Selasa, 24 Januari 2017

Menjadi Pengendara yang Baik



Sebelum menyelesaikan tulisan ini, baru saja di depan rumah terjadi kecelakaan antar motor. Tabrakan dari arah yang bersilangan di perempatan jalan. Seorang ibu mengendari motor dengan kecepatan kencang tanpa membunyikan klakson atau sedikit mengurangi laju ketika melewati perempatan depan rumah. Dari arah yang bersilangan, seorang bapak dengan laju motor relatif lebih pelan tertabrak. Braaakkkkkk, syukurnya tidak ada yang terluka. Hanya si bapak yang terjatuh dengan motornya. Pengendara ibu-ibu langsung nyelonong pergi begitu saja tanpa minta maaf. Saya melihat adegan itu dari celah pintu dapur. Setelah bangun dan kembali mengendarai motor, si bapak mengejar dan memanggil si ibu, minta ganti rugi karena motornya lecet. Si ibu menjawab “saya kan nggak sengaja pak, lagian saya nggak bawa uang.”

Adegan itu seperti sudah lazim terjadi di jalan. Ketika nyerempet dikit dimaklumi, ngebut nggak masalah walau pun di dalam komplek perumahan, nggak pake helm juga bukan soal. Tetapi sewaktu-waktu terjadi petaka muncul pertanyaan “siapa yang salah” dan mungkin pernyataan “saya yang benar”

sumber gambar: klik!

Kemarin pagi saya juga mendapatkan telepon dari suami di Jember yang mengabarkan bahwa ia megalami musibah kecelakaan kecil. Saya langsung tanya ini itu perihal kecelakaan yang dimaksud dan berharap tidak terjadi apa-apa setelahnya. Rasanya dag dig dug nggak karuan karena saya sendiri baru diantar pulang ke Tangerang untuk “libur” bersama anak sampai bulan Februari. Mendapat kabar demikian sungguh bukan hal yang menyenangkan. 

Berdasarkan apa yang dialami oleh suami, pagi-pagi jam 6 dari arah rumah tinggal kami di daerah Mastrip-Jember dia mengendarai mobil untuk menuju ke kantor di Jl. PB Sudirman. Memaklumi jalanan Jember hari senin yang cukup padat oleh lalu lintas anak sekolah dan orang bekerja, suami sudah berusaha sehati-hati mungkin. Lalu ketika melewati daerah bundaran Mastrip, suami saya hendak berbelok dan memberikan lampu tanda untuk belok. Kondisi lalu lintas saat itu adalah semua motor dan mobil yang berkendara di sekitarnya berhenti untuk memberi jalan. Belum sempat berbelok, tiba-tiba ada satu motor yang dikendari oleh siswi kelas 2 SMA yang nyelonong dan langsung menabrak mobil yang dikendarai oleh suami saya. Pagi yang “gemeruduk”. Suami saya kaget, langsung turun dari mobil.

Bundaran Mastrip - Jember (sumber foto: klik!)
Saya tahu suami saya sangat panik saat itu, jangankan mengalami kecelakaan antar kendaraan, lihat saya nyengir sakit saja sudah ketar-ketir. Suami langsung mengecek dan menanyakan kondisi siswi yang mengendarai motor, pada saat yang sama ada guru dari siswi tersebut berada di tempat kejadian. Syukurnya kondisi siswi tersebut tidak parah, memar di bagian jidat, dan hidung (sepertinya terbentur stang motor). Siswi tersebut mengakui bahwa yang bersangkutan menerobos dan tidak sengaja menabrak mobil yang dikendarai oleh suami saya. Alasannya “saya buru-buru mau ikut upacara bendera”. Demikian yang diakui oleh siswi kelas 2 itu kepada orang-orang di sekitar tempat kejadian, suami saya, dan guru sekolahnya.

Alhasil hari senin kemarin menjadi hari wira-wiri suami saya mengurusi si anak SMA tersebut, dari mulai mengantar ke rumah sakit, menghubungi orang tuanya, dimarahi oleh bapaknya si anak. Hal itu masih belum selesai jika si anak mengeluhkan sakit akibat kecelakaan itu, pertanggungjawaban atas risiko cedera yang dialami anak SMA tersebut dilimpahkan ke suami saya. Senin  kemarin menjadi hari yang panjang rasanya....

Setelah banyak ngobrol dengan orang tua si anak SMA tersebut (ibunya) juga dengan tantenya, mereka memang mengakui bahwa “si adek” kalau naik motor memang ngebut. Baru distarter langsung ngeeeeengggggggg. Dan ini bukan kecelakaan pertamanya. Well!! Ketika saya tanyakan perihal apakah siswi kelas 2 tersebut sudah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), ternyata BELUM PUNYA SIM. Hiks dek dek.... 

“Gimana kondisi kamu?” tanya saya siang kemarin.

“Aku nggak apa-apa, tadi Bapaknya nelpon mara-marah” kata suami saya.

“Marah gimana?”

“Gimana pun kami yang bawa mobil yang salah” mendengar jawaban itu rasanya geram sekali. Ngebut. Berangkat sekolah last minute. Belum memiliki SIM. Dan selalu benar. 

Lalu bagaimana? Suami saya tetap bertanggung jawab dengan risiko cedera yang mungkin menimpa siswi kelas 2 SMA tersebut. Semoga hanya memar dan gigi senut-senut terbentur stang sehingga semuanya lekas selesai... Amiin. Tapi menurut saya, hal ini adalah pembelajaran yang sangat berharga, untuk berhati-hati di jalan raya. Mematuhi aturan pengguna jalan. Bagi siswa/siswi yang bersekolah, nggak perlu lah niru adegan kebut-kebutan anak motor di sinetron-sinetron, sama sekali nggak keren. Nggak keren! jangan bangga dengan kemampuan menerobos jalan, bisa bunyiin knalpot kenceng. Penting juga untuk bangun pagi, baik untuk kesehatan dan tidak telat berangkat sekolah. Bagi orang tua juga sebaiknya tidak “memanjakan” fasilitas kendaraan kepada anaknya sebelum mengikuti ujian berkendara dan mendapatkan lisensi SIM. 

Semoga kejadian ini bisa menjadi introspeksi berkendara. Hati-hati di jalan...jadilah pengguna jalan yang bijak, menjadi pengendara yang baik. 

Tangerang, 24 Januari 2017
14:44 WIB