Rabu, 27 Juni 2018

Aku Pernah Bermimpi Tentang Indah Hari Tua Bersamamu



Dalam langkah yang tak terbendung
Menapaki rasa yang melambung
Kita satu dalam genggaman
Kita lebur dalam doa
Kita mewujud dalam tawatawa kecil
Kita….

Masa dengan tumpukan mimpi
Waktu dengan lipatan harapan
Seperti lemari baju kita yang belum sempurna
Tapi tetap, laci-lacinya rapat
Menyimpan setiap tangkup kata yang menyublim ke udara
Menembus relung jiwa raga tentang mimpi hari tua

Di sana, di tangkup doa itu
Ada pintu-pintu kayu yang terbuka
Seperti ikut terbahak melihat ceria anak anak yang beranjak dewasa
Ada jendela yang membuka ruang mata, menatap betapa jalan panjang semakin mengeratkan jemari dua manusia
Ada gelas yang tak lagi penuh dengan teh manis yang baru saja diseduh
Hati seperti terpaut, tanpa peduli bahwa sudut mata telah mulai keriput

Kita pernah bermimpi
Ada perjalanan jauh, menapaki jejak Raffles
Menyusuri jalan raya pos Daendels
Dari Anyer hingga Panarukan
Separuhnya sudah kita lalui, seperti dua burung yang terus menyicit sepanjang jalan
Aku dengan kenangan romusha
Kamu dengan cerita tentang segelas es kopi dari warung Belanda
Berbeda namun punya latar belakang yang sama: pengertian akan makna

Di mimpi lainnya
Ada pendar lampu, ada bunyi kaleng, ada asap dengan aroma kacang tanah juga jahe merah
Di sebuah tanah, daratan yang selalu kamu sebut rumah
Bagimu, berdiri saja di sana sudah melebihi makna pulang yang kamu harapkan
Kakimu akan bergoyang, mengikuti irama Katon Bagaskara, bergumam tentang setangkup haru dalam rindu

Aku pernah bermimpi tentang indah hari tua bersamamu….

Mungkin suatu hari saat kulit sudah tak lagi mulus
Mungkin suatu hari saat kaki tak lagi bisa diajak berjalan dengan lurus
Mungkin suatu hari saat mulut tak lagi mampu berucap
Mungkin suatu hari saat pandangan kita harus mengalah dengan kaca mata
Kita hanya akan terus saling memeluk, merayakan waktu
Sebelum pusara kita bersebelahan, kau di liang yang satu, ku di sebelahmu

Aku pernah
Bermimpi....

Kota Mimpi, 27 Juni 2018