Kamis, 23 Maret 2017

Aku, Meps, dan Beps: Belajar Pola Asuh Dari Imajinasi Seorang Anak



foto dokumen pribadi
Kita semua pernah menjadi anak kecil namun lebih sering lupa apa yang ada di kepala seorang anak, apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka imajinasikan, juga apa yang mereka inginkan. Seiring berjalannya waktu, orang dewasa menjadi semakin tidak fleksibel, terlalu banyak aturan yang kaku, dan tidak banyak yang memandang gagasan anak sebagai perkara remeh-temeh. Padahal dunia anak adalah dunia paling jujur dan dunia dengan kebahagiaan paling sederhana. Mari berselancar kembali mengenang masa kanak-kanak kita melalui bacaan segar Aku, Meps, dan Beps.

Buku ini merupakan buku kolaborasi antara anak dan ibunya, Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo. Ditambah ilustrasi-ilustrasi lucu goresan Cecilia Hidayat. Siapa mereka juga awalnya saya tidak tahu sama sekali, baru mulai googling setelah baca bukunya. Alasan mengapa saya baca buku ini adalah spontan saja, saya lihat di salah satu instagram toko buku online, saya scroll down lalu dapatlah cover lucu berwarna orange tua dengan ilustrasi anak kecil tertawa. Biasanya buku dengan cover yang tidak terlalu ramai justru isinya bagus, eh tapi don’t judge the book by it’s cover ya, pengalaman saya ini nggak berlaku umum. 

Buku ini ringan sekali, saya baca cepat tidak sampai satu jam, tapi isinya tidak akan membosankan untuk dibaca berulang-ulang. Buku ini saya rekomendasikan sebagai buku parenting yang cocok dibaca sama ibu-ibu dan bapak-bapak, juga kakek-nenek, om-tante, para jomblo juga boleh sebagai persiapan sekaligus nostalgia masa kecil. Sekali lagi ini bukan buku parenting ala teoritis yang punya segudang tips things to do, ini buku tentang anak kecil yang diasuh ibu dan bapaknya yang saya tebak tinggal di wilayah urban (perkotaan).

Soca kecil sang penulis memanggil ibunya dengan panggilan Meps, dan bapaknya dengan panggilan Beps. Meps dan Beps, panggilan yang tiba-tiba saja terlintas dan dia tidak tahu alasannya.  Meps adalah seorang pekerja kantoran yang sangat sibuk, Beps sebelumnya bekerja di kantor juga tapi karena perusahaannya bangkrut akhirnya Beps memutuskan untuk bekerja di rumah. Sebuah kondisi yang unik dimana lazimnya rumah tangga di Indonesia adalah laki-laki bekerja di luar dan perempuan di rumah. Tapi keluarga ini tidak mempermasalahkan itu dan nampak sekali saling support diantara keduanya dan itu diceritakan oleh Soca dalam buku ini.

Mengapa saya rekomendasikan ini sebagai buku parenting? Karena sebagai orang tua kita diberitahu oleh seorang anak kecil bernama Soca tentang apa-apa yang dia suka dan dia tidak suka dari kedua orang tuanya. Hal yang kadang luput dari perhatian orang tua karena lebih sering mengutamakan apa yang orang tua inginkan dibanding tahu apa yang anak butuhkan dari orang tuanya. Beberapa hal yang secara tidak langsung diceritakan Soca dan menjadi bahan untuk para orang tua adalah:

Seorang anak tidak peduli apakah orang tuanya bekerja di luar atau di dalam rumah, yang terpenting adalah ada waktu-waktu yang memang bagi anak penting dan paling disukai jika dilewatkan dengan orang tuanya. 
“Aku paling suka kalau tidur ditemani Meps. Apalagi kalau dipeluk dan dinyanyikan lagu ‘Belaian Sayang’.”
Anak suka dibacakan cerita atau mendengarkan cerita dari orang tuanya.
“Aku suka kalau Meps menceritakan sesuatu untukku.
Anak dengan ibu bekerja sangat menghargai usaha ibunya untuk tetap bermain bersama sebelum berangkat kerja dan juga sangat menghargai ketika ibunya bisa pulang ke rumah tepat waktu.
“Aku paling suka kalau baru jam 7 malam, eh Meps sudah ada di depan pintu.”
“Aku paling kesal kalau Meps janji pulang jam 8 ternyata sampai aku tidur (jam 10) dia belum sampai di rumah juga.”
Seorang anak adalah makhluk yang paling menepati janji. Untuk hal ini sepertinya memang menjadi catatan khusus untuk para orang tua agar tidak mudah obral janji dengan anaknya, sebab ingatan anak itu kuat sekali.
“Aku paling suka kalau Meps ajak aku renang. Tapi aku paling sedih kalau sudah siap-siap mau renang, tiba-tiba Meps ada acara kantor di hari Minggu.”
“Permisi ya, Meps, katanya kalau buat janji harus ditepati.”
Anak suka bertanya dan mendapat jawaban dari orang tuanya, oleh sebab itu pengetahuan orang tua juga harus luas dan sebisa mungkin menjelaskan ke anak.
“Aku kesel banget kalau nanya apa Bahasa Indonesianya suatu kata Bahasa Inggris, aku langsung disuruh belajar atau les Bahasa Inggris. Aku kan mau tahu jawabannya. Bukan les Inggrisnya!”
Anak sedih ketika dimarahi oleh orang tuanya.
“Aku sedih juga kalau Meps marahin aku. Tapi kan itu berarti Meps sayang aku.”
Anak menghargai usaha orang tuanya, meskipun ia tahu bahwa cara orang tuanya tidaklah sempurna.
“Beps kurang bisa menyanyi, tapi aku suka lagunya Beps.”
Anak selalu punya imajinasi hebat yang kadang diluar jangkauan orang dewasa, mereka memberi nama binatang, membuat resep kue, juga berbagai imajinasi lain yang bisa jadi aneh menurut orang dewasa.
“Hei, rumahku, lho! Hebat kan! Belum tentu rumah Silke kebanjiran. Aku telpon dia nanti. Pasti dia iri!”
Soal cita-cita, anak selalu punya bayangan akan menjadi apa ia kelak, bahkan sejak masih sangat kecil. Tapi cita-cita itu masih bisa berubah, tugas orang tua memfasilitasi dan tentu saja tidak memaksakan kehendak.
“Meps bilang, ganti cita-cita itu biasa.”

Kerjasama orang tua yang baik (ayah dan Ibu-Beps dan Meps) menjadi ingatan yang baik dan memberikan kesan baik juga untuk anaknya. Soca mengingat bagaimana ia diajak Beps untuk menjemput Meps sepulang kerja, mengingat bagaimana Beps merapikan ruang kerja Meps yang berantakan. Bisa jadi di sebagian budaya kita laki-laki tabu membantu tugas perempuan, menurut saya ini contoh yang baik terkait stereotype gender yang sudah lazim di khalayak.



Itu poin-poin yang coba saya rangkum, poin lainnya masih banyak dan bisa ditemukan dalam setiap cerita Soca. Menariknya dari buku ini adalah cerita-cerita Soca itu adalah bahasa tutur yang kadang ia sampaikan sambil tidur-tiduran, sambil santai, kemudian diketik oleh ibunya yang super sibuk. Dan Beps, laki-laki, ayah Soca juga memberikan ruang kebebasan bagi istrinya untuk tetap berkarya menggeluti pekerjaannya. Saya sepakat dengan Post Press, penerbit buku ini yang menyampaikan bahwa buku ini bukanlah buku acuan pola mengasuh anak, buku ini adalah rekreasi ditengah muramnya buku anak. Buku ini juga bukan buku dengan penerbit mayor yang terpajang di etalase buku besar. Buku ini terbit secara independen. akhir kata, buku ini memberikan perspektif lain tentang pola asuh anak, bagaimana mengasuh anak yang ceria dan bahagia dan menjadi dirinya sendiri.



Judul               : Aku, Meps, dan Beps
Penulis            : Soca Sobhita & Reda Guadiamo
Ilustrasi           : Secilia Hidayat
Penerbit          : Post Press
Tahun Terbit    : Desember 2016 (cetakan pertama), Januari 2017 (cetakan kedua)
Halaman          : xvi + 89 hlm
Harga              : Rp 50.000