Sabtu, 28 September 2019

:)


"Yang harus kita lakukan adalah menghargai apa yang masih ada, bukan menyesali apa yang telah hilang."


Seperti waktu, tahun - tahun berlalu, bulan berganti, hari tak mau berhenti. Ingatan kita seringkali hanya menyisakan apa yang hilang, hingga lupa pada setiap nikmat yang selalu menjelang.

Langkah tertatih, demi mengimani apa yang kita sebut tujuan. Perasaan berkecamuk, antara harapan dan kenyataan hanyalah sebuah batas tipis. Hari - hari kita habis dengan penyesalan, malam - malam kita sirna dengan tangis yang tertahan. Bukankah kita sendiri yang membuat risalah hidup menjadi sedemikian rumit?

Lalu dalam perjalanan, kita akan bertemu bermacam rupa. Rupa yang membuat kita semakin menemukan jati diri juga ketetapan hati. Lantas kita menyadari, hidup tengah memberi kita pengalaman, lalu pengalaman menyuapi kita dengan pelajaran.

Bukankah seharusnya kita mengejar takdir bijak nan bajik?

Pejamkan mata meski tanpa lilin yang menandakan ritual pergantian usia, tanpa kue coklat, juga tanpa kisah kasih picisan untuk memberikan kejutan.

Kutangkupkan permohonan tentang takdir baik anak manusia, yang merindukan hangat pelukan ibunda, yang mendambakan bisikan lembut ditengah gelegar kehidupan yang tak jarang menyesakkan dada. Kulantunkan harapan, semoga ia tertidur pulas, bermimpi dalam dekapan ibunda di hari ulang tahunnya.

Pulaslah, bersama setangkup permohonan dan sekelumit harapan untuk terus menghadirkan senyum ibunda dalam hatimu, selalu.

-selamat ulang tahun-

Jumat, 23 Agustus 2019

Sandaran, Biar Nggak Capek

Image by Nicole Köhler from Pixabay

Akhir-akhir ini belajar cuek dengan segala sesuatu. Meskipun tetap pelan-pelan memikirkan kewajiban yang harus ditunaikan, tapi saya belajar "menunda". Menunda supaya berpikir lebih jernih, menunda supaya bersikap lebih adil dan obyektif, menunda supaya saya paham apa maksudnya.

Sedih sih, transisi ke middle age tapi gini-gini aja (boleh nggak usia 29 masuk kategori middle). Kalau membandingkan usia 29 di luar sana, suka ngebatin sendiri, "dia 29 sudah bisa ini bisa itu", "dia keren deh, begini begitu". Membandingkan kadang bisa bikin pengaruh positif tetapi lebih sering bikin nggak waras. Jadi belajar untuk selow, tenang, teratur, lebih sabar lagi (meskipun bolongnya masih di sana sini, but i am trying).

Kemarin-kemarin kalau kalut langsung gedebak-gedebuk panik. Sekarang mencoba dibikin "ya udah nanti juga ada solusinya, usahain aja". Asal tepat nyari sandaran semuanya jadi lebih enteng.

"Tidak sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu., dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid 22-23).

Ngutip ayat bukan karena sekarang di perguruan tinggi agama, tapi secara spiritual hal-hal sulit yang terlewati bikin saya mikir bener-bener soal sandaran yang pas. Dulu kalau sedih, capek, emosi, ujung-ujungnya mikir kalau kehidupan nggak adil. Sekarang mulai belajar bersyukur dengan setiap yang dikasih, susah senang, bisa sampai titik ini saja sudah pencapaian luar biasa. Balik lagi sama yang ngasih hidup ALLAH SWT.

Qur'an Surat Al-Hadid ayat 22-23 itu "tidak sengaja" saya buka waktu melow galaw nggak selow. Baca itu jadi adem lagi. Kadang, baca ayat suci itu seperti ngasih hadiah buat diri sendiri.

Jumat, 26 Juli 2019

Menepi

Image by silviarita from Pixabay 

Ketika tidak bisa perpikir atau bahkan mengambil keputusan. Menepilah. Menepi dari hiruk pikuk pikiranu sendiri. Menepilah dari apa pun yang membuatmu merasa di jalan yang bercabang.

Kemudian menepi, ada perasaan sementara yang seketika susut. Bahkan musnah. Entah sementara atau seterusnya, yang kutahu itu hanya seperti batang korek api yang menyala. Seakan selamanya, tapi habis begitu saja.

Mungkin demikian, semakin dewasa, perasaan tidak lagi terlampau rumit. Pergulatan yang muncul tidak lagi tentang harubiru atauoub euforia mengenai sesuatu, sesuatunya serba sederhana. Ukurannya menjadi lebih jelas.

Mereka bilang soal rasa tidak bisa dilogika. Entah kenapa bagiku berbeda, meski bukan tentang hitungan matematis atau untuk rugi namun keduanya berkesinambungan. Pijakannya adalah tentang apa yang sedang kita perjuangkan.

