Selasa, 20 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian I)


Beberapa hari yang lalu saya melipir sebentar ke toko buku, semacam me time sambil jinjing kantong belanjaan isi susu pertumbuhan punya mas-nya yang sudah toddler.  Berpacu dengan waktu supaya nggak terlalu lama di dalam toko buku, saya coba menuruti rasa ingin tahu saya tentang beberapa hal yang akhir-akhir ini cukup menyita pemikiran. Satu hal yang saya sadari ketika saya berada di dalam toko buku: waktu sudah mengubah segalanya dalam hidup saya, tetapi tidak dengan kecintaan saya terhadap ilmu. Juga saya menyadari bahwa betapa pun saya mencintai ilmu, ternyata saya juga sudah berada di titik kesadaran bahwa ilmu itu harus berdampingan dengan keseharian saya, dengan pengabdian saya yaitu keluarga inti saya saat ini dimana ada suami, anak-anak, dan diri saya pribadi.

Setelah berputar-putar pegang ini itu, termasuk ambil dua buku tipis untuk mas Anugrah, saya menelusuri rak-rak buku populer. Tidak ada target khusus mau beli buku apa tetapi saat melewati salah satu rak buku saya tertarik dengan sebuah buku bersampul pink terang. Judulnya La Tahzan for Smart and Wonderful Family, penulisnya A Kang Mastur. Lewat tulisan ini dan beberapa tulisan lainnya ke depan saya mungkin akan banyak mengutip isi buku tersebut, tujuannya sebagai pengingat karena saya pribadi sedang belajar tentang ilmu membangun rumah tangga yang kelihatannya gampang tapi sebenarnya sangat rumit. Butuh waktu seumur hidup untuk mempelajari ilmunya dan butuh ketekunan serta kesabaran luar biasa untuk bisa memahami ilmu tersebut baik dari pengalaman maupun dari tuntunan (Al-Qur’an, Hadist, maupun referensi yang relevan). Review keseluruhan bukunya sendiri akan saya tulis setelah saya rampung dengan bagian per-bab-nya, semoga bisa bermanfaat untuk siapa pun yang membaca.



Eh, by the way serius banget Sih?

Hehe, iya ya? Jawabannya sederhana, karena nggak ada yang becanda untuk menggapai hidup bahagia dunia akhirat. Kalau belajar ilmu tentang membangun keluarga ini menjadi investasi kebaikan kenapa nggak? Ya kan!

“Rumah tangga merupakan bangunan yang dibangun dari pernikahan yang sah. Disebut rumah tangga karena pernikahan bagaikan menaiki satu per satu tangga menuju kebahagiaan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.”

-A Kang Mastur-

Bab awal buku ini menjelaskan tentang pernikahan dari sisi makna terminologi (asal kata) maupun epistimologi (makna). Secara terminologi menikah berasal dari bahasa Arab yang berarti kumpul. Makna nikah (zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij (akad nikah) atau wath’u al zaujah (menyetubuhi istri). Secara epistimologi, makna nikah tidak berhenti pada hubungan biologis yang dihalalkan. Tetapi menikah adalah hubungan antara suami istri untuk membangun rumah tangga sesuai syariat yang dapat mengantarkan suami dan istri meraih keluarga yang sehat secara fisik dan mental, berbudaya, serta saling mencintai. Menikah berkaitan dengan hubungan yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama membangun keluarga bahagia. Menikah bukanlah upacara untuk menjadikan istri sebagai objek tetapi istri adalah subjek yang sejajar dengan suami dalam membangun rumah tangga.

We Need To Know

Di Indonesia, pernikahan/perkawinan diatur melalui UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagi saya, setelah membaca mengenai makna pernikahan itu sendiri rasanya kesadaran bahwa menikah itu bukan hanya tanggung jawab kepada sesama manusia (dalam hal ini suami/istri) tetapi menikah itu adalah perjanjian langsung dengan Allah SWT untuk membangun kebahagiaan melalui keluarga dengan tujuan tidak hanya di dunia tetapi kehidupan setelahnya. Pernah saya nonton youtube kajiannya uztad Salim A Fillah. Kira-kira yang dibahas begini, tujuan menikah itu bukan untuk bahagia tetapi untuk mendapatkan berkah. Kalau semua tujuan diniatkan untuk mencari berkah maka kebahagiaan pun akan diperoleh, suami istri akan saling menghormati perannya, suami istri akan terus belajar mewujudkan yang namanya sakinah mawaddah wa rahmah.

