Sabtu, 31 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian 3): Konsekuensi Logis Sebuah Pernikahan


Kalau gosip katanya makin digosok makin sip (but, nggak usah bergosip ya, buang-buang waktu dan nggak kece), hehehe mirip-mirip batu akik berarti ya makin kinclong kalau makin digosok (asli ini garing). Tapi, kalau ilmu, makin dipelajari kok makin bikin penasaran ya? Setelah ini apa lagi, habis ini gimana lagi, terus menghasilkan rasa ingin tahu. Lanjut lagi ya sharing baca buku La Tahzan for Smart and Wonderful Family buku yang ditulis A Kang Mastur dan diterbitkan oleh Diva Press. Sebelumnya sudah dishare di Bagian I yang isinya tentang anjuranmenikah dan Bagian 2 tentang tujuan pernikahan.

Sebenarnya setelah itu ada bab yang menjelaskan tentang hukum-hukum nikah, pernikahan yang dilarang, dan siapa-siapa yang diharamkan untuk dinikahi. Namun, saya skip ulasan tentang itu, why? Tidak apa-apa, pembahasannya fiqih sekali (beserta dalil-dalilnya) dan perlu waktu banyak untuk menuliskannya kembali. Jadi saya baca tapi tidak saya tuliskan kembali untuk di-share. Lanjutannya di bagian 3 ini tentang konsekuensi logis dari sebuah pernikahan. Ini sebenarnya cocok banget buat yang belum atau baru merencanakan pernikahan. Buat siapa pun seperti saya yang sudah menjalani prosesnya, pembahasan ini jadi bahan renungan dan bahan perbaikan supaya kondisi pernikahan menjadi semakin sesuai seperti yang diidamkan oleh pribadi dan pasangan.

Menikah adalah Menata Diri

Laki-laki dan perempuan dituntut untuk mempersiapkan diri, menata hati, pikiran, dan mental untuk menjalani biduk rumah tangga. Meskipun sifatnya sangat spiritual, namun pernikahan memiliki konsekuensi yang logis baik secara ekonomi, budaya, sosial, maupun politik. Contoh sederhana dari konsekuensi logis ini adalah suami bertanggungjawab mencari nafkah sedangkan istri bertanggung jawab menjaga adab di belakang dan depan sumi, serta sebaliknya.

Bagaimana cara menata diri?

  • Meneguhkan niat dan persiapkan diri sebaik-baiknya
Segala sesuatu harus diniati karena Allah SWT. Salah satu contoh dari persiapan diri yang paling mendasar adalah mengubah cara berpakaian bertutur, bersikap, dan bergaul supaya tidak menyalahi ketentuan syariat. Hal tersebut tidak bisa dilakukan secara instan namun minimal pelan-pelan sudah ada semangan dan niat kuat untuk berubah. Buat yang sudah nihah juga nih, niat itu harus selalu dipupuk, diperbaiki, diluruskan, perbaikan diri juga harus dilakukan terus menerus. Tujuannya supaya niat itu nggak usang, nggak ketutup sama tujuan-tujuan dunia yang lain yang kadang-kadang bukan hal paling penting tapi menjadi perhatian yang dominan.
“Barang siapa menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu diberkahi-Nya. Siapa yang menikahi seorang perempuan karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya. Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan. Siapa yang menikahi perempuan karen abagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi berkah dan menambah berkah tersebut kepadanya.” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi perempuan karena kecantikannya. Mungkin saja kecantikan itu menyebabkanmu hina. Jangan kamu menikahi perempuan karena harta dan tahtanya. Mungkin saja harta atau tahtanya menjadikanmu melampaui batas. Akan tetapi, nikahilah perempuan karena agamanya. Sebab, seorang budak perempuan yang shalihah meskipun buruk wajahnya ialah lebih utama.” (HR. Ibnu Majah).
Astaghfirullah... bahkan saya pun masih jauh dari kriteria yang disebutkan dalam sabda Rasulullah di atas. Semoga diberikan kekuatan dan kesinambungan dalam proses terus memperbaiki diri. Aamiin...
  • Mempersiapkan dan terus meng-upgrade ilmu
Salah satu pondasi dalam hidup berumah tangga adalah ilmunya. Ilmu yang kayak gimana? Ilmu yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah. Kenapa sih harus punya ilmu? Sebab, mencintai pasangan tidaklah cukup bila tidak disertai ilmu. Ilmu tentang membina rumah tangga sangat vital dan luas cakupannya. Selain berisi tentang cara mendidik anak, ilmu tentang rumah tangga juga mencakup manajemen perasaan (berkaitan dengan kebiasaan, kepribadian, dan perilaku pasangannya).
Manajemen perasaan misalnya cara istri mengungkapkan cinta kepada suami, begitu pula sebaliknya. Saat istri menangis, suami patut menghilangkan kesedihan itu melalui cara-cara tertentu. Suami istri juga perlu membiasakan diri untuk tidak mudah marah atau tersinggung dengan perlakuan pasangan. Berumah tangga menuntut suami istri untuk memiliki kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan yang dimaksud adalah sikap ya, bukan usia, kalau usia nikah kan memang sudah aqil baligh J
Huhu masih jauh panggang dari api juga nih saya... harus terus belajar, upgrade upgrade! upgrade! 

