Rabu, 01 April 2020

COVID-19 Dalam Perpspektif Pengembangan Masyarakat Islam

Kondisi Kabah yang kosong karena pandemi Covid-19 (sumber alaraby.co.uk)

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia tidak hanya menjadi persoalan medis namun lebih dari itu menjadi persoalan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Di Indonesia, pandemi ini setidaknya dapat dipahahi melewati tiga fase. Pertama, fase panic (kekagetan) di mana seluruh unsur masyarakat masih merasa tidak percaya bahwa pandemi ini telah masuk ke Indonesia. Pada awal disiarkan bahwa Covid-19 ini merupakan wabah dan kemungkinan ditutupnya berbagai wilayah memunculkan kepanikan masyarakat yang berujung pada panic buying, bombardir informasi hoax, dan kekhawatiran yang berujung pada rasa curiga terhadap interaksi sosial. Kedua, fase darurat kesehatan yaitu saat dirilisnya dua pasien Covid-19 dari Kota Depok yang kemudian diikuti dengan peningkatan jumlah orang terkonfirmasi positif dari hari ke hari. Fase darurat kesehatan berimplikasi pada fokus penanganan di aspek kesehatan, penyediaan fasilitas penanganan, hingga donasi-donasi yang digalang untuk membantu garda terdepan penanggulangan penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini. Ketiga, fase darurat sosial-ekonomi-budaya, ini adalah fase yang krusial sebab dapat dipahami bahwa Indonesia merupakan negara dengan latar belakang ragam masyarakat yang berbeda-beda. Menghadapi fase ini pemerintah muncul dengan gagasan jaring pengaman sosial yang dipersiapkan untuk kelompok keluarga miskin baru yang terdampak Covid-19.

Skenario Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dipilih oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan agar Covid-19 tidak bertransmisi secara masif di wilayah Indonesia. Disadari betul bahwa fase ketiga sangat berkaitan dengan opsi pemerintah yang memilih PSBB. Adanya PSBB sebagai bentuk antisipasi Covid-19 menciptakan dilema di banyak sisi. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, terbatasnya akses untuk kembali ke kampung halaman untuk para migran yang mengadu nasib di wilayah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, munculnya kelompok miskin baru, dan masalah-masalah lain yang menunggu untuk turut diantisipasi. 

Jika berkaca pada fakta kesehatan bahwa kelompok paling rentan dengan kemungkinan fatal menghadapi Covid adalah lansia dan orang dengan penyakit bawaan sebelumnya, maka kelompok paling rentan dengan adanya kebijakan PSBB ini adalah orang miskin. Dampak yang dirasakan oleh orang miskin juga tidak hanya perseorangan tetapi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dan keluarganya. Tidak hanya pada masa darurat Covid-19 ini tetapi juga setelah wabah mereda nantinya.

Setidaknya terdapat dua fokus  yang dibahas dalam tulisan ini yaitu mengenai perubahan sosial yang ditimbulkan dari dampak Covid-19 dan mengukur peran pengembangan masyarakat dalam menghadapi pandemi global tersebut. Perspektif yang digunakan oleh penulis adalah perspektif pengembangan masyarakat sebagai sebuah gagasan yang muncul dalam diskursus keilmuan sebagai bentuk respons terhadap masalah yang dihadapi oleh manusia terutama pada abad 20. Terminologi pengembangan masyarakat dalam perkembangannya merujuk pada sebuah pekerjaan profesional, metode atau pendekatan dalam pengembangan sosial dan ekonomi, komponen dalam kerja pelayanan kemanusiaan, pemikiran dan pendekatan intelektual terhadap dunia, dan aktivitas politik. 

Selengkapnya tulisan bisa diunduh DI SINI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERI KOMENTAR