Ada yag mengambil keputusan dengan semena-mena seakan hidup adalah selamanya. Ada yang menangis tanpap jeda seakan hidup tak adil seterusnya. Ada yang tak tahu mengapa ia hidup bahkan tak punya gagasan apakah ia pantas mati.

Selamat menyesal, untuk masa lalu yang pernah kamu sia-siakan. Selamat bertumbuh dengan peluh sakit dan pengalaman hidup. Selamat bangkit karena kamu tahu apa yang sedang diperjuangkan.

KA Tawang Jaya, Ps. Senen - Prujakan
24 Juni 2019, 21: 49

Rabu, 19 Juni 2019

Dibalik Wacana Penggusuran Lokasi Prostitusi

Image by Free-Photos from Pixabay
Berbicara tentang prostitusi memang menjadi sebuah paradoks, di satu sisi berbicara moralitas dan di sisi lainnya berbicara soal strategi nafkah. Secara sosiologis kedua sisi tersebut memiliki unsur nilainya masing-masing, tergantung apa yang mendasari seseorang memilih jalan prostitusi sebagai cara hidupnya. Kamis 13 Juni 2019, tema prostitusi dibahas dari sudut pandang sosiologis dalam kesempatan diskusi dengan rekan-rekan dosen baru dengan latar belakang ilmu sosial.


Tema ini berangkat dari hasil riset mas Musahwie yang sekaligus menjadi pembuka diskusi yang direncanakan menjadi agenda rutin. Risetnya dilakukan sekitar tahun 2012. Tema ini mengingatkan saya pada buku Sex, Money, and Morality yang ditulis oleh Thanh Dam Truong. Buku tersebut membahas mengenai dinamika prostitusi di Asia Tenggara dan menggambarkan bagaimana prostitusi tidak hanya cukup dipandang dari sudut pandang moral namun mencakup juga aspek ekonomi-sosial-budaya-dan politik.


Suasana diskusi (Photo by Gus Syatori)

Apa yang dibahas oleh mas Musahwie saat itu menunjukkan keniscayaan bahwa isu prostitusi (dan bahkan praktiknya) tidak terlepas dari aspek ekonomi-politik. Di Yogyakarta (tepatnya di area wisata pantai Parangtritis) praktek prostitusi ini merupakan bagian dari upaya "mencari nafkah" yang dilakoni oleh perempuan-perempuan yang sebagain besar dari luar Bantul (seperti Gunung Kidul, dll). Dengan alasan moralitas, pemerintah daerah kemudian menerbitkan peraturan mengenai penggusuran area-area yang diduga merupakan tempat yang dijadikan lokasi prostitusi. Lokasi yang dimaksud telah direncanakan untuk pembangunan area wisata yang lebih tertata, bahkan pariwisata syariah. Hal ini mengundang aksi-aksi perlawanan dan protes.

Diskusi kami (ber-11 yang hadir) kemudian berkembang, melihat prostitusi dari sudut pandang keilmuannya. Mas Alfian, misalnya, memberikan tanggapan bagaimana prostitusi dari sudut pandang antropologi seringkali dikaitkan dengan ritual-ritual yang dilakukan oleh sekelompok orang yang percaya bahwa ritual tersebut dapat mendatangkan kekayaan. Dari sudut pandang kajian agraria, Pak Syatori, mengomentari bahwa ada isu menarik bagaimana kontestasi pertanahan di lokasi prostitusi tersebut berlangsung. Tidak hanya itu, isu HIV AIDS, upaya-upaya pemberdayaan masyarakat juga muncul dalam diskusi kali ini.

Kesimpulan dari diskusi ini diambil oleh mas Musahwi sebagai pemantik, bahwa dibalik upaya penggusuran sebuah lokasi prostitusi terdapat wacana ekonomi politik yang mendasarinya. Sebuah awal diskusi yang baik, setidaknya membuka logical framework masing-masing dari kami yang hadir sesuai dengan keilmuan kami.

Bagi saya sendiri, diskusi keilmuan seperti ini sangat menarik. Setidaknya terbersit hipotesis dan pertanyaan:

  1. Jika pelaku prostitusi sebagian besar adalah pendatang dari luar Bantul, maka ada isu demografi terutama terkait dengan migrasi. Apakah mereka yang menjadi objek prostitusi menetap sementara di wilayah Bantul atau menjadi migran sirkuler?
  2. Bagaimana latar belakang para PSK di tempat asalnya?
  3. Kajian strategi nafkah dapat berkembang dari latar belakang para PSK.
  4. Proses-proses perubahan sosial di desa-desa sekitar lokasi prostitusi dan desa-desa asal PSK, apakah mereka memberikan remitan ke desa asalnya?
Sekilas, prostitusi adalah persoalan moralitas. Tetapi ada banyak wacana yang mendasarinya termasuk kekuasaan. Mas Musahwie menganalisa menggunakan teori Faucault dan Gramsci. Baru sekilas yang saya pahami dan harus banyak belajar lagi. Baik Faucault maupun Gramsci membicarakan kekuasaan, Faucault dalam wacana dan Gramsci dalam Hegemoni. 