  • Kesiapan Materi
Meskipun materi tidak menjadi prasyarat dalam pernikahan tetapi materi menjadi pendukung pernikahan dan hal ini menjadi tugas laki-laki atau suami.
“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Sebab, hal itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu, ia hendaknya berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

  • Kesiapan mental
Kesiapan mental merupakan hal penting untuk membangun rumah tangga, supaya pasangan siap dan tidak muncul kecurigaan-kecurigaan dalam diri pasangan di kemudian hari. Pada dasarnya semua laki-laki dan perempuan menghendaki menikah sekali dalam hidup. Kesiapan mental dalam mengarungi rumah tangga misalnya memahami perubahan yang akan terjadi dalam hidup bersama, membangun komunikasi sinergis, menghargai perbedaan, mempersiapkan pencapaian bersama, tidak saling mementingkan ego, saling membangun kepercayaan, tidak membatasi pertemanan, bersiap menjadi individu yang tegar dan pantang menyerah.
Pernikahan itu sederhana, dalam kajian Uztad Khalid Basalamah, pas saya cek-cek yutub (emak yutub :)) yang membedakan pernikahan dengan zina itu cuma 5 menit yaitu akad nikah. Kebayang nggak sih 5 menit yang mengguncangkan Arsy Allah, 5 menit dimana doa-doa diaminkan oleh malaikat, 5 menit tapi bermakna dunia akhirat. Masya Allah ya... Tentunya 5 menit ini akan menjadi baik dengan syarat-syarat yang dipenuhi, bukan dengan cara-cara yang tidak baik dan tidak diridhai. Semangat ya gengs buat yang mau nikah atau sudah nikah atau sedang ada masalah dalam pernikahannya. Allah Maha Rahman Rahim, insyaAllah dikabulkan doa baiknya semuanya. Aamiin... 

See you di pembahasan lanjutan ya J

Kamis, 29 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian 2): Tentang Tujuan Pernikahan



Dulu waktu masih SMA, guru Fiqih saya Pak Fadlulloh dan almarhumah Ibu Fuadriyah mengajari tentang berbagai hal yang terkait dengan pernikahan. Hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum islam terkait dengan pernikahan pernah saya hapal diluar kepala, terbukti dengan nilai raport yang bagus saat ujian. Sayangnya, itu berhenti sampai di sana saja, sampai di nilai raport. Harusnya saya lebih sudah sadar dari dulu bahwa ilmu tersebut penting supaya jadi bekal saya ketika menjalankan rumah tangga. Tapi namanya manusia, menyesal ya di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran. Dulu boro-boro mikir mau nikah sama siapa dan mau membangun rumah tangga bagaimana, yang penting sekolah belajar rajin dan dapat nilai bagus, kalau lulus bisa masuk ke universitas negeri. Duhhhh, eh tapi itu manusiawi juga sih, hehehe.


Melanjutkan baca La Tahzan for Smart and Wonderful Family buku yang ditulis A Kang Mastur dan diterbitkan oleh Diva Press (ulasan sebelumnya ada di Bangunan Itu BernamaRumah Tangga Bagian I), kali ini pembahasannya berkaitan dengan tujuan pernikahan. Pernikahan merupakan jalan untuk menumbuhkan rasa saling cinta dan percaya antara suami istri. Dalam Islam, pernikahan merupakan ikatan sakral nan suci yang disebutkan sebagai miitsaqan ghaliizaa (perjanjian yang kuat). Menurut Abduh al-Barraq, miitsaqan ghaliizaa dalam pernikahan laksana perjanjian Allah SWT dengan para rasul. Artinya, seseorang yang telah mengikrarkan akad berarti telah mengikrarkan sebuah perjanjian yang berat sebagaimana para rasul berjanji untuk mengemban amanah kenabian mereka.

