Kamis, 30 Maret 2017

Menjawab Pertanyaan Anak Dengan Bijaksana




Foto: dokumen pribadi
Setelah menyusui dan Anugrah tertidur pulas, saya memutuskan untuk menyelesaikan membaca buku berjudul Nawilla yang ditulis oleh Reda Gaudiamo. Oh ya, Anugrah itu nama anak saya: Anugrah Setyo Kuncoro. Generasi pertamanya si Ayah Dhamar Kuncoro. Sebelumnya sudah saya ulas tentang buku Reda yang lain bersama anaknya di sini. Membaca buku Nawilla ini membuat saya menyadari hal lain dari menjadi orang tua yaitu bijaksana. Ibarat perguruan silat, ilmu bijaksana ini ilmu tingkat tinggi yang sekelas dengan sabar dan syukur. Menjadi bijaksana itu sepaket dengan si sabar dan si syukur. Ada berapa hal yang dialami ibu dalam kesehariannya dan membuat ia tidak sabaran? Rumah yang berantakan, anak yang tantrum, perut lapar tapi anak maunya nemplok terus di gendongan, kapan masak, kapan nyuci, kapan bersih-bersih. Efeknya, anak dibentak, dicuekin, dan tidak sedikit yang main tangan dengan mencubit dan sebagainya.

Kenyataannya memang menjadi ibu tidak seindah di iklan susu bayi dan penyedap rasa. Menjadi ibu tidak bisa selalu memberikan lampu hijau kepada anak untuk melakukan sesuatu “nggak apa-apa kotor, nggak apa-apa hujan-hujanan, nggak apa-apa main ini itu”. Namun biasanya insting seorang ibu lebih dari sekedar memikirkan eksplorasi atau kreatifitas anak, Ibu juga memikirkan aspek keamanan anaknya. Menjadi ibu juga nggak terlihat selalu cantik seperti di iklan penyedap rasa, sudah kena asap masakan juga make up masih kinclong kinyis-kinyis. Kenyataannya jadi ibu juga menjadikan seorang perempuan berada di titik penampilannya yang paling sederhana atau bahkan seadanya. Tapi semua itu selalu terbayar dengan tumbuh kembang si anak.

Di buku Nawilla ini, Reda Guadiamo menceritakan masa kecilnya, dengan setiap sudut pandangnya terhadap Emak (ibu), Bapak, si Mbok (asisten rumah tangga), tetangga, juga teman-temannya. Ada masa kecil yang penuh dengan keceriaan dan membentuk sosok Nawilla yang selalu ingin tahu. Dan sepertinya memang pada dasarnya setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, oleh karenanya orang tua, terutama Ibu harus punya stok jawaban dan pernyataan yang banyak dan bijak untuk meredam rasa keingintahuan si anak.


Anak perlu dibuat mengerti dengan makna salah dan benar

Saya kasih contoh, Nawilla ini suka banget main dengan bebas, ia tidak suka dengan anak tetangganya Marni yang suka merebut mainannya. Ditambah pula dengan adiknya Marni, Warno, yang suka menyebutnya Asu Cino (kasar ya, tapi ini contoh yang penting menurut saya). Suatu hari Warno meneriakinya seperti itu dan ia langsung menghampiri Warni, menarik kakinya hingga terguling dan teriak kesakitan. Ujung-ujungnya Emaknya Warno menghampiri Nawilla di rumahnya dan Nawilla berlindung kepada Emak. Di depan ibunya Warno, emak tetap menjaga dan melindungi Nawilla. Emak tidak menurunkan kepercayaan diri Nawilla di hadapan orang lain. Tapi setelah Ibu Warno pulang, emak memposisikan diri sebagai Ibu yang siap mengarahkan anaknya.


“Willa, Mak tidak tahu dari mana asalnya adat kamu yang jelek itu. Tapi kamu harus Mak Pukul!”
“Willa, memukul orang yang cacat itu perbuatan yang sangat salah! Sampai kapan pun kamu tidak boleh menyakiti orag yang cacat!
“Tapi dia bilang aku cino” kata Willa.
“Kamu memang cino! Bapakmu cino!”
“Tapi dia bilang aku asu!”
“Itu salah tapi kamu lebih salah lagi karena memukul anak yang tidak bisa apa-apa. Lain kali kalau dia bilang begitu lagi, diam saja! Tidak usah didengar! Tidak usah dibalas. Orang lain tahu kalau dia yang salah. Tapi kalau kamu balas, semua setuju kalau kamu yang salah, meski dia emang pantas dihajar! Kamu mengerti, Nona Kecil?”


