Rabu, 28 November 2018

Belajar Dari 5 Blogger Favorit

Hidup adalah tentang perjalanan. Perjalanan itu sendiri memiliki makna pembelajaran yang terus menerus, tidak pernah terputus seumur hidup. Belajar bisa dari siapa pun dan kapan pun, juga di mana pun apalagi di era digital sekarang ini. Belajar bisa dengan cara termudah melalui pemanfaatan teknologi. Tujuannya supaya kita terdedah informasi sekaligus bisa mengambil manfaat dari apa yang kita pelajari. Seperti belajar dari blogger. Belajar dari blogger ini sebenarnya seperti kita mendulang ilmu secara privat sebab apa-apa yang dicurahkan oleh blogger dalam blognya rata-rata adalah pemikiran subyektif, unik, dan spesial tentang jalan pikirannya.


Dari tantangan hari ke-9 Blogger Perempuan Network, saya akan sharing mengenai 5 blogger favorit saya yang tulisan-tulisannya setia saya baca, tidak selalu secara serius, tapi saya merasa ada banyak hal yang saya pelajari dari keunikan cara pandang blogger-blogger ini. Meskipun tantangannya dari Blogger Perempuan, tetapi blogger favorit saya tidak semuanya perempuan. Siapa saja sih?

1. Yusran Darmawan

Saya mengenal Mas Yusran ini di tempat kerja saya yang lama, beliau sepengetahuan saya adalah seorang penulis buku juga serta aktif menulis di berbagai kanal. Melalui blog pribadinya www.timur-angin.com, Mas Yusran berbagi mengenai sudut pandangnya mengenai peristiwa terkini (kebanyakan tentang situasi politik) namun dipandang dari sudut antropolog yang humanis. Tulisannya ngaliiiiir banget kayak mata air namun sekaligus bisa memberikan kritik-kritik tajam tanpa langsung menusuk. Apa yang saya pelajari dan masih terus saya pelajari dari cara Mas Yusran membuat tulisan? bahasa narasinya yang mengalir, prolog tulisan yang bisa melesat jauh berabad-abad silam namun tetap koheren dengan peristiwa masa kini, gambaran-gambaran tentang lansekap suatu tempat atau pun objek yang dibuat senyata mungkin. Dan, pilihan katanya yang luar biasa halus... salut banget saya. Jam terbang memang mempengaruhi kualitas seseorang.

2. Yunaidi Joepoet

Yunaidi Joepoet ini seorang travel blogger dimana ketika buka blognya kita bisa terpukau dengan karya tulisnya sekaligus foto-fotonya. Mas Yunaidi ini seorang fotografer juga. Beberapa kali saya temukan karyanya juga di majalah milik maskapai penerbangan. Awalnya saya tahu tulisan-tulisannya dari teman saya yang memberi tahu "ada ini travel blogger yang kece" dan saya buka link blognya di www,ranselkosong.com. Betul seperti disuguhi tulisan-tulisan berkualitas dengan gambaran foto yang juga dengan kualitas di atas rata-rata. Apa yang saya pelajari? Keseriusan, passion, dan detail. Sayang banget karena posting terakhirnya di bulan Desember 2017.

3. Maureen Hitipiew

Nggak nyangka banget kalau Kak Maureen ini dari Indonesia. Karena awal nemu blog nya itu dari link di pinterest. Pas baca-baca isi blognya, kemudian langsung jatuh hati sama sharingnya. Beliau ini founder komunitas Single Mom Indonesia, seorang single mom blogger yang bagi saya sangat open minded dan helpfull. Baru-baru ini beliau terpilih untuk mengikuti program leadership dari Facebook terkait dengan komunitas yang dibangun, Single Mom Indonesia (SMI). Kak Maureen banyak sharing tentang kehidupan sebagai single mom dan bagaimana beliau menemukan passionnya sebagai seorang blogger dan pekerja lepas. Nama blognya juga catchy banget www.scoopsofjoy.com.
Kak Maureen ini menurut saya keren banget, coba buka blog-nya, lihat layout-nya, tulisan-tulisan dalam bahasa inggris, duhhh jatuh cinta Kak!

4. Mira Sahid

Saya tidak tahu kenapa saya merasa menemukan sosok perempuan yang luar biasa di dalam diri Mba Mira Sahid ini. Beliau juga founder komunitas blogger yang namanya Kumpulan Mak Blogger (KEB). Mba Mira seorang single mom juga dan memutuskan menjadi seorang internetpreneur yang jam terbang blogging serta sharing tentang dunia digital sudah tidak perlu diragukan lagi. Mba, I adore you! Isi blog nya Mba Mira ini ringan dan terbaca sangat jujur. Beliau sharing tentang kegiatan, keseharian, juga personal. What i love about read her blog? kesederhanaan yang menggugah perasaan, membuat kita menyelami makna kejadian yang terjadi dalam diri kita dan belajar untuk mencintai diri sendiri. Be independent woman!

5. Langit Amaravati

Awal saya tahu blog nya Mba Langit adalah dari tulisan-tulisan personalnya yang berseliweran di instastory teman-teman. Siapa sih yang tulis, kok bagus? Pas saya telusuri ternyata punya Mba Langit. Huuu jeper banget deh kalau lihat blognya, sudah rapi, profesional, dan bisa banget jadi panutan dalam nge-blog. Mba... aku padamu.... Kalau baca kata pembukanya Mba Langit ini bikin speechless "Ambil apa-apa yang berguna, buang sepah dan lukanya. Sebab saya hanya perawi. Tugas Saya mengabarkan, bukan mengajarkan." Kenyataannya apa yang Mba kabarkan bermanfaat untuk saya dan pastinya pembaca lain.

Demikianlah (berasa nutup pidato) 5 blogger favorit yang jadi tempat belajar saya dalam banyak hal. Mereka orang-orang hebat yang mau berkarya dan mengabarkan karyanya kepada dunia. Secara tidak langsung bermanfaat untuk banyak orang.

