Kamis, 09 April 2020

Sisi Romantis IPB?

Pagi ini ada mahasiswi saya mengirimkan sebuah artikel di salah satu portal menulis online. Katanya, Bu, barangkali ibu kangen sama IPB. Lalu saya baca, isinya memang sedikit bucin menceritakan romantisme versi kampus dengan jumlah jam kuliah dan praktikum yang menyita hampir 24/7 aktivitas mahasiswa. Tidak jarang muncul anekdot mengapa mahasiswa IPB banyak yang jomblo, banyak yang nggak sempat ikut aksi, jawabannya karena sibuk mengerjakan tugas kuliah dan praktikum. Atau mengapa banyak banyak alumni IPB yang pada akhirnya menikah dengan alumni IPB juga, sebab tidak sempat jalan-jalan ke kampus lain. Penulis artikel menjelaskan romantis dari perumpamaan-perumpamaan khas IPB, misalnya pendekatan versi anak Fapet (Fakultas Peternakan) dengan cara menemani si dia membersihkan kandang sapi, versi anak Agronomi dengan menggantikan doi mencangkul lahan, versi anak HPT (Hama Penyakit Tanaman) dengan mengikhlaskan koleksi serangga langka untuk gebetan. Duuuh, jadi kebayang masa di mana saya dan kawan-kawan duduk di pelataran laboratorium HPT yang banyak nyamuknya itu untuk mengerjakan tugas yang dikerjakan siang malam tapi tak kunjung tuntas. 

Oh ya, saya bukan anak HPT yang tadi saya ceritakan. Di jurusan saya dulu (S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat), sepertinya makna romantis jauh dari persoalan gebetan dan istilah jomblo atau berpasangan. Yang perempuan memilih untuk jadi pacar mahasiswa jurusan lain, yang laki-laki juga menyasar perempuan di jurusan lain. Itu soal preferensi barangkali. Tetapi bias jadi dipengaruhi oleh kehidupan asrama dan sistem kuliah mayor minor yang diterapkan oleh IPB, jadi meskipun kuliah di KPM, temannya bisa menjangkau seantero IPB. Soal romantisme sebenarnya bukan hanya soal cinta-cintaan. Kampus ini sifatnya macam mertua galak, kalau deket nyebelin, kalau jauh masakannya ngangenin. Keinginan cepat lulus rasanya terlalu membuncah ketika masih kuliah, pas udah lulus eh pengennya ke IPB lagi. Pas udah balik ke IPB lagi, pengennya cepet lulus lagi, gitu aja terus sampai bumi menjadi datar.

Bayangin deh pas lagi baca tulisan ini, meskipun IPB pasti sudah lebih jauh berinovasi, tapi tautan hati dan persepsi pasti masih sesuai dengan tahun kuliah dan lulusnya masing-masing. Mengingat romantisme IPB, saya membayangkan kuliah jam 7 pagi ke wisma pinus, ngomel-ngomel tetapi tetap dijalani karena dosennya galak. Makan di kantin FPIK, beli rujak, habis itu lewat LSI ketemu sama Roger yang nawarin Xonce sama pulsa buat si Cantik dan si Hensem (versi customer Roger). Sambil nunggu kuliah selanjutnya kadang pulang ke kosan sebentar atau ngemper di koridor-koridor kampus  ngerjain makalah yang udah mirip cicilan. Esok harinya kuliah udah agak siang sih tapi di LSI yang hawanya semriwing bau air danau dan hobi saya ngantuk tapi pura-pura tegar takut tiba-tiba ditegur dosen. 

Menjelang akhir semester akan ada turun lapang gabungan beberapa mata kuliah di KPM, ke desa-desa. Naik angkot atau mobil bak. Menikmati romantisme pedesaan, jajan cilok, mie rebus, tidur di rumah warga, ke kali, ke sawah, yang setelah itu kembali lagi dengan romantisme IPB: mengerjakan laporan hasil turun lapang, loka karya, presentasi, revisi, pokoknya terus aja begitu sebelum rektor geserin tali toga di GWW. Versi turun lapang KPM sebenarnya punya romantisme yang nggak terkalahkan, kenal sifat asli teman, tau siapa yang males mandi, tau siapa yang ngintip-ngintip nonton film biru tapi pura-puranya nonton bola, tau siapa yang kentutnya paling kenceng, dan tahu-tahu ada yang cinta lokasi.

