Rabu, 08 April 2020

Pengalaman Mengikuti Tes SKB Formasi Dosen Kementerian Agama




Setelah pengumuman hasil tes SKD (Seleksi Kemampuan Dasar) penerimaan CPSN Kementerian Agama tahun 2019, ada beberapa teman yang menghubungi saya untuk sharing apa saja yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi SKB (Selesksi Kemampuan Bidang). Well, kalau flash back  masa-masa tes rasanya nano-nano. Jadi singkat cerita, saya ini P2/L dengan doa. Qodarullah karena mungkin jalan rezeki saya jadi ASN jadi saya bisa lewati masa-masa tes itu dengan dagdigdug dan alhamdulillah lulus. P2/L adalah peserta yang sebenarnya secara passing grade tidak melewati jumlah minimum (nilai saya sebenarnya cukup tinggi di tes TIU dan TWK, tetapi kurang 5 poin di TKP). TKP pada tahun 2018 menjadi momok ketidaklulusan. Sebenarnya saya juga sudah hopeless setelah melihat hasil tes yang keluar pada saat itu juga. Waktu itu tesnya di Eldorado Doom, Lembang, hujan deras, jadwal jam setengah 2 siang jadi jam 8 malam. Ternyata pemerintah mengeluarkan aturan perankingan dan saya sebagai P2/L bisa melanjutkan tes SKB.

Tes SKB ini dilakukan di satuan kerja yang kita lamar, saya d IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pertimbangan melamar di sini apa? Salah satunya adalah karena formasi yang sesuai dengan background saya dibuka di sini. Di tempat lain nggak  dibuka? Buka, tapi saya mencari peluang terbesar. Di Cirebon pelamarnya hanya 1, saya seorang, hehehe. Untuk menghadapi SKB saya selalu pantau Instagram kemenag, info sewaktu-waktu bisa muncul di sana. Ikut grup telegram calon dosen kemenag, follow Instagram yang memberikan informasi-informasi terkait SKB dosen, komunikasi dengan teman-teman yang ikut tes SKB juga.

Seingat saya, ada serangkaian tes dalam SKB, dan bisa bermacam-macam teknisnya tergantung yang mewawancara. Pewawancara juga bermacam-macam, ada orang Kanwil, ada pimpinan Ormas, ada Pejabat kampus, dll. Jadi untung-untungan juga sebenarnya, kalau pewawancaranya nggak rewel, hoki.




PSIKOTES

SKB dimulai dengan psikotes, waktu formasi tahun 2018 psikotesnya masih manual, ngerjain di kertas, bulet-buletin macam ujian nasional. Soal-soalnya mirip TIU, logika, ngitung-ngitung, sinonim antonim, Saya cukup percaya diri waktu psikotes ini, selain saya peserta satu-satunya untuk formasi yang saya lamar, saya bisa juga mengerjakannya. Lebih susah saat TIU SKD (mungkin karena saat SKD juga kondisinya crowded). Infonya psikotest tahun ini menggunakan CAT (pakai computer), kalau saat tahun saya karena manual jadi yang diatur tempat duduknya sesuai dengan formasi. Meja yang kita tempati harus sesuai dengan nomor pendaftaran.

Setelah psikotes, diumumkan jadwal wawancara dan micro teaching. Waktunya dibagi menjadi 2 hari karena jumlah peserta banyak. Saya bagian hari terakhir (yang ini sedih lihat pengumumannya, karena harus nambah biaya menginap). Jadwal micro teaching  lebih dulu disbanding wawancara, tapi ada juga yang wawancara lebih dulu tergantung hasil penjadwalan dan nomor urut peserta saat itu.

MICRO TEACHING

Micro Teaching ini semacam praktek mengajar. Mirip dengan mengajar pada umumnya, kita disuruh masuk ke ruangan, berperan seakan-akan sedang mengajar mahasiswa dan disaksikan oleh dua orang reviewer yang merupakan dosen di satuan kerja yang saya lamar. Peran reviewer  adalah menilai kapasitas kita mengajar, sekaligus berperan sebagai mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, juga memberikan pertanyaan terkait teknis.

Untuk micro teaching saya menyiapkan bahan berupa:
  1. Power point materi kuliah, saya ingat waktu itu saya bahas tentang Kemiskinan di Pedesaan. Saya buat power point itu sebagus mungkin. Bahasanya menggunakan Bahasa Indonesia. Mohon maaf tidak bisa share di sini karena materinya sudah hilang beserta laptopnya, hiks. Oh ya, selain dalam bentuk file yang kita tunjukkan saat presentasi, sebaiknya diprint juga untuk diberikan kepada reviewer.
  2. RPS (Rencana Pembelajaran Semester), ini wajib dibuat, sebenarnya nanti reviewer akan tanya apakah kita punya pengalaman membuat silabus pembelajaran atau rencana pembelajaran. Dengan kita sudah menyiapkan RPS sebelumnya, maka saat reviewer bertanya bisa kita langsung tunjukan buktinya. Jangan lupa diprint juga dan diserahkan ke reviewer.
  3.  Sertifikat atau Surat Keterangan pernah mengajar di instansi tertentu. Berdasarkan informasi, sertifikat ini berkontribusi pada penambahan beberapa poin. Jadi saat itu saya kumpulkan semua sertifikat yang pernah saya dapat ketika menjadi Asisten di IPB. Saya fotocopy dan diserahkan kepada reviewer.
  4.  Jurnal yang pernah diterbitkan. Karena tupoksi dosen berhubungan dengan tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdia masyarakat), jadi penting banget nyiapin jurnal yang pernah ditulis dan terbit.  Nggak harus terindeks scoopus juga, yang penting ada bukti kalau kita kompeten sebagai dosen dan pernah nulis. Bisa saja dengan jurnal saat S1 dan S2 atau jurnal lainnya. Waktu itu saya print 2 jurnal dan saya serahkan ke reviewer.
  5.  Buku atau Modul yang pernah ditulis. Ini tidak wajib, tapi jika ada akan lebih baik (mungkin) karena saat saya menyerahkan contoh modul praktikum kuliah yang pernah saya buat, mata reviewer berbinar dan senyum sumringah. 
Selain 5 bahan itu, yang perlu dipersiapkan juga adalah mental. Karena cara reviewer bisa saja berbeda-beda jadi kita harus siap dengan segala macam situasi. Setelah mental, siapkan kemampuan bahasa, waktu itu saya ditanya bisa bahasa apa saja. Lebih baik dijawab apa adanya kemampuan kita, saat itu saya diminta untuk mengajar menggunakan bahasa inggris. Lancar? Mungkin, nggak tahu penilaiannya seperti apa. Ada juga yang diminta mengajar menggunakan bahasa arab. Lalu, siapkan juga jawaban tentang keterampilan teknologi apa yang kita kuasai, termasuk software. Saya ditanya bisa mengoperasikan software apa saja di komputer. Jawabannya ya apa adanya, microsoft office, internet, edit gambar, dan semacamnya. Berapa lama micro teaching? Ada yang lama sampai 30 menit nggak keluar-keluar dari ruangan, saya sekitar 15 menitan waktu itu. 