Selasa, 27 November 2018

5 Barang Yang Selalu Ada Di Tas


Perempuan itu identik dengan detail dan perlengkapan yang seabreg. Termasuk soal isi tas, biasanya kompartemen tas bisa muat macam-macam barang walaupun sekedar keluar sebentar dari rumah. Bahkan, ada yang berganti-ganti tas sesuai agendanya, kebayang kan berapa kali modifikasi isi tas? Hehehe. Kalau saya selain bukan hobi gonta-ganti tas (emang adanya itu-itu aja) dan lebih mengutamakan fungsi dibandingkan soal estetis, jadi lebih simpel soal isi tas. Paling ada tambahan diapers, tisu basah, baju ganti anak-anak, susu, dan perintilan momong bocah lainnya. Untuk barang saya sendiri di dalam tas dan pasti ada sebenarnya cukup simpel (soalnya itu-itu aja, nggak ada istimewanya, yang istimewa ya karena itu yang saya punya >.<)

Kita bongkar satu persatu (jadi malu…)

1. Dompet

Ini sih senjata saya, ke mana pun dompet wajib masuk. Selain kadang nyimpen uang di dompet, ada juga kartu-kartu yang bisa jadi diperlukan. Dompetnya juga udah jaduuul pisan, tapi masih awet. Dulu beli di Gramedia Botani Square, murah meriah, awetnya panjang. Ini sih bikin bahagia banget untuk tipe yang memilih barang dari fungsinya dan jangka waktunya. So, numero uno alias nu kahiji yang ada di dalam tas adalah dompet.

2. Notes dan pulpen

Ini sekecil apa pun saya selipin siapa tau butuh di jalan atau tiba-tiba dapat ide apa gitu. Atau mungkin lagi ngelamun di warteg dapat inspirasi bisa langsung dicatat. Hehe meskipun sudahada notes di hp tapi notes kertas dan pulpen masih melekat di hati dan diselipin di tas.

3. Pouch make up

Saya tipe yang jarang bahkan hampir bisa dihitung dengan jari kapan touch up ulang. Tipe yang cuek dan ga harus selalu tampil dengan blush on kinclong, tapi boleh lah ya ini saya masukin di tas juga. Sewaktu-waktu diperlukan kan nggak harus repot.

4. Charger hp

Milenial mana yang nggak kelabakan kalau hp nya low bat. Duhh saya juga sudah terjebak dengan ketergantungan hp dan internet. Kemarin saja hp mati jadi berasa mati gaya juga, biasanya dari stasiun ke bogor diantar babang gojek, karena hp mati jadi romantisan nyusurin jembatan merah buat nyetop angkot. Itu efek nggak bawa charger hp gara-gara lupa dimasukin pas habis nge-charge. Wuuhhh, charger should be inside my bag.

5. Pouch Serbaguna

Pouch ini juga bukan pouch khusus, saya dapat dari salah satu merk dagang produk untuk perempuan. Fungsinya kalau saya buat naruh recehan koin, nota-nota belanja atau resi atm, flashdisk, id card, atau kadang masukin uang supaya nggak terlalu boros jajan. Duh sih, cara lama banget… nggak apa-apa namanya usaha buat hemat, kan rencananya bisa nabung buat beli rumah sama mobil sama bikin usaha yang tujuannya bermanfaat untuk umat. Aamiin

Waduh ini ngomongin isi tas tapi jadi kemana-mana, maafkan yak! Kalau ada doa-doa dan harapan baik boleh lah diaminkan :) ciyus nggak perlu klik like and share… hehe. Kira-kira itu isi tas yang selalu ada kecuali kalau lupa. Posting ini memenuhi tantangan hari ke-8 dari Blogger Perempuan Network, sekaligus ini adalah ketikan tangan di atas layar hp di dalam kereta menuju Bogor. See you on the next post :)

Senin, 26 November 2018

5 Tempat Makan Favorit di Bogor


Berbicara soal makan sebenarnya bukan saya banget, saya senang makan tapi makan bagi saya adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tujuan saya makam adalah sehat dan kenyang bukan tujuan lain seperti agenda kuliner, icip-icip, apalagi foto makanan ala food blogger. Waktu ada tema dari blogger perempuan saya mikir, apa ya favorit saya? Sebab kenyataannya sekarang kalau makan di luar saya akan mikirin selera anak saya terlebih dulu. Jadi, karena tinggal di Bogor dan saya pikir banyak tempat makan enak meskipun nggak selalu hits kekinian, tapi bisa lah jadi rekomendasi.

1. Kedai Kita

Via kulinerbgr.com
Kedai kita salah satu resto yang terkenal di Bogor. Termasuk resto keluarga menurut saya karena menunya bisa dinikmati mulai dari balita hingga lansia. Biasanya kalau ke sini pesan mie sapi lada hitam hot plate sama pangsit goreng. Minumnya standar aja kalau saya, es teh. Mie sapi lada hitam jadi salah satu menu favorit di resto ini. Selain itu ada pizza kayu bakar yang biasanya juga banyak dipesan pelanggan. Kedai kita ini rame banget mulai jam makan siang sampai malam. Nah lokasi utamanya ada di daerah taman kencana, deket sama hotel mirah. Kalau cabangnya di daerah bina marga baranangsiang.

2. Street Food ala Mahasiswa IPB

Via bogor.tribunnews.com
Jaman masih tinggal di sekitaran kampus IPB, ada namanya jalan Babakan Raya dan Babakan Tengah atau disingkat Bara-Bateng. Disitu banyak banget makana enak, murah, kenyang. Bisa diurut dari ujung Bateng: Ayam Cak Joyo, Ayam Cabe Ijo pangkalan angkot, ketoprak pangkalan angkot, warteg sepanjang jalan, donat bateng, nasi padang berlin, lumpia basah, baso gepeng, bubur ayam madura, and may mooooooreeeee. Banyak jenisnya tinggal pilih mana yang disuka.