Romantisme lain juga soal kuliner IPB yang sampai saat ini bikin saya susah move on. Mungkin ini untuk generasi angkatan saya, apakah sampai hari ini masih ada? Gehu pedas yang terkenal dengan gehu sampah karena jualannya dekat tempat sampah, lumpia basah yang belinya harus ngantri macam ada produk branded yang baru launching, ketoprak bateng yang porsinya besar tapi tetep habis juga, nasi padang dekat berlin yang rasanya biasa aja tapi tetap saya beli kalau baru dapat transferan. Apa lagi? bakso dan mi ayam lesus, mie ayam favorit, es duren depan BNI. Belum ada kantin dan cafĂ© fancy seperti sekarang, romantisme kuliner IPB masa itu adalah tentang warteg, cak joyo, dan bakso gepeng. 

Jika soal romantisme melibatkan perasaan, maka janjian dengan dosen adalah salah satu kejadian paling romantis. Betapa deg-degannya menunggu balasan sms dosen, deg-degan nungguin dosen depan ruangannya, deg-degan hopeless gara-gara studi pustaka dan proposal suruh revisi, deg-degan pas dapat dosen pembimbing killer. Deg-degan lainnya saat kuliah, ada dosen yang yang suaranya lemah lembut dan bikin deg-degan takut ditanya padahal kita nggak denger, ada dosen yang bikin deg-degan suka tiba-tiba nanya. Bahkan teman saya pernah ada yang dianggap tidur padahal dia hanyalah seorang mahasiswa yang punya mata sipit. Romantisnya IPB juga soal nilai, kadang semua diluar rencana. Tugas yang sudah dikerjakan jungkir balik ternyata hanya melahirkan nilai C. C yang memupuskan dapat cumlaude dan tak bisa diulang. 

Waktu tak bisa diulang, tetapi kenangan-kenangan itu tak pernah lekang. IPB tetap menjadi salah satu tempat terbaik tertempanya hidup saya, berkenalan dengan banyak manusia dari seluruh penjuru Indonesia, mengembangkan karir, bersekolah, sampai akhirnya takdir membawa saya pada tempat yang sekarang. Hal-hal baik dari IPB selalu ingin saya terapkan di mana pun, terutama soal etos dan etika bekerja yang luar biasa. 

Selamat bernostalgia.

Rabu, 08 April 2020

Pengalaman Mengikuti Tes SKB Formasi Dosen Kementerian Agama




Setelah pengumuman hasil tes SKD (Seleksi Kemampuan Dasar) penerimaan CPSN Kementerian Agama tahun 2019, ada beberapa teman yang menghubungi saya untuk sharing apa saja yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi SKB (Selesksi Kemampuan Bidang). Well, kalau flash back  masa-masa tes rasanya nano-nano. Jadi singkat cerita, saya ini P2/L dengan doa. Qodarullah karena mungkin jalan rezeki saya jadi ASN jadi saya bisa lewati masa-masa tes itu dengan dagdigdug dan alhamdulillah lulus. P2/L adalah peserta yang sebenarnya secara passing grade tidak melewati jumlah minimum (nilai saya sebenarnya cukup tinggi di tes TIU dan TWK, tetapi kurang 5 poin di TKP). TKP pada tahun 2018 menjadi momok ketidaklulusan. Sebenarnya saya juga sudah hopeless setelah melihat hasil tes yang keluar pada saat itu juga. Waktu itu tesnya di Eldorado Doom, Lembang, hujan deras, jadwal jam setengah 2 siang jadi jam 8 malam. Ternyata pemerintah mengeluarkan aturan perankingan dan saya sebagai P2/L bisa melanjutkan tes SKB.

Tes SKB ini dilakukan di satuan kerja yang kita lamar, saya d IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pertimbangan melamar di sini apa? Salah satunya adalah karena formasi yang sesuai dengan background saya dibuka di sini. Di tempat lain nggak  dibuka? Buka, tapi saya mencari peluang terbesar. Di Cirebon pelamarnya hanya 1, saya seorang, hehehe. Untuk menghadapi SKB saya selalu pantau Instagram kemenag, info sewaktu-waktu bisa muncul di sana. Ikut grup telegram calon dosen kemenag, follow Instagram yang memberikan informasi-informasi terkait SKB dosen, komunikasi dengan teman-teman yang ikut tes SKB juga.