Dalam diskusi ini muncul kesimpulan bahwa teori Faucault dan Gramsci terbukti pada kasus penggusuran lokasi porstitusi di Yogyakarta. Bahwa elit pemerintah menggunakan kekuasaan dengan menerbitkan peraturan daerah untuk "meniadakan" praktek prostitusi di lokasi wisata. 

Meskipun penelitian ini sudah dilaksanakan tahun 2012, namun isu ini masih tetap relevan hingga saat ini. Faktanya, penggusuran lokasi prostitusi menyisakan persoalan dan bahkan menciptakan problematika baru. Misalnya, di Pekanbaru, penggusuran lokalisasi Taleju yang digusur sekitar 10 tahun silam dengan wacana pemerintah untuk menjadikan Pekanvaru sebagai Kota Madani bebas prostitusi. Alasan penggusuran lokasi telaju mirip dengan apa yang diteliti oleh Mas Musahwie, yaitu menghapus perspektif sosial negatif yang tentu saja berkaitan dengan moralitas.

Pekerjaan rumah bagi pihak-pihak lintas sektor untuk bisa melihat persoalan prostitusi ini secara adil, tidak hanya dari sudut pandang orang luar tetap juga menilik sudut pandang para pelaku pekerja seks komersial. 

Apakah pilihan penggusuran telah mempertimbangkan aspek peralihan nafkah ke sektor lain, jaminan hidup, juga perlindungan PSK dari perundungan di masyarakat? 



Rabu, 12 Juni 2019

Clifford Geertz, Banda Neira, dan Ingatan Yang Terbuang

Image by Martyn Cook from Pixabay
Sesekali musik punya daya magis yang menyeret ingatan pada peristiwa lalu. Situasi yang paling buruk atau paling baik. Prof. Taufik Abdullah dalam kata pengantarnya untuk buku Clifford Geertz bilang, “yang tampak atau terasakan itu hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan”. Sesungguhnya itu perkataan yang bagi seorang profesor mungkin hanya sekelumit pengantar untuk buku Agama Jawa. Tapi bagik terbayang betapa buku itu juga memiliki sebuah prediksi besar tentang masa kini. Lalu bagaimana seandainya Geertz berduet dengan Rara Sekar menggantikan Ananda Badudu? Seperti apa kolaborasi itu.

Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Satu lagu Banda Neira itu seperti membuat sebagian jantungku ditarik keluar. Antara sebuah hidmat dan rasa marah, antara kontemplasi yang begitu dalam sekaligus emosi yang terlanjur memuncak. Paradoks suasana rasa yang menampik adanya ingatan untuk kembali. Jika Geertz benar, artinya yang saat ini terasakan telah bersilam waktu kuabadikan.

Mari kita ulangi sebelum mata mulai mengantuk. Tuts piano itu terdengar menyebalkan. Mengapa ada lirik lagu secerdas itu dan mengapa dinyanyikan suara sebagus Rara Sekar dan Ananda Badudu?

Yang patah tumbuh yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat nanti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi 
(Lirik lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti-Banda Neira)

Jika yang sia-sia akan jadi makna yang terus berulang suatu saat nanti, bukankah sama dengan yang tampak atau terasakan hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan. Menjelma menjadi makna yang terus berulang, seperti rima dari tuts piano, lirik lagu yang terngiang, napas yang sedikit berat menyadari betul: Yang hancur lebur akan terobati. Tidak ada ingatan yang utuh, sebagian terbuang, tetapi kenyataannya masa lalu memang benar-benar mengabadi. Seperti kata susastra, yang abadi adalah kenangan.

Selasa, 11 Juni 2019

Citros dan Perkembangan Transportasi Urban


Voiture Omnibus di Pinggiran Kota Nantes, Perancis, adalah sebutan untuk transportasi massal yang dikembangkan oleh seorang pemilik Pabrik Jagung bernama Stanislas Baudry. Voiture Omnibus berarti kendaraan untuk semua atau kendaraan untuk rakyat. Kini kita menyebutnya bus, moda transportasi yang mulai berkembang pada tahun 1820-an dengan mengandalkan kuda sebagai penarik. Selanjutnya bus menggunakan energi uap, listrik, dan bus motor.

Perkembangan bus kini tidak sekedar sebagai alat transportasi yang membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan berpindah. Bus juga sudah memiliki fungsi rekreasi dan estetika. Sebutlah bus tingkat yang disediakan untuk keliling Kota Jakarta dan Solo, serta bus dengan desain menarik untuk keliling Kota Bandung yang dikenal dengan nama “Bandros”. Bersaudara dengan Bandros, per April 2019 di Kota Cirebon telah tersedia bus dengan fungsi rekreasi dengan sebutan Citros (Cirebon Tourism on Bus).

Citros di depan Keraton Kasepuhan Cirebon

Berkesempatan menjajal Citros saat bulan Ramadhan (Mei 2019), saya membeli tiket Rp 10.000 per orang untuk keliling kota Cirebon sekitar 45 menit. Pada saat Bulan Ramadhan, Citros bisa dinaiki dari Keraton Kasepuhan Cirebon berputar keliling kota dan kembali lagi ke Keraton. Sayangnya, karena rute yang dilewati adalah jalur kota pada sore hari sehingga bus terjebak macet. Anggaplah sebagai wisata kota yang apa adanya (macet). Operasional bus pada Bulan Ramadhan terbatas dari pukul 16.00 - 21.00 WIB, sedangkan untuk hari biasa bus bisa dinaiki dari CSB Mall mulai pukul 09.00. 