3. Baso Seuseupan


Via ratutips.com
Saya berasal dari Banjarnegara, di sana terkenalnya bakso ketupat sama es cendol. Nah kalau di Bogor tempat nge-baso yang rasanya paling mendekati rasa di Banjarnegara adalah baso seuseupan. Alamatnya di arah Bantarjati. Enak sedap dan ramah kantong.

4. Resto Taman Koleksi


Via tribunnews.com
Dulu biasanya kalau ke sini tujuannya ketemu temen, ngerjain tesis, atau memang sengaja makan nasi peda. Ada banyak menu enak tapi saya pesannya itu-itu aja, nasi peda sama teh sereh atau es teh tarik. Teh tariknya nyoss juga di sini. Yang seneng ngopi juga tersedia aneka kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

5. Toge Goreng Jl. Prof Andi Hakim (depan IPB Baranangsiang)

Via tribunnews.com
Kadang suka ditanya kok doyan makan toge dicampur sambel yang rasanya agak mirip oncom. Sedap menurut saya apalagi ditambah lontong diminum pake teh anget pagi-pagi. Duuh saya jadi inget Bu Ade di PSP3 IPB yang dulu suka dimintain tolong buat beli. Semoga beliau selalu dikarunia kesehatan dan rezeki yang baik. Toge goreng ini bukan di resto. Adanya di pinggir jalan dekat pangkalan ojek online tapi yang makan disitu mulai dari saya yang bukan apa-apa sampai ibu-ibu pejabat. Sekali-sekali cobain deh!

Yuhuuu udah lima ya rekomendasinya? Lumayan juga ya ternyata nyari yang favorit. Maafkan karena saya bukan pecinta kuliner, makan suka tapi ya biasa-biasa aja. Semoga bisa jadi referensi ya kalau ke Bogor.

Minggu, 25 November 2018

5 Facts About Me

Temanya privat sekali ya writing challenge dari Blogger Perempuan Network hari ini, hehehe. Sekali-kali narsis ngomongin diri sendiri karena temanya 5 fakta tentang diri sendiri. Baiklah saya mau share 5 fakta tentang diri saya, mulai dari mana ya?


Namanya Turasih, artinya apa?

Mba, nama panjangnya siapa? Sering banget dapat pertanyaan itu. Nama panjang saya Turasih, pendeknya juga Turasih. Wes itu saja. Nama itu diberikan sama almarhumah kakek saya karena saat saya lahir tahun 1990, Bapak saya merantau di Jakarta. Nggak ada alat komunikasi, nggak tau anaknya sudah lahir. Jadi kata ibu, kakek yang ngasih nama. Turasih artinya welas asih, almarhum kakek berdoa supaya saya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi saya juga saya bisa memberikan kasih sayang untuk sekitar saya. Semoga Allah ijabah doa kakek dan jadi amal jariyah untuk beliau.

Panjat gerbang sekolah buat ngambil karet yang ketinggalan di meja kelas


Gambar dari www.womantalk.com

Waktu SD, dulu di SD 1 Pagentan, mainan hits ada 3: main karet, main batu (gambul/milmilan), sundahmanda. Saya nggak paham persis bahasa nasionalnya apa, hehe. Main batu itu mainan yang kita ambil batu-batu kecil sambil dilempar-lemparin ke atas terus ditangkap lagi. Sundahmada itu yang kita bikin garis-garisnya di tanah terus kita loncat-loncat. Kalau main karet, ya loncat-loncat, jingkrak-jingkrak pake karet. Jangan salah, dulu selalu ada masternya mainan kayak gini. Saya mah rata-rata saja, cuma memang bisa salto dikit kalo sudah “semerdeka” level main karetnya. Pernah suatu kali saya nekat naik pagar gerbang sekolah untuk ambil jalinan karet gelang di laci meja. Sekolah jaman dulu yang dikunci cuma gerbangnya aja. >.<


Suka banget nonton Wiro Sableng

Gambar dari www.memecomic.id

Waktu kecil, sekitar kelas 1/kelas 2 SD, di tana kelahiran saya, Desa Pagentan, belum semua rumah bisa memiliki jaringan listrik sendiri. Termasuk keluarga saya. Solusinya adalah kita nyambung aliran listrik dari tetangga dan bayar tiap bulan. Waktu itu sama patron listriknya suka dimatiin kalau siang (biar hemat) trus sore baru dinyalain lagi. Karena saya suka banget Wiro Sableng hari minggu jam 11 siang di RCTI, sebelum jam 11 pasti saya sudah datang ke rumah si tetangga minta tolong supaya listriknya dinyalain. Nggak apa-apa sedikit diomeli yang penting nonton.

Nggak Suka Baca Komik

Gambar dari otakuindo.net

Saya suka banget buku, tapi paling gagal kalau baca komik. Kalau orang ada yang bisa banget menghayati komik, saya nggak. Entah kenapa sampai sekarang pun setiap ada komik saya cuma baca tulisannya dan nggak ngamatin gambarnya. Padahal komik kan cerita bergambar. Tapi pernah saya rela-relain baca gara-gara saya suka sama orang yang suka baca komik juga, hasilnya? Tetep aja ngga bisa hahaha. Padahal udah dikasih komik satu kantong kresek, yang ‘dibaca’ 2 doang.

My Kids My Everything

Anugrah & Aditya

Saya percaya bahwa Allah menitipkan anak untuk sebuah tujuan besar dalam hidup kita. Saya belum bisa menjadi ibu yang sempurna, tetapi saya berusaha untuk lebih baik setiap waktunya. Dikaruniai Anugrah dan Aditya adalah hal luar biasa dalam hidup saya. Saya jadi paham tujuan hidup dan makna mendewasakan diri. Anak-anak saya adalah sumber semangat, alasan saya mau mengorbankan apa pun untuk mereka. Semoga Allah karuniakan kasih yang terus berlimpah untuk kami.


