Rabu, 27 September 2017

Menyeimbangkan Kehidupan dan Pekerjaan

Kita sering dihadapkan pada dua sisi pertanyaan dari kehidupan, memilih A atau B, menunjuk kanan atau kiri, meraih cita atau cinta, dan berbagai perihal lain yang selalu hadir di dalam benak. Sesungguhnya setiap pertanyaan yang muncul tidak pernah memiliki jawaban yang mutlak berdiri sendiri. Ibarat dua sisi mata uang, jawaban-jawaban yang ada seakan terpisah namun sesungguhnya saling berikatan meski berada membelakangi.

Kata orang masa pencarian jati diri adalah saat remaja, makanya pada fase usia itu dikatakan emosi labil dan memiliki kecenderungan memberontak. Tapi ternyata tidak sedikit juga bagi orang dewasa pencarian jati diri atau pun upaya-upaya menjawab pertanyaan kehidupan pun berlaku terus menerus. Seperti sebuah siklus, ia tidak pernah terputus.

Saya sepakat bahwa setiap orang berada pada zona waktunya masing-masing. Ada mereka yang di usia muda sudah sukses dengan karirnya, ada juga yang menjelang usia pensiun baru memulai usahanya. Ada yang menikah di usia 20-an tapi ada juga yang memilih untuk hidup sendiri. Semuanya tentang pilihan. Termasuk juga pertanyaan apakah hidup ini untuk bekerja atau sebenarnya bekerja untuk hidup. Jawabannya tidak berpihak pada salah satunya tapi justru bagaimana menyeimbangkan keduanya. Artinya hidup dan bekerja atau bekerja dan hidup adalah dua hal yang saling melengkapi. Tugas kita adalah menjadikannya agar menjadi manusiawi dengan satu kata yakni keseimbangan atau balance.

Lalu bagaimana menyeimbangkannya? Dikutip dari www.mentalhealth.org, keseimbangan tersebut bisa dicapai dengan mengatur apa yang boleh atau seharusnya dilalukan serta apa yang tidak boleh dan sebaiknya ditinggalkan. Kita sebut saja do and do not.

Pertama, luangkan waktu untuk sarapan pagi dan pergi bekerja tanpa tergesa-gesa. Hindari mengecek pekerjaan seperti membalas surat elektronik, atau apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan saat sarapan, apalagi tergesa-gesa dan meninggalkan sarapan.

Kedua, bekerja cerdas; yaitu dengan membuat prioritas pekerjaan-pekerjaan dari hal yang paling penting atau sulit ke hal paling mudah serta buat perkiraan waktu untuk menyelesaikannya. Hindari rapat atau pertemuan yang tidak terlampau krusial. Jangan membiasakan diri melakukan banyak pekerjaan tetapi tidak fokus dan memakan banyak waktu.

Ketiga, Manfaatkan waktu makan siang sebaik-baiknya minimal 30 menit. Gunakan untuk makan dan sekedar berjalan keluar sebentar dari ruang kerja. Hindari bekerja pada saat jam makan siang atau makan sambil bekerja.

Keempat, katakan jika kita tidak mampu melalukan atau menyelesaikan pekerjaan. Belajar untuk menolak dengan mengatakan tidak sambil tersenyum. Jangan paksakan menerima pekerjaan yang tidak mampu kita tangani atau beban kerja sudah cukup banyak. Hindari workload dan overload.

Kelima, bekerjalah sesuai dengan jadwal kerja, berhentilah pada waktu selesai jam kerja. Jika sesekali diharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan di luar jam kerja tetap usahakan memisahkan antara bekerja dan bersantai. Hindari membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Keenam, luangkan waktu untuk berolahraga saat weekend meskipun hanya sebentar. Lalukan juga hobi yang membuat tubuh dan pikiran segar. Hindari tidak berolahraga dengan alasan sibuk dengan pekerjaan.

Ketujuh, rencanakan untuk liburan. Pekerjaan bukan alasan untuk terus berkutat dengan tugas dan tugas. Jangan sampai takut liburan karena khawatir pekerjaan tidak selesai. Liburan tidak harus mahal kok :)

Kedelapan, berusahalah untuk membuat jadwal tidur yang teratur setiap malam supaya pagi harinya bisa bangun dalam kondisi fresh. Hindari melakukan pekerjaan hingga larut malam, tidak bisa tidur dan akhirnya besok pagi justru tidak bugar.

Berdasarkan hasil penelitian di Inggris, setiap tahunnya terdapat 10,4 juta hari sakit yang berhubungan dengan stres karena pekerjaan. Sebanyak 40% pekerja mengabaikan aspek-aspek kehidupannya dengan alasan tuntutan pekerjaan yang sebenarnya meningkatkan resiko menurunnya kesehatan mental. Diketahui bahwa 13% pekerja di Inggris menghabiskan waktu 49 jam untuk bekerja setiap minggunya. Di Amerika rata-rata orang bekerja 47 jam per minggu. Tidak berbeda dengan keduanya, porsi bekerja di Indonesia juga berada dalam rentang jumlah tersebut dan bahkan lebih. Padahal berdasarkan penelitian dari para peneliti di Australia National University (ANU) menunjukan fakta bahwa jam waktu bekerja yang ideal adalah 39 jam per minggu. Bahkan perempuan dianjurkan hanya bekerja di luar rumah sebanyak 34 jam per minggu agar bisa membagi waktu dengan keluarganya.

Bekerja adalah hakikat kehidupan, tapi selayaknya manusia yang memiliki akal budi maka bekerja bukan jadi alasan untuk mengabaikan hak hidup dari diri kita sendiri.