Desain bus mirip sekali dengan Bandros (Bandung Tour On Bus) hal ini dikarenakan baik Citros maupun Bandros merupakan program dari Pemerintah Jawa Barat untuk mendongkrak pariwisata di Jawa Barat. Dengan desain klasik, Citros tidak hanya menawarkan transportasi wisata keliling kota namun juga menyuguhkan penampilan yang ciamik dan unik untuk diabadikan dalam foto. Tentu saja ini menjadi nilai tambah mengingat wisatawan saat ini tidak hanya tertarik dengan layanan yang ramah/bagus tetapi juga sarana wisata yang bisa instagramable atau layak unggah di media sosial.

Citros dan sarana transportasi wisata lainnya menunjukkan bahwa perkembangan moda transportasi bus tidak semata-mata sebagai sebuah alat transportasi (berpindah). Penonjolan fungsi rekreasi sekaligus fungsi estetika menjadi keniscayaan bahwa dunia pariwisata membutuhkan inovasi yang terus menerus demi menarik perhatian pengunjung. Kehadiran bus seperti Citros menunjukkan bahwa dunia transportasi darat mengalami transformasi yang sedemikian cepat apalagi ditambah dengan tuntutan gaya hidup serta perkembangan dunia digital. 

Jika berkunjung ke Kota Cirebon, tidak ada salahnya mencoba naik Citros dan keliling kota. Kita akan disuguhi gambaran pesatnya perkembangan peradaban Kota Udang ini.

Senin, 27 Mei 2019

Suatu Sore Di Goa Sunyaragi

Hutan sunyi yang dulu dibuka selama 40 hari dengan senjata sakti bernama golok cabang milik Ki Cakrabumi, kini telah menjelma menjadi kota besar. Kota silang budaya antara nilai lokal dan modern. Pedukuhan Gerage yang awalnya dihuni oleh tujuh puluh penduduk kini disesaki oleh ribuan penghuni. Bahkan Gerage bukan lagi sekedar nama pedukuhan, sebutannya diadopsi untuk sebuah pusat perbelanjaan. Inilah Cirebon, kota peradaban yang diawali oleh kepemimpinan Ki Gede Pangalang-alang bersama Ki Cakrabumi. Cai Rebon, begitulah para utusan Kerajaan Galuh menyebut pada awalnya. Cai Rebon yang berarti air rebusan udang yang sangat memanjakan lidah. Kini dikenal Cirebon dengan julukan Kota Udang.

Selamat Datang!

Perjalanan kali ini adalah perjalanan untuk tinggal. Sebuah takdir, kota ini akan menjadi tempat saya menggantungkan hidup hari ini dan diwaktu-waktu mendatang. Saya menyisipkan rasa ingin tahu tentang kota ini di setiap rencana saya. Rasa penasaran saya membawa pikiran ini membayangkan bagaimana Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Ayu memasak rebon dengan bumbu petis, juga bagaimana geragal (terasi) sangat digandrungi pada masa itu. Semoga perjalanan-perjalanan selanjutnya dapat memberikan jawaban atas keingintahuan saya lebih jauh tentang kota ini.

Mulanya, saya memilih Goa Sunyaragi, situs budaya yang berada di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon. Goa Sunyaragi berdiri di atas lahan seluas 18.460 meter persegi dengan bangunan menghadap ke timur. Bahan bangunan terbuat dari batu karang, bata, dan kayu dan terdiri dari bangunan pesanggarahan dan bangunan goa.

Taman Syunyaragi terdiri dari bangunan pesanggarahan dan gua (dok. pribadi)
Goa Sunyaragi Cirebon (Dok. Pribadi)

Bangunan pesanggarahan terdiri dari bangunan berbentuk rumah (depan belakang) yang dilengkapi dengan sebuah kolam. Bangunan ini memliki dua buah kamar yang berukuran 4,8 x 5,5 meter. Diantara dua kamar tersebut terdapat ruangan tanpa sekat berukuran 5 x 5,5 meter yang Nampak sebagai penghubung antara teras depan dan teras belakang. Bangunan goa memiliki sejumlah bangunan yaitu Goa Pengawal, Pintu Borotan, Goa Pawon, Goa Lawa, Bangsal Jinem, Inande Beling, Monumen Kuburan Cina, Goa Padang Ati, Goa Kelanggengan, Goa Langse, Goa Peteng. 



