Kamis, 17 November 2016

Belajar Dari Deklarasi Tapaktuan Untuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Berkelanjutan

Perambahan hutan untuk perkebunan karet di Sumatera (foto dokumen pribadi)


“Kami Oeloebalang dari landschap Gajo Loeos, Poelau Nas, Meuke’, labuhan Hadji, Manggeng, Lho’ Pawoh Noord, Blang Pidie, dan Bestuurcommissie dari landschap Bambel, Onderafdeeling Gajo dan Alas. Menimbang bahwa perlu sekali diadakannya peratoeran yang memperlindungi segala djenis benda dan segala padang-padang yang diasingkan boeat persediaan. Oleh karena itoe, dilarang dalam tanah persediaan ini mencari hewan yang hidoep, menangkapnya, meloekainya, atau memboenoeh mati, mengganggoe sarang dari binatang-binatang itoe, mengeloerkan hidoep atau mati atau sebagian dari binatang itoe lantaran itoe memoendoerkan banyaknya binatang”.

Itulah petikan salah satu paragraf dalam Deklarasi Tapaktuan, sebuah deklarasi dari masyarakat Aceh yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1934. Pada saat itu ditandatangani oleh pemuka adat dan Perwakilan Gubernur Hindia Belanda di Aceh. Sejarahnya pada tahun 1920-an Pemerintah Kolonial Belanda memberikan ijin kepada F.C Van Heurn seorang ahli geologi untuk melakukan penelitian guna eksplorasi sumber minyak dan mineral di Aceh. Hasilnya dinyatakan bahwa pada lokasi yang diteliti tidak ditemukan kandungan mineral yang besar, serta pemuka-pemuka adat setempat menginginkan agar mereka peduli terhadap hutan-hutan di Gunung Leuser. Van Heurn mendiskusikan hasil pertemuannya dan menawarkan kepada para wakil pemuka adat (para Datoek dan Oeloebalang) untuk mendesak Pemerintah Kolonial Belanda untuk memberikan status kawasan konservasi (Wildlife Sanctuary). Setelah berdiskusi dengan Komisi Belanda untuk Perlindungan Alam, pada bulan Agustus 1928 sebuah proposal disampaikan kepada Pemerintah Kolonial Belanda yang mengusulkan Suaka Alam di Aceh Barat seluas 928.000 ha dan memberikan status perlindungan terhadap kawasan yang terbentang dari Singkil (pada hulu Sungai Simpang Kiri) di bagian selatan, sepanjang Bukit Barisan ke arah lembah Sungai Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh di bagian utara[1].

Saya mencoba membayangkan Aceh pada masa Deklarasi Tapaktuan dilakukan. Pada masa itu barangkali perwujudan hutan dan gunung di Aceh masih perawan dan terjaga, apalagi ditambah dengan kultur adat yang kuat untuk menjaganya. Deklarasi tersebut menunjukkan bahwa komitmen kuat untuk melindungi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sudah digaungkan bahkan sejak Indonesia belum memproklamirkan kemerdekaannya. Berselang 74 tahun setelahnya kawasan ini menjadi Kawasan Strategis Nasional berdasarkan PP No.28 Tahun 2008. Misinya sama yaitu untuk mewujudkan KEL sebagai kawasan dengan fungsi lindung yang menaungi wilayah-wilayah di sekitarnya. 

Sejarah tetap ada, namun perkembangan menimbulkan perubahan. Perjalanan untuk mempertahankan fungsi KEL sesuai dengan peruntukannya tengah menghadapi  sandungan dengan dihapuskannya KEL sebagai Kawasan Strategis Nasional berdasarkan Qanun Aceh No.19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Aceh (RTRWA). Qanun RTRWA seharusnya mampu  menjadi payung hukum bagi keberlangsungan KEL, sebagai sebuah kebijakan formal untuk menaungi keberlanjutan ekologi kawasan tersebut. Dihapusnya KEL dari RTRWA artinya membuka pintu konversi fungsi asli KEL. Hal ini menyedihkan sebab KEL lahir dari proses perjuangan perlindungan rakyat Aceh dari invasi kolonial yang ingin membuka tambang dan perkebunan di wilayah yang memiliki keunikan flora dan fauna. Menghapus KEL dari RTRWA artinya membuka satu pintu kepunahan terhadap keanekaragaman hayati yang ada dan akan disusul dengan terbukanya pintu-pintu kerusakan lainnya yaitu bencana yang dihadapi oleh manusia. 

