Senin, 27 Mei 2019

Suatu Sore Di Goa Sunyaragi

Hutan sunyi yang dulu dibuka selama 40 hari dengan senjata sakti bernama golok cabang milik Ki Cakrabumi, kini telah menjelma menjadi kota besar. Kota silang budaya antara nilai lokal dan modern. Pedukuhan Gerage yang awalnya dihuni oleh tujuh puluh penduduk kini disesaki oleh ribuan penghuni. Bahkan Gerage bukan lagi sekedar nama pedukuhan, sebutannya diadopsi untuk sebuah pusat perbelanjaan. Inilah Cirebon, kota peradaban yang diawali oleh kepemimpinan Ki Gede Pangalang-alang bersama Ki Cakrabumi. Cai Rebon, begitulah para utusan Kerajaan Galuh menyebut pada awalnya. Cai Rebon yang berarti air rebusan udang yang sangat memanjakan lidah. Kini dikenal Cirebon dengan julukan Kota Udang.

Selamat Datang!

Perjalanan kali ini adalah perjalanan untuk tinggal. Sebuah takdir, kota ini akan menjadi tempat saya menggantungkan hidup hari ini dan diwaktu-waktu mendatang. Saya menyisipkan rasa ingin tahu tentang kota ini di setiap rencana saya. Rasa penasaran saya membawa pikiran ini membayangkan bagaimana Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Ayu memasak rebon dengan bumbu petis, juga bagaimana geragal (terasi) sangat digandrungi pada masa itu. Semoga perjalanan-perjalanan selanjutnya dapat memberikan jawaban atas keingintahuan saya lebih jauh tentang kota ini.

Mulanya, saya memilih Goa Sunyaragi, situs budaya yang berada di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon. Goa Sunyaragi berdiri di atas lahan seluas 18.460 meter persegi dengan bangunan menghadap ke timur. Bahan bangunan terbuat dari batu karang, bata, dan kayu dan terdiri dari bangunan pesanggarahan dan bangunan goa.

Taman Syunyaragi terdiri dari bangunan pesanggarahan dan gua (dok. pribadi)
Goa Sunyaragi Cirebon (Dok. Pribadi)

Bangunan pesanggarahan terdiri dari bangunan berbentuk rumah (depan belakang) yang dilengkapi dengan sebuah kolam. Bangunan ini memliki dua buah kamar yang berukuran 4,8 x 5,5 meter. Diantara dua kamar tersebut terdapat ruangan tanpa sekat berukuran 5 x 5,5 meter yang Nampak sebagai penghubung antara teras depan dan teras belakang. Bangunan goa memiliki sejumlah bangunan yaitu Goa Pengawal, Pintu Borotan, Goa Pawon, Goa Lawa, Bangsal Jinem, Inande Beling, Monumen Kuburan Cina, Goa Padang Ati, Goa Kelanggengan, Goa Langse, Goa Peteng. 



Bangunan Pesanggarahan (dok.pribadi)
Bangunan dengan kolam-kolam (dok.pribadi)
Dominasi karang pada bangunan (dok. pribadi)
Goa Padang Ati (dok.pribadi)
Berdasarkan latar belakang sejarah Taman Sunyaragi (Goa Sunyaragi) ini dibangun oleh Pangeran Aryo Cirebon pada tahun 1703 Masehi. Tempat ini dibangun untuk latihan perang prajurit, pembuatan alat-alat perang dan tempat menyepi (bertapa). Sunyaragi berarti tempat menyepi (sunya = sunyi dan ragi = jasmani). Makna Sunyaragi ini mendukung fakta bangunan-bangunan goa dengan beberapa jenis namanya.

Saat ini, Goa Sunyaragi masuk sebagai salah satu cagar budaya di Kota Cirebon yang dikelola oleh Badan Pengelola Taman Air Gua & Panggung Sunyaragi Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada saat saya ke sana, wisatawan umum (domestik) dikenai HTM Rp 10.000. Sebagai tambahan informasi, Goa ini dibuka mulai pukul 08.00 hingga 17.00, biaya parkir Rp 2.000 - 5.000, dan jika memerlukan pemandu membayar Rp 40.000 - Rp 50.000.