Seingat saya, ada serangkaian tes dalam SKB, dan bisa bermacam-macam teknisnya tergantung yang mewawancara. Pewawancara juga bermacam-macam, ada orang Kanwil, ada pimpinan Ormas, ada Pejabat kampus, dll. Jadi untung-untungan juga sebenarnya, kalau pewawancaranya nggak rewel, hoki.




PSIKOTES

SKB dimulai dengan psikotes, waktu formasi tahun 2018 psikotesnya masih manual, ngerjain di kertas, bulet-buletin macam ujian nasional. Soal-soalnya mirip TIU, logika, ngitung-ngitung, sinonim antonim, Saya cukup percaya diri waktu psikotes ini, selain saya peserta satu-satunya untuk formasi yang saya lamar, saya bisa juga mengerjakannya. Lebih susah saat TIU SKD (mungkin karena saat SKD juga kondisinya crowded). Infonya psikotest tahun ini menggunakan CAT (pakai computer), kalau saat tahun saya karena manual jadi yang diatur tempat duduknya sesuai dengan formasi. Meja yang kita tempati harus sesuai dengan nomor pendaftaran.

Setelah psikotes, diumumkan jadwal wawancara dan micro teaching. Waktunya dibagi menjadi 2 hari karena jumlah peserta banyak. Saya bagian hari terakhir (yang ini sedih lihat pengumumannya, karena harus nambah biaya menginap). Jadwal micro teaching  lebih dulu disbanding wawancara, tapi ada juga yang wawancara lebih dulu tergantung hasil penjadwalan dan nomor urut peserta saat itu.

MICRO TEACHING

Micro Teaching ini semacam praktek mengajar. Mirip dengan mengajar pada umumnya, kita disuruh masuk ke ruangan, berperan seakan-akan sedang mengajar mahasiswa dan disaksikan oleh dua orang reviewer yang merupakan dosen di satuan kerja yang saya lamar. Peran reviewer  adalah menilai kapasitas kita mengajar, sekaligus berperan sebagai mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, juga memberikan pertanyaan terkait teknis.

Untuk micro teaching saya menyiapkan bahan berupa:
  1. Power point materi kuliah, saya ingat waktu itu saya bahas tentang Kemiskinan di Pedesaan. Saya buat power point itu sebagus mungkin. Bahasanya menggunakan Bahasa Indonesia. Mohon maaf tidak bisa share di sini karena materinya sudah hilang beserta laptopnya, hiks. Oh ya, selain dalam bentuk file yang kita tunjukkan saat presentasi, sebaiknya diprint juga untuk diberikan kepada reviewer.
  2. RPS (Rencana Pembelajaran Semester), ini wajib dibuat, sebenarnya nanti reviewer akan tanya apakah kita punya pengalaman membuat silabus pembelajaran atau rencana pembelajaran. Dengan kita sudah menyiapkan RPS sebelumnya, maka saat reviewer bertanya bisa kita langsung tunjukan buktinya. Jangan lupa diprint juga dan diserahkan ke reviewer.
  3.  Sertifikat atau Surat Keterangan pernah mengajar di instansi tertentu. Berdasarkan informasi, sertifikat ini berkontribusi pada penambahan beberapa poin. Jadi saat itu saya kumpulkan semua sertifikat yang pernah saya dapat ketika menjadi Asisten di IPB. Saya fotocopy dan diserahkan kepada reviewer.
  4.  Jurnal yang pernah diterbitkan. Karena tupoksi dosen berhubungan dengan tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdia masyarakat), jadi penting banget nyiapin jurnal yang pernah ditulis dan terbit.  Nggak harus terindeks scoopus juga, yang penting ada bukti kalau kita kompeten sebagai dosen dan pernah nulis. Bisa saja dengan jurnal saat S1 dan S2 atau jurnal lainnya. Waktu itu saya print 2 jurnal dan saya serahkan ke reviewer.
  5.  Buku atau Modul yang pernah ditulis. Ini tidak wajib, tapi jika ada akan lebih baik (mungkin) karena saat saya menyerahkan contoh modul praktikum kuliah yang pernah saya buat, mata reviewer berbinar dan senyum sumringah. 
Selain 5 bahan itu, yang perlu dipersiapkan juga adalah mental. Karena cara reviewer bisa saja berbeda-beda jadi kita harus siap dengan segala macam situasi. Setelah mental, siapkan kemampuan bahasa, waktu itu saya ditanya bisa bahasa apa saja. Lebih baik dijawab apa adanya kemampuan kita, saat itu saya diminta untuk mengajar menggunakan bahasa inggris. Lancar? Mungkin, nggak tahu penilaiannya seperti apa. Ada juga yang diminta mengajar menggunakan bahasa arab. Lalu, siapkan juga jawaban tentang keterampilan teknologi apa yang kita kuasai, termasuk software. Saya ditanya bisa mengoperasikan software apa saja di komputer. Jawabannya ya apa adanya, microsoft office, internet, edit gambar, dan semacamnya. Berapa lama micro teaching? Ada yang lama sampai 30 menit nggak keluar-keluar dari ruangan, saya sekitar 15 menitan waktu itu. 