Di sini saya tidak membenarkan maupun menyarankan bahwa sebagai ibu kita sah-sah saja memukul atau mencubit anak, setting Nawilla ini di sebuah kampung kecil di Surabaya pada tahun 1960-an. Konsep parenting pada saat itu memang lazim seperti itu, cubit dan pukul bukan jadi soal besar dan menjadi laporan ke Komisi Perlindungan Anak, tapi itu adalah bagian dari membuat si anak mengerti bahwa menyakiti orang lain itu salah. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan saat ini dengan berbicara hati ke hati kepada anak, membacakan buku cerita tentang adab, dan sebagainya. Tapi yang jelas sebagai ibu kita dituntut punya kepekaan bagaimana tidak menurunkan mental anak di depan orang lain (seperti menyalahkan dan memarahi anak di depan umum), usahakan selesaikan urusan berdua dengan anak.

Dari kasus di atas juga saya belajar bahwa rasisme sudah ada dan berakar sejak dulu, tugas penting Ibu untuk mendidik anak supaya tidak rasial. Terus terang saya tipe yang sangat tidak suka jika ada orang lain di depan anak saya yang masih bayi berbicara rasis. Misalnya: “gimana ya, orang jawa ya enaknya ngobrol sama orang jawa”; “Batak emang gitu, adatnya keras”; “Orang padang itu itungan”; “Orang jawa kok dipanggil abang, nggak pantes”; “Oh dia itu Cino”. Sejujurnya kalau dengar seperti itu saya ingin segera membawa anak saya pergi dari obrolan yang tidak menyenangkan itu. Jangan biasakan memberi label pada orang lain dengan stereotype rasis bikinan kita sendiri sebab anak menyerap informasi dengan sangat cepat. 


Tidak ada salahnya mengikuti intuisi ibu, demi keselamatan anak
 
Membaca Nawilla ini membuat saya larut dengan tingkah anak kecil yang serba ingin tahu dan melakukan banyak hal. Juga, membuka mata saya bahwa dunia anak-anak itu sangat luas dan tak terbatas. Seperti urusan kereta yang akan saya contohkan dari buku Nawilla ini.


“Aku diajak lihat kereta, Mak!”
“Lihat kereta? Setiap hari sudah lihat. Bentuknya ya sama saja. Di rumah saja!”


Emaknya melarang Nawilla melihat kereta sesuai ajakan dua temannya, Dul dan Bud. Nawilla menangis kencang tapi Mak tetap melarang. Hingga beberapa saat kemudian muncul berita ada yang tertabrak kereta di rel dekat rumahnya. Dul, temannya yang tadi mengajak melihat kereta tertabrak dan kakinya putus. 

Saya percaya bahwa setiap ibu memiliki perasaan terbaik untuk anaknya. Jangankan urusan kereta seperti contoh di atas, ketika anaknya digigit nyamuk saja rasanya sudah ingin berperang dengan si nyamuk. Atau melihat si anak yang tiba-tiba diam dari yang sebelumnya aktif pasti ibu menjadi khawatir. Menjaga intuisi itu tetap terasah dan terarah menjadi penting, sepertinya itu menjadi bagian penghubung doa yang makbul antara ibu dengan anak. Menurut saya sih gitu, hehe.


Terkadang menjawab pertanyaan anak diperlukan contoh nyata agar anak semakin mengerti

Dunia anak adalah dunia eksplorasi yang kadang sebagai orang tua juga kita tidak habis pikir kenapa energi anak tidak habis-habisnya. Padahal jaman kita kecil juga sama, hanya kita sudah lupa saja kalau dulu pernah bikin ibu dan bapak kita kewalahan. Seperti Nawilla yang penasaran dengan siapa orang yang berbicara di dalam radio. Hingga suatu hari tanpa sepengetahuan Emak dia membongkar bagian belakang radio menggunakan obeng. Bukan kepalang bahagianya karena eksplorasinya berhasil, tapi ia tidak menemukan ada orang di dalam radio yang bisa berbicara. Hingga akhirnya Emak kesal karena Nawilla membuka radio dan memegang bagian dalamnya pada posisi kabel masih tersambung dengan listrik.