Wuhuuu lumayan juga ya ngomongin diri sendiri. Terima kasih yang sudah mau baca :) kalau facts about teman-teman apa? Yuk sharing!


Sabtu, 24 November 2018

Media Sosial, Perkembangan Kreativitas, dan Jejaring Komunikasi Tanpa Batas


Hari ini saya berkesempatan ketemu sama adik-adik kelas angkatan kuliah yang bedanya 10 tahun dari saya. Mereka sedang mengadakan acara malam keakraban untuk angkatan baru, ceritanya alumni diundang untuk sharing. Tujuan saya datang sebenarnya lebih ke arah silaturahmi dengan teman-teman seangkatan sekaligus ketemu angkatan lintas angkatan. Silaturahmi, pertemuan, bagi saya seperti charging energi untuk lebih bersyukur lagi.

Saat sesi sharing, kebetulan angkatan kami, KPM IPB 44 datang paling awal dibanding lainnya. Mengingat ada ibu-ibu bawa anak jadi sesi sharingnya dimajukan. Melihat antusias adik-adik angkatan bertanya tentang dunia kerja pasca kampus, rasanya senang sekali. Pertanyaannya apakah dulu saya seantusias itu? Hehehe

Sharing dunia kerja banyak disampaikan oleh rekan saya, Karina, yang saat ini berkarya di Trans TV, juga Astri yang pernah berkiprah sebagai HRD perusahaan. Saya? Tim hore saja sambil mangku anak. >.<

Dari 105 orang di angkatan saya, bisa ngumpul 5 orang. Dari kiri: Rajib, Karin, Saya, Astri, Gian.

Ada benang merah yang bisa saya tarik ketika sekitat 5 menit saya pegang microphone. Menjadi mahasiswa era kekinian banyak diuntungkan dengan kehadiran teknologi, termasuk diantaranya menjamurnya media sosial. Arus informasi di media sosial apabila dimanfaatkan secara optimal oleh siapa pun, termasuk mahasiswa, sebenarnya bisa menjadi satu alat bantu yang kuat untuk mengembangkan jejaring.

Media Sosial dan Perkembangan Kreativitas


Era digital adalah era kreatif. Siapa yang bisa menjadi kreatif dia akan berada selangkah di depan. Yang nggak bisa kreatif? Pilihannya adalah menjiplak dan ketinggalan. Kreatif dalam hal ini tidak harus berarti jadi selebritis internet, tetapi lebih kepada memaksimalkan potensi manfaat informasi agar bermanfaat bagi setiap aspek dalam kehidupan kita. Bagaimana mengembangkan kreativitas? Di era digital seperti ini, kreatifitas terbuka apabila kita juga terbuka terhadap informasi. Kreativitas juga bisa dikembangkan dengan keberanian kita untuk melakukan kebiasaan dengan cara yang berbeda. Contohnya, biasa bangun siang cobalah untuk bangun lebih pagi, biasa go with the flow cobalah terencana, cobalah hal-hal baru sampai pada akhirnya kita akan menemukan apa sebenarnya yang menjadi kecintaan kita.

Media Sosial dan Jejaring Komunikasi Tanpa Batas


Bayangkan kita hidup 20 tahun yang lalu ketika telepon umum koin masih mewah, ketika nomor seluler lebih mahal dibanding handphone-nya, tidak ada facebook, tidak ada whatsapp. Komunikasi masih terbatas jarak, ruang, waktu, dan biaya. Sekarang dengan adanya media sosial, dunia seakan menjadi sedemikian kecil. Mudah sekali orang dari Indonesia berkomunikasi dengan orang di Mexico dan itu berlaku hampir di seluruh dunia. Artinya, dunia sudah berubah drastis, kita juga perlu menyeimbangkan diri dengan kondisi tersebut. Media sosial menjadi salah satu sarananya, gunakan dengan bijak agar kita tidak terjebak.

Menjadi apapun kita yang terpenting adalah tentang hal-hal baik dan bermanfaat yang kita lakukan. Dunia berputar, perubahan melaju, nilai-nilai hidup berkembang, masih mau terjebak dengan sikap yang merasa paling benar? Tentu saja tidak, yuk berubah, lebih baik, dengan memanfaatkan perkembangan era informasi.

Jumat, 23 November 2018

Manfaat Bergabung Dengan Komunitas Blogger Perempuan

Ketika manusia dijuluki sebagai homo homini socius atau makhluk sosial, hal tersebut memberikan keniscayaan bahwa setiap orang perlu berinteraksi dengan orang lain dalam segala aspek. Interaksi sudah seperti kebutuhan pokok bagi eksistensi manusia. Hal itu juga yang secara budaya memberikan konsekuensi munculnya bahasa antar manusia untuk keperluan komunikasi. Mulai dari bahasa isyarat, bahasa melalui huruf-huruf yang diciptakan, maupun bahasa lisan. Interaksi manusia berbeda setiap eranya, mulai dari zaman batu (paleolitikum) hingga saat ini zaman digital dimana era industri sudah melaju menuju industri 4.0.


Bahasa tulis yang dulu dimulai dengan adanya tanda-tanda di dinding gua, prasasti di batu, tulisan di daun lontar, berkembang dengan munculnya kertas dan saat ini sudah muncul banyak platform digital menjadi sarana komunikasi antar manusia. Artinya tulisan juga bagian dari interaksi. Sebagaimana eksistensi perkembangan manusia yang dibekali akal budi, perkembangan tulisan di dunia digital juga mencerminkan bagaimana seseorang ingin berinteraksi. Salah satu bentuknya adalah dunia blog yang saat ini tidak hanya menaungi individu namun juga mempertemukan kelompok-kelompok dengan minat tertentu dan pada akhirnya membentuk jejaring komunitas maya yang kuat sesuai dengan minatnya. Tidak jarang komunitas ini juga bertatap muka dalam bentuk kopi darat berupa silaturahmi atau pun Event khusus para blogger yang tergabung di dalamnya.