Tentang Anjuran Membina Rumah Tangga

Salah satu alasan dianjurkan pernikahan adalah  karena di dalam pernikahan akan hadir keberkahan, keindahan, kenyamanan, ketenteraman hati, dan sebagainya. Pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah, kejujuran, kerjasama, kebersamaan, dan kasih sayang, akan mewujudkan ketenteraman dalam hubungan suami istri. Beberapa alasan lain mengenai anjuran membina rumah tangga adalah sebagai berikut:
  • Setiap makhluk diciptakan berpasangan
 “Maha Suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin: 36)
  •  Meraih tujuan ketenteraman 
 Kebahagiaan dan ketenteraman adalah tujuan setiap manusia, hal itu bisa dicapai jika rumah tangga dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT.
  • Menguatkan akhlak
Ketika seseorang menikah, secara serentak pula ia berjanji untuk mengubah perilaku yang tidak baik pada masa lajangnya menjadi perilaku positif bersama pasangan sah. Inti anjuran menikah ialah menjaga martabat, kehormatan, dan akhlak pasangan. Pernikahan akan mengangkat derajat manusia dari kehidupan ala binatang menjadi kehidupan insan yang mulia. 
  • Bermanfaat untuk kesehatan
Manfaat kesehatan dalam hubungan pernikahan salah satunya berkaitan dengan terkontrolnya hasrat seksual yang tersalurkan dengan baik dan benar serta tidak tertular penyakit kelamin. Selain itu pernikahan juga dapat memacu kinerja otak dengan baik, fokus, dan terarah.
  • Bermanfaat bagi negara
Dengan menikah maka proses melahirkan penerus generasi menjadi berlangsung baik dan terkontrol. Hal ini berdampak pada kelangsungan kehidupan umat manusia dalam segala bidang.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal” (QS. Al-Hujuraat: 13)
  • Keberkahan melalui keturunan
“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka, mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”
(QS. An-Nahl:72)
 “Dan, orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqaan:74)
Pernikahan mensyaratkan hubungan dua manusia berlainan jenis kelamin di dalam satu bangunan keluarga yang sah dengan tujuan keturunan yang dihasilkan dapat memberikan sumbangan positif bagi perkembangan kehidupan di masa mendatang. Keturunan yang diberikan Allah adalah titipkan yang wajib dibesarkan dan dididik dengan baik melalui kerjasama, cinta, dan kasih sayang antara suami istri.

Uwow, ternyata pembahasan mengenai pengertian dan anjuran menikah saja sudah cukup panjang ya bro, sist

www.pixabay.com

Kalau dipikir-pikir bukan tentang panjang pembahasannya tapi memang ilmu semakin digali semakin kita merasa belum tahu apa-apa ya, saya pribadi merasa demikian. Ilmu saya tentang rumah tangga masih ceteeek banget, ibarat lautan, saya baru nginjek pasirnya doang, itu juga masih pasir yang deket banget sama jalan raya T.T

Tulisan ini semoga menjadi pengingat buat saya pribadi dan siapa pun yang membacanya, yang hanya iseng atau pun mau ambil pelajaran, semoga kita menjadi semakin tahu diri dan introspeksi bahwa dalam aspek kehidupan ini ada hal-hal yang memang kita pertanggungjawabkan kepada sesama manusia tetapi ada juga yang kita pertanggungjawabkan kepada Allah SWT, salah satunya pernikahan. Semoga kita menjadi orang-orang yang amanah terhadap janji kita kepada Allah SWT dan kepada sesama ciptaan-Nya.

Kita ketemu di pembahasan selanjutnya ya... yuk belajar bareng biar makin ngerti, semoga berkah.