So, di dalam buku ini juga dibilang:
  • ü  Pernikahan tidaklah pantas dianggap sebagai permainan dan sesuatu yang sepele. Butuh keteguhan hati dari laki-laki dan perempuan ketika telah bersepakat membina rumah tangga.
  • ü  Pernikahan yang dapat membawa ketenteraman, keberkahan, serta kasih sayang dari Allah SWT merupakan perjodohan yang memiliki tujuan sesuai dengan semangat Al-Qur’an dan Hadits. Note untuk saya sendiri nih, harus punya niat yang kuat untuk terus belajar sesuai sumbernya . Semangat!



Tujuan Pernikahan Dalam Islam

  • Untuk Allah SWT semata
Segala sesuatu akan bernilai ibadah di dalam sebuah pernikahan jika diniatkan lillahi ta’ala. Dengan niat tersebut suami istri bisa dapat pahala atas semua tugas yang dijalankan atau dengan kata lain segala sesuatunya bernilai ibadah.

 “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau perempuan yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  •  Mengokohkan cinta meraih surga
Islam tidak melarang seseorang jatuh cinta, namun bukan cinta yang dilandasi hawa nafsu. Perasaan yang mengarahkan pada tindakan-tindakan amoral bukanlah perasaan cinta namun percikan hawa nafsu yang bersumber dari setan. Menikah tidak hanya mengukuhkan cinta namun juga dapat meraih surga yang seseorang cita-citakan. 


  •  Melanjutkan generasi islam
Pandangan indah manusia dan kecintaan terhadap dunia dengan segala isinya merupakan titipan Allah SWT yang suatu saat bisa diambil oleh-Nya. 

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia keinginan pada apa-apa yang diingini, yaitu; perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14)

Pada kenyataannya, anak merupakan salah satu perhiasan yang tidak ada bandingannya di dunia selain istri dan harta benda. Anak merupakan salah satu penyebab kesenangan. Salah satu jalan yang baik untuk mendapatkan kesenangan itu adalah dengan menikah, melahirkan generasi, mendidik, menjadikannya penyejuk hati.

“Nikahilah perempuan-perempuan yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian di hadapan umat-umat lainnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani) 

  •  Menjaga kehormatan diri
Menikah dapat menjaga diri dan pasangan terhindar dari perbuatan maksiat serta bisa menyelamatkan kehormatan diri dan keluarga. Pernikahan dapat mengantarkan orang kepada keadaan jiwa yang lebih tenang. Ketenangan yang dibutuhkan setiap orang oun sebenarnya dapat tumbuh ketika sudah menikah seperti ketenangan bekerja, beraktivitas, tidur, dan lainnya.


  • Jalan meraih kekayaan
Allah SWT akan mencukupkan harta dan kekayaan yang tak disangka-sangka bagi setiap pasangan suami istri. Sebab Allah SWT telah menjamin bahwa rezeki pasangan suami istri melalui karunia-Nya.

 "Dan, nikahkanlah orang-orang yang sendirian dia antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin maka Allah akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Dan, Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui. (QS an-Nuur:32)
  •  Menguatkan ikatan kekerabatan
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS An-Nisaa’:1)

Pernikahan tidak hanya dibangun atas hubungan batin dua orang, tetapi juga dua keluarga mempelai. Dalam pernikahan diperlukan adanya kejujuran, kerja sama, toleransi, dan kasih sayang. Hal tersebut bertujuan untuk membentuk keluarga yang baik yang menyebabkan hubungan kekerabatan yang baik. 

A Lesson Learn

Kadang sesuatu terlihat sepele atau tidak ada artinya untuk kita, tapi bisa jadi sesuatu itu berguna sekali untuk orang lain. Secara umum, orang menikah pasti sudah tahu tujuannya untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Siapa sih yang nggak pengen bahagia dan nikahnya berkah? Nggak ada! Hanya dalam prosesnya kadang ada kerikil kecil yang mengganjal menyandung langkah, ada batu besar yang menghalangi visi misi, ada aja cobaannya. Buat saya pribadi yang sudah menjalani proses pernikahan itu, pernikahan nggak selalu mulus, nggak selalu dapat happy-nya, nggak selalu definisi sakinah, mawaddah, wa rahmah terus yang terjadi. But, semoga dengan belajar lagi tentang tujuan pernikahan, saya dan semua bisa mengambil hikmah, menyelami lebih dalam “udah bener belum ya tujuan selama ini? Jangan-jangan masih banyak bolongnya, jangan-jangan tujuannya untuk kebanggaan semata.

