Senin, 30 Januari 2017

Tips Dapat Diskon di Gerai Bakpia Pathok 25 Yogyakarta



Yogyakarta memang nggak ada matinya kalau soal pariwisata. Suguhan destinasinya begitu komplit, mau wisata alam ada, wisata budaya ada, wisata kuliner apalagi. Salah satu jenis kuliner yang terkenal adalah bakpia pathok. Nama asli bakpia sendiri sebenarnya adalah Tou Luk Pia yang berrati kue pia kacang hijau. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kan asal makanan ini? Ya betul sekali, asalnya dari negeri tirai bambu, Cina. Kemudian terkenal dengan nama bakpia pathok karena awal produksinya pada tahun 1948 dimulai di Kampung Pathok Yogyakarta.

Kue yang lezat ini diburu oleh wisatawan ketika ke Jogja, rasa kacang ijonya lumer di mulut. Paling nyoss ketika masih hangat baru matang dari oven. Seiring dengan berkembangnya inovasi isi bakpia tidak hanya kacang hijau. Ada juga bakpia dengan isi durian, keju, juga cokelat. Dulu bakpia masih diperdagangkan eceran dan dikemas dalam besek tanpa label dengan peminat yang masih terbatas. Kemudian kemasan berubah dengan menggunakan kertas karton yang disertai label tempelan. Sekitar tahun 1980-an kemasan bakpia pathok menjadi lebih menarik dan juga memiliki merk dagang sesuai nomor rumah. Bakpia Pathok 25 berarti diproduksi di rumah nomor 25. (lihat di bakpia25.com)

Saat ada kesempatan ke Yogya beberapa waktu lalu, seperti biasa partner jalan saya, Pak Suami, mengajak beli bakpia untuk dicemil-cemil sambil jalan. Karena suami saya cukup selektif soal rasa makanan, saya percayakan urusan memilih nomor bakpia sesuai pengalamannya. Awalnya dia ragu mau nomor 25 atau satu pilihan lainnya. Akhirnya diputuskan memilih Bakpia Pathok 25 di Toko Ongkojoyo karena lokasinya paling dekat dengan tempat menginap dan tentu saja karena pernah memiliki pengalaman beli di sana. Di toko ini selain membeli oleh-oleh, kita juga bisa melihat proses pembuatan Bakpia. Pekerjanya dibagi dua, bagian adonan, mengisi isian kacang hijau, dan membentuknya dilakukan oleh pekerja laki-laki, dan bagian memanggang serta packaging dilakukan oleh perempuan.


Salutnya dengan bisnis pariwisata di Yogyakarta adalah ada kerjasama yang baik antara pengusaha oleh-oleh dengan berbagai moda layanan transportasi wisata (travel, shuttle hotel, becak, ojek, delman). Pada tahun sebelumnya ketika datang ke Toko Ongkojoyo ini kami naik becak dari hotel, dan tahun ini kami mencoba membawa kendaraan sendiri. Ternyata ada perbedaan harga yang lumayan drastis yang kita dapatkan. Pada saat mobil kami parkir, petugas toko yang stand by di area parkir mempersilakan kami masuk sekaligus memberi kode pada pramuniaga yang ada di dalam toko. Pada saat memilih apa yang akan dibeli, suami pamit ke toilet. ada pramuniaga yang melayani, sekaligus bertanya “ke sini naik apa?” Awalnya saya pikir itu pertanyaan basa-basi ala orang yang baru pernah kenal, apalagi saya menggendong bayi yang sedang lucu-lucunya jadi mungkin saja mbak pramuniaga itu kepincut dengan bayi saya.