Bangunan Pesanggarahan (dok.pribadi)
Bangunan dengan kolam-kolam (dok.pribadi)
Dominasi karang pada bangunan (dok. pribadi)
Goa Padang Ati (dok.pribadi)
Berdasarkan latar belakang sejarah Taman Sunyaragi (Goa Sunyaragi) ini dibangun oleh Pangeran Aryo Cirebon pada tahun 1703 Masehi. Tempat ini dibangun untuk latihan perang prajurit, pembuatan alat-alat perang dan tempat menyepi (bertapa). Sunyaragi berarti tempat menyepi (sunya = sunyi dan ragi = jasmani). Makna Sunyaragi ini mendukung fakta bangunan-bangunan goa dengan beberapa jenis namanya.

Saat ini, Goa Sunyaragi masuk sebagai salah satu cagar budaya di Kota Cirebon yang dikelola oleh Badan Pengelola Taman Air Gua & Panggung Sunyaragi Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada saat saya ke sana, wisatawan umum (domestik) dikenai HTM Rp 10.000. Sebagai tambahan informasi, Goa ini dibuka mulai pukul 08.00 hingga 17.00, biaya parkir Rp 2.000 - 5.000, dan jika memerlukan pemandu membayar Rp 40.000 - Rp 50.000.

Keberadaan Goa Sunyaragi sekarang ini merupakan hasil pemugaran dan sudah mendapat sentuhan modern. Seperti tulisan besar Goa Sunyaragi, taman yang ditata sedemikian rupa, juga pelataran lebar dengan tangga semacam gladiator yang juga sudah disentuh tangan modern. 

Berkunjung ke Cirebon baiknya mengunjungi Goa Sunyaragi, selain sebagai bentuk napak tilas sejarah tempat ini juga tenang. Sore itu, di Sunyaragi saya memulai perjalanan saya di Cirebon.

Referensi:

Anom, I.G.N, et al. 1996. Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusnandar, Dadang. 2012. Cirebon: Silang Peradaban. Yogyakarta (ID): Gapura Publishing.









Senin, 13 Mei 2019

Respect Your Woman

via: pixabay

Untuk urusan pekerjaan, hari ini saya harus ke Kalibata dan seperti biasa naik kereta Bogor-Duren Kalibata. Tidak ada yang menarik, seperti rutinitas naik kereta biasanya meskipun sudah absen 2 minggu ke belakang. Setelah selesai urusan kerjaan (sekitar 3 jam), saya pulang dengan rute yang sama: Duren Kalibata-Citayam (kereta Nambo) dan pindah kereta ke Bogor. Karena memutuskan untuk melanjutkan materi ekspose hasil penelitian dan kebetulan sedang tidak berpuasa saya dan teman memutuskan untuk cari tempat kerja yang bisa sekalian makan. Kami memutuskan untuk ke restoran cepat saji (yang sedang ada diskon 50%) di Jalan Pajajaran-Bogor.

Pilihan yang paling hemat saat ini adalah naik angkot dari stasiun ke Pajajaran (naik angkot 03). Saya membenarkan ramalan cuaca semalam yang menyatakan bahwa hari ini Udara lebih panas 3 derajat, apalagi saat masuk angkot yang ada di tengah kemacetan jalur Stasiun Bogor. Setelah di dalam angkot, seperti biasa penumpang harus mepet, mengisi bagian paling belakang sampai muncul di pintu. 

Di luar ada pasangan suami istri yang masih muda beserta seorang anak perempuan yang kiranya usia 3 tahunan. Sang suami mengenakan sarung biru kotak-kotak dan kemeja warna biru, membawa tas ransel abu-abu dan tentengan plastik hitam besar. Istrinya menggendong anak serta membawa satu tas perlengkapan bayi ukuran besar yang berwarna cokelat dengan gambar teddy bear. Jujur saja, saya membayangkan bahu yang tertarik karena beban tas cokelat tersebut dan lengan yang juga terasa pegal dengan beban bokong anak. Sang suami masuk ke angkot lebih dulu, tidak membantu istri dan anaknya naik. Saat istrinya naik suasana di angkot menjadi kurang nyaman, seperti setiap penumpang membatin tentang kondisi suami istri di depannya. Seorang penumpang menyampaikan supaya tas cokelat sebaiknay ditaruh agak dalam supaya tidak menghalangi pintu. Sang suami menarik tas itu, sang istri dengan sedikit gondok menariknya kembali dan mengatakan "sudah di sini saja". Tidak ada senyum, yang ada bibir manyun dan tetes keringat karena kepanasan sekaligus rasa Lelah yang menggelayut.

Entah membicarakan apa, tapi tiba-tiba suara ketus sang suami keluar. Sang istri berusaha mengendalikan ekspresi muka dan berkata "ya udah, kan cuma nanya". Hmm, suasana semakin akward, aneh, hening padahal di tengah ramai dan padatnya Pasar Anyar jam 3 sore. Tidak ada komunikasi antara suami istri itu, mungkin sudah sama-sama Lelah dengan perjalanan di tengah siang. Sang suami membuka tablet berukuran besar, saya dan teman saya sempat melirik. Tidak ada yang dia lakukan kecuali pencet-pencet tidak jelas. Lalu tablet itu dimasukkan lagi. Bisa saja orang yang tidak tahu akan mengira bahwa dia adalah orang yang sibuk. Tapi terus terang melihat tingkahnya saya jengkel. Ya, padahal itu bukan urusan saya. Sampai di Taman Kencana, nampaknya sang suami sudah mulai nowel-nowel pipi anak yang nggak merespon. Dan entah kenapa obrolan saya dan teman saya bertemakan anak. Mungkin sang suami ini merasa dibicarakan. 