Blogger perempuan sebagai sebuah komunitas blogging yang didalamnya berisi anggota perempuan menjadi salah satu komunitas blogger yang terkemuka bahkan terbesar di Indonesia. Saya pribadi belum lama bergabung, saya lupa tepatnya kapan. Tapi semenjak memutuskan punya domain.com, saya juga mulai untuk bergabung dengan komunitas-komunitas blogger salah satunya blogger perempuan. Alasan saya bergabung terutama ada : (1) Menambah jejaring; (2) Mengambil manfaat dari berbagai informasi yang disampaikan oleh blogger perempuan; (3) Memperluas pengetahuan tentang dunia blogger.

(1) Menambah jejaring

Semenjak bergabung di blogger perempuan, teman-teman dunia maya saya sesama blogger jadi bertambah. Hal ini berpengaruh sekali dengan semangat saya untuk menulis dan menyajikan konten yang berkualitas. Jejaring ini juga menjadi sarana komunikasi  antar anggota yang akhirnya membentuk keyakinan bahwa ada supporting system yang baik melalui blogger perempuan.

(2) Mengambil Manfaat Informasi Blogger Perempuan

Setelah menjadi anggota, saya subscribe email untuk mendapatkan newsletter dari blogger perempuan. Ada banyak sekali informasi yang diperoleh, berupa posting terbaru, info-info lomba, atau reminder tertentu. Bagi blogger hal ini penting, selain untuk memperkaya tema juga mendapatkan informasi Event blogger yang belum tentu diperoleh dari tempat lain.

(3) Memperluas Pengetahuan Tentang Dunia Blogger

Menjadi bagian dari blogger perempuan tidak hanya sebatas pada menambah jejaring dan mendapatkan jejaring, saya juga bisa memperoleh berbagai tips dan trik blogging yang diperoleh secara gratis melalui media sosial blogger perempuan (saya update terutama dari Instagram (@bloggerperempuan).


Di dunia yang serba cepat seperti sekarang ini, hampir mustahil jika kita ingin benar-benar tidak terkoneksi dengan komunitas maya. apalgi dalam konteks yang positif dan membangun. Betul jika dikatakan interaksi face to face atau tatap muka tetap nomor satu, tapi sering kali ada hal-hal yang bisa tersampaikan lewat bahasa tulisan di blog dan memberi dampak yang luar biasa juga. Blogger perempuan menjadi sarana yang sangat baik untuk perempuan berkreasi. Juga, sebagai bentuk ruang ekspresi bersama untuk saling mendukung sesama pecinta blogging. Saya selalu percaya bahwa ada atau tidaknya emansipasi yang digemakan oleh RA Kartini, perempuan sudah selayaknya menciptakan atau setidaknya memperoleh ruang untuk berkarya. Salam blogger perempuan!



Kamis, 22 November 2018

Cerita Dibalik Nama Domain www.turasih.com

Simplicity is beauty, uhuk, keren ya filosofinya? Artinya sederhana, simple itu cakep, nggak lebay nggak alay. Simple!
 

Dahulu kala ketika pertama kali mulai “serius nge-blog gratisan saya bikin nama panjang banget “theincrediblerose” berasa cakeeeep sekali waktu itu. Blog nya sudah almarhumah, lupa email sama password yang dulu dibuatnya alay juga. Sampai akhirnya baca-baca blog orang kok bagus-bagus ya namanya, simple, pakai nama sendiri dan akhirnya mudah diingat.
Misalnya blognya Mba Dewi Lestari penulis perempuan yang bikin blog dengan namanya sendiri. Dipikir-pikir kok keren ya, mau lah siapa tahu ketularan semangat literasinya :)

Membenahi blog yang sudah jadi almarhumah, saya lalu memutuskan mulai nulis lagi dengan platform blogspot. Punya nama turasih.blogsot.com. Cukup bertahan lama sejak 2011 sampai 2017 awal. Lalu mulai cari-cari kok punya orang-orang bisa .com, .id, .net, ih mau juga lahhhh (banyak maunya). Berbekal tanya sama Mbah Google, saya nemu blognya Bena Kribo, dia nulis tentang bagaimana cara bikin domain jadi .com yang murce alias murah cekali. Berdasarkan pengalamannya, Mas Bena ini beli domain di web hosting namanya Qwords.


Tahun 2017, mamak muda yang kadang sok tahu ini langsung meluncur ke websitenya Qwords. Nemu nggak yang dicari? Nggak! Saya bingung sama istilah-istilahnya, cuma ada satu hal yang akhirnya bikin saya ngerti yaitu kata PROMO. Emak-emak doyan diskon langsung happy pas tau ternyata lagi ada promo (kalau nggak salah hari kartini atau apa gitu), beli domain  .com setahun cuma Rp 79.000.

Setelah menimbang-nimbang dan nanya CS Qwords yang baik-baik banget memandu saya untuk mulai setting ke .com. Berbekal hp dan ambil waktu disela-sela menyusui anak, sampailah bulan April 2017 itu akhirnya turasih.blogspot.com jadi ww.turasih.com. Happy banget, jadi lebih pede, sayang nulisnya bolong-bolong. Tapi alhamdulillah mulai konsisten dan april 2018 saya perpanjangan domain Rp 129.000 satu tahun. Semoga bisa terus konsisten dan pelan-pelan bisa jadi blogger profesional. AAMIIN.

Rabu, 21 November 2018

Ngobrolin Tema Blog

Nulis itu semacam kegiatan selancar pikiran, biasanya kita juga bisa sedikit menebak bagaimana pola pikir si penulis. Termasuk dalam menulis blog, selain menyampaikan sebagai bentuk eksistensi diri seorang blogger juga menyajikan pola pikirnya melalui tulisan yang dituangkan dalam blognya. Umumnya, blogger itu memiliki tema sesuai dengan minatnya atau dengan bahasa yang lebih antusias adalah sesuai passion.