WAWANCARA

Bagi saya pribadi, ini tahap yang paling menguras energi. Saya dapat sesi terakhir di hari kedua, udah sambil was-was takut nggak keburu tiket kereta pulang. Dapat jadwal ba'da zuhur, dengan 2 pewawancara yang berbeda. Apa saja yang harus dipersiapkan? Jujur untuk wawancara ini susah ditentukan, karena pertanyaan wawancaranya online dan dibacakan oleh pewawancara kemudian dijawab oleh kita. Bahkan pewawancaranya juga tidak tahu pertanyaan apa yang mungkin muncul, tapi polanya sudah ada dan sebenarnya antar peserta meskipun ada perbedaan paling hanya sedikit saja. Sebelum wawancara, kita diminta persiapkan satu bendel sertifikat-sertifikat baik penghargaan, keikutsertaan dalam seminar dan conference, jadi pembicara dll. Semua dijilid. Terus terang ini nggak kepakai banget, tapi siapkan saja dulu. Pewawancara bertanya apakah pernah mengajar sebelumnya, pernah nulis jurnal sebelumnya, pernah ngajar dimana, saat ini bekerja di mana, mengapa mendaftar di satuan kerja yang kita lamar.

Informasi tentang wawancara ini macam-macam, saya sempat belajar tentang apa itu kementerian agama, budaya kerja kementerian agama, siapa menterinya, siapa rektor IAIN syekh nurjati, apa saja fakultasnya, apa saja jurusannya, dan macam-macam yang berhubungan dengan institusi. Termasuk saya persiapkan jawaban paling diplomatis mengapa saya mendaftar formasi yang saya pilih. Dan, tidak ada yang keluar satu pun pertanyaan-pertanyaan itu.

Lalu apa saja yang keluar saat wawancara (case saya dan beberap teman yang satu sesi)?

  1. Dalam wawancara, ada praktik ibadah (sholat), diminta untuk membaca dan menterjemahkan  bacaan doa iftitah. 
  2. Pewawancara membacakan salah satu ayat Al-Qur'an kemudian kita diminta menterjemahkan dan menjelaskan maknanya. Ini sesuai dengan jenis pertanyaan online  yang dibacakan oleh pewawancara.
  3. Peserta diminta membaca Al-Qur'an. 
  4. Peserta diminta menuliskan salah satu ayat dalam Al-Qur'an.
  5. Peserta diminta menjawab pertanyaan perihal radikalisme beragama, kepatuhan terhadap pemimpin, afiliasi ormas (mungkin ini kasuistik karena Kementerian Agama mengedepankan Moderasi Beragama).
  6. Peserta diminta membaca doa qunut (saya tidak hapal dan saya jujur kepada pewawancara karena saya tidak menggunakan doa qunut saat sholat). Untuk doa qunut ini saya sudah menghapal, bisa separuh, tapi saya ternyata tidak bisa memaksakan saat wawancara. Saat saya jujur, pewawancara juga memaklumi.
Mental juga harus disiapkan saat wawancara  karena komentar pewawancara bisa saja ada yng bertujuan untuk menguji mental kita. Khusus pertanyaan terkait dengan radikalisme beragama, pewawancara menggali pengetahuan kita tentang hal tersebut dan kemungkinan adanya afiliasi kita dengan paham radikal. Jika ada indikasi afiliasi dengan paham radikal, kita sudah otomatis tidak lulus (meskipun tidak dikatakan saat itu juga).

Dari proses SKB itu, nilai terkecil saya adalah proses wawancara. Mungkin karena saya tidak menguasain bidang agama, bahasa arab, dan tafsir qur'an. Terus terang yg paling unpredictable adalah wawancara. Ternyata berlaku juga untuk teman-teman yang kebetulan lulusan perguruan tinggi umum.

Alhamdulillah semuanya terlewati  dan saat pengumuman tiba saya lulus dengan baik. Nilai tertinggi saya dapat untuk micro teaching, mungkin karena persiapan saya lengkap.

Untuk teman-teman yang akan SKB, khusunya di formasi dosen di Kementerian Agama, selamat berjuang, semoga sukses. Semoga ulasan ini bisa membantu ya ☺



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERI KOMENTAR