Saat turun di Pajajaran, saya menarik napas. Jengkel. Ada banyak pertengkaran dalam keluarga muda yang bisa saja hadir karena hal-hal kecil, hanya karena rasa lelah setelah perjalanan. Hanya karena persoalan naik angkot dan barang bawaan yang merepotkan. Saya tidak berharap itu terjadi pada pasangan suami istri itu. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun suami-suami yang benar-benar menghormati istrinya, saya ingin menegur orang di dalam angkot tadi: Respect your woman. Nggak apa-apa kalau memang harus bertengkar, tetapi jangan pojokkan perempuanmu di hadapan orang sehingga ia terlihat bodoh dan tidak bermartabat. Bukankah janji pernikahan dipenuhi dengan kemuliaan?

Pada akhirnya memang saya tidak bisa berbuat apa-apa. 

Senin, 06 Mei 2019

Menu Diet Sehat Saat Berbuka Puasa

“Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (Artinya: rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud)

Bahagia rasanya bisa melewati satu hari puasa ini dengan lancar. Biasanya puasa pertama penuh bayangan dengan buka puasa yang penuh dengan aneka makanan. Mulai dari kolak pisang, es cendol, gorengan (uhuuy… boleh diterusin sendiri). Ternyata secara medis makanan manis mengandung gula berlebih ketika dikonsumsi saat berbuka puasa bisa memicu lonjakan gula darah dan dalam jangka panjang bisa berefek buruk bagi kesehatan. Karenya ketika berbuka puasa disarankan untuk makan kurma atau buah-buahan segar (ini juga jangan berlebihan dong :)).

Pas banget tadi malam dapat share ilmu di grup whatsapp tentang menu diet di bulan ramadhan. Diet di sini nggak berarti harus langsing ya, tetapi diet untuk sehat, termasuk dalam hal makan ketika buka puasa.

Mengutip dari @temandiet_id menu buka puasa yang bisa memenuhi kebutuhan kalori tubuh serta sehat untuk diet bisa berupa:

1 gelas air putih
1 gelas air perasan jeruk nipis + biji selasih
3 butir kurma
1 gelas buah naga + kiwi dengan yoghurt

Makan malamnya bisa dengan menu:
Nasi 1 centong
Ikan bakar sambal matah
Sayur sop 1 mangkok

Sungguh amat ideal ya menunya? Baca menunya aja udah ngerasa sehat jiwa raga >.<

Pada saat berbuka puasa dianjurkan sebelum makan sebaiknya minum air putih terlebih dahulu 1-2 gelas. Boleh diganti dengan air kelapa atau infused water, setelah itu dilanjut dengan makan takjil. Setelah cukup jangan langsung makan ya gengs, sebaiknya sholat magrib dulu supaya tubuh juga beradaptasi dengan aktivitas mencerna. Setelah itu boleh makan dengan konsumsi karbo, protein, dan sayur-sayuran.

Hidup sehat kayaknya mudah tetapi penerapannya gampang-gampang susah. Sebagai pengingat aja ketika usia sudah semakin bertambah maka daya dukung tubuh terhadap makanan tertentu juga seringkali berkurang. Kolak, cendol, dan gorengan memang selalu nikmat dan tak terkalahkan. Tetapi sehat tidak bisa digadaikan dengan semangkok kolak pisang dengan glukosa berlebih itu gengs! Yuk ah mulai diet sehat, nggak harus mewah dan mahal, yang penting disyukuri.

Selamat berbuka puasa :)




Senin, 25 Maret 2019

Keliling Malaysia dan Singapura Tanpa Tidur 60 Jam, Inspirasi dari No Sleep No Fomo Episode 1 & 2




Aplikasi hiburan VIU kembali mengeluarkan program originalnya yang berjudul NO SLEEP NO FOMO, sebuah variety show bertemakan travelling yang bekerjasama dengan asuransi FWD. Sebagai pengguna VIU yang biasanya mengikuti perkembangan drama dan film, variety show ini cukup menarik rasa ingin tahu saya. Meskipun saya juga tidak terlalu familiar dengan Paul Foster sang host namun yang menarik perhatian di episode perdananya adalah bintang tamu yang akan diajak Paul tidak tidur selama 60 jam non-stop. Tidak tidur di sini maksudnya secara harfiah tidak dalam posisi benar-benar tidur di Kasur, mereka memanfaatkan waktu seperti perjalanan di mobil untuk sejenak memejamkan mata. Nah, bintang tamu pertama untuk episode keliling Malaysia dan Singapura (dibuat dalam dua episode 1 & 2) adalah Eric Nam, bintang K-Pop kelahiran Amerika yang mendapatkan penghargaan "2016 Man Of  The Year" dari GQ Korea dan "30 Under 30 Asia 2017" dari Forbes.