Ingatan saya kemudian kembali pada akhir tahun 2014. Saat itu saya mendapatkan tugas untuk menjadi fasilitator dari salah satu Non Governmental Organization (NGO) Internasional untuk mengkaji tentang adaptasi perubahan iklim, salah satu wilayahnya adalah Provinsi Aceh dengan mengambil kawasan antara lain di Kabupaten Gayo Lues. Fasilitasi diarahkan untuk mengetahui persepsi masyarakat di Gayo Lues mengenai perubahan iklim dengan fokus peserta para petani di wilayah sekitar hutan. Petani memiliki pemahaman bahwa perubahan iklim telah terjadi terutama karena tiga hal yaitu: (1) tingginya intensitas kebakaran hutan, (2) aktivitas illegal logging, (3) peningkatan ekspansi usaha perkebunan. Dampaknya kemudian adalah masyarakat luas (diartikan seluruh Gayo Lues) rentan terhadap kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan khusus untuk masyarakat pinggiran hutan rentan terhadap resiko kebakaran hutan. Pernyataan dari hasil fasilitasi (data mikro) tersebut ternyata selaras dengan data makro dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dilansir dari BPS dan diketahui bahwa sejak tahun 2011-2015 bencana di Aceh tercatat sejumlah: 163 kejadian banjir, 41 kejadian kebakaran, 30 kejadian kekeringan, 22 kejadian tanah longsor, dan 13 kejadian banjir disertai tanah longsor. Jumlah tersebut belum ditambah dengan banyaknya kerusakan hutan akibat illegal logging, konsesi perkebunan kelapa sawit, juga banyaknya konflik antara hewan dan manusia. Fakta dari data tersebut menunjukkan bahwa fungsi KEL sebagai sebuah kawasan ekosistem yang menyangga kehidupan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Aceh (khususnya).

Sayangnya sebagai sebuah kawasan strategis, KEL menjadi sebuah obyek yang dapat dikatakan “seksi” secara politis karena kaya akan sumber daya. Tarik ulur kebijakan sangat mungkin terjadi. KEL  harus dipandang secara holistik sebagai sebuah entitas hasil interaksi antara alam dan manusia. Sebagai entitas alamiah (biotik dan abiotik) KEL bereproduksi untuk membangun siklus kehidupannya dan menyajikan banyak manfaat. KEL menjadi basis dari siklus karbon, laboratorium hayati, gudang oksigen, rumah hidup flora fauna, sumber air dan hulu Daerah Aliran Sungai, semua itu diperlukan untuk menjaga keseimbangan hidup manusia. Proses-proses kebijakan yang berhubungan dengan KEL harus memiliki goal setting  untuk kepentingan masa depan sehingga keberadaan KEL tidak hanya menjadi cerita bagi generasi yang akan datang. Proses tersebut juga harus memuat mengenai penguatan kelembagaan untuk mempertahankan KEL sebagai kawasan strategis yang dibangun dari tingkat lokal, daerah, dan nasional.