“Membuka radio sendiri dalam keadaan menyala itu berbahaya sekali, Willa!”
“Ingat waktu kamu memasukkan telunjuk ke lubang listrik?”
“Masih ingat rasanya?”
“Membuka radio yang menyala, bisa membuatmu kena listrik lagi. Itu berbahaya sekali, Willa. Mengerti?”
“Mau tau kan seperti apa isi radio? Sini naiklah lihat.”
“Sekarang pasang kembali barang ini. Sebelum terpasang jangan turun dari buffet.”
Membaca kisah Nawilla ini membuat saya membayangkan betapa hati Emak teraduk-aduk karena khawatir, namun pada saat yang sama ia juga harus memberikan pengertian kepada anaknya. Duhh, saya bisa nggak ya kalau Anugrah sudah pada saatnya selincah itu? Semoga bisa dan harus bisa. Tapi memang anak kecil perlu jawaban dari contoh dan pengalaman yang pernah ia rasakan, mereka akan lebih mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh orang tuanya.


 

Jika anak bertanya, jawab saja. Barangkali saat ini mereka belum mengerti tapi pelan-pelan pada saatnya mereka akan paham

Bagaimana jika seorang anak yang bahkan belum masuk taman kanak-kanak bertanya soal pernikahan? Bukan tidak mungkin karena seringkali pertanyaan yang terlontar di benak anak tidak sebatas main kelereng, main layangan, makan apa, dan sebagainya. Ini soal pertanyaan orang dewasa. 



“Mak, kalau orang mau jadi pengantin musti nangis?”
“Biasanya menangis karena senang.”
“Tadi aku dan Ida ke kamar Mbak Tin. Makan cucur. Terus dia nangis...”
“Mungkin dia belum mau kawin.”
“Tidak mau kawin? Lucu sekali! Aku mau! Pakai Baju panjang, mengkilap-kilap, pakai mahkota, pakai lipstik...”
“Willa, kawin itu bukan Cuma pakai baju panjang yang mengkilap-kilap, pakai mahkota, pakai lipstik. Kawin itu berarti sudah siap jadi ibu-ibu. Mengurus rumah, mengurus suaminya. Punya anak. Banyak yang dikerjakan...”
“Mak, kalau begitu aku tidak mau kawin.”
“Willa, kalau kau sudah besar, sudah selesai sekolah, sudah bisa mencari uang sendiri, akan tiba waktunya kamu akan kawin. Dan kalau itu terjadi, kamu akan senang, gembira. Mak dan Pak juga akan senang.”
“Kapan, Mak?”
“Nanti, Nak. Masih lama.”
“Besok-besok, Mak?”
“Ya, besok-besok... kalau kamu sudah lebih tinggi dari Mak.”
Untuk kita yang sudah dewasa apalagi sudah menikah barangkali mudah paham dengan dialog Emak dan Nawilla itu. Tapi untuk seorang anak kecil itu adalah pertanyaan yang berat, lebih berat lagi untuk Emak yang harus menjelaskannya sesuai dengan usia Nawilla. Semoga bisa jadi pelajaran buat kita ya.


Ada banyak hal yang dapat dipetik dari kisah buku ini, yang bisa saya bagikan baru seperti ini saja. Semoga bermanfaat. Terus berusaha lebih baik adalah salah satu berkah yang besar menjadi orang tua. Ketika menjadi orang tua, yang saya pahami adalah bukan kita semata yang mengajari dan memberi contoh untuk anak. Tetapi anak juga banyak memberikan pelajaran baru, pejaran hidup, dan memberikan contoh kepada kita. Anak adalah refleksi orang tuanya, mari kita jaga dan didik sebaik-baiknya.
  

Notes:
Buku Nawilla ditulis oleh Reda Gaudiamo dengan ilustrasi gambar oleh Cecilia Hidayat. Diterbitkan oleh www.aikon.org pada September 2012 (cetakan pertama). Saya beli online di Instagram @demabuku.