KCON LA 2016 Red Carpet Eric Nam.jpg
Eric Nam via Wikipedia

Setelah buka-buka Instagram sang host Paul Foster @paulfosterrr), ternyata dia dinobatkan sebagai Earth Hour Ambassador tahun 2019 oleh WWF. Intinya dua orang ini keren di bidangnya.
Mengikuti perjalanan dua orang ini di Mayasia dan Singapura memberikan insight baru terutama kepada saya tentang travelling singkat namun memenuhi banyak bucket list yang telah direncanakan. 

Daripada kegiatan nonton VIU saya sia-sia dan hanya terbersit di mata serta memori sementara, akhirnya saya catat bucket list kedua bintang ini ketika menjelajah Malaysia dan Singapura dalam waktu 60 jam. Iseng-iseng tapi siapa tahu menginspirasi perjalanan ke dua negara tetangga itu dengan insight yang berbeda. Buat yang punya travel agent atau konsultan perjalanan yang saat ini jadi trend milenial, bucket list ini juga berguna. For me, siapa tahu bentar lagi jalan-jalan ke sana (aamiin).

Below, their bucket list in Malaysia (10 Bucket List):

Batu Caves via Pixabay

1. Batu Caves : Visit batu caves, carry an offering up the stairs, find the bird feed at the top, feed the pigeons, selfie with a monkey (mengunjungi Batu Caves, bawa persembahan melewati tangga, menemukan makanan burung di puncak Batu Caves, memberi makan merpati, dan swafoto bersama monyet).

2. Visiting Kin Kin Rest : Try Kin Kin Noodles, make your own noodles (mencoba mie kin kin, membuat mie sendiri)

3. KL City : Be a wedding crasher, selfie with the bride and groom, selfie with 10 or more people (menyelinap ke pesta pernikahan, swafoto dengan pengantin, swafoto dengan 10 orang atau lebih)

4. KL Kemensah : Serve the people on the stream at the BBQ Land (tantangan di Resto domba panggang)

5. Petronas Towers : Selfie at the Petronas Towers (swafoto di Menara Petronas)

6. Visiting Joke Factory : Perform stand up comedy (tampil di acara stand up comedy)

7. Backyard Pup : Visiting the oldest pub in KL, challenging Pub owner to a game of pool, cheers everybody (mengunjungi Pub paling tua di KL, menantang pemilik Pub bermain bilyar, cheers everybody)

8. Kaw Kaw Burger : Eat special burger menu at midnight (makan menu burger special susun 10 tengah malam)

9. Skytrex Malacca

10. Eating Durian before go to JB entry exit poiny from Malay to Singapore

Setelah menghabiskan waktu di Malaysia, Paul dan Eric menyeberang via jalur darat ke Singapura. Di Singapura mereka menghabiskan waktu untuk memenuhi 60 Jam tanpa tidur dan menjajal semua tantangan yang diberikan.

Di Singapura, bucket list mereka berdua tidak kalah seru:

Singapore, Merlion, Merlion Park, Travel
Merlion Park Singapore via Pixabay


1. Bugis Street : Visiting Bugis Village to choose an outfit for each other (membeli baju untuk satu sama lain di Bugis Village)

2. Little India : Take selfies at five landmark: working class hero, alive at clive, traditional trade of little India, Kathaka, House of Tan Teng Niah.

3. Newton Food Centre : Try Singapore's Famous Food, Eat Carrot Cake

4. Ah Sam Cold Drink Stall : Make the better Millo Cocktail

5. Altitude Gallery and Bar : Go to a rooftop bar, try the Singapore Sling

6. Merlion Park : Selfies with the Merlion and Marina Bay Sands

7. Mustafa Centre : Scavenge Hunt 

8. Pulau Ubin (Island for Grante) : Visit pulau ubin, ride a bike, spot the native animals, Spot a pink dolphin, Selfie at Jejawi Towers

9. Changi Village : Try a local Breakfast

10. Sentosa : Do the megazip zipline, do the AJ Hackett giant swing

11. Chinatown : Perform a Chinese Opera

12. Gardens By The Bay

Kalau ditotal mereka berdua memenuhi lebih dari 20 tantangan dalam waktu 60 jam, istirahatnya terhitung di mobil sekitar 2 jam dan 1 jam di hotel untuk ganti baju. Selebihnya dengan mata beler mereka memenuhi semua tantangan tersebut. Kalau dilihat bucket list-nya mungkin tidak semuanya bias dicoba, tapi tidak ada salahnya menjadi referensi. 

Dari acara-acara travel yang ada, menurut saya No Sleep No Fomo ini Worth to Watch!