Toko Ongkojoyo (Sumber: Klik!)
Pramuniaga itu dengan ramah melayani. Setelah saya jawab naik mobil sama suami, pertanyaan lanjutan keluar lagi “jadi nyetir sendiri atau diantar dari hotel atau travel?” Saya jawab nyetir sendiri. Oke tidak ada pertanyaan lanjutan dan langsung menuju kasir. Saya keluarkan uang untuk membayar dan masih tetap dibantu oleh mbak pramuniaga. Dan saya masih berpikir, mbak nya baik banget bantuin saya antre. Setelah selesai transaksi, pramuniaga itu mengajak saya sedikit menjauh dari antrean. Kemudian ia berbicara pelan-pelan. Duh, jujur saya merasa bersalah karena saya pikir mbak nya minta uang tip. Ternyata mbak nya dengan pelan menjelaskan “Bu, karena ibu bawa kendaraan sendiri, ini harga bakpia nya dua puluh lima ribu. Kalau diantar becak, travel, dokar, harganya jadi tiga puluh lima ribu”. Ohh begitu mbak... (saya manggut-manggut), dan suami saya yang dari baru muncul langsung bertanya ke saya. setelah clear dan mengucapkan terima kasih kepada mbak yang baik hati, kita keluar dari toko dengan hati riang karena dapat diskon Rp 10.000 per kotak bakpia. Diskon itu berlaku kelipatan. Jadi kalau kita beli 10 kotak bakpia, diskon yang didapat adalah RRp 100.000 (lumayan banget).

Tapi jangan salah, bukannya pilih kasih sama pelanggan lho, melainkan margin Rp 10.000 per kotak bakpia yang ditambahkan ketika pembeli diantar oleh becak, dokar, atau travel, diberikan kepada pengemudinya. Dengan kata lain menjadi uang jasa karena telah mengantarkan pelanggan ke toko tersebut. Jadi tidak heran jika kita naik becak, misalnya, sopir becaknya akan merekomendasikan dimana tempat membeli oleh-oleh. Sebab mereka akan memperoleh tip dari transaksi yang dilakukan di toko yang direkomendasikan. 

Kalau mau dapat diskon di Bakpia Pathok 25, tips nya adalah bawa kendaraan sendiri. Nggak bisa bohong juga sama pramuniaganya karena dari sejak parkir sudah ada petugas yang mengawal. Keren ya sistemnya.


Sabtu, 28 Januari 2017

Beejay Bakau Resort, Pilihan Ekowisata Keluarga di Kota Probolinggo



Selamat datang di Kota Seribu Taman sekaligus kota penghasil mangga dan anggur, Kota Probolinggo. Kota yang berada di daerah pantura Jawa Timur ini sudah memperoleh sepuluh kali penghargaan Adipura hingga tahun 2016. Memasuki gerbang kota kita akan disambut dengan taman-taman mungil yang tertata rapi. Mangga harum manis dan anggurnya juga melimpah di pasar Pulau Jawa. Mengingat letaknya tidak terlalu jauh dari Kota domisili keluarga kecil sata di Jember, Probolinggo menjadi alternatif tujuan wisata. Jika melawati Lumajang, perjalanan dari Jember ke Probolinggo sekitar 2-3 Jam. Namun saat itu kami memilih lewat Bondowoso-Besuki-Situbondo karena bersama dengan bapak ibu mertua yang ingin tahu seperti apa wajah Bondowoso. Jarak tempuhnya memang menjadi lebih jauh dan waktu tempuhnya menjadi 4 jam. Tapi setidaknya saya terbayang betapa panjangnya jalur jalan raya Panarukan hasil kerja pendahulu kita. 

Ikon BJBR
Niatan awal mengunjungi Probolinggo terlontar dari suami saya “katanya ada bola yang mirip kayak di Universal Studio Singapore” lalu dia sibuk mencari informasi di google. Akhirnya mengambil waktu hari sabtu, kita pergi menuju Probolinggo dengan tujuan utama BJBR atau Beejay Bakau Resort. Berbekal google map Pak Suami mengikuti jalur yang disarankan. Kita diarahkan menuju area pelabuhan perikanan Pantai Mayangan. Ternyata letak BJBR ada di sebelah pintu masuk pelabuhan perikanan. Dari luar area sudah terlihat bola dunia yang dikatakan suami saya, eye catching.

BJBR ini sebenarnya adalah wisata hotel dan restoran yang dikemas menggunakan konsep ekowisata wisata. Pengunjung tidak harus menginap di hotel atau makan di restonya, tetapi bisa sekedar menikmati wahana yang tersedia. Wahana yang ada meliputi pantai pasir putih dengan permainan air, water boom, flying fox, juga taman-taman yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik. Fasilitas mushola, tempat bermain anak (sayang sekali kondisinya kurang terawat, agak kotor, dan ada tikus), toilet umum, kantin dan ruang menyusui juga tersedia. Selain itu area parkirnya cukup luas dengan daya tampung hingga 200 kendaraan roda 4 dan 400 kendaraan roda 2. Harga tiket masuk BJBR dibedakaan saat hari bisa (weekday) dan akhir pekan (weekend), pada hari biasa harga tiket masuk sebesar Rp 15.000 dan akhir pekan Rp 30.000. 

