melaporkan kegiatan work from home  (WFH) saya ke pihak kampus per hari ini. Setelah ada anjuran untuk WFH demi antisipasi penyebaran Covid-19 dan penyampaian kuliah dilakukan secara daring, saya pribadi mencoba untuk memutar otak tentang metodologi yang paling tepat dan paling memungkinkan untuk kelas yang saya ampu. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan media whatsapp, youtube, juga mendorong mahasiswa untuk browsing. Saya pikir itu sudah paling efisien dan hemat kuota dibanding dengan menggunakan media yang lain semacam google classroom atau zoom

Setelah melewati beberapa kali pertemuan daring, baik saya dan mahasiswa sepertinya sudah mulai bosan. Saya perlu menggunakan metode menjadi teman untuk mereka, tidak hanya sebagai dosen yang bertugas deliver pengetahuan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah selama mereka belajar dari rumah.

"Bagaimana kabarnya hari ini?" saya buka perkuliahan dengan sapaan.

"Bosen bu, ternyata rebahan terlalu lama nggak enak." jawab salah seorang mahasiswa.

"Bosen bu, sampai untuk bilang bosen aja bosen." sambung yang lain.

"Pusing bu, uang jajan dilockdown." timpal mahasiswa yang lain lagi.

Suatu kali saya memindah jadwal kuliah dari yang tadinya siang jam 1 menjadi malam jam 7, dengan pertimbangan supaya lebih efektif. Karena di hari yang sama saya mengajar secara marathon, dan berjam-jam di depan laptop atau gawai membuat saya kelelahan. Mayoritas mahasiswa mengiyakan, dalam bayangan saya saat mereka mengikuti materi secara daring mereka sambil multitasking mengerjakan yang lainnya, bahkan mungkin sambil chatting dengan gebetan atau nyambi jualan online. 

Lalu adasalah  satu mahasiswa yang menjawab "Yah.. kuotanya cuma sampai jam 17.00" kemudian disambut dengan gelak tawa yang lainnya. Bisa jadi itu adalah guyonan, tapi di lain sisi itu juga menjadi fakta keterbatasan sarana bagi mahasiswa tersebut.

Setelah kuliah malam itu, paginya saya buka handphone, mengecek satu persatu pesan yang masuk, termasuk tugas mahasiswa. Untuk tugas saya sudah berusaha seminimalis mungkin tidak memberatkan baik bagi saya yang mengoreksi maupun mahasiswa yang mengerjakan, asal masih dalam substansi materi. Ada satu mahasiswa yang saat itu saya pikir mengirimkan tugas, tapi ternyata tidak. Pesan whatsapp nya yang panjang membuat saya terperangah pagi sekitar 3 hari yang lalu. Kira-kira begini yang disampaikan (saya coba narasikan dalam redaksi saya). 

Ia adalah seorang mahasiswa yang kesulitan mengikuti sistem perkuliahan daring, handphone nya butut dan tidak support untuk banyak metode yang harus disesuaikan dengan berbagai mata kuliah dan tugas dosen yang beragam. Sarana yang lain pun seperti laptop tidak ada (sampai di sini saya pikir ini adalah excuse semata, sebab bisa saja dia ke rental). Lalu dia melanjutkan, bahwa dia adalah tulang punggung keluarga, setiap hari ia berjualan makanan dengan penghasilan Rp 30.000, ibunya yang tadinya masih bekerja harus berhenti bekerja karena merawat adiknya yang sakit. Artinya satu-satunya penghasilan adalah dari dia. Jadi Rp 30.000 per hari itu dia bagi, Rp 20.000 untuk kebutuhan sehari-hari (makan sekeluarga) dan Rp 10.000 untuk ongkos dia berangkat jualan. 

Saya menghela napas. Membayangkan masa-masa kuliah saya dulu yang meskipun pas-pasan tapi tidak harus menopang sebuah keluarga. 

Ia melanjutkan, bahwa sebenarnya bisa saja baginya membeli kuota untuk perkuliahan, tetapi di saat ia harus menghadapi kondisi keluarganya, ia memprioritaskan kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dengan rendah hati dia memohon maaf dan saya yakin ketika mengirimkan pesan itu ke saya, perasaannya berkecamuk antara malu menyampaikan dan rasa sungkan kepada dosennya.

Saya speechless. Ini bukan pertama kali ada yang datang ke saya dengan problemnya, tetapi ini yang paling berusaha untuk mencoba jujur. Pada akhirnya saya memilih untuk mencoba paham dan memberikan ruang pada diri saya untuk kontemplasi. Barangkali ada yang bertanya, lalu apa yang saya lakukan? Saya belum melakukan apa-apa, saya baru memaklumi. Saya masih dalam tahap mencoba berkoordinasi dan mencari tahu latar belakang mahasiswa tersebut. Meskipun ada juga  yang mengatakan "mungkin itu hanya akal-akalan untuk tidak mengerjakan tugas" tapi insting saya sebagai seorang ibu dan perempuan tidak demikian.

Itu baru satu kasus rumit yang menimpa seorang mahasiswa, bayangkan bahwa metode pembelajaran daring yang mendadak ini dilaksanakan di semua lini pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Berapa jumlah kasus yang sama yang mungkin terjadi? Apakah sudah menjadi hitung-hitungan matang pembuat kebijakan? apakah pernah dipertimbangkan bahwa meskipun ditambah kebijakan gratis kuota sebesar sekian giga dari beberapa penyedia jasa seluler tapi ternyata hanya bisa diakses oleh pengunduh aplikasi tertentu dan bahkan hanya bisa diakses oleh kampus-kampus yang bekerjasama dengan operator tersebut?

Dalam hal ini, mahasiswa kelas bawah menjadi kelas yang paling terpinggirkan. Kenyataannya, kemudahan akses teknologi dan informasi memang masih berpihak pada kelas menengah ke atas. "Kemerdekaan belajar" bisa terwujud bagi mereka yang memiliki gadget dengan kapasitas yang memadai. Bagi yang selama ini menggunakan gadget hanya sebatas alat komunikasi seadanya, mustahil mencapai kemerdekaan belajar dalam situasi darurat Covid-19 ini. 

Belum lagi, kebijakan kuliah daring ini diterapkan dengan titi mangsa hingga akhir semester. Polemik berlipat-lipat, bagaimana melakukan ujian yang efektif dan menjangkau semua lini kelas ekonomi? Bagaimana dengan "kerugian" mahasiswa yang harus keluar dua kali lipat secara ekonomi (membayar biaya semesteran sekaligus stock kuota untuk belajar)? Nampaknya ini adalah perkara yang seharusnya turut dipikirkan oleh pembuat kebijakan. Meskipun berkali-kali disampaikan bahwa perkuliahan daring dilaksanakan dengan metode yang fleksibel, faktanya fleksibel ukuran satu dosen dengan dosen yang lainnya berbeda. Fleksibel ukuran satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lainnya berbeda. Bagi mahasiswa kelas bawah tidak ada yang fleksibel kecuali ketika urusan pangan sudah terpenuhi dan jaminan tidak kelaparan bagi keluarganya sudah bisa dipastikan. 

Ini baru satu kasus mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan yang menghadapi masa darurat Covid-19 sekaligus masa darurat pendidikan bagi dirinya. Semoga akan ada kebijakan yang telah diperhitungkan dengan matang perihal ini, yang tidak hanya berfokus pada tujuan pemerintah dalam meningkatkan ranking pembangunan manusia, tetapi juga memanusiakan siapa saja yang berada di atas bumi Indonesia. Semoga.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERI KOMENTAR