Jumat, 29 Januari 2016

Petani dan Etika Subsistensi


 Scott (1981) memberikan sebuah gagasan mengenai etika subsistensi pada masyarakat petani. Etika tersebut muncul di kebanyakan masyarakat petani yang pra-kapitalis akibat kekhawatiran akan mengalami kekurangan. Etika tersebut merupakan konsekuensi dari satu kehidupan yang begitu dekat dengan garis batas. Satu panen yang buruk tidak hanya akan berarti kurang makan; agar dapat makan orang mungkin terpaksa mengorbankan harga dirinya dan menjadi beban orang lain, atau menjual sebagian dari tanahnya atau ternaknya sehingga memperkecil kemungkinan mencapai subsitensi yang memadai tahun berikutnya.
Pola-pola resiprositas, kedermawanan tanah komunal, dan saling tolong-menolong dalam pekerjaan, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang tak terelakkan yang mungkin dialami satu keluarga petani dan yang tanpa pengaturan-pengaturan dapat mengakibatkan keluarga tersebut jatuh ke bawah tingkat subsistensi. Masalah yang dihadapi oleh keluarga petani adalah dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk makan sekeluarga, untuk membeli barang kebutuhan seperti garam dan kain, dan untuk memenuhi tagihan-tagihan yang tak dapat ditawar-tawar lagi dari pihak luar. Etika subsistensi menurut Scott ini merupakan kondisi “eksploitasi tanpa pemberontakan”. Etika subsistensi berakar dalam kebiasaan-kebiasaan ekonomi dan pertukaran-pertukaran sosial dalam masyarakat petani.
Perilaku ekonomi yang khas dari keluarga petani yang berorientasi subsistensi merupakan akibat dari kenyataan bahwa rumah tangga petani merupakan satu unit konsumsi dan unit produksi. Agar mampu bertahan dalam satu unit maka keluarga tersebut pertama-tama harus memenuhi kebutuhannya sebagai konsumen subsistensi sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Mereka mengutamakan apa yang dianggap aman dan dapat diandalkan dibanding mengejar keuntungan jangka panjang. Pada rumah tangga subsisten, tenaga kerja seringkali merupakan satu-satunya faktor produksi yang dimiliki petani secara relatif melimpah, maka ia mungkin melakukan banyak pekerjaan kecil supaya subsistensinya terpenuhi. Petani lebih suka meminimumkan kemungkinan terjadinya satu bencana daripada memaksimumkan penghasilan rata-ratanya (prinsip menghindari resiko—dahulukan selamat). Bagi keluarga petani toleransi resiko berbeda-beda menurut dekatnya sumber-sumber daya mereka kepada kebutuhan subsitensi pokok. Keluarga dengan anggota lebih banyak memiliki tingkat krisis subsistensi yang lebih besar.
Gagasan Scott mengenai etika subsistensi muncul dari dilema ekonomi sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Oleh karena mereka hidup begitu dekat dengan batas subsistensi dan menjadi sasaran permainan cuaca serta tuntutan-tuntutan dari pihak luar, maka rumah tangga petani tidak mempunyai banyak peluang untuk menerapkan ilmu hitung keuntungan maksimal menurut ilmu ekonomi neoklasik yang tradisional. Petani berusaha menghindari kegagalan dan resiko (enggan resiko-risk averse) dengan meminimumkan kemungkinan subyektif dari kerugian maksimum (safety-first). Prinsip safety-first (dahulukan selamat) melatarbelakangi banyak sekali pengaturan teknis, sosial dan moral dalam satu tatanan agraris pra-kapitalis. Contoh: cara bertani pada lahan yang terpencar-pencar, penggunaan lebih dari satu bibit. Implikasi “dahulukan selamat” adalah bahwa ada satu perimeter defensif di sekitar kelaziman subsistensi di mana resiko-resiko dihindari sebagai hal yang mengandung potensi bencana, sedangkan di luar batas itu berlaku  kalkulasi laba yang bersifat borjuis.
Bagi petani,  jaminan terhadap krisis merupakan prinsip stratifikasi yang lebih aktif dibandingkan dengan penghasilan. Petani-petani dengan mobilitas ke bawah mungkin akan berusaha bertahan mati-matian pada garis batas di mana meraka menghadapi risiko kehilangan sebagian besar dari kepastian yang  mereka miliki sebelumnya. Pada akhirnya petani akan melakukan strategi bertahan hidup demi mempertahankan kecukupan pada rumah tangganya. Terdapat tiga sebab utama mengapa petani melakukan strategi untuk bertahan yaitu: (1) fluktuasi-fluktuasi hasil karena sebab alami (kerawanan ekologis); (2) fluktuasi-fluktuasi pasar dunia (kerawanan harga); dan (3) fluktuasi hasil monokultur (kerawanan monokultur). Untuk menghadapi fluktuasi tersebut petani melakukan empat strategi utama yaitu: (1) Self-help: pengandalan pada bentuk-bentuk setempat dari usaha swadaya; (2) pPengandalan pada sektor ekonomi bukan petani; (3) pengandalan pada bentuk-bentuk patronase dan bantuan yang didukung oleh negara; (4) pengandalan pada struktur proteksi dan bantuan yang bersifat keagamaan atau oposisi. Keempat strategi bertahan hidup tersebut tidak bersifat eksklusif, artinya dapat berubah-ubah menurut waktu. Seorang petani bisa saja menggunakan keempat pola tersebut sekaligus.

Referensi:    
Scott, James C. 1981. Moral Ekonomi Petani. Jakarta (ID): LP3ES.