WAWANCARA

Bagi saya pribadi, ini tahap yang paling menguras energi. Saya dapat sesi terakhir di hari kedua, udah sambil was-was takut nggak keburu tiket kereta pulang. Dapat jadwal ba'da zuhur, dengan 2 pewawancara yang berbeda. Apa saja yang harus dipersiapkan? Jujur untuk wawancara ini susah ditentukan, karena pertanyaan wawancaranya online dan dibacakan oleh pewawancara kemudian dijawab oleh kita. Bahkan pewawancaranya juga tidak tahu pertanyaan apa yang mungkin muncul, tapi polanya sudah ada dan sebenarnya antar peserta meskipun ada perbedaan paling hanya sedikit saja. Sebelum wawancara, kita diminta persiapkan satu bendel sertifikat-sertifikat baik penghargaan, keikutsertaan dalam seminar dan conference, jadi pembicara dll. Semua dijilid. Terus terang ini nggak kepakai banget, tapi siapkan saja dulu. Pewawancara bertanya apakah pernah mengajar sebelumnya, pernah nulis jurnal sebelumnya, pernah ngajar dimana, saat ini bekerja di mana, mengapa mendaftar di satuan kerja yang kita lamar.

Informasi tentang wawancara ini macam-macam, saya sempat belajar tentang apa itu kementerian agama, budaya kerja kementerian agama, siapa menterinya, siapa rektor IAIN syekh nurjati, apa saja fakultasnya, apa saja jurusannya, dan macam-macam yang berhubungan dengan institusi. Termasuk saya persiapkan jawaban paling diplomatis mengapa saya mendaftar formasi yang saya pilih. Dan, tidak ada yang keluar satu pun pertanyaan-pertanyaan itu.

Lalu apa saja yang keluar saat wawancara (case saya dan beberap teman yang satu sesi)?

  1. Dalam wawancara, ada praktik ibadah (sholat), diminta untuk membaca dan menterjemahkan  bacaan doa iftitah. 
  2. Pewawancara membacakan salah satu ayat Al-Qur'an kemudian kita diminta menterjemahkan dan menjelaskan maknanya. Ini sesuai dengan jenis pertanyaan online  yang dibacakan oleh pewawancara.
  3. Peserta diminta membaca Al-Qur'an. 
  4. Peserta diminta menuliskan salah satu ayat dalam Al-Qur'an.
  5. Peserta diminta menjawab pertanyaan perihal radikalisme beragama, kepatuhan terhadap pemimpin, afiliasi ormas (mungkin ini kasuistik karena Kementerian Agama mengedepankan Moderasi Beragama).
  6. Peserta diminta membaca doa qunut (saya tidak hapal dan saya jujur kepada pewawancara karena saya tidak menggunakan doa qunut saat sholat). Untuk doa qunut ini saya sudah menghapal, bisa separuh, tapi saya ternyata tidak bisa memaksakan saat wawancara. Saat saya jujur, pewawancara juga memaklumi.
Mental juga harus disiapkan saat wawancara  karena komentar pewawancara bisa saja ada yng bertujuan untuk menguji mental kita. Khusus pertanyaan terkait dengan radikalisme beragama, pewawancara menggali pengetahuan kita tentang hal tersebut dan kemungkinan adanya afiliasi kita dengan paham radikal. Jika ada indikasi afiliasi dengan paham radikal, kita sudah otomatis tidak lulus (meskipun tidak dikatakan saat itu juga).