Kita semua harus terus berusaha memperjuangkan KEL untuk tetap masuk dalam Qanun RTRWA. Barangkali bukan sebuah perjuangan secara langsung yang sempat digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia tentang prajurit Aceh yang melawan tentara asing dengan bekal bambu runcing untuk menghadapi senjata laras panjang[2]. Meski demikian prajurit-prajurit tersebut tidak pernah gentar karena mereka yakin bahwa mereka memperjuangkan haknya, tanah airnya. Pun barangkali juga bukan perjuangan langsung yang tengah dilakukan oleh kawan-kawan masyarakat Aceh yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Aceh Menggugat (GeRAM) terhadapQanun RTRWA yang langsung berada di majelis sidang. Perjuangan yang dapat kita lakukan adalah dengan terus membantu menyebarkan informasi kepada sebanyak mungkin khalayak bahwa upaya penetapan kebijakan KEL untuk tetap masuk dalam Qanun RTRWA sedang terus dilakukan. Juga, kita tidak boleh lupa bahwa KEL lahir dari perjuangan melalui Deklarasi Tapaktuan 82 tahun silam, sebuah perjuangan dari pendahulu bangsa ini. Mari perjuangkan, demi keberlanjutan KEL, demi hutan di masa depan. Tanyoe Haha Eteun, Eteun Haha Tanyoe (Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga Kita –bahasa Aceh-).




[1] http://www.seputaraceh.com/read/15298/2013/01/01/1-januari-inilah-sejarah-masa-lampau-di-aceh
[2] Dikisahkan dari cerita Jean Marais (tokoh dalam roman Bumi Manusia)
 

Selasa, 28 Juni 2016

Coklat Oatnut

Holaaaa, utak-atik bahan di dapur lagi yuk... Yang gampang-gampang dan nggak ribet aja ya kali ini. Ceritanya saya sekarang seneng cari ide dari aplikasi pinterest, alamaaakkk seneng banget sama aplikasi ini, banyak banget tips dan trik serta kreasi kreatif. Termasuk resep Coklat Oatnut ini... Bikin coklat tapi bahannya ditambah oatmeal sama selai kacang. Gimana tuh?

 
coklat outnut sudah jadi (sumber foto: dokumen pribadi)

Bahannya:
1 bar coklat batangan
1 cup selai kacang
3-4 cup oatmeal

Cara bikinnya ringkas banget,
1. Taruh coklat batangan dalam wadah tahan panas, kemudian masukkan di wajan yang berisi air lalu panaskan sampai meleleh. Caranya bisa beda-beda yang penting coklatnya meleleh sempurna, pure coklat ya jangan dicampur air.
2. Setelah coklat meleleh, campurkan selai kacang sampai merata, cobain manisnya, kalau masih kurang manis boleh ditambah gula halus. Aduk sampai rata.
3. Setelah itu masukkan oat sedikit demi sedikit, terus aduk sampai adonan makin mengental. Usahakan api kecil tetap menyala ya supaya coklatnya tidak mengeras.
4. Lalu cetak dalam loyang, boleh free size, boleh juga pake cetakan-cetakan aneka bentuk biar lucu. Kalau saya free size aja, ambil adonan pake sendok makan, taruh di loyang sampai adonan habis.
5. Masukan ke kulkas, setelah mengeras pindahkan ke toples kedap udara atau boleh dibungkus-bungkus cantik.

Sederhana kan caranya? Enaknya sih dimakan dingin, jadi untuk menjaga kualitasnya simpan di dalam kulkas ya. Selamat mencoba :)

Bikin Kue Nastar Yuuukkk!

Kue Nastar ala saya (sumber foto; dokumen pribadi)
  
Setelah sebelumnya posting resep selai nanas legit homemade, sekarang mau cerita tentang proses bikin kue nastarnya. Lagi-lagi saya copy paste resep dari dapurnya Mba Endang JTT dan saya modifikasi di dapur saya sendiri. Peralatan yang saya pakai nggak secanggih ahli pastry yang suka nongol di tv, hehehe. Berbekal beli loyang panggang 2 buah dan menggunakan mixer serta oven kompor dari pinjam ibunya suami, saya kencangkan ikat kepala dan saya umumkan pada suami bahwa "aku mau bikin nastar". 

Bismillahirrahmanirrahim...

Resep yang saya peroleh dari JTT kira-kira saya modif sendiri seperti ini...

