Kamis, 09 April 2020

Sisi Romantis IPB?

Pagi ini ada mahasiswi saya mengirimkan sebuah artikel di salah satu portal menulis online. Katanya, Bu, barangkali ibu kangen sama IPB. Lalu saya baca, isinya memang sedikit bucin menceritakan romantisme versi kampus dengan jumlah jam kuliah dan praktikum yang menyita hampir 24/7 aktivitas mahasiswa. Tidak jarang muncul anekdot mengapa mahasiswa IPB banyak yang jomblo, banyak yang nggak sempat ikut aksi, jawabannya karena sibuk mengerjakan tugas kuliah dan praktikum. Atau mengapa banyak banyak alumni IPB yang pada akhirnya menikah dengan alumni IPB juga, sebab tidak sempat jalan-jalan ke kampus lain. Penulis artikel menjelaskan romantis dari perumpamaan-perumpamaan khas IPB, misalnya pendekatan versi anak Fapet (Fakultas Peternakan) dengan cara menemani si dia membersihkan kandang sapi, versi anak Agronomi dengan menggantikan doi mencangkul lahan, versi anak HPT (Hama Penyakit Tanaman) dengan mengikhlaskan koleksi serangga langka untuk gebetan. Duuuh, jadi kebayang masa di mana saya dan kawan-kawan duduk di pelataran laboratorium HPT yang banyak nyamuknya itu untuk mengerjakan tugas yang dikerjakan siang malam tapi tak kunjung tuntas. 

Oh ya, saya bukan anak HPT yang tadi saya ceritakan. Di jurusan saya dulu (S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat), sepertinya makna romantis jauh dari persoalan gebetan dan istilah jomblo atau berpasangan. Yang perempuan memilih untuk jadi pacar mahasiswa jurusan lain, yang laki-laki juga menyasar perempuan di jurusan lain. Itu soal preferensi barangkali. Tetapi bias jadi dipengaruhi oleh kehidupan asrama dan sistem kuliah mayor minor yang diterapkan oleh IPB, jadi meskipun kuliah di KPM, temannya bisa menjangkau seantero IPB. Soal romantisme sebenarnya bukan hanya soal cinta-cintaan. Kampus ini sifatnya macam mertua galak, kalau deket nyebelin, kalau jauh masakannya ngangenin. Keinginan cepat lulus rasanya terlalu membuncah ketika masih kuliah, pas udah lulus eh pengennya ke IPB lagi. Pas udah balik ke IPB lagi, pengennya cepet lulus lagi, gitu aja terus sampai bumi menjadi datar.

Bayangin deh pas lagi baca tulisan ini, meskipun IPB pasti sudah lebih jauh berinovasi, tapi tautan hati dan persepsi pasti masih sesuai dengan tahun kuliah dan lulusnya masing-masing. Mengingat romantisme IPB, saya membayangkan kuliah jam 7 pagi ke wisma pinus, ngomel-ngomel tetapi tetap dijalani karena dosennya galak. Makan di kantin FPIK, beli rujak, habis itu lewat LSI ketemu sama Roger yang nawarin Xonce sama pulsa buat si Cantik dan si Hensem (versi customer Roger). Sambil nunggu kuliah selanjutnya kadang pulang ke kosan sebentar atau ngemper di koridor-koridor kampus  ngerjain makalah yang udah mirip cicilan. Esok harinya kuliah udah agak siang sih tapi di LSI yang hawanya semriwing bau air danau dan hobi saya ngantuk tapi pura-pura tegar takut tiba-tiba ditegur dosen. 

Menjelang akhir semester akan ada turun lapang gabungan beberapa mata kuliah di KPM, ke desa-desa. Naik angkot atau mobil bak. Menikmati romantisme pedesaan, jajan cilok, mie rebus, tidur di rumah warga, ke kali, ke sawah, yang setelah itu kembali lagi dengan romantisme IPB: mengerjakan laporan hasil turun lapang, loka karya, presentasi, revisi, pokoknya terus aja begitu sebelum rektor geserin tali toga di GWW. Versi turun lapang KPM sebenarnya punya romantisme yang nggak terkalahkan, kenal sifat asli teman, tau siapa yang males mandi, tau siapa yang ngintip-ngintip nonton film biru tapi pura-puranya nonton bola, tau siapa yang kentutnya paling kenceng, dan tahu-tahu ada yang cinta lokasi.

Romantisme lain juga soal kuliner IPB yang sampai saat ini bikin saya susah move on. Mungkin ini untuk generasi angkatan saya, apakah sampai hari ini masih ada? Gehu pedas yang terkenal dengan gehu sampah karena jualannya dekat tempat sampah, lumpia basah yang belinya harus ngantri macam ada produk branded yang baru launching, ketoprak bateng yang porsinya besar tapi tetep habis juga, nasi padang dekat berlin yang rasanya biasa aja tapi tetap saya beli kalau baru dapat transferan. Apa lagi? bakso dan mi ayam lesus, mie ayam favorit, es duren depan BNI. Belum ada kantin dan cafĂ© fancy seperti sekarang, romantisme kuliner IPB masa itu adalah tentang warteg, cak joyo, dan bakso gepeng. 

Jika soal romantisme melibatkan perasaan, maka janjian dengan dosen adalah salah satu kejadian paling romantis. Betapa deg-degannya menunggu balasan sms dosen, deg-degan nungguin dosen depan ruangannya, deg-degan hopeless gara-gara studi pustaka dan proposal suruh revisi, deg-degan pas dapat dosen pembimbing killer. Deg-degan lainnya saat kuliah, ada dosen yang yang suaranya lemah lembut dan bikin deg-degan takut ditanya padahal kita nggak denger, ada dosen yang bikin deg-degan suka tiba-tiba nanya. Bahkan teman saya pernah ada yang dianggap tidur padahal dia hanyalah seorang mahasiswa yang punya mata sipit. Romantisnya IPB juga soal nilai, kadang semua diluar rencana. Tugas yang sudah dikerjakan jungkir balik ternyata hanya melahirkan nilai C. C yang memupuskan dapat cumlaude dan tak bisa diulang. 

Waktu tak bisa diulang, tetapi kenangan-kenangan itu tak pernah lekang. IPB tetap menjadi salah satu tempat terbaik tertempanya hidup saya, berkenalan dengan banyak manusia dari seluruh penjuru Indonesia, mengembangkan karir, bersekolah, sampai akhirnya takdir membawa saya pada tempat yang sekarang. Hal-hal baik dari IPB selalu ingin saya terapkan di mana pun, terutama soal etos dan etika bekerja yang luar biasa. 

Selamat bernostalgia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERI KOMENTAR