Dari proses SKB itu, nilai terkecil saya adalah proses wawancara. Mungkin karena saya tidak menguasain bidang agama, bahasa arab, dan tafsir qur'an. Terus terang yg paling unpredictable adalah wawancara. Ternyata berlaku juga untuk teman-teman yang kebetulan lulusan perguruan tinggi umum.

Alhamdulillah semuanya terlewati  dan saat pengumuman tiba saya lulus dengan baik. Nilai tertinggi saya dapat untuk micro teaching, mungkin karena persiapan saya lengkap.

Untuk teman-teman yang akan SKB, khusunya di formasi dosen di Kementerian Agama, selamat berjuang, semoga sukses. Semoga ulasan ini bisa membantu ya ☺



Jumat, 03 April 2020

Sistem Pembelajaran Online dan Alienasi Mahasiswa Kelas Bawah


Ilustrasi dari giphy.com

Sudah dua kali saya melaporkan kegiatan work from home  (WFH) saya ke pihak kampus per hari ini. Setelah ada anjuran untuk WFH demi antisipasi penyebaran Covid-19 dan penyampaian kuliah dilakukan secara daring, saya pribadi mencoba untuk memutar otak tentang metodologi yang paling tepat dan paling memungkinkan untuk kelas yang saya ampu. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan media whatsapp, youtube, juga mendorong mahasiswa untuk browsing. Saya pikir itu sudah paling efisien dan hemat kuota dibanding dengan menggunakan media yang lain semacam google classroom atau zoom

Setelah melewati beberapa kali pertemuan daring, baik saya dan mahasiswa sepertinya sudah mulai bosan. Saya perlu menggunakan metode menjadi teman untuk mereka, tidak hanya sebagai dosen yang bertugas deliver pengetahuan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah selama mereka belajar dari rumah.

"Bagaimana kabarnya hari ini?" saya buka perkuliahan dengan sapaan.

"Bosen bu, ternyata rebahan terlalu lama nggak enak." jawab salah seorang mahasiswa.

"Bosen bu, sampai untuk bilang bosen aja bosen." sambung yang lain.

"Pusing bu, uang jajan dilockdown." timpal mahasiswa yang lain lagi.

Suatu kali saya memindah jadwal kuliah dari yang tadinya siang jam 1 menjadi malam jam 7, dengan pertimbangan supaya lebih efektif. Karena di hari yang sama saya mengajar secara marathon, dan berjam-jam di depan laptop atau gawai membuat saya kelelahan. Mayoritas mahasiswa mengiyakan, dalam bayangan saya saat mereka mengikuti materi secara daring mereka sambil multitasking mengerjakan yang lainnya, bahkan mungkin sambil chatting dengan gebetan atau nyambi jualan online. 

Lalu adasalah  satu mahasiswa yang menjawab "Yah.. kuotanya cuma sampai jam 17.00" kemudian disambut dengan gelak tawa yang lainnya. Bisa jadi itu adalah guyonan, tapi di lain sisi itu juga menjadi fakta keterbatasan sarana bagi mahasiswa tersebut.

Setelah kuliah malam itu, paginya saya buka handphone, mengecek satu persatu pesan yang masuk, termasuk tugas mahasiswa. Untuk tugas saya sudah berusaha seminimalis mungkin tidak memberatkan baik bagi saya yang mengoreksi maupun mahasiswa yang mengerjakan, asal masih dalam substansi materi. Ada satu mahasiswa yang saat itu saya pikir mengirimkan tugas, tapi ternyata tidak. Pesan whatsapp nya yang panjang membuat saya terperangah pagi sekitar 3 hari yang lalu. Kira-kira begini yang disampaikan (saya coba narasikan dalam redaksi saya). 

