Sabtu, 31 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian 3): Konsekuensi Logis Sebuah Pernikahan


Kalau gosip katanya makin digosok makin sip (but, nggak usah bergosip ya, buang-buang waktu dan nggak kece), hehehe mirip-mirip batu akik berarti ya makin kinclong kalau makin digosok (asli ini garing). Tapi, kalau ilmu, makin dipelajari kok makin bikin penasaran ya? Setelah ini apa lagi, habis ini gimana lagi, terus menghasilkan rasa ingin tahu. Lanjut lagi ya sharing baca buku La Tahzan for Smart and Wonderful Family buku yang ditulis A Kang Mastur dan diterbitkan oleh Diva Press. Sebelumnya sudah dishare di Bagian I yang isinya tentang anjuranmenikah dan Bagian 2 tentang tujuan pernikahan.

Sebenarnya setelah itu ada bab yang menjelaskan tentang hukum-hukum nikah, pernikahan yang dilarang, dan siapa-siapa yang diharamkan untuk dinikahi. Namun, saya skip ulasan tentang itu, why? Tidak apa-apa, pembahasannya fiqih sekali (beserta dalil-dalilnya) dan perlu waktu banyak untuk menuliskannya kembali. Jadi saya baca tapi tidak saya tuliskan kembali untuk di-share. Lanjutannya di bagian 3 ini tentang konsekuensi logis dari sebuah pernikahan. Ini sebenarnya cocok banget buat yang belum atau baru merencanakan pernikahan. Buat siapa pun seperti saya yang sudah menjalani prosesnya, pembahasan ini jadi bahan renungan dan bahan perbaikan supaya kondisi pernikahan menjadi semakin sesuai seperti yang diidamkan oleh pribadi dan pasangan.

Menikah adalah Menata Diri

Laki-laki dan perempuan dituntut untuk mempersiapkan diri, menata hati, pikiran, dan mental untuk menjalani biduk rumah tangga. Meskipun sifatnya sangat spiritual, namun pernikahan memiliki konsekuensi yang logis baik secara ekonomi, budaya, sosial, maupun politik. Contoh sederhana dari konsekuensi logis ini adalah suami bertanggungjawab mencari nafkah sedangkan istri bertanggung jawab menjaga adab di belakang dan depan sumi, serta sebaliknya.

Bagaimana cara menata diri?

  • Meneguhkan niat dan persiapkan diri sebaik-baiknya
Segala sesuatu harus diniati karena Allah SWT. Salah satu contoh dari persiapan diri yang paling mendasar adalah mengubah cara berpakaian bertutur, bersikap, dan bergaul supaya tidak menyalahi ketentuan syariat. Hal tersebut tidak bisa dilakukan secara instan namun minimal pelan-pelan sudah ada semangan dan niat kuat untuk berubah. Buat yang sudah nihah juga nih, niat itu harus selalu dipupuk, diperbaiki, diluruskan, perbaikan diri juga harus dilakukan terus menerus. Tujuannya supaya niat itu nggak usang, nggak ketutup sama tujuan-tujuan dunia yang lain yang kadang-kadang bukan hal paling penting tapi menjadi perhatian yang dominan.
“Barang siapa menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu diberkahi-Nya. Siapa yang menikahi seorang perempuan karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya. Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan. Siapa yang menikahi perempuan karen abagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi berkah dan menambah berkah tersebut kepadanya.” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi perempuan karena kecantikannya. Mungkin saja kecantikan itu menyebabkanmu hina. Jangan kamu menikahi perempuan karena harta dan tahtanya. Mungkin saja harta atau tahtanya menjadikanmu melampaui batas. Akan tetapi, nikahilah perempuan karena agamanya. Sebab, seorang budak perempuan yang shalihah meskipun buruk wajahnya ialah lebih utama.” (HR. Ibnu Majah).
Astaghfirullah... bahkan saya pun masih jauh dari kriteria yang disebutkan dalam sabda Rasulullah di atas. Semoga diberikan kekuatan dan kesinambungan dalam proses terus memperbaiki diri. Aamiin...
  • Mempersiapkan dan terus meng-upgrade ilmu
Salah satu pondasi dalam hidup berumah tangga adalah ilmunya. Ilmu yang kayak gimana? Ilmu yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah. Kenapa sih harus punya ilmu? Sebab, mencintai pasangan tidaklah cukup bila tidak disertai ilmu. Ilmu tentang membina rumah tangga sangat vital dan luas cakupannya. Selain berisi tentang cara mendidik anak, ilmu tentang rumah tangga juga mencakup manajemen perasaan (berkaitan dengan kebiasaan, kepribadian, dan perilaku pasangannya).
Manajemen perasaan misalnya cara istri mengungkapkan cinta kepada suami, begitu pula sebaliknya. Saat istri menangis, suami patut menghilangkan kesedihan itu melalui cara-cara tertentu. Suami istri juga perlu membiasakan diri untuk tidak mudah marah atau tersinggung dengan perlakuan pasangan. Berumah tangga menuntut suami istri untuk memiliki kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan yang dimaksud adalah sikap ya, bukan usia, kalau usia nikah kan memang sudah aqil baligh J
Huhu masih jauh panggang dari api juga nih saya... harus terus belajar, upgrade upgrade! upgrade! 

  • Kesiapan Materi
Meskipun materi tidak menjadi prasyarat dalam pernikahan tetapi materi menjadi pendukung pernikahan dan hal ini menjadi tugas laki-laki atau suami.
“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Sebab, hal itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu, ia hendaknya berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

  • Kesiapan mental
Kesiapan mental merupakan hal penting untuk membangun rumah tangga, supaya pasangan siap dan tidak muncul kecurigaan-kecurigaan dalam diri pasangan di kemudian hari. Pada dasarnya semua laki-laki dan perempuan menghendaki menikah sekali dalam hidup. Kesiapan mental dalam mengarungi rumah tangga misalnya memahami perubahan yang akan terjadi dalam hidup bersama, membangun komunikasi sinergis, menghargai perbedaan, mempersiapkan pencapaian bersama, tidak saling mementingkan ego, saling membangun kepercayaan, tidak membatasi pertemanan, bersiap menjadi individu yang tegar dan pantang menyerah.
Pernikahan itu sederhana, dalam kajian Uztad Khalid Basalamah, pas saya cek-cek yutub (emak yutub :)) yang membedakan pernikahan dengan zina itu cuma 5 menit yaitu akad nikah. Kebayang nggak sih 5 menit yang mengguncangkan Arsy Allah, 5 menit dimana doa-doa diaminkan oleh malaikat, 5 menit tapi bermakna dunia akhirat. Masya Allah ya... Tentunya 5 menit ini akan menjadi baik dengan syarat-syarat yang dipenuhi, bukan dengan cara-cara yang tidak baik dan tidak diridhai. Semangat ya gengs buat yang mau nikah atau sudah nikah atau sedang ada masalah dalam pernikahannya. Allah Maha Rahman Rahim, insyaAllah dikabulkan doa baiknya semuanya. Aamiin... 

See you di pembahasan lanjutan ya J