Waktu awal menulis blog bisa dibilang temanya asal, yang penting ngutarain isi pikiran dan isi hati yang kalau dibuka-buka lagi kok alay ya >.<
Sampai akhirnya pada saat memutuskan untuk beli domain .com, saya sudah mulai menelaah arah tulisan saya. Masih campur-campur juga tapi lebih terarah dan bisa dikategori.


Setelah melalui perenungan yang amattt panjang, pilihan tema untuk blog www.turasih.com ada 3 yaitu: Lifestyle, Humaniora, dan Parenting. Luas banget ya, iya sejujurnya saya masih nyari pola juga yang paling pas itu apa. Tapi tiga tema itu setidaknya sudah mendekati pas.

1.Lifestyle

Isi tulisan yang masuk dalam tema Lifestyle ini beragam juga, ada yang tentang traveling seperti tulisan tips belanja bakpia patok di Jogja atau tentang ekowisata Beejay Bakau Resort di Probolinggo. Selain itu ada juga tentang review buku seperti review buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo yang sempat dapat apresiasi dari mas Agus via twitter. Intinya di tema lifestyle saya masukkan tulisan-tulisan yang berhungan dengan kesenangan saya: membaca, jalan-jalan, juga sesekali tips masak sederhana atau tips membersihkan kacamata. Biasanya tema ini dapat view yang cukup banyak.




2. Humaniora

Background pendidikan saya adalah ilmu sosial dan saya mencintai dunia pendidikan dan penelitian. Bergelut dengan dunia itu membuat saya jatuh hati sekali dengan ilmu sosial (Sosiologi, Antropologi) juga aktivitas community empowerment. Tulisan yang masuk di tema ini biasanya hasil refleksi dari lapangan atau pun review tentang hal-hal yang berbau humaniora. Salah satu tulisan yang dari dulu view nya paling banyak adalah tentang etika subsistensi petani, saya tebak pembacanya adalah mahasiswa yang dapat tugas sosiologi pedesaan >.<

3. Parenting



Semenjak memiliki anak,satu hal yang berusaha saya sadari terus menerus adalah tentang belajar ilmu parenting. Apa-apa yang saya tuliskan dalam tema ini juga hasil refleksi yang bia bersumber dari buku atau pengalaman pribadi saat interaksi dengan anak. Juga beberapa tulisan yang saya persembahkan untuk anak saya. Saya ingin menganadikan banyak moment parenting yang sekaligus akan menjadi bahan renungan saya di waktu-waktu mendatang. Tema ini juga beberapa berisi review buku yang membahas parenting.

Memiliki tema blog sebenarnya membuat saya semakin terarah dan memiliki rambu-rambu dalam menulis. Tema juga bisa mengarahkan pembaca ke blog kita lho. Jadi apa tema blog favorit kamu?

Selasa, 20 November 2018

Why Blogging?


Sekitar tahun 2007, waktu itu saya kelas 3 di MAN 2 Banjarnegara, itulah pertama kali saya kenal internet. Cukup lamban memang, bersyukurnya saat itu sebagai siswa yang mendapat tugas TIK (teknologi informasi dan komputer) dari Pak Irfan, kami mendapat tugas ke warnet. Jangan tanya soal kuota internet, belum ada!

Tugas saat itu adalah bikin email, lalu iseng-iseng saya ketak ketik di google, muncullah platfor blog multiply yang sekarang sudah entah kabarnya. Dari iseng, main-mainin template, ihhh kok lucu ya, mulai nulis-nulis lah di situ. Tapi nggak konsisten karena setelah itu bisa dihitung ke warnet berapa kali. Nah mulai masuk kuliah di IPB di tahun pertama, namanya TPB (tingkat persiapan bersama), bikin jadi rajin ke warnet walaupun bukan buat internetan. Ya! Buat rental komputer ngetik tugas Sosiologi Umum atau nggak cari literatur gambar buat tugas Biologi. Emang jurusannya apa? Kok ada sosiologi ada juga biologi? Jurusannya Komunikasi Pengembangan Masyarakat. Nggak nyambung ya? Lain kali bisa lah ya ditulis biar nyambung. Dari situ dikit-dikit belajar otodidak tuh sama template-template blog. Untuk yang multiply pernah dibikin saya juga sudah lupa paswordnya waktu itu. Saya anggap sudah almarhumah. Ngulik-ngulik platform blogspot yang gampang, sempet juga ngulik wordpress yang templatenya lucu-lucu.

Tapi lagi-lagi nggak konsisten, lupa pasword, bingung gimana cara buka, sampai akhirnya lumayan tuh konsisten pake blogspot. Tapi belum tahu niche blog sama macem-macemnya. SAMPAI SUATU HARI.... mati lah saya, email sama pasword ga matching, nggak bisa dibuka sampai sekarang dan akhirnya bikin domain yang sedang dibaca ini. Awalnya juga isinya mirip termehek-mehek, tiada guna, sampai lama-lama nemu polanya.

Pola yang kembali acakadut. Makanya waktu blogger perempuan network bikin challenge nulis blog 30 hari sampai 20 desember 2018 nanti, saya pikir, ini saatnya bikin diri ter-challenge untuk konsisten nulis. Pengennya jadi blogger pro, tapi kalau nulisnya bolong-bolong kan jadi cuma mimpi.

Kenapa Menulis Blog?

Kemarin saat saya repost postingan dari instagram @bloggerperempuan tentang tantangan menulis ini, sempat ada teman yang komen. Saat ini orang-orang lebih suka nonton video, jadi mending ke youtube daripada blog. Mungkin saya harus belajar lebih lagi untuk videografi. Tapi soal blog, saya merasa ini adalah tempat saya bercerita. Pada dasarnya saya seneng nulis, seneng baca, dan nggak tau kenapa kalau ngulik blog tuh seneng aja. Nggak perlu alasan buat senengnya kenapa, tapi blog itu semacam second home for my thought.