Ia adalah seorang mahasiswa yang kesulitan mengikuti sistem perkuliahan daring, handphone nya butut dan tidak support untuk banyak metode yang harus disesuaikan dengan berbagai mata kuliah dan tugas dosen yang beragam. Sarana yang lain pun seperti laptop tidak ada (sampai di sini saya pikir ini adalah excuse semata, sebab bisa saja dia ke rental). Lalu dia melanjutkan, bahwa dia adalah tulang punggung keluarga, setiap hari ia berjualan makanan dengan penghasilan Rp 30.000, ibunya yang tadinya masih bekerja harus berhenti bekerja karena merawat adiknya yang sakit. Artinya satu-satunya penghasilan adalah dari dia. Jadi Rp 30.000 per hari itu dia bagi, Rp 20.000 untuk kebutuhan sehari-hari (makan sekeluarga) dan Rp 10.000 untuk ongkos dia berangkat jualan. 

Saya menghela napas. Membayangkan masa-masa kuliah saya dulu yang meskipun pas-pasan tapi tidak harus menopang sebuah keluarga. 

Ia melanjutkan, bahwa sebenarnya bisa saja baginya membeli kuota untuk perkuliahan, tetapi di saat ia harus menghadapi kondisi keluarganya, ia memprioritaskan kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dengan rendah hati dia memohon maaf dan saya yakin ketika mengirimkan pesan itu ke saya, perasaannya berkecamuk antara malu menyampaikan dan rasa sungkan kepada dosennya.

Saya speechless. Ini bukan pertama kali ada yang datang ke saya dengan problemnya, tetapi ini yang paling berusaha untuk mencoba jujur. Pada akhirnya saya memilih untuk mencoba paham dan memberikan ruang pada diri saya untuk kontemplasi. Barangkali ada yang bertanya, lalu apa yang saya lakukan? Saya belum melakukan apa-apa, saya baru memaklumi. Saya masih dalam tahap mencoba berkoordinasi dan mencari tahu latar belakang mahasiswa tersebut. Meskipun ada juga  yang mengatakan "mungkin itu hanya akal-akalan untuk tidak mengerjakan tugas" tapi insting saya sebagai seorang ibu dan perempuan tidak demikian.

Itu baru satu kasus rumit yang menimpa seorang mahasiswa, bayangkan bahwa metode pembelajaran daring yang mendadak ini dilaksanakan di semua lini pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Berapa jumlah kasus yang sama yang mungkin terjadi? Apakah sudah menjadi hitung-hitungan matang pembuat kebijakan? apakah pernah dipertimbangkan bahwa meskipun ditambah kebijakan gratis kuota sebesar sekian giga dari beberapa penyedia jasa seluler tapi ternyata hanya bisa diakses oleh pengunduh aplikasi tertentu dan bahkan hanya bisa diakses oleh kampus-kampus yang bekerjasama dengan operator tersebut?

Dalam hal ini, mahasiswa kelas bawah menjadi kelas yang paling terpinggirkan. Kenyataannya, kemudahan akses teknologi dan informasi memang masih berpihak pada kelas menengah ke atas. "Kemerdekaan belajar" bisa terwujud bagi mereka yang memiliki gadget dengan kapasitas yang memadai. Bagi yang selama ini menggunakan gadget hanya sebatas alat komunikasi seadanya, mustahil mencapai kemerdekaan belajar dalam situasi darurat Covid-19 ini. 

Belum lagi, kebijakan kuliah daring ini diterapkan dengan titi mangsa hingga akhir semester. Polemik berlipat-lipat, bagaimana melakukan ujian yang efektif dan menjangkau semua lini kelas ekonomi? Bagaimana dengan "kerugian" mahasiswa yang harus keluar dua kali lipat secara ekonomi (membayar biaya semesteran sekaligus stock kuota untuk belajar)? Nampaknya ini adalah perkara yang seharusnya turut dipikirkan oleh pembuat kebijakan. Meskipun berkali-kali disampaikan bahwa perkuliahan daring dilaksanakan dengan metode yang fleksibel, faktanya fleksibel ukuran satu dosen dengan dosen yang lainnya berbeda. Fleksibel ukuran satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lainnya berbeda. Bagi mahasiswa kelas bawah tidak ada yang fleksibel kecuali ketika urusan pangan sudah terpenuhi dan jaminan tidak kelaparan bagi keluarganya sudah bisa dipastikan. 

