Senin, 25 Maret 2019

Keliling Malaysia dan Singapura Tanpa Tidur 60 Jam, Inspirasi dari No Sleep No Fomo Episode 1 & 2




Aplikasi hiburan VIU kembali mengeluarkan program originalnya yang berjudul NO SLEEP NO FOMO, sebuah variety show bertemakan travelling yang bekerjasama dengan asuransi FWD. Sebagai pengguna VIU yang biasanya mengikuti perkembangan drama dan film, variety show ini cukup menarik rasa ingin tahu saya. Meskipun saya juga tidak terlalu familiar dengan Paul Foster sang host namun yang menarik perhatian di episode perdananya adalah bintang tamu yang akan diajak Paul tidak tidur selama 60 jam non-stop. Tidak tidur di sini maksudnya secara harfiah tidak dalam posisi benar-benar tidur di Kasur, mereka memanfaatkan waktu seperti perjalanan di mobil untuk sejenak memejamkan mata. Nah, bintang tamu pertama untuk episode keliling Malaysia dan Singapura (dibuat dalam dua episode 1 & 2) adalah Eric Nam, bintang K-Pop kelahiran Amerika yang mendapatkan penghargaan "2016 Man Of  The Year" dari GQ Korea dan "30 Under 30 Asia 2017" dari Forbes.

KCON LA 2016 Red Carpet Eric Nam.jpg
Eric Nam via Wikipedia

Setelah buka-buka Instagram sang host Paul Foster @paulfosterrr), ternyata dia dinobatkan sebagai Earth Hour Ambassador tahun 2019 oleh WWF. Intinya dua orang ini keren di bidangnya.
Mengikuti perjalanan dua orang ini di Mayasia dan Singapura memberikan insight baru terutama kepada saya tentang travelling singkat namun memenuhi banyak bucket list yang telah direncanakan. 

Daripada kegiatan nonton VIU saya sia-sia dan hanya terbersit di mata serta memori sementara, akhirnya saya catat bucket list kedua bintang ini ketika menjelajah Malaysia dan Singapura dalam waktu 60 jam. Iseng-iseng tapi siapa tahu menginspirasi perjalanan ke dua negara tetangga itu dengan insight yang berbeda. Buat yang punya travel agent atau konsultan perjalanan yang saat ini jadi trend milenial, bucket list ini juga berguna. For me, siapa tahu bentar lagi jalan-jalan ke sana (aamiin).

Below, their bucket list in Malaysia (10 Bucket List):

Batu Caves via Pixabay

1. Batu Caves : Visit batu caves, carry an offering up the stairs, find the bird feed at the top, feed the pigeons, selfie with a monkey (mengunjungi Batu Caves, bawa persembahan melewati tangga, menemukan makanan burung di puncak Batu Caves, memberi makan merpati, dan swafoto bersama monyet).

2. Visiting Kin Kin Rest : Try Kin Kin Noodles, make your own noodles (mencoba mie kin kin, membuat mie sendiri)

3. KL City : Be a wedding crasher, selfie with the bride and groom, selfie with 10 or more people (menyelinap ke pesta pernikahan, swafoto dengan pengantin, swafoto dengan 10 orang atau lebih)

4. KL Kemensah : Serve the people on the stream at the BBQ Land (tantangan di Resto domba panggang)

5. Petronas Towers : Selfie at the Petronas Towers (swafoto di Menara Petronas)

6. Visiting Joke Factory : Perform stand up comedy (tampil di acara stand up comedy)

7. Backyard Pup : Visiting the oldest pub in KL, challenging Pub owner to a game of pool, cheers everybody (mengunjungi Pub paling tua di KL, menantang pemilik Pub bermain bilyar, cheers everybody)

8. Kaw Kaw Burger : Eat special burger menu at midnight (makan menu burger special susun 10 tengah malam)

9. Skytrex Malacca

10. Eating Durian before go to JB entry exit poiny from Malay to Singapore

Setelah menghabiskan waktu di Malaysia, Paul dan Eric menyeberang via jalur darat ke Singapura. Di Singapura mereka menghabiskan waktu untuk memenuhi 60 Jam tanpa tidur dan menjajal semua tantangan yang diberikan.

Di Singapura, bucket list mereka berdua tidak kalah seru:

Singapore, Merlion, Merlion Park, Travel
Merlion Park Singapore via Pixabay


1. Bugis Street : Visiting Bugis Village to choose an outfit for each other (membeli baju untuk satu sama lain di Bugis Village)

2. Little India : Take selfies at five landmark: working class hero, alive at clive, traditional trade of little India, Kathaka, House of Tan Teng Niah.

3. Newton Food Centre : Try Singapore's Famous Food, Eat Carrot Cake

4. Ah Sam Cold Drink Stall : Make the better Millo Cocktail

5. Altitude Gallery and Bar : Go to a rooftop bar, try the Singapore Sling

6. Merlion Park : Selfies with the Merlion and Marina Bay Sands

7. Mustafa Centre : Scavenge Hunt 

8. Pulau Ubin (Island for Grante) : Visit pulau ubin, ride a bike, spot the native animals, Spot a pink dolphin, Selfie at Jejawi Towers

9. Changi Village : Try a local Breakfast

10. Sentosa : Do the megazip zipline, do the AJ Hackett giant swing

11. Chinatown : Perform a Chinese Opera

12. Gardens By The Bay

Kalau ditotal mereka berdua memenuhi lebih dari 20 tantangan dalam waktu 60 jam, istirahatnya terhitung di mobil sekitar 2 jam dan 1 jam di hotel untuk ganti baju. Selebihnya dengan mata beler mereka memenuhi semua tantangan tersebut. Kalau dilihat bucket list-nya mungkin tidak semuanya bias dicoba, tapi tidak ada salahnya menjadi referensi. 