Semoga diberikan jalan yang baik untuk terus membina keluarga dan rumah tangga sesuai dengan perintah Yang Maha Kuasa. Bagi yang sudah menikah, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat dan bahan renungan. Bagi yang belum juga bisa jadi pengetahuan. Aamiin.

Sih, kok kamu serius banget nulisnya? Hehe, ini kan ceritanya mau sharing isi buku yang saya baca, semoga bermanfaat ya J kalau soal serius, iya, memang serius untuk memperbaiki diri, semoga jadi jalan baik juga untuk kita semua. Kalau mau baca Bagian I bisa diklik di sini ya, kita ketemu lagi di sharing selanjutnya.

Selasa, 20 Maret 2018

Bangunan Itu Bernama Rumah Tangga (Bagian I)


Beberapa hari yang lalu saya melipir sebentar ke toko buku, semacam me time sambil jinjing kantong belanjaan isi susu pertumbuhan punya mas-nya yang sudah toddler.  Berpacu dengan waktu supaya nggak terlalu lama di dalam toko buku, saya coba menuruti rasa ingin tahu saya tentang beberapa hal yang akhir-akhir ini cukup menyita pemikiran. Satu hal yang saya sadari ketika saya berada di dalam toko buku: waktu sudah mengubah segalanya dalam hidup saya, tetapi tidak dengan kecintaan saya terhadap ilmu. Juga saya menyadari bahwa betapa pun saya mencintai ilmu, ternyata saya juga sudah berada di titik kesadaran bahwa ilmu itu harus berdampingan dengan keseharian saya, dengan pengabdian saya yaitu keluarga inti saya saat ini dimana ada suami, anak-anak, dan diri saya pribadi.

Setelah berputar-putar pegang ini itu, termasuk ambil dua buku tipis untuk mas Anugrah, saya menelusuri rak-rak buku populer. Tidak ada target khusus mau beli buku apa tetapi saat melewati salah satu rak buku saya tertarik dengan sebuah buku bersampul pink terang. Judulnya La Tahzan for Smart and Wonderful Family, penulisnya A Kang Mastur. Lewat tulisan ini dan beberapa tulisan lainnya ke depan saya mungkin akan banyak mengutip isi buku tersebut, tujuannya sebagai pengingat karena saya pribadi sedang belajar tentang ilmu membangun rumah tangga yang kelihatannya gampang tapi sebenarnya sangat rumit. Butuh waktu seumur hidup untuk mempelajari ilmunya dan butuh ketekunan serta kesabaran luar biasa untuk bisa memahami ilmu tersebut baik dari pengalaman maupun dari tuntunan (Al-Qur’an, Hadist, maupun referensi yang relevan). Review keseluruhan bukunya sendiri akan saya tulis setelah saya rampung dengan bagian per-bab-nya, semoga bisa bermanfaat untuk siapa pun yang membaca.



Eh, by the way serius banget Sih?

Hehe, iya ya? Jawabannya sederhana, karena nggak ada yang becanda untuk menggapai hidup bahagia dunia akhirat. Kalau belajar ilmu tentang membangun keluarga ini menjadi investasi kebaikan kenapa nggak? Ya kan!

“Rumah tangga merupakan bangunan yang dibangun dari pernikahan yang sah. Disebut rumah tangga karena pernikahan bagaikan menaiki satu per satu tangga menuju kebahagiaan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.”

-A Kang Mastur-

Bab awal buku ini menjelaskan tentang pernikahan dari sisi makna terminologi (asal kata) maupun epistimologi (makna). Secara terminologi menikah berasal dari bahasa Arab yang berarti kumpul. Makna nikah (zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij (akad nikah) atau wath’u al zaujah (menyetubuhi istri). Secara epistimologi, makna nikah tidak berhenti pada hubungan biologis yang dihalalkan. Tetapi menikah adalah hubungan antara suami istri untuk membangun rumah tangga sesuai syariat yang dapat mengantarkan suami dan istri meraih keluarga yang sehat secara fisik dan mental, berbudaya, serta saling mencintai. Menikah berkaitan dengan hubungan yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama membangun keluarga bahagia. Menikah bukanlah upacara untuk menjadikan istri sebagai objek tetapi istri adalah subjek yang sejajar dengan suami dalam membangun rumah tangga.