-  250 gram margarin + mentega (saya menggunakan Blue band cake and cookies)
- 90 gram gula halus
- 3 butir kuning telur
- 50 gram susu bubuk
- 250 gram tepung terigu protein rendah (saya menggunakan Bogasari Kunci Biru)
-150 gram tepung maizena
- 1/4 sendok teh vanilli bubuk

Untuk olesannya dibuat dengan:
- 2 butir kuning telur
- 1/2 sendok teh madu
- 1 sendok teh air
 
Untuk takaran timbangan-timbangan tersebut terus terang saya pakai ilmu kira-kira yaitu dipas-pasin tanpa ditimbang dulu. Pada trial pertama saya bikin untuk porsi sedikit. Selanjutnya saat kedua kalinya saya bikin untuk 3 kali lipat bahan.

Cara membuatnya ga susah, yang dibutuhkan adalah ketelatenan buletin adonan dan mengisinya dengan selai nanas. Jadi sebelumnya selai nanas yang sudah saya buat saya buat bulatan-bulatan kecil untuk isian biar seragam. Langkah untuk membuat nastarnya adalah:

  • Mixer mentega + margarin dan gula halus sampai rata, pake mixer kecepatan kecil saja. Lalu masukkan kuning telur satu persatu.
  • Setelah adonan nomor 1 tercampur, masukkan tepung terigu yang sudah dicampur dengan susu bubuk dan tepung maizena sedikit demi sedikit. Jangan dicampur sekaligus supaya hasil adonan  bagus. Aduk menggunakan spatula atau sendok kayu satu arah. Aduk hingga adonan kalis dan bisa dibentuk.
  • Ambil adonan secukupnya untuk dibentuk dan sisanya dimasukkan ke dalam kulkas untuk menjaga kualitas adonan tetap bagus.
  • Cara membentuknya, ambil sedikit adonan kemudian pipihkan dan isi dengan selai nanas. Setelah itu bentuk bulat.
  • Olesi loyang panggang dengan mentega atau bisa dialasi dengan kertas roti dan taruh bulatan-bulatan nastar yang sudah selesai dibuat.
  • Panggang dalam oven sampai setengah matang terlebih dahulu, saya memanggangnya kurang lebih 15 menit dengan api sedang, kemudian keluarkan dari oven dan kuaskan bahan olesan di bagian atas kue lalu taburi keju parut. Setelah itu masukkan kembali ke dalam oven sekitar 25-30 menit. Karena kondisi oven yang saya pake sudah cukup lama usianya, jd patokan menit nggak terlalu jadi prioritas, saya rajin bolak balik loyang dan kadang ada yang diangkat dulu karena sudah matang supaya tidak gosong.
  • Setelah kue diangkat, dinginkan lalu tata di dalam toples, peruntukannya boleh buat lebaran, cemilan sehari-hari, atau sedekah. Buat usaha juga monggo :)
Kira-kira gitu pengalaman saya sebagai first timer bikin nastar. Gampang atau susah langsung dibuktikan di dapur saja ya ibu-ibu. Resep lain selain bahan-bahan yang sudah disebutkan tentu saja adalah happy, kalau happy bikin apa aja jadi oke :) yukkk mari....

Jumat, 24 Juni 2016

Selai Nanas Legit Homade



Oke, sebelumnya mungkin ada pertanyaan “Ke mana aja buuu blog dibiarin debuan dan jadi sarang laba-laba alias nggak pernah di-update?” hehe pede banget kayak ada yang nanya ya >.< Jawabannya saya senyumin aja ya, intinya sih sekarang mau bersih-bersih biar nggak debuan lagi, rajin diisi lagi. Alhamdulillah sekarang full di rumah dan ngurus keluarga, jadi mulai belajar-belajar masak lebih banyak. Kebetulan nanya sama suami soal kue kesukaannya, dia suka nastar. Jeng jeng, seumur hidup belum pernah bikin nastar, kalau makannya sih udah nggak kehitung. Tapi demi usaha untuk makin disayang suami, saya mencoba belajar bikin nastar dan kali ini diawali dengan bikin isiannya yaitu selai nanas. 