Ini baru satu kasus mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan yang menghadapi masa darurat Covid-19 sekaligus masa darurat pendidikan bagi dirinya. Semoga akan ada kebijakan yang telah diperhitungkan dengan matang perihal ini, yang tidak hanya berfokus pada tujuan pemerintah dalam meningkatkan ranking pembangunan manusia, tetapi juga memanusiakan siapa saja yang berada di atas bumi Indonesia. Semoga.








Rabu, 01 April 2020

COVID-19 Dalam Perpspektif Pengembangan Masyarakat Islam

Kondisi Kabah yang kosong karena pandemi Covid-19 (sumber alaraby.co.uk)

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia tidak hanya menjadi persoalan medis namun lebih dari itu menjadi persoalan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Di Indonesia, pandemi ini setidaknya dapat dipahahi melewati tiga fase. Pertama, fase panic (kekagetan) di mana seluruh unsur masyarakat masih merasa tidak percaya bahwa pandemi ini telah masuk ke Indonesia. Pada awal disiarkan bahwa Covid-19 ini merupakan wabah dan kemungkinan ditutupnya berbagai wilayah memunculkan kepanikan masyarakat yang berujung pada panic buying, bombardir informasi hoax, dan kekhawatiran yang berujung pada rasa curiga terhadap interaksi sosial. Kedua, fase darurat kesehatan yaitu saat dirilisnya dua pasien Covid-19 dari Kota Depok yang kemudian diikuti dengan peningkatan jumlah orang terkonfirmasi positif dari hari ke hari. Fase darurat kesehatan berimplikasi pada fokus penanganan di aspek kesehatan, penyediaan fasilitas penanganan, hingga donasi-donasi yang digalang untuk membantu garda terdepan penanggulangan penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini. Ketiga, fase darurat sosial-ekonomi-budaya, ini adalah fase yang krusial sebab dapat dipahami bahwa Indonesia merupakan negara dengan latar belakang ragam masyarakat yang berbeda-beda. Menghadapi fase ini pemerintah muncul dengan gagasan jaring pengaman sosial yang dipersiapkan untuk kelompok keluarga miskin baru yang terdampak Covid-19.

Skenario Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dipilih oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan agar Covid-19 tidak bertransmisi secara masif di wilayah Indonesia. Disadari betul bahwa fase ketiga sangat berkaitan dengan opsi pemerintah yang memilih PSBB. Adanya PSBB sebagai bentuk antisipasi Covid-19 menciptakan dilema di banyak sisi. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, terbatasnya akses untuk kembali ke kampung halaman untuk para migran yang mengadu nasib di wilayah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, munculnya kelompok miskin baru, dan masalah-masalah lain yang menunggu untuk turut diantisipasi. 

Jika berkaca pada fakta kesehatan bahwa kelompok paling rentan dengan kemungkinan fatal menghadapi Covid adalah lansia dan orang dengan penyakit bawaan sebelumnya, maka kelompok paling rentan dengan adanya kebijakan PSBB ini adalah orang miskin. Dampak yang dirasakan oleh orang miskin juga tidak hanya perseorangan tetapi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dan keluarganya. Tidak hanya pada masa darurat Covid-19 ini tetapi juga setelah wabah mereda nantinya.

Setidaknya terdapat dua fokus  yang dibahas dalam tulisan ini yaitu mengenai perubahan sosial yang ditimbulkan dari dampak Covid-19 dan mengukur peran pengembangan masyarakat dalam menghadapi pandemi global tersebut. Perspektif yang digunakan oleh penulis adalah perspektif pengembangan masyarakat sebagai sebuah gagasan yang muncul dalam diskursus keilmuan sebagai bentuk respons terhadap masalah yang dihadapi oleh manusia terutama pada abad 20. Terminologi pengembangan masyarakat dalam perkembangannya merujuk pada sebuah pekerjaan profesional, metode atau pendekatan dalam pengembangan sosial dan ekonomi, komponen dalam kerja pelayanan kemanusiaan, pemikiran dan pendekatan intelektual terhadap dunia, dan aktivitas politik. 

Selengkapnya tulisan bisa diunduh DI SINI.