 
Atas: Jembatan Hutan Mangrove, Bawah: Pintu masuk wahana pantai Majengan

Area wisatanya dibagi 2 yaitu area hutan mangrove dan area wahana. Saat masuk dan menunjukkan tiket, kita akan diberi gelang penanda pengunjung. Memasuki hutan mangrove, kita akan menyusuri jembatan yang memang sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung menikmati suasana hutan tepi laut itu. Dilengkapi dengan palang penanda arah, kita bisa menentukan kemana tujuannya. Lokasi hutan mangrove ini bisa dikatakan mengikuti gaya terkini yang diminati anak muda era digital. Banyak pengunjung yang mengambil swafoto di titik-titik tertentu. 

 
Terminal Cinta BJBR
Beralih dari hutan mangrove, kita disuguhi juga area yang juga digemari anak muda untuk berfoto. Tempatnya dinamai “terminal cinta”. Sebuah area yang dipasangi papan kawat tinggi dan juga tempat duduk berlambang hati lengkap dengan cupid dan panahnya. Pengunjung biasanya berswafoto atau foto dengan pasangannya. Selain itu banyak juga terpasang ornamen mirip gembok (hanya saja ini papan besi kecil berbentuk hati) yang ditulisi nama atau harapan tertentu dan dikancingkan di papan kawat tinggi. Mungkin mengadopsi tradisi gembok cinta di Jembatan Pont des Invalides  di atas Sungai Seine, Paris; atau seperti di Namsan Tower Korea Selatan. 
 
Dekat dari terminal cinta, ada bjbr mart yang menjual aneka souvenir BJBR. Ada kaos, topi, kerajinan dari kerang, dompet, dan berbagai makanan ringan. Buat yang suka ngopi atau ngeteh, tersedia juga kopi dan teh seduh. Waktu itu saya beli terasi udang harganya RP 7.000  dengan ukuran yang lumayan besar. Sebenarnya tujuan utama masuk BJBR Mart adalah untuk ngadem, hehehe ruangannya ber-ac.  Nampaknya pengelola berusaha menata kawasan bjbr ini dengan daya tarik ikon-ikonnya. Di sebelah bjbr mart ada ikon dengan tulisan BJBR yang besar. Kalau kata anak muda, ikon tersebut termasuk kategori kekinian. Mau foto di situ ramai sekali.

Bangunan ini dari botol kaca lhoo..

Selepas keliling-keliling di area hutan mangrove, selanjutnya kami masuk ke area wahana. Area ini berbeda pintu masuk dengan hutannya, tapi tiketnya terusan. Nah yang dimaksud bola dunia mirip di universal studio ya di area wahana ini. Memasuki pintu gerbang wahana kaki kita sudah langsung menginjak pasir putih. Berbeda dengan suasana hutan mangrove yang lebih adem, di area ini hawa pantainya lebih terasa. Banyak yang menikmati bermain di wahana air (kapal-kapalan) atau bermain flying fox. Di dekat ikon bola BJBR juga terdapat air mancur yang dapat digunakan anak-anak untuk bermain. Berdasarkan keterangannya sumber airnya adalah dari air laut. Selain wahana bermain area in juga dilengkapi dengan taman bermain. Ada satu lajur jalan dengan kanopi payung yang dibuka sehingga menambah artistik suasana. Di seberangnya juga terdapat bentuk bangunan mirip piramida museum Louvre, Paris, uniknya dibuat dari susunan botol kaca. Ada juga taman bunga matahari yang nampaknya menjadi titik asik buat mengambil foto. Bagi pecinta eksistensi di media sosial, berkunjung ke wahana ini sepertinya menjadi semakin menarik karena disediakan wifi gratis di area sekitaran taman. Nampaknya pengembang BJBR sadar betul bahwa wisata masa kini tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. 