Keberadaan Goa Sunyaragi sekarang ini merupakan hasil pemugaran dan sudah mendapat sentuhan modern. Seperti tulisan besar Goa Sunyaragi, taman yang ditata sedemikian rupa, juga pelataran lebar dengan tangga semacam gladiator yang juga sudah disentuh tangan modern. 

Berkunjung ke Cirebon baiknya mengunjungi Goa Sunyaragi, selain sebagai bentuk napak tilas sejarah tempat ini juga tenang. Sore itu, di Sunyaragi saya memulai perjalanan saya di Cirebon.

Referensi:

Anom, I.G.N, et al. 1996. Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusnandar, Dadang. 2012. Cirebon: Silang Peradaban. Yogyakarta (ID): Gapura Publishing.









Senin, 13 Mei 2019

Respect Your Woman

via: pixabay

Untuk urusan pekerjaan, hari ini saya harus ke Kalibata dan seperti biasa naik kereta Bogor-Duren Kalibata. Tidak ada yang menarik, seperti rutinitas naik kereta biasanya meskipun sudah absen 2 minggu ke belakang. Setelah selesai urusan kerjaan (sekitar 3 jam), saya pulang dengan rute yang sama: Duren Kalibata-Citayam (kereta Nambo) dan pindah kereta ke Bogor. Karena memutuskan untuk melanjutkan materi ekspose hasil penelitian dan kebetulan sedang tidak berpuasa saya dan teman memutuskan untuk cari tempat kerja yang bisa sekalian makan. Kami memutuskan untuk ke restoran cepat saji (yang sedang ada diskon 50%) di Jalan Pajajaran-Bogor.

Pilihan yang paling hemat saat ini adalah naik angkot dari stasiun ke Pajajaran (naik angkot 03). Saya membenarkan ramalan cuaca semalam yang menyatakan bahwa hari ini Udara lebih panas 3 derajat, apalagi saat masuk angkot yang ada di tengah kemacetan jalur Stasiun Bogor. Setelah di dalam angkot, seperti biasa penumpang harus mepet, mengisi bagian paling belakang sampai muncul di pintu. 

Di luar ada pasangan suami istri yang masih muda beserta seorang anak perempuan yang kiranya usia 3 tahunan. Sang suami mengenakan sarung biru kotak-kotak dan kemeja warna biru, membawa tas ransel abu-abu dan tentengan plastik hitam besar. Istrinya menggendong anak serta membawa satu tas perlengkapan bayi ukuran besar yang berwarna cokelat dengan gambar teddy bear. Jujur saja, saya membayangkan bahu yang tertarik karena beban tas cokelat tersebut dan lengan yang juga terasa pegal dengan beban bokong anak. Sang suami masuk ke angkot lebih dulu, tidak membantu istri dan anaknya naik. Saat istrinya naik suasana di angkot menjadi kurang nyaman, seperti setiap penumpang membatin tentang kondisi suami istri di depannya. Seorang penumpang menyampaikan supaya tas cokelat sebaiknay ditaruh agak dalam supaya tidak menghalangi pintu. Sang suami menarik tas itu, sang istri dengan sedikit gondok menariknya kembali dan mengatakan "sudah di sini saja". Tidak ada senyum, yang ada bibir manyun dan tetes keringat karena kepanasan sekaligus rasa Lelah yang menggelayut.

Entah membicarakan apa, tapi tiba-tiba suara ketus sang suami keluar. Sang istri berusaha mengendalikan ekspresi muka dan berkata "ya udah, kan cuma nanya". Hmm, suasana semakin akward, aneh, hening padahal di tengah ramai dan padatnya Pasar Anyar jam 3 sore. Tidak ada komunikasi antara suami istri itu, mungkin sudah sama-sama Lelah dengan perjalanan di tengah siang. Sang suami membuka tablet berukuran besar, saya dan teman saya sempat melirik. Tidak ada yang dia lakukan kecuali pencet-pencet tidak jelas. Lalu tablet itu dimasukkan lagi. Bisa saja orang yang tidak tahu akan mengira bahwa dia adalah orang yang sibuk. Tapi terus terang melihat tingkahnya saya jengkel. Ya, padahal itu bukan urusan saya. Sampai di Taman Kencana, nampaknya sang suami sudah mulai nowel-nowel pipi anak yang nggak merespon. Dan entah kenapa obrolan saya dan teman saya bertemakan anak. Mungkin sang suami ini merasa dibicarakan. 