We Need To Know

Di Indonesia, pernikahan/perkawinan diatur melalui UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagi saya, setelah membaca mengenai makna pernikahan itu sendiri rasanya kesadaran bahwa menikah itu bukan hanya tanggung jawab kepada sesama manusia (dalam hal ini suami/istri) tetapi menikah itu adalah perjanjian langsung dengan Allah SWT untuk membangun kebahagiaan melalui keluarga dengan tujuan tidak hanya di dunia tetapi kehidupan setelahnya. Pernah saya nonton youtube kajiannya uztad Salim A Fillah. Kira-kira yang dibahas begini, tujuan menikah itu bukan untuk bahagia tetapi untuk mendapatkan berkah. Kalau semua tujuan diniatkan untuk mencari berkah maka kebahagiaan pun akan diperoleh, suami istri akan saling menghormati perannya, suami istri akan terus belajar mewujudkan yang namanya sakinah mawaddah wa rahmah.

Tentang Anjuran Membina Rumah Tangga

Salah satu alasan dianjurkan pernikahan adalah  karena di dalam pernikahan akan hadir keberkahan, keindahan, kenyamanan, ketenteraman hati, dan sebagainya. Pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah, kejujuran, kerjasama, kebersamaan, dan kasih sayang, akan mewujudkan ketenteraman dalam hubungan suami istri. Beberapa alasan lain mengenai anjuran membina rumah tangga adalah sebagai berikut:
  • Setiap makhluk diciptakan berpasangan
 “Maha Suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin: 36)
  •  Meraih tujuan ketenteraman 
 Kebahagiaan dan ketenteraman adalah tujuan setiap manusia, hal itu bisa dicapai jika rumah tangga dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT.
  • Menguatkan akhlak
Ketika seseorang menikah, secara serentak pula ia berjanji untuk mengubah perilaku yang tidak baik pada masa lajangnya menjadi perilaku positif bersama pasangan sah. Inti anjuran menikah ialah menjaga martabat, kehormatan, dan akhlak pasangan. Pernikahan akan mengangkat derajat manusia dari kehidupan ala binatang menjadi kehidupan insan yang mulia. 
  • Bermanfaat untuk kesehatan
Manfaat kesehatan dalam hubungan pernikahan salah satunya berkaitan dengan terkontrolnya hasrat seksual yang tersalurkan dengan baik dan benar serta tidak tertular penyakit kelamin. Selain itu pernikahan juga dapat memacu kinerja otak dengan baik, fokus, dan terarah.
  • Bermanfaat bagi negara
Dengan menikah maka proses melahirkan penerus generasi menjadi berlangsung baik dan terkontrol. Hal ini berdampak pada kelangsungan kehidupan umat manusia dalam segala bidang.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal” (QS. Al-Hujuraat: 13)
  • Keberkahan melalui keturunan
“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka, mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”
(QS. An-Nahl:72)
 “Dan, orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqaan:74)
Pernikahan mensyaratkan hubungan dua manusia berlainan jenis kelamin di dalam satu bangunan keluarga yang sah dengan tujuan keturunan yang dihasilkan dapat memberikan sumbangan positif bagi perkembangan kehidupan di masa mendatang. Keturunan yang diberikan Allah adalah titipkan yang wajib dibesarkan dan dididik dengan baik melalui kerjasama, cinta, dan kasih sayang antara suami istri.

Uwow, ternyata pembahasan mengenai pengertian dan anjuran menikah saja sudah cukup panjang ya bro, sist

www.pixabay.com

Kalau dipikir-pikir bukan tentang panjang pembahasannya tapi memang ilmu semakin digali semakin kita merasa belum tahu apa-apa ya, saya pribadi merasa demikian. Ilmu saya tentang rumah tangga masih ceteeek banget, ibarat lautan, saya baru nginjek pasirnya doang, itu juga masih pasir yang deket banget sama jalan raya T.T

Tulisan ini semoga menjadi pengingat buat saya pribadi dan siapa pun yang membacanya, yang hanya iseng atau pun mau ambil pelajaran, semoga kita menjadi semakin tahu diri dan introspeksi bahwa dalam aspek kehidupan ini ada hal-hal yang memang kita pertanggungjawabkan kepada sesama manusia tetapi ada juga yang kita pertanggungjawabkan kepada Allah SWT, salah satunya pernikahan. Semoga kita menjadi orang-orang yang amanah terhadap janji kita kepada Allah SWT dan kepada sesama ciptaan-Nya.

Kita ketemu di pembahasan selanjutnya ya... yuk belajar bareng biar makin ngerti, semoga berkah.