Selasa, 20 November 2018

Why Blogging?


Sekitar tahun 2007, waktu itu saya kelas 3 di MAN 2 Banjarnegara, itulah pertama kali saya kenal internet. Cukup lamban memang, bersyukurnya saat itu sebagai siswa yang mendapat tugas TIK (teknologi informasi dan komputer) dari Pak Irfan, kami mendapat tugas ke warnet. Jangan tanya soal kuota internet, belum ada!

Tugas saat itu adalah bikin email, lalu iseng-iseng saya ketak ketik di google, muncullah platfor blog multiply yang sekarang sudah entah kabarnya. Dari iseng, main-mainin template, ihhh kok lucu ya, mulai nulis-nulis lah di situ. Tapi nggak konsisten karena setelah itu bisa dihitung ke warnet berapa kali. Nah mulai masuk kuliah di IPB di tahun pertama, namanya TPB (tingkat persiapan bersama), bikin jadi rajin ke warnet walaupun bukan buat internetan. Ya! Buat rental komputer ngetik tugas Sosiologi Umum atau nggak cari literatur gambar buat tugas Biologi. Emang jurusannya apa? Kok ada sosiologi ada juga biologi? Jurusannya Komunikasi Pengembangan Masyarakat. Nggak nyambung ya? Lain kali bisa lah ya ditulis biar nyambung. Dari situ dikit-dikit belajar otodidak tuh sama template-template blog. Untuk yang multiply pernah dibikin saya juga sudah lupa paswordnya waktu itu. Saya anggap sudah almarhumah. Ngulik-ngulik platform blogspot yang gampang, sempet juga ngulik wordpress yang templatenya lucu-lucu.

Tapi lagi-lagi nggak konsisten, lupa pasword, bingung gimana cara buka, sampai akhirnya lumayan tuh konsisten pake blogspot. Tapi belum tahu niche blog sama macem-macemnya. SAMPAI SUATU HARI.... mati lah saya, email sama pasword ga matching, nggak bisa dibuka sampai sekarang dan akhirnya bikin domain yang sedang dibaca ini. Awalnya juga isinya mirip termehek-mehek, tiada guna, sampai lama-lama nemu polanya.

Pola yang kembali acakadut. Makanya waktu blogger perempuan network bikin challenge nulis blog 30 hari sampai 20 desember 2018 nanti, saya pikir, ini saatnya bikin diri ter-challenge untuk konsisten nulis. Pengennya jadi blogger pro, tapi kalau nulisnya bolong-bolong kan jadi cuma mimpi.

Kenapa Menulis Blog?

Kemarin saat saya repost postingan dari instagram @bloggerperempuan tentang tantangan menulis ini, sempat ada teman yang komen. Saat ini orang-orang lebih suka nonton video, jadi mending ke youtube daripada blog. Mungkin saya harus belajar lebih lagi untuk videografi. Tapi soal blog, saya merasa ini adalah tempat saya bercerita. Pada dasarnya saya seneng nulis, seneng baca, dan nggak tau kenapa kalau ngulik blog tuh seneng aja. Nggak perlu alasan buat senengnya kenapa, tapi blog itu semacam second home for my thought.


Meskipun belum jadi blogger pro, traffic yang belum ribuan per hari, tapi setidaknya ketika berbagi saya senang. Ketika menulis saya senang. Kata Mbah Pramoedya sih, nulis itu kayak kerja buat keabadian. Masih ada PR saya yang jadi project jangka panjang, yaitu ngeblog untuk anak-anak saya, menulis surat untuk mereka. One day kalau mereka sudah bisa baca, mungkin bisa jadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka.

Blogging Di Tengah Maraknya Video



Nggak bisa dipungkiri bahwa video memang jadi sarana informasi yang kuat di era saat ini. Lebih banyak tarung viewer kan dari pada reader. Jagad netizen juga lebih ramai di media sosial seperti instagram, facebook, atau youtube. Tapi dunia blog tetap kuat, banyak yang besar berawal dari blog, Raditya Dika contohnya. Dan saat ini banyak banget event blogging yang diselenggarakan oleh pemerintah, perusahaan swasta, atau lembaga tertentu untuk menyeberluaskan informasi mereka. Artinya blogging punya impact untuk khalayak.

 Ada pernyataan mengapa blogging tetap eksis ditengah dunia video atau media sosial yag seakan tidak habis-habis menggelontorkan informasi, blog itu minim distraksi dibanding media sosial lainnya. Dengan kata lain dunia blog ini punya etika yang cukup rapi. Saya bukan ahli neuron atau ilmu tentang otak, tapi kata penelitian para ahli, membaca itu punya efek memori jangka panjang dibanding menonton. Baca blog juga demikian. Kata pesohor-pesohor sastra juga begitu, setelah membaca, menulislah. Menulis itu seperti mengikat ilmu, maka menulislah yang baik. Blog jadi sarananya. Semoga saya bisa terus konsisten.