Selasa, 01 September 2015

Membangun Komitmen Sebagai Perempuan



Picture from here: click!
"You don't marry someone you can live with, you marry the person you can't live without."
 -Author Unknown-

Sebelumnya dalam benak saya terbersit bahwa kebebasan sebagai seorang perempuan akan terenggut seiring dengan pengambilan keputusan untuk menikah. Sampai akhirnya saya berada dalam kondisi menjadi seorang istri. Bagi saya sekarang, menjadi istri bukan mengambil hak kebebasan seorang perempuan. Menjadi istri adalah titik balik untuk menjadi perempuan yang sebenarnya, sebuah transformasi besar untuk membangun generasi dan upaya perbaikan diri terus-menerus.

Mengapa saya sebut ini adalah sebuah transformasi besar? Sebagai seorang perempuan yang mengedepankan kebebasan berpikir, pada awalnya sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan ego pribadi yang seringkali merasa paling benar, terlalu keras dengan diri sendiri, atau pun rasa mandiri yang selama ini sudah melekat cukup membuat repot upaya untuk menerima pendapat orang lain (read: pasangan, suami).  Tapi mungkin inilah keajaiban dan berkah pernikahan, perlahan, justru sisi perempuan saya muncul. Alih-alih merasa repot dengan segala yang melekat pada diri saya yang cukup keras kepala selama ini, saya menjadi bersyukur dengan setiap kondisi yang pernah saya alami, pernah saya lewati. Dan tentu saja, saya sangat sangat bersyukur hidup dengan suami saya yang sangat luar biasa. Benar, Tuhan tidak pernah mengingkari janji, menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Menciptakan pasangan dari manusia laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi.

Saya mencoba berpikir dan bertindak dengan lebih sederhana, tapi mudah-mudahan lebih berarti. Tidak ada salahnya seorang perempuan memiliki kebebasan berpikir, bagi saya itu harus, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu untuk mengelola pemikiran/gagasan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bukan untuk melawan pendapat orang lain secara asal-asalan, apalagi menjadi tidak hormat kepada pasangan. Perempuan yang memiliki kebebasan berpikir seharusnya memiliki kesadaran untuk terus menerus meningkatkan kapasitas diri dan meng-upgrade kemampuannya untuk membangun keluarga yang semakin baik. Mampu mengasihi generasi penerus yang ia kandung, lahir, dan besarkan dengan didikan yang cerdas baik secara intelektual maupun emosional.

Tidak ada salahnya juga perempuan mandiri sejak sebelum menikah. Banyak makna mandiri di sini, misalnya mandiri secara finansial dan kemandirian sikap. Sepanjang hal tersebut tidak mengurangi esensi dari kehidupan bersama yang dibangun oleh pasangan suami istri. Kemandirian finansial seorang perempuan ketika sudah bersuami harus dipahami sebagai sebuah upaya supporting  yang tentu saja tidak berlebihan dan tidak meminggirkan peran suami, apalagi membuat seorang istri merasa lebih superior. Kemandirian sikap misalnya, tidak manja berlebihan dan mampu menjaga nama baik keluarga ketika suami berada di luar rumah.

Membangun  komitmen sebagai perempuan dari seorang lajang menjadi seorang istri adalah transformasi besar. Benar bahwa akan ada banyak hal yang mungkin tidak lagi sama seperti ketika masih lajang, namun saya percaya akan ada lebih banyak hal baik yang terjadi saat ini, karena saya menjalaninya bersama pasangan saya yang terbaik, tidak lagi sendiri.

Bima, 01 September 2015
14:53 WITA