#nosleepnofomo #paulfoster #ericnam #malaysiabucketlist #singaporebucketlist

Sabtu, 16 Maret 2019

Melihat Hidup Secara Utuh

Via pinterest
Seringkali jiwa-jiwa kita merasa patah, hati yang tidak tenang, juga segala keresahan yang menimbulkan kerusuhan dalam pikiran. Segalanya tentang keinginan seandainya seperti ini, seandainya seperti itu, kurang ini, kurang itu, dan seterusnya. Saya mengutip filosofi jawa “urip iku saktemene mung nunut ngombe” yang artinya hidup itu sejatinya hanya numpang minum.
Kebutuhan minum adalah karena haus, saat haus hilang minum pun cukup. Begitu pun hidup, mencari sesuatu untuk kepuasan tidak akan pernah sampai pada level  tertinggi, yang ada hanya keinginan lagi dan lagi. Bukan berarti saya mengajak untuk pesimis, tetapi satu waktu dalam hidup kita perlu memiliki kata CUKUP.
If you look at what you have in life, you will always have more. If you look at what you don’t have in life, you will never have enough -Oprah Winfrey"

Barangkali ini bisa menjadi suatu renungan tentang makna cukup. Suatu kali, sore hari di alun-alun sebuah kota, seorang pemulung tua berbaju lusuh menghampiri tong sampah yang berjajar 5 buah dihadapannya.
Dia korek-korek, berharap ada kertas atau botol plastik yang mungkin bisa masuk dalam karungnya yang sudah berubah warna menjadi kotor hitam.
Matanya cekung, pipinya tirus, jenggotnya tak terurus. Sepertinya memang ia kenyang dengan pengalaman pahit menyusuri jalanan jengkal demi jengkal untuk setiap sampah yang ia harapkan jadi jalan rezekinya.
Lalu seorang laki-laki dengan gugup memberikan dua lembar uang 2.000-an, pemulung tua itu menerimanya dengan gemetar. Ia terduduk dan berhenti sejenak dari aktifitasnya mengaduk isi tempat sampah. Ia pandangi orang yang memberikan lembaran berjumlah 4.000 itu dengan dalam, seakan ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Uang 4.000 bagi yang memberi bisa saja adalah nominal yang mungkin hanya sebagai pelengkap untuk membayar parkir mobil, tapi 4.000 bagi pemulung itu mungkin harus seharian mengumpulkan 4 kilogram kertas atau botol plastik bekas.
Betapa ironinya hidup, di satu sisi kekurangan bagi segelintir orang, namun di sisi lain yang dianggap kekurangan itu adalah kegelimangam hidup yang diidamkan oleh ribuan orang. Kita bisa saja mengeluh, mengapa masih bekerja berlelah-lelah dengan gaji yang tak seberapa, tapi di luar sana sebenarnya ada jutaan orang yang bermimpi berada di posisi kita dan mungkin perlu waktu yang lebih lagi untuk mengumpulkan gaji sebesar gaji kita.
Kita mengeluhkan mengapa air di dalam rumah sedikit keruh karena hujan, padahal di luar sana ada yang mengandalkan hujan demi bisa minum air. Memang ada? Ada, datanglah ke NTT (Nusa Tenggara Barat) sana, tidak usah terlalu jauh ke Ethiopia atau Afrika.
Kita masih mengeluhkan mengapa makanan yang kita makan tidak enak padahal lauk berlimpah, di luar sana ada orang yang mungkin tidak bisa makan seharian.
Jadi apa? Tidak ada kepuasan yang dicapai dalam hidup, sebab kepuasan tidak terbatas. Yang bisa dijalani manusia adalah bersyukur dan merasa CUKUP.
Kehidupan ini tidak diukur dari jajaran materi, pangkat, atau pun betapa mulianya pasangan hidup, itu bonus yang berlipat-lipat yang dilimpahkan kepada seseorang. Hidup ini harus dilihat secara UTUH.
Pagi ini masih bisa bernapas tanpa harus menggunakan selang oksigen, keluarga yang sehat sehingga tidak perlu berurusan dengan klaim asuransi, kaki yang masih nyaman untuk menaiki tangga kantor, makan siang yang bisa terjamin dengan seporsi nasi dan lauk, air minum yang menyegarkan, anak-anak yang ceria, pasangan yang baik.
Lihatlah hidup ini secara utuh, dari dalam diri maupun dari setiap elemen yang berada di sekitar kita. Merasa cukup dengan apa yang sudah kita mampu capai bukan berarti menyerah, itu adalah bentuk kesyukuran dan kontemplasi (perenungan) untuk sesuatu yang bisa jadi lebih baik yang tidak pernah kita tahu.

There is a difference between giving up and knowing when you have had enough -Anonim
Benar bahwa hidup ini sederhana dan yang rumit adalah tafsirnya. Kiranya tidak berlebihan, dari zaman ke zaman setiap manusia membuat tafsir tentang kehidupannya, menciptakan zona nyamannya, mengejar ambisinya, itu tidak salah.
Hanya saja yang sering terlupa adalah tidak melihat hidup secara utuh, hingga tafsir-tafsir tentang hidup hanya memunculkan ambisi yang terus menerus terpupuk, lalu lupa bahwa hidup ini adalah sementara. Ini hidup dan kehidupan, kita hanya manusia tapi seringkali merasa selalu bisa mengendalikan semua hal.
Mari bersyukur, belajar untuk melihat dari sudut pandang yang menyeluruh. Semoga hidup kita bisa memberi kehidupan.