Meskipun belum jadi blogger pro, traffic yang belum ribuan per hari, tapi setidaknya ketika berbagi saya senang. Ketika menulis saya senang. Kata Mbah Pramoedya sih, nulis itu kayak kerja buat keabadian. Masih ada PR saya yang jadi project jangka panjang, yaitu ngeblog untuk anak-anak saya, menulis surat untuk mereka. One day kalau mereka sudah bisa baca, mungkin bisa jadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka.

Blogging Di Tengah Maraknya Video



Nggak bisa dipungkiri bahwa video memang jadi sarana informasi yang kuat di era saat ini. Lebih banyak tarung viewer kan dari pada reader. Jagad netizen juga lebih ramai di media sosial seperti instagram, facebook, atau youtube. Tapi dunia blog tetap kuat, banyak yang besar berawal dari blog, Raditya Dika contohnya. Dan saat ini banyak banget event blogging yang diselenggarakan oleh pemerintah, perusahaan swasta, atau lembaga tertentu untuk menyeberluaskan informasi mereka. Artinya blogging punya impact untuk khalayak.

 Ada pernyataan mengapa blogging tetap eksis ditengah dunia video atau media sosial yag seakan tidak habis-habis menggelontorkan informasi, blog itu minim distraksi dibanding media sosial lainnya. Dengan kata lain dunia blog ini punya etika yang cukup rapi. Saya bukan ahli neuron atau ilmu tentang otak, tapi kata penelitian para ahli, membaca itu punya efek memori jangka panjang dibanding menonton. Baca blog juga demikian. Kata pesohor-pesohor sastra juga begitu, setelah membaca, menulislah. Menulis itu seperti mengikat ilmu, maka menulislah yang baik. Blog jadi sarananya. Semoga saya bisa terus konsisten.

Kamis, 18 Oktober 2018

Jujur Pada Diri Sendiri


Pagi ini saya posting di Instagram setelah sekian lama rasanya hiatus dari urusan sharing di sosial media. Isinya tentang review singkat sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat yang sudah cukup lama saya baca namun harus berulang kali mencerna supaya paham. Buku yang berisi pemikiran "gila" Mark Manson seorang blogger, penulis buku, dan internet entrepreneur. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kepuasan tersendiri jika konten yang saya bagikan mendapat apresiasi dan dianggap bermanfaat untuk khalayak. 

Dari beberapa buku self improvement atau katakanlah buku motivasi, buku garapan Mark Manson ini bisa menjadi salah satu favorit saya selanjutnya. Apa yang ditulisnya dekat sekali dengan kehidupan, hal-hal real yang sering kali kita anggap penting ternyata tidak penting. Yang dikira tidak penting justru bisa memiliki nilai fundamental. Ada 3 hal utama yang saya petik dari buku ini:

  1. Pendekatan yang waras untuk menghadapi standar hidup era digital, ekspektasi orang luar terhadap diri, juga khayalan-khayalan kosong kehidupan.
  2. Kesadaran untuk lakukan sesuatu meskipun hal kecil, sesuatu yang membuat hati kita hidup.
  3. Saya tidak istimewa dan setiap cobaan yang saya hadapi justru mendekatkan saya pada Tuhan dan tujuan hidup.
dok. pribadi
Buku ini dibuka dengan penjelasan penulis mengenai apa yang dimaksud dengan sikap "Bodo Amat" atau dalam bahasa sunda "sabodo teuing" 😂. Menurut Mark, cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan tidak penting. Mark menulis setiap bab buku ini dengan fakta-fakta sejarah juga fakta masa kini yang lekat sekali dengan kehidupan milenial. Setiap tulisannya punya ruh yang kuat dengan karir yang dipilihnya yaitu sebagai internet entrepreneur. Membacanya tidak akan membuat bosan, justru acapkali membuat dahi mengernyit atau mengangguk malu.


Manusia pada dasarnya dibekali dengan intuisi yang begitu jujur dari dalam hatinya namun sering kali intuisi itu tertutupi oleh hasrat untuk menjadi terdepan, dilihat paling baik, dipuji orang, pokoknya segala sesuatu yang dilabeli dengan prestise dan prestasi. Dasar yang lain adalah manusia dikaruniai logika untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup tetapi ada kalanya logika itu pun tidak berjalan karena ego yang terlalu tinggi, rasa percaya diri berlebihan, dan merasa diri istimewa. Dalam pemikiran Mark, dua kondisi yang saya sebutkan tersebut merupakan bencana, you know, bencana yang membuat diri justru semakin destruktif, mengalami kemunduran, pencapaian terhadap kepuasan semu. 


I was in that situation before, then i start to do something. Hal kecil, Kata Mark, lakukan sesuatu mes kipun itu kecil, saya memulainya dengan menuliskan review bukunya secara sederhana di Instagram. Apa efek hal kecil itu? I am happy, i find my true self, i just start over my life.

Sedikit bercerita, beberapa bulan ini seperti mengesampingkan kehidupan pribadi saya dan berkutat pada lingkaran persoalan yang terlampau rumit untuk dijelaskan. Saya akui, hal ini sedemikian berat hingga jika tidak sadar-sadar diri, may be i choose to end my life. Perceraian. Yes, i had divorced months a go. But really, perceraian bukan persoalan siapa pun yang membaca blog ini, that's my life story and make me the new and genuine me. Seperti apa yang saya tuliskan di atas: i just start over my life with my two angels (my kids). Now, i am the one who can make decision to my life.


Apa hubungannya dengan buku ini? Buku ini mengantarkan saya pada ruang kontemplasi (perenungan), buku ini juga menjadi jalan bagi saya untuk melepaskan apa yang sudah dan memulai dengan hal baru yang positif. Cukup dengan buku ini? Tidak! Tapi buku ini membantu sekali, good book heals us. Trust me it works.


Hal yang paling menarik dari membaca buku ini adalah tentang mengupas bawang kesadaran diri dan jangan merasa istimewa.