Free WiFi

Penasaran dengan detail BJBR lebih lanjut, saya mencoba buka websitenya www.beejaybakauresort.com. Dari situ saya dapat informasi bahwa lokasi ekowisata ini berada di atas lahan seluas 89 hektar, jembatan kayu di area hutan mangrovenya sepanjang 1.350 m2 dan 2.800 m2. Ternyata kami berjalan cukup jauh juga waktu itu. Secara keseluruhan wisata ini dapat menjadi pilihan berwisata bersama keluarga, jangan lupa siapkan air minum ketika menyusuri jembatan kayu, siapa tahu haus. Saran saya ketika mengajak bayi/anak-anak berwisata ke sana, pastikan kondisi fit dan jika bayi belum bisa berjalan ungkin sebaiknya digendong bergantian atau membawa kereta dorong. 

Tangerang, 28 Januari 2017
20:02

Kamis, 26 Januari 2017

17 Hal Yang Harus Ibu Ajarkan Kepada Anak Laki-lakinya



Menjadi seorang Ibu bagi saya adalah sebuah kemuliaan dengan proses pembelajaran tiada henti, long life. Dari menjadi seorang Ibu saya belajar makna doa “semoga saya diberi umur panjang”, saya sangat bersungguh-sungguh berdoa mengharap  usia yang panjang karena saya mencintai buah hati. Saya ingin melihat tumbuh kembangnya yang baik, ingin memastikan bahwa saya hadir saat ia butuhkan. Saya ingin memastikan anak saya bahagia dan saya ingin selalu mendoakannya. Saya pernah membaca, saat dunia kehilangan kita, akan dengan mudahnya orang lain menggantikan posisi kita di dunia ini. Tapi bagi seorang anak, ibu adalah pusat dunianya.

Sebagai seorang ibu tentu saja ingin menyampaikan dan mengajarkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Nah, berikut ini ada 17 hal yang mungkin bisa kita pelajari sebagai bekal untuk disampaikan kepada anak laki-laki kita. Kenapa anak laki-laki, kebetulan anugrah pertama saya dan suami adalah anak laki-laki. Sehingga saya fokus belajar mendidiknya sebagai seorang laki-laki. 

 

  1. Mengajarinya untuk berdoa, taat kepada Allah, misal saya sebagai muslim memiliki tanggug jawab pada pendidikan akhlak dan moralnya.
  2. Mengajarinya untuk mengutamakan keluarga. Mengajarinya bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaannya, rumah adalah tempat kembalinya.
  3. Mengajari dia melakukan olahraga permainan seperti sepak bola, basket, volley, dan olahraga tim lainnya. Hal itu mengajarkan bagaimana untuk menang dan kalah secara terhormat, saling menghormati, bekerja dalam tim, mengelola waktu dan menghadapi persoalan.
  4. Mengajarinya tentang hubungan lawan jenis. Dia akan menjalin hubungan dengan lawan jenis (sexual relationship), ajari untuk tidak mengambil sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan kepada lawan jenis itu. Hormati perempuan.
  5. Mengajarinya untuk selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan, bahkan ketika buang air kecil sekali pun. Bisa saja orang lain yang harus membersihkannya. Hormati orang lain, hormati profesi.
  6. Mengajarinya untuk menabung dikala muda, karena ia akan membutuhkannya di kemudian hari.
  7. Mengajarinya mencuci piring, menggunakan kompor, memasak, mencuci baju, menyapu, dll. Keterampilan itu sangat penting di kemudian hari. Melatih tanggung jawab, self respect, dan kemandirian.
  8. Mengajarinya untuk tidak mengolok-olok dan mengawali perkelahian. Tetapi jika seseorang melakukan kepadanya maka ia harus membela diri dengan baik.
  9. Mengajarinya untuk memperlakukan perempuan dengan baik, karena kelak perempuan adalah teman hidupnya. Ibunya juga seorang perempuan.
  10. Mengajarinya untuk menjaga penampilannya. Ajari untuk hidup bersih, berpenampilan sebagai seorang laki-laki.
  11. Mengajarinya bahwa pengetahuan dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa direnggut darinya. Bersemangatlah mencari ilmu.
  12. Mengajarinya untuk menjadi kuat dan lembut dalam waktu yang sama.
  13. Mengajarinya bahwa mencintai, melayani, dan menghormati adalah hal yang tidak terpisahkan.
  14. Mengajarinya untuk selalu melihat hal-hal baik dari orang lain.
  15. Mengajarinya untuk berpegang teguh pada kebenaran bahkan meskipun ia harus berdiri sendiri.
  16.  Mengajarinya mengolah rasa dengan belajar seni, budaya, membaca, dan lain-lain. Hidup tidak melulu tentang otak dan otot.
  17. Mengajarinya untuk menjadi dirinya sendiri.