Saat turun di Pajajaran, saya menarik napas. Jengkel. Ada banyak pertengkaran dalam keluarga muda yang bisa saja hadir karena hal-hal kecil, hanya karena rasa lelah setelah perjalanan. Hanya karena persoalan naik angkot dan barang bawaan yang merepotkan. Saya tidak berharap itu terjadi pada pasangan suami istri itu. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun suami-suami yang benar-benar menghormati istrinya, saya ingin menegur orang di dalam angkot tadi: Respect your woman. Nggak apa-apa kalau memang harus bertengkar, tetapi jangan pojokkan perempuanmu di hadapan orang sehingga ia terlihat bodoh dan tidak bermartabat. Bukankah janji pernikahan dipenuhi dengan kemuliaan?

Pada akhirnya memang saya tidak bisa berbuat apa-apa. 

Senin, 06 Mei 2019

Menu Diet Sehat Saat Berbuka Puasa

“Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (Artinya: rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud)

Bahagia rasanya bisa melewati satu hari puasa ini dengan lancar. Biasanya puasa pertama penuh bayangan dengan buka puasa yang penuh dengan aneka makanan. Mulai dari kolak pisang, es cendol, gorengan (uhuuy… boleh diterusin sendiri). Ternyata secara medis makanan manis mengandung gula berlebih ketika dikonsumsi saat berbuka puasa bisa memicu lonjakan gula darah dan dalam jangka panjang bisa berefek buruk bagi kesehatan. Karenya ketika berbuka puasa disarankan untuk makan kurma atau buah-buahan segar (ini juga jangan berlebihan dong :)).

Pas banget tadi malam dapat share ilmu di grup whatsapp tentang menu diet di bulan ramadhan. Diet di sini nggak berarti harus langsing ya, tetapi diet untuk sehat, termasuk dalam hal makan ketika buka puasa.

Mengutip dari @temandiet_id menu buka puasa yang bisa memenuhi kebutuhan kalori tubuh serta sehat untuk diet bisa berupa:

1 gelas air putih
1 gelas air perasan jeruk nipis + biji selasih
3 butir kurma
1 gelas buah naga + kiwi dengan yoghurt

Makan malamnya bisa dengan menu:
Nasi 1 centong
Ikan bakar sambal matah
Sayur sop 1 mangkok

Sungguh amat ideal ya menunya? Baca menunya aja udah ngerasa sehat jiwa raga >.<

Pada saat berbuka puasa dianjurkan sebelum makan sebaiknya minum air putih terlebih dahulu 1-2 gelas. Boleh diganti dengan air kelapa atau infused water, setelah itu dilanjut dengan makan takjil. Setelah cukup jangan langsung makan ya gengs, sebaiknya sholat magrib dulu supaya tubuh juga beradaptasi dengan aktivitas mencerna. Setelah itu boleh makan dengan konsumsi karbo, protein, dan sayur-sayuran.

Hidup sehat kayaknya mudah tetapi penerapannya gampang-gampang susah. Sebagai pengingat aja ketika usia sudah semakin bertambah maka daya dukung tubuh terhadap makanan tertentu juga seringkali berkurang. Kolak, cendol, dan gorengan memang selalu nikmat dan tak terkalahkan. Tetapi sehat tidak bisa digadaikan dengan semangkok kolak pisang dengan glukosa berlebih itu gengs! Yuk ah mulai diet sehat, nggak harus mewah dan mahal, yang penting disyukuri.

Selamat berbuka puasa :)