 "Banyak petuah di luar sana yang menggunakan pendekatan yang dangkal yaitu hanya membuat orang-orang merasa baik dalam jangka pendek, sementara masalah jangka panjang yang sesungguhnya tidak pernah terselesaikan. Bertanya kepada diri sendiri secara jujur itu sulit. Ajukan pertanyaan yang tidak nyaman untuk dijawab. Biasanya semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin mendekati kenyataan yang sebenarnya."



Kata-kata Mark mengantarkan saya untuk membuat pertanyaan tidak nyaman untuk diri saya.

 Q: Apa yang paling saya takuti dari semua proses yang saya hadapi dalam hidup?


 A: Perceraian. Mengakuinya kepada orang-orang seperti sebuah tanda kegagalan bagi diri saya. Gagal membangun keluarga, gagal dengan segenap kemampuan yang saya miliki dan pantas untuk bisa menciptakan bangunan rumah tangga yang bahagia. Merasa gagal sebagai seorang yang memiliki pendidikan tinggi tetapi tidak mampu bertahan menghadapi badai rumah tangga. IPK 3.91 di bangku S2 Sosiologi Pedesaan IPB yang terkenal susah dan harus jungkir balik mendapatkannya tidak menjadi jaminan bagi saya. I was lost before, bercerai tanpa ada pegangan pekerjaan karena seluruh waktu saya dedikasikan untuk menjadi ibu rumah tangga, berada di kursi pengadilan juga menjadi hal yang menakutkan ditambah terjadi saat kehamilan. Separuh dari 24 jam saya sehari penuh dengan pertanyaan: bagaimana setelah ini? 
Q: Mengapa perceraian itu menakutkan?
A: Kegagalan membangun keluarga adalah sebuah hal buruk. Menjadi seorang single mom juga seringkali mendapat stigma buruk, janda itu seperti sebutan aneh di masyarakat kita.
Begitu seterusnya, hingga pada akhirnya saya mampu meyakinkan diri. It's okay, everything happens for reasons. Ini waktu saya untuk mengasah kembali kemampuan, untuk memperbaiki apa yang sudah terlewati. As what my best friend said: It's okay to be Janda. Yess that's okay dan hari ini saya bisa jujur pada diri sendiri bahwa tidak ada yang salah dengan mengakuinya kepada orang lain yang bertanya. Juga, menuliskannya di blog ini, banyak single mom di luar sana yang menginspirasi saya seperti Mba Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger, juga Kak Maureen Hitipeuw Founder komunitas Single Mom Indonesia.

Menulis di blog ini kembali seperti memberikan ruang bagi saya untuk lega.

Back to the point of Mark's book, saya belajar untuk tidak merasa istimewa. Apa-apa yang pernah saya capai bukan apa-apa, meskipun bukan dengan jentikan jari kemudian terjadi tetapi dengan merasa bahwa saya mampu dalam banyak hal, saya kehilangan ruh komitmen tentang apa yang menjadi pilihan hati saya. Orang yang merasa istimewa memiliki kecenderungan untuk selalu ingin terlihat baik di mata orang lain, memiliki citra diri yang tinggi, dan seringkai menganggap bahwa dunia ini mengitari diri mereka. Sejalan dengan prinsip almarhum pendiri Apple, Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish. Juga seperti prinsip hidup Reza Rahadian, aktor kenamaan Indonesia yang karirnya melesat: Hidup Cukup Itu Cukup. Now, i learn for that: My real life, real me.


Penulis Mark Manson menurut saya memang gila dengan ide briliant-nya. Kenapa gila? titik balik dalam hidupnya adalah menghadapi kematian, kegagalan, dan kegagalan. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk fokus menulis, menghabiskan waktu 50 hari untuk membaca 50 buku non fiksi dan serius menjadi blogger, panggilan hidupnya. Waktu 2 tahun baginya setidaknya adalah waktu trial, menguras habis isi tabungannya, hidup kekurangan, demi sebuah langkah nyata "bekerja dengan hati" yang mungkin bisa saja mengancamnya gagal kembali seperti sebelumnya. Tapi 2 tahun itu seperti membuatnya memiliki titik temu dengan passion-nya, ia menemukan hakikat kehidupannya dan sekarang menjadi seorang penulis buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail.

Ada hal yang seringkali dicari-cari orang, beberapa di antaranya melakukan dengan cara mengerjakan petuah cepat kaya.-Mark Manson-


Selain sebagai buku life improvement, buku ini juga penuh dengan fakta-fakta yang bisa membuat kita berpikir ulang tentang hakikat waktu yang sudah dijalani. Bermanfaat nggak? .


Setiap hari kita dibanjiri dengan hal-hal yang luar biasa. Terbaik dari yang terbaik. Terburuk dari yang terburuk. Prestasi paling memukau. Lelucon paling konyol. Ancaman paling menakutkan. Non- stop. Hidup kita sekarang diisi dengan informasi dari sisi ekstrem pengalaman manusia, karena dalam bisnis media inilah yang menjadi pusat perhatian dan pusat perhatian menghasilkan uang. Padahal mayoritas kehidupan berada di level tengah yang membosankan.--Mark Manson-


Analisa yang terlihat sederhana itu butuh perenungan yang dalam, no drama, 2 tahun Man! Harus melihat kematian temannya sendiri yang terjun dari jurang, juga bereksperimen dengan kematian dirinya sendiri. Terlepas dari pengalaman saya pribadi tentang buku ini, saya merekomendasikannya ke siapa pun yang memiliki pertanyaan-pertanyaan dalam hidup yang tak kunjung terjawab, sebab seni tidak hanya berlaku untuk cat air dan kanvas, tarian atau lagu di atas panggung, seni juga tentang bersikap bodo amat. Selain doa, dukungan dari orang-orang baik, harapan akan masa depan, atau bahkan terapi dengan psikolog, buku ini recommended untuk dibaca. Good book heals us 💞


And i hope, all what happen can bring me closer to the better life. Kalau Mark Manson mendapatkan titik balik dari pengalaman kematian, semoga saya menemukan titik balik dari pengalaman perceraian. That's All. ❤❤