Dari acara-acara travel yang ada, menurut saya No Sleep No Fomo ini Worth to Watch!

#nosleepnofomo #paulfoster #ericnam #malaysiabucketlist #singaporebucketlist

Sabtu, 16 Maret 2019

Melihat Hidup Secara Utuh

Via pinterest
Seringkali jiwa-jiwa kita merasa patah, hati yang tidak tenang, juga segala keresahan yang menimbulkan kerusuhan dalam pikiran. Segalanya tentang keinginan seandainya seperti ini, seandainya seperti itu, kurang ini, kurang itu, dan seterusnya. Saya mengutip filosofi jawa “urip iku saktemene mung nunut ngombe” yang artinya hidup itu sejatinya hanya numpang minum.
Kebutuhan minum adalah karena haus, saat haus hilang minum pun cukup. Begitu pun hidup, mencari sesuatu untuk kepuasan tidak akan pernah sampai pada level  tertinggi, yang ada hanya keinginan lagi dan lagi. Bukan berarti saya mengajak untuk pesimis, tetapi satu waktu dalam hidup kita perlu memiliki kata CUKUP.
If you look at what you have in life, you will always have more. If you look at what you don’t have in life, you will never have enough -Oprah Winfrey"

Barangkali ini bisa menjadi suatu renungan tentang makna cukup. Suatu kali, sore hari di alun-alun sebuah kota, seorang pemulung tua berbaju lusuh menghampiri tong sampah yang berjajar 5 buah dihadapannya.
Dia korek-korek, berharap ada kertas atau botol plastik yang mungkin bisa masuk dalam karungnya yang sudah berubah warna menjadi kotor hitam.
Matanya cekung, pipinya tirus, jenggotnya tak terurus. Sepertinya memang ia kenyang dengan pengalaman pahit menyusuri jalanan jengkal demi jengkal untuk setiap sampah yang ia harapkan jadi jalan rezekinya.
Lalu seorang laki-laki dengan gugup memberikan dua lembar uang 2.000-an, pemulung tua itu menerimanya dengan gemetar. Ia terduduk dan berhenti sejenak dari aktifitasnya mengaduk isi tempat sampah. Ia pandangi orang yang memberikan lembaran berjumlah 4.000 itu dengan dalam, seakan ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Uang 4.000 bagi yang memberi bisa saja adalah nominal yang mungkin hanya sebagai pelengkap untuk membayar parkir mobil, tapi 4.000 bagi pemulung itu mungkin harus seharian mengumpulkan 4 kilogram kertas atau botol plastik bekas.
Betapa ironinya hidup, di satu sisi kekurangan bagi segelintir orang, namun di sisi lain yang dianggap kekurangan itu adalah kegelimangam hidup yang diidamkan oleh ribuan orang. Kita bisa saja mengeluh, mengapa masih bekerja berlelah-lelah dengan gaji yang tak seberapa, tapi di luar sana sebenarnya ada jutaan orang yang bermimpi berada di posisi kita dan mungkin perlu waktu yang lebih lagi untuk mengumpulkan gaji sebesar gaji kita.
Kita mengeluhkan mengapa air di dalam rumah sedikit keruh karena hujan, padahal di luar sana ada yang mengandalkan hujan demi bisa minum air. Memang ada? Ada, datanglah ke NTT (Nusa Tenggara Barat) sana, tidak usah terlalu jauh ke Ethiopia atau Afrika.
Kita masih mengeluhkan mengapa makanan yang kita makan tidak enak padahal lauk berlimpah, di luar sana ada orang yang mungkin tidak bisa makan seharian.
Jadi apa? Tidak ada kepuasan yang dicapai dalam hidup, sebab kepuasan tidak terbatas. Yang bisa dijalani manusia adalah bersyukur dan merasa CUKUP.
Kehidupan ini tidak diukur dari jajaran materi, pangkat, atau pun betapa mulianya pasangan hidup, itu bonus yang berlipat-lipat yang dilimpahkan kepada seseorang. Hidup ini harus dilihat secara UTUH.
Pagi ini masih bisa bernapas tanpa harus menggunakan selang oksigen, keluarga yang sehat sehingga tidak perlu berurusan dengan klaim asuransi, kaki yang masih nyaman untuk menaiki tangga kantor, makan siang yang bisa terjamin dengan seporsi nasi dan lauk, air minum yang menyegarkan, anak-anak yang ceria, pasangan yang baik.
Lihatlah hidup ini secara utuh, dari dalam diri maupun dari setiap elemen yang berada di sekitar kita. Merasa cukup dengan apa yang sudah kita mampu capai bukan berarti menyerah, itu adalah bentuk kesyukuran dan kontemplasi (perenungan) untuk sesuatu yang bisa jadi lebih baik yang tidak pernah kita tahu.

There is a difference between giving up and knowing when you have had enough -Anonim
Benar bahwa hidup ini sederhana dan yang rumit adalah tafsirnya. Kiranya tidak berlebihan, dari zaman ke zaman setiap manusia membuat tafsir tentang kehidupannya, menciptakan zona nyamannya, mengejar ambisinya, itu tidak salah.
Hanya saja yang sering terlupa adalah tidak melihat hidup secara utuh, hingga tafsir-tafsir tentang hidup hanya memunculkan ambisi yang terus menerus terpupuk, lalu lupa bahwa hidup ini adalah sementara. Ini hidup dan kehidupan, kita hanya manusia tapi seringkali merasa selalu bisa mengendalikan semua hal.
Mari bersyukur, belajar untuk melihat dari sudut pandang yang menyeluruh. Semoga hidup kita bisa memberi kehidupan.