Saya ambil resepnya dari Mba Endang JTT dengan modifikasi sendiri sesuai kesediaan nanas. Nanas yang saya pakai adalah nanas matang dibeli dari pasar dekat rumah. Saya tidak tahu asalnya dari kebun mana yang jelas wangi dan manis. Kira-kira begini resepnya:
2 buah nanas matang
5 sm gula pasir
1 pucuk st garam
1 potong kayu manis
5 butir cengkeh

Cara bikinnya mudah banget, tinggal siap waktu sama tenaga aja karena harus sering diaduk.

Pertama, nanas yang sudah dikupas cuci bersih kemudian dipotong-potong untuk diparut. Kalau saya prefer diparut karena serat nanasnya lebih terasa. Boleh juga diblender tetapi hasilnya terlalu lembut menurut saya dan karena blender butuh tambahan air jadi memasaknya lebih lama. Kedua, nanas yang sudah diparut dipanaskan sampai airnya susut, saat sudah susut ditambah gula, garam, cengkeh, dan kayu manis. Kemudian terus diaduk sampai legit. Ada tips yang saya baca, mengapa memasukkan gulanya setelah air nanas susut. Hal ini dikarenakan jika gula dimasukkan bersama dengan nanas yang masih baru diparut maka proses masaknya menjadi lebih lama. Nah kalau tips dari saya pribadi, selama masak apalagi ketika sudah susut airnya jangan lupa terus diaduk supaya nggak gosong. 

Nanas kupas yang sudah dicuci, tiriskan (sumber foto: dokumen pribadi)

setelah diparut/blender dimasak menggunakan wajan yang tidak mudah gosong (sumber foto: dokumen pribadi)

Terus masak hingga air menyusut (sumber foto: dokumen pribadi)
Setelah air susut tambahkan gula, garam, kayu manis, cengkeh (sumber foto: dokumen pribadi)

Aduk terus hingga kalis dan berbentuk selai (sumber foto: dokumen pribadi)
Begitu kira-kira pengalaman saya belajar bikin selai nanas, lalu terbersit juga ke depannya untuk selai ini bisa dibikin tidak hanya untuk isian nastar tetapi juga untuk konsumsi harian teman makan roti tawar. Bikin sendiri lebih puas dan lebih enak juga menurut saya. Selamat mencoba ya, let’s practice more :)

