Selasa, 08 September 2015

Semua Ada Ahlinya



Picture form here: Click!

"Repetition is the mother of skill."
 (Anthony Robbins)

 
Berbicara tentang keahlian tidak selalu dihubungkan dengan level pendidikan. Sayangnya salah kaprah penafsiran bahwa orang yang ahli adalah orang yang berpendidikan membuat berbagai profesi menjadi termarginalkan. Misalnya pembuat bakso dan gorengan, tukang tambal ban, tukang parkir, pedagang kaki lima dan berbagai profesi lain di sektor informal. Sewaktu saya mengambil mata kuliah sosiologi kemiskinan di jurusan Sosiologi Pedesaan IPB, saya ingat pernah ada pembahasan kritik terhadap Undang-undang kita mengenai pengertian sektor informal yang sebenarnya kurang tepat untuk diterapkan. Persoalannya adalah soal keahlian yang dianggap linear dengan ijazah seseorang. 


Kenyataannya keahlian seseorang tidak melulu ditentukan dari pendidikannya. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting, tetapi bukan penentu utama. Kalau seseorang mau menjadi ahli penyakit hewan misalnya, dia harus kuliah hingga memperoleh gelar doktor dari jurusan patologi hewan, itu benar. Kemudian jika sang doktor patologi hewan tersebut berkendara kemudian di tengah perjalanan ban mobilnya bocor dan karena ia tidak memiliki keahlian untuk mengganti ban dengan ban serep maka ia mencari tukang tambal ban untuk memasangkannya. Ilustrasi tersebut kira-kira menunjukkan bahwa orang yang ahli dalam satu bidang belum tentu bisa di bidang lainnya. Sang doktor patologi hewan tidak ahli mengenai tambal ban dan sebaliknya tukang tambal ban juga tidak ahli mengenai vaksin apa yang digunakan jika sapi mengalami infeksi jamur di seluruh kulitnya. Semua sudah ada porsinya masing-masing.

Sekali lagi keahlian menurut saya tidak selalu linear dengan pendidikan. Keahlian adalah soal keterampilan yang terus diasah dan menjadi brand  seseorang dalam kehidupannya. Salah kaprahnya negeri ini memaknai keahlian kemudian tidak hanya meminggirkan profesi tertentu, tetapi juga di lembaga pendidikan sendiri sebagai tempat “ditempanya” keahlian seseorang juga kerap terjadi marginalisasi program studi tertentu. Program studi A dianggap lebih bonefide daripada program studi B, mahasiswa fakultas A lebih pintar dari pada fakultas B karena ilmu yang dipelajari dianggap lebih “sulit”. Mirisnya hal tersebut berlangsung terus-menerus dan bahkan sudah diluar kesadaran, seakan-akan sudah wajar untuk menyudutkan satu jurusan dengan jurusan yang lainnya. Kenyataan sebenarnya, tidak ada program studi yang lebih baik, tidak ada ilmu yang lebih sulit, tidak ada mahasiswa yang lebih pintar. Sebab jika komparasi-komparasi yang selama ini menjamur itu benar, maka satu-satunya tolak ukur kepintaran dan keahlian hanyalah indeks prestasi kumulatif. Kenyataannya: TIDAK.

Dalam ajaran agama disebutkan jika sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Kembali lagi ke analogi doktor patologi hewan, jika dia memaksakan diri untuk mengatasi ban bocornya sendirian padahal dia tidak memiliki keahlian dalam bidang itu maka besar kemungkinan akan salah atau terjadi kecelakaan selanjutnya. Sebaliknya jika tukang tambal ban dipaksa untuk mengatasi penyakit infeksi jamur pada sapi, mungkin saja dia akan ikut terinfeksi. Sama halnya dengan mahasiswa yang selama ini merasa jurusan A lebih bagus daripada jurusan B, dalam hal sederhana misalnya, seorang mahasiswa komunikasi yang ahli dalam negosiasi diminta untuk menyelesaikan soal algoritma, hasilnya mungkin tidak maksimal. Sebaliknya mahasiswa matematika diminta untuk membuat iklan produk, hasilnya juga mungkin tidak maksimal. Analogi tersebut tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Semua keahlian bisa dipelajari dan proses belajar itu tidak hanya terbatas di bangku sekolah. Doktor patologi bisa mempelajari cara tambal ban, tukang tambal ban bisa belajar menyuntuk sapi, mahasiswa komunikasi bisa belajar matematika, mahasiswa matematika bisa belajar cara mengiklankan produk. Namun yang disebut ahli adalah mereka yang menekuni. Ada banyak orang tanpa gelar profesor, doktor, master, sarjana yang justru sangat ahli dalam satu bidang tertentu. Terima kasih untuk pembuat bakso, pembuat donat, tukang sampah, ibu laundry, tukang tambal ban, pembuat ikan asap, dan semua ahli di dunia yang tak bergelar.

Mari berhenti untuk memandang sebelah mata mengenai profesi tertentu sebab semuanya butuh keahlian, dan keahlian itu diasah terus menerus.

Bima, 08 September 2015
14:21 WITA

Selasa, 01 September 2015

Membangun Komitmen Sebagai Perempuan



Picture from here: click!
"You don't marry someone you can live with, you marry the person you can't live without."
 -Author Unknown-

Sebelumnya dalam benak saya terbersit bahwa kebebasan sebagai seorang perempuan akan terenggut seiring dengan pengambilan keputusan untuk menikah. Sampai akhirnya saya berada dalam kondisi menjadi seorang istri. Bagi saya sekarang, menjadi istri bukan mengambil hak kebebasan seorang perempuan. Menjadi istri adalah titik balik untuk menjadi perempuan yang sebenarnya, sebuah transformasi besar untuk membangun generasi dan upaya perbaikan diri terus-menerus.

Mengapa saya sebut ini adalah sebuah transformasi besar? Sebagai seorang perempuan yang mengedepankan kebebasan berpikir, pada awalnya sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan ego pribadi yang seringkali merasa paling benar, terlalu keras dengan diri sendiri, atau pun rasa mandiri yang selama ini sudah melekat cukup membuat repot upaya untuk menerima pendapat orang lain (read: pasangan, suami).  Tapi mungkin inilah keajaiban dan berkah pernikahan, perlahan, justru sisi perempuan saya muncul. Alih-alih merasa repot dengan segala yang melekat pada diri saya yang cukup keras kepala selama ini, saya menjadi bersyukur dengan setiap kondisi yang pernah saya alