Sabtu, 28 Januari 2017

Beejay Bakau Resort, Pilihan Ekowisata Keluarga di Kota Probolinggo



Selamat datang di Kota Seribu Taman sekaligus kota penghasil mangga dan anggur, Kota Probolinggo. Kota yang berada di daerah pantura Jawa Timur ini sudah memperoleh sepuluh kali penghargaan Adipura hingga tahun 2016. Memasuki gerbang kota kita akan disambut dengan taman-taman mungil yang tertata rapi. Mangga harum manis dan anggurnya juga melimpah di pasar Pulau Jawa. Mengingat letaknya tidak terlalu jauh dari Kota domisili keluarga kecil sata di Jember, Probolinggo menjadi alternatif tujuan wisata. Jika melawati Lumajang, perjalanan dari Jember ke Probolinggo sekitar 2-3 Jam. Namun saat itu kami memilih lewat Bondowoso-Besuki-Situbondo karena bersama dengan bapak ibu mertua yang ingin tahu seperti apa wajah Bondowoso. Jarak tempuhnya memang menjadi lebih jauh dan waktu tempuhnya menjadi 4 jam. Tapi setidaknya saya terbayang betapa panjangnya jalur jalan raya Panarukan hasil kerja pendahulu kita. 

Ikon BJBR
Niatan awal mengunjungi Probolinggo terlontar dari suami saya “katanya ada bola yang mirip kayak di Universal Studio Singapore” lalu dia sibuk mencari informasi di google. Akhirnya mengambil waktu hari sabtu, kita pergi menuju Probolinggo dengan tujuan utama BJBR atau Beejay Bakau Resort. Berbekal google map Pak Suami mengikuti jalur yang disarankan. Kita diarahkan menuju area pelabuhan perikanan Pantai Mayangan. Ternyata letak BJBR ada di sebelah pintu masuk pelabuhan perikanan. Dari luar area sudah terlihat bola dunia yang dikatakan suami saya, eye catching.

BJBR ini sebenarnya adalah wisata hotel dan restoran yang dikemas menggunakan konsep ekowisata wisata. Pengunjung tidak harus menginap di hotel atau makan di restonya, tetapi bisa sekedar menikmati wahana yang tersedia. Wahana yang ada meliputi pantai pasir putih dengan permainan air, water boom, flying fox, juga taman-taman yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik. Fasilitas mushola, tempat bermain anak (sayang sekali kondisinya kurang terawat, agak kotor, dan ada tikus), toilet umum, kantin dan ruang menyusui juga tersedia. Selain itu area parkirnya cukup luas dengan daya tampung hingga 200 kendaraan roda 4 dan 400 kendaraan roda 2. Harga tiket masuk BJBR dibedakaan saat hari bisa (weekday) dan akhir pekan (weekend), pada hari biasa harga tiket masuk sebesar Rp 15.000 dan akhir pekan Rp 30.000. 

 
Atas: Jembatan Hutan Mangrove, Bawah: Pintu masuk wahana pantai Majengan

Area wisatanya dibagi 2 yaitu area hutan mangrove dan area wahana. Saat masuk dan menunjukkan tiket, kita akan diberi gelang penanda pengunjung. Memasuki hutan mangrove, kita akan menyusuri jembatan yang memang sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung menikmati suasana hutan tepi laut itu. Dilengkapi dengan palang penanda arah, kita bisa menentukan kemana tujuannya. Lokasi hutan mangrove ini bisa dikatakan mengikuti gaya terkini yang diminati anak muda era digital. Banyak pengunjung yang mengambil swafoto di titik-titik tertentu. 

 
Terminal Cinta BJBR
Beralih dari hutan mangrove, kita disuguhi juga area yang juga digemari anak muda untuk berfoto. Tempatnya dinamai “terminal cinta”. Sebuah area yang dipasangi papan kawat tinggi dan juga tempat duduk berlambang hati lengkap dengan cupid dan panahnya. Pengunjung biasanya berswafoto atau foto dengan pasangannya. Selain itu banyak juga terpasang ornamen mirip gembok (hanya saja ini papan besi kecil berbentuk hati) yang ditulisi nama atau harapan tertentu dan dikancingkan di papan kawat tinggi. Mungkin mengadopsi tradisi gembok cinta di Jembatan Pont des Invalides  di atas Sungai Seine, Paris; atau seperti di Namsan Tower Korea Selatan. 
 
Dekat dari terminal cinta, ada bjbr mart yang menjual aneka souvenir BJBR. Ada kaos, topi, kerajinan dari kerang, dompet, dan berbagai makanan ringan. Buat yang suka ngopi atau ngeteh, tersedia juga kopi dan teh seduh. Waktu itu saya beli terasi udang harganya RP 7.000  dengan ukuran yang lumayan besar. Sebenarnya tujuan utama masuk BJBR Mart adalah untuk ngadem, hehehe ruangannya ber-ac.  Nampaknya pengelola berusaha menata kawasan bjbr ini dengan daya tarik ikon-ikonnya. Di sebelah bjbr mart ada ikon dengan tulisan BJBR yang besar. Kalau kata anak muda, ikon tersebut termasuk kategori kekinian. Mau foto di situ ramai sekali.

Bangunan ini dari botol kaca lhoo..

Selepas keliling-keliling di area hutan mangrove, selanjutnya kami masuk ke area wahana. Area ini berbeda pintu masuk dengan hutannya, tapi tiketnya terusan. Nah yang dimaksud bola dunia mirip di universal studio ya di area wahana ini. Memasuki pintu gerbang wahana kaki kita sudah langsung menginjak pasir putih. Berbeda dengan suasana hutan mangrove yang lebih adem, di area ini hawa pantainya lebih terasa. Banyak yang menikmati bermain di wahana air (kapal-kapalan) atau bermain flying fox. Di dekat ikon bola BJBR juga terdapat air mancur yang dapat digunakan anak-anak untuk bermain. Berdasarkan keterangannya sumber airnya adalah dari air laut. Selain wahana bermain area in juga dilengkapi dengan taman bermain. Ada satu lajur jalan dengan kanopi payung yang dibuka sehingga menambah artistik suasana. Di seberangnya juga terdapat bentuk bangunan mirip piramida museum Louvre, Paris, uniknya dibuat dari susunan botol kaca. Ada juga taman bunga matahari yang nampaknya menjadi titik asik buat mengambil foto. Bagi pecinta eksistensi di media sosial, berkunjung ke wahana ini sepertinya menjadi semakin menarik karena disediakan wifi gratis di area sekitaran taman. Nampaknya pengembang BJBR sadar betul bahwa wisata masa kini tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. 

Free WiFi

Penasaran dengan detail BJBR lebih lanjut, saya mencoba buka websitenya www.beejaybakauresort.com. Dari situ saya dapat informasi bahwa lokasi ekowisata ini berada di atas lahan seluas 89 hektar, jembatan kayu di area hutan mangrovenya sepanjang 1.350 m2 dan 2.800 m2. Ternyata kami berjalan cukup jauh juga waktu itu. Secara keseluruhan wisata ini dapat menjadi pilihan berwisata bersama keluarga, jangan lupa siapkan air minum ketika menyusuri jembatan kayu, siapa tahu haus. Saran saya ketika mengajak bayi/anak-anak berwisata ke sana, pastikan kondisi fit dan jika bayi belum bisa berjalan ungkin sebaiknya digendong bergantian atau membawa kereta dorong. 

Tangerang, 28 Januari 2017
20:02