Senin, 13 Mei 2019

Respect Your Woman

via: pixabay

Untuk urusan pekerjaan, hari ini saya harus ke Kalibata dan seperti biasa naik kereta Bogor-Duren Kalibata. Tidak ada yang menarik, seperti rutinitas naik kereta biasanya meskipun sudah absen 2 minggu ke belakang. Setelah selesai urusan kerjaan (sekitar 3 jam), saya pulang dengan rute yang sama: Duren Kalibata-Citayam (kereta Nambo) dan pindah kereta ke Bogor. Karena memutuskan untuk melanjutkan materi ekspose hasil penelitian dan kebetulan sedang tidak berpuasa saya dan teman memutuskan untuk cari tempat kerja yang bisa sekalian makan. Kami memutuskan untuk ke restoran cepat saji (yang sedang ada diskon 50%) di Jalan Pajajaran-Bogor.

Pilihan yang paling hemat saat ini adalah naik angkot dari stasiun ke Pajajaran (naik angkot 03). Saya membenarkan ramalan cuaca semalam yang menyatakan bahwa hari ini Udara lebih panas 3 derajat, apalagi saat masuk angkot yang ada di tengah kemacetan jalur Stasiun Bogor. Setelah di dalam angkot, seperti biasa penumpang harus mepet, mengisi bagian paling belakang sampai muncul di pintu. 

Di luar ada pasangan suami istri yang masih muda beserta seorang anak perempuan yang kiranya usia 3 tahunan. Sang suami mengenakan sarung biru kotak-kotak dan kemeja warna biru, membawa tas ransel abu-abu dan tentengan plastik hitam besar. Istrinya menggendong anak serta membawa satu tas perlengkapan bayi ukuran besar yang berwarna cokelat dengan gambar teddy bear. Jujur saja, saya membayangkan bahu yang tertarik karena beban tas cokelat tersebut dan lengan yang juga terasa pegal dengan beban bokong anak. Sang suami masuk ke angkot lebih dulu, tidak membantu istri dan anaknya naik. Saat istrinya naik suasana di angkot menjadi kurang nyaman, seperti setiap penumpang membatin tentang kondisi suami istri di depannya. Seorang penumpang menyampaikan supaya tas cokelat sebaiknay ditaruh agak dalam supaya tidak menghalangi pintu. Sang suami menarik tas itu, sang istri dengan sedikit gondok menariknya kembali dan mengatakan "sudah di sini saja". Tidak ada senyum, yang ada bibir manyun dan tetes keringat karena kepanasan sekaligus rasa Lelah yang menggelayut.

Entah membicarakan apa, tapi tiba-tiba suara ketus sang suami keluar. Sang istri berusaha mengendalikan ekspresi muka dan berkata "ya udah, kan cuma nanya". Hmm, suasana semakin akward, aneh, hening padahal di tengah ramai dan padatnya Pasar Anyar jam 3 sore. Tidak ada komunikasi antara suami istri itu, mungkin sudah sama-sama Lelah dengan perjalanan di tengah siang. Sang suami membuka tablet berukuran besar, saya dan teman saya sempat melirik. Tidak ada yang dia lakukan kecuali pencet-pencet tidak jelas. Lalu tablet itu dimasukkan lagi. Bisa saja orang yang tidak tahu akan mengira bahwa dia adalah orang yang sibuk. Tapi terus terang melihat tingkahnya saya jengkel. Ya, padahal itu bukan urusan saya. Sampai di Taman Kencana, nampaknya sang suami sudah mulai nowel-nowel pipi anak yang nggak merespon. Dan entah kenapa obrolan saya dan teman saya bertemakan anak. Mungkin sang suami ini merasa dibicarakan. 

Saat turun di Pajajaran, saya menarik napas. Jengkel. Ada banyak pertengkaran dalam keluarga muda yang bisa saja hadir karena hal-hal kecil, hanya karena rasa lelah setelah perjalanan. Hanya karena persoalan naik angkot dan barang bawaan yang merepotkan. Saya tidak berharap itu terjadi pada pasangan suami istri itu. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun suami-suami yang benar-benar menghormati istrinya, saya ingin menegur orang di dalam angkot tadi: Respect your woman. Nggak apa-apa kalau memang harus bertengkar, tetapi jangan pojokkan perempuanmu di hadapan orang sehingga ia terlihat bodoh dan tidak bermartabat. Bukankah janji pernikahan dipenuhi dengan kemuliaan?

Pada akhirnya memang saya tidak bisa berbuat apa-apa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERI KOMENTAR