17 hal yang telah saya sebutkan di atas sepertinya mudah sekali, tetapi butuh tekad dan usaha yang kuat untuk menerapkannya. Masih ada banyak hal yang perlu dieksplorasi untuk diajarkan kepada anak laki-laki kita. Sebagai seorang ibu, terus belajar belajar dan belajar menjadi kewajiban yang harus selalu ditunaikan. Terus semangat karena tumbuh kembang anak yang baik juga masa depannya berada di tangan kita. And i love my little boy very very much, even more than i love myself.

Tangerang, 26 Januari 2017
13:11


Rabu, 25 Januari 2017

Menikmati Kue Bikang Di Kota Malang


dilarang mengcopy gambar tanpa mencantumkan sumber

Apa yang paling melekat dari Kota Malang? Dalam pikiran saya yang muncul yaitu apel, aneka keripik buah, perjalanan menuju Bromo dan Semeru, dan Universitas Brawijaya. Selain itu juga cara membolak-balikkan kata yang biasanya dilakukan oleh anak gaul Malang ketika berkomunikasi, misalnya Malang menjadi Ngalam. Pertama kali lewat Malang adalah akhir tahun 2013 silam ketika saya ikut rombongan pendaki Gunung Semeru. Saat itu saya baru tahu Malang karena pemberhentian kereta adalah di Stasiun Malang Kota Lama. Di depan stasiun saat itu saya membeli bakpau seharga Rp 3.000 dan saya takjub sendiri untuk ukuran bakpau yang besar dan enak harganya terbilang sangat murah.

Kali ini saya kembali ke Kota Apel ini bersama suami dan anak. Tidak secara khusus datang ke Malang, tapi karena suami harus dinas di kantor wilayah Malang dan keesokan harinya saya terbang ke Jakarta, jadi kami memilih alternatif untuk menginap di lokasi yang tidak terlalu jauh dari bandara maupun dari pusat kota. Pilihan menginap jatuh di Hotel Best Western di Jalan Dr. Cipto. Kebetulan di depan hotel tersebut ada sebuah toko kue dengan gaya bangunan yang unik. Toko Kue Sara. Awalnya kami hanya melihat sekilas dan berkomentar sepertinya toko kuenya terkenal dan ramai.


dilarang mengcopy gambar tanpa mencantumkan sumbernya
Bangunan unik Toko Kue Sara

dilarang mengcopy tanpa mencatumkan sumbernya
Mobil operasional toko
 Keesokan paginya sambil menemani bayi kami jalan-jalan di sekitar hotel, kami melihat toko kue tersebut sudah terbuka pintunya. Dengan niat mencoba, kemudian kami masuk ke pelatarannya. Ternyata memang tokonya buka setiap hari dari pukul 06.00 -17.00. Meskipun datang sebelum jam enam, penjaga toko dan pemiliknya tetap menyambut dengan ramah.


Kami membeli kue bikang yang berdasarkan penuturan penjaga tokonya adalah jenis kue yang paling laris di toko itu. Harga satu kue bikangnya 12.000 dengan varian rasa original, keju, dan cokelat keju.  Kebetulan selain penjaga toko yang sabar melayani, pemiliknya pun langsung keluar dan dengan ramah mengajak kami ngobrol. Saya memperoleh informasi darinya bahwa toko kue tersebut sudah berdiri sekitar 14 tahun atau sejak tahun 2003-an. 

Karena harus segera ke Bandara pagi itu, kue bikang yang kami beli akhirnya baru dimakan setelah sampai di Jakarta. Di perjalanan dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Tangerang. Saya habis 4 potong (1 buah kue bikang bisa dipotong menjadi 6 bagian), dan rasanya enak sekali menurut saya. Dibanding dengan bika ambon dari Medan, kue bikang ini tidak terlalu berminyak. Bisa jadi pilihan oleh-oleh jika ke Malang. Toko Kue Sara beralamat di Jl. Dr. Cipto 12 Malang, Teleponnya (0341) 7704577/364715 atau 081233697474.