Kamis, 29 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian 2): Tentang Tujuan Pernikahan



Dulu waktu masih SMA, guru Fiqih saya Pak Fadlulloh dan almarhumah Ibu Fuadriyah mengajari tentang berbagai hal yang terkait dengan pernikahan. Hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum islam terkait dengan pernikahan pernah saya hapal diluar kepala, terbukti dengan nilai raport yang bagus saat ujian. Sayangnya, itu berhenti sampai di sana saja, sampai di nilai raport. Harusnya saya lebih sudah sadar dari dulu bahwa ilmu tersebut penting supaya jadi bekal saya ketika menjalankan rumah tangga. Tapi namanya manusia, menyesal ya di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran. Dulu boro-boro mikir mau nikah sama siapa dan mau membangun rumah tangga bagaimana, yang penting sekolah belajar rajin dan dapat nilai bagus, kalau lulus bisa masuk ke universitas negeri. Duhhhh, eh tapi itu manusiawi juga sih, hehehe.


Melanjutkan baca La Tahzan for Smart and Wonderful Family buku yang ditulis A Kang Mastur dan diterbitkan oleh Diva Press (ulasan sebelumnya ada di Bangunan Itu BernamaRumah Tangga Bagian I), kali ini pembahasannya berkaitan dengan tujuan pernikahan. Pernikahan merupakan jalan untuk menumbuhkan rasa saling cinta dan percaya antara suami istri. Dalam Islam, pernikahan merupakan ikatan sakral nan suci yang disebutkan sebagai miitsaqan ghaliizaa (perjanjian yang kuat). Menurut Abduh al-Barraq, miitsaqan ghaliizaa dalam pernikahan laksana perjanjian Allah SWT dengan para rasul. Artinya, seseorang yang telah mengikrarkan akad berarti telah mengikrarkan sebuah perjanjian yang berat sebagaimana para rasul berjanji untuk mengemban amanah kenabian mereka.

So, di dalam buku ini juga dibilang:
  • ü  Pernikahan tidaklah pantas dianggap sebagai permainan dan sesuatu yang sepele. Butuh keteguhan hati dari laki-laki dan perempuan ketika telah bersepakat membina rumah tangga.
  • ü  Pernikahan yang dapat membawa ketenteraman, keberkahan, serta kasih sayang dari Allah SWT merupakan perjodohan yang memiliki tujuan sesuai dengan semangat Al-Qur’an dan Hadits. Note untuk saya sendiri nih, harus punya niat yang kuat untuk terus belajar sesuai sumbernya . Semangat!



Tujuan Pernikahan Dalam Islam

  • Untuk Allah SWT semata
Segala sesuatu akan bernilai ibadah di dalam sebuah pernikahan jika diniatkan lillahi ta’ala. Dengan niat tersebut suami istri bisa dapat pahala atas semua tugas yang dijalankan atau dengan kata lain segala sesuatunya bernilai ibadah.

 “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau perempuan yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  •  Mengokohkan cinta meraih surga
Islam tidak melarang seseorang jatuh cinta, namun bukan cinta yang dilandasi hawa nafsu. Perasaan yang mengarahkan pada tindakan-tindakan amoral bukanlah perasaan cinta namun percikan hawa nafsu yang bersumber dari setan. Menikah tidak hanya mengukuhkan cinta namun juga dapat meraih surga yang seseorang cita-citakan. 


  •  Melanjutkan generasi islam
Pandangan indah manusia dan kecintaan terhadap dunia dengan segala isinya merupakan titipan Allah SWT yang suatu saat bisa diambil oleh-Nya. 

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia keinginan pada apa-apa yang diingini, yaitu; perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14)

Pada kenyataannya, anak merupakan salah satu perhiasan yang tidak ada bandingannya di dunia selain istri dan harta benda. Anak merupakan salah satu penyebab kesenangan. Salah satu jalan yang baik untuk mendapatkan kesenangan itu adalah dengan menikah, melahirkan generasi, mendidik, menjadikannya penyejuk hati.

“Nikahilah perempuan-perempuan yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian di hadapan umat-umat lainnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani) 

  •  Menjaga kehormatan diri
Menikah dapat menjaga diri dan pasangan terhindar dari perbuatan maksiat serta bisa menyelamatkan kehormatan diri dan keluarga. Pernikahan dapat mengantarkan orang kepada keadaan jiwa yang lebih tenang. Ketenangan yang dibutuhkan setiap orang oun sebenarnya dapat tumbuh ketika sudah menikah seperti ketenangan bekerja, beraktivitas, tidur, dan lainnya.


  • Jalan meraih kekayaan
Allah SWT akan mencukupkan harta dan kekayaan yang tak disangka-sangka bagi setiap pasangan suami istri. Sebab Allah SWT telah menjamin bahwa rezeki pasangan suami istri melalui karunia-Nya.

 "Dan, nikahkanlah orang-orang yang sendirian dia antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin maka Allah akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Dan, Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui. (QS an-Nuur:32)
  •  Menguatkan ikatan kekerabatan
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS An-Nisaa’:1)

Pernikahan tidak hanya dibangun atas hubungan batin dua orang, tetapi juga dua keluarga mempelai. Dalam pernikahan diperlukan adanya kejujuran, kerja sama, toleransi, dan kasih sayang. Hal tersebut bertujuan untuk membentuk keluarga yang baik yang menyebabkan hubungan kekerabatan yang baik. 

A Lesson Learn

Kadang sesuatu terlihat sepele atau tidak ada artinya untuk kita, tapi bisa jadi sesuatu itu berguna sekali untuk orang lain. Secara umum, orang menikah pasti sudah tahu tujuannya untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Siapa sih yang nggak pengen bahagia dan nikahnya berkah? Nggak ada! Hanya dalam prosesnya kadang ada kerikil kecil yang mengganjal menyandung langkah, ada batu besar yang menghalangi visi misi, ada aja cobaannya. Buat saya pribadi yang sudah menjalani proses pernikahan itu, pernikahan nggak selalu mulus, nggak selalu dapat happy-nya, nggak selalu definisi sakinah, mawaddah, wa rahmah terus yang terjadi. But, semoga dengan belajar lagi tentang tujuan pernikahan, saya dan semua bisa mengambil hikmah, menyelami lebih dalam “udah bener belum ya tujuan selama ini? Jangan-jangan masih banyak bolongnya, jangan-jangan tujuannya untuk kebanggaan semata.

Semoga diberikan jalan yang baik untuk terus membina keluarga dan rumah tangga sesuai dengan perintah Yang Maha Kuasa. Bagi yang sudah menikah, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat dan bahan renungan. Bagi yang belum juga bisa jadi pengetahuan. Aamiin.

Sih, kok kamu serius banget nulisnya? Hehe, ini kan ceritanya mau sharing isi buku yang saya baca, semoga bermanfaat ya J kalau soal serius, iya, memang serius untuk memperbaiki diri, semoga jadi jalan baik juga untuk kita semua. Kalau mau baca Bagian I bisa diklik di sini ya, kita ketemu lagi di sharing selanjutnya.