Jumat, 29 Januari 2016

Petani dan Etika Subsistensi


 Scott (1981) memberikan sebuah gagasan mengenai etika subsistensi pada masyarakat petani. Etika tersebut muncul di kebanyakan masyarakat petani yang pra-kapitalis akibat kekhawatiran akan mengalami kekurangan. Etika tersebut merupakan konsekuensi dari satu kehidupan yang begitu dekat dengan garis batas. Satu panen yang buruk tidak hanya akan berarti kurang makan; agar dapat makan orang mungkin terpaksa mengorbankan harga dirinya dan menjadi beban orang lain, atau menjual sebagian dari tanahnya atau ternaknya sehingga memperkecil kemungkinan mencapai subsitensi yang memadai tahun berikutnya.
Pola-pola resiprositas, kedermawanan tanah komunal, dan saling tolong-menolong dalam pekerjaan, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang tak terelakkan yang mungkin dialami satu keluarga petani dan yang tanpa pengaturan-pengaturan dapat mengakibatkan keluarga tersebut jatuh ke bawah tingkat subsistensi. Masalah yang dihadapi oleh keluarga petani adalah dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk makan sekeluarga, untuk membeli barang kebutuhan seperti garam dan kain, dan untuk memenuhi tagihan-tagihan yang tak dapat ditawar-tawar lagi dari pihak luar. Etika subsistensi menurut Scott ini merupakan kondisi “eksploitasi tanpa pemberontakan”. Etika subsistensi berakar dalam kebiasaan-kebiasaan ekonomi dan pertukaran-pertukaran sosial dalam masyarakat petani.
Perilaku ekonomi yang khas dari keluarga petani yang berorientasi subsistensi merupakan akibat dari kenyataan bahwa rumah tangga petani merupakan satu unit konsumsi dan unit produksi. Agar mampu bertahan dalam satu unit maka keluarga tersebut pertama-tama harus memenuhi kebutuhannya sebagai konsumen subsistensi sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Mereka mengutamakan apa yang dianggap aman dan dapat diandalkan dibanding mengejar keuntungan jangka panjang. Pada rumah tangga subsisten, tenaga kerja seringkali merupakan satu-satunya faktor produksi yang dimiliki petani secara relatif melimpah, maka ia mungkin melakukan banyak pekerjaan kecil supaya subsistensinya terpenuhi. Petani lebih suka meminimumkan kemungkinan terjadinya satu bencana daripada memaksimumkan penghasilan rata-ratanya (prinsip menghindari resiko—dahulukan selamat). Bagi keluarga petani toleransi resiko berbeda-beda menurut dekatnya sumber-sumber daya mereka kepada kebutuhan subsitensi pokok. Keluarga dengan anggota lebih banyak memiliki tingkat krisis subsistensi yang lebih besar.
Gagasan Scott mengenai etika subsistensi muncul dari dilema ekonomi sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Oleh karena mereka hidup begitu dekat dengan batas subsistensi dan menjadi sasaran permainan cuaca serta tuntutan-tuntutan dari pihak luar, maka rumah tangga petani tidak mempunyai banyak peluang untuk menerapkan ilmu hitung keuntungan maksimal menurut ilmu ekonomi neoklasik yang tradisional. Petani berusaha menghindari kegagalan dan resiko (enggan resiko-risk averse) dengan meminimumkan kemungkinan subyektif dari kerugian maksimum (safety-first). Prinsip safety-first (dahulukan selamat) melatarbelakangi banyak sekali pengaturan teknis, sosial dan moral dalam satu tatanan agraris pra-kapitalis. Contoh: cara bertani pada lahan yang terpencar-pencar, penggunaan lebih dari satu bibit. Implikasi “dahulukan selamat” adalah bahwa ada satu perimeter defensif di sekitar kelaziman subsistensi di mana resiko-resiko dihindari sebagai hal yang mengandung potensi bencana, sedangkan di luar batas itu berlaku  kalkulasi laba yang bersifat borjuis.
Bagi petani,  jaminan terhadap krisis merupakan prinsip stratifikasi yang lebih aktif dibandingkan dengan penghasilan. Petani-petani dengan mobilitas ke bawah mungkin akan berusaha bertahan mati-matian pada garis batas di mana meraka menghadapi risiko kehilangan sebagian besar dari kepastian yang  mereka miliki sebelumnya. Pada akhirnya petani akan melakukan strategi bertahan hidup demi mempertahankan kecukupan pada rumah tangganya. Terdapat tiga sebab utama mengapa petani melakukan strategi untuk bertahan yaitu: (1) fluktuasi-fluktuasi hasil karena sebab alami (kerawanan ekologis); (2) fluktuasi-fluktuasi pasar dunia (kerawanan harga); dan (3) fluktuasi hasil monokultur (kerawanan monokultur). Untuk menghadapi fluktuasi tersebut petani melakukan empat strategi utama yaitu: (1) Self-help: pengandalan pada bentuk-bentuk setempat dari usaha swadaya; (2) pPengandalan pada sektor ekonomi bukan petani; (3) pengandalan pada bentuk-bentuk patronase dan bantuan yang didukung oleh negara; (4) pengandalan pada struktur proteksi dan bantuan yang bersifat keagamaan atau oposisi. Keempat strategi bertahan hidup tersebut tidak bersifat eksklusif, artinya dapat berubah-ubah menurut waktu. Seorang petani bisa saja menggunakan keempat pola tersebut sekaligus.

Referensi:    
Scott, James C. 1981. Moral Ekonomi Petani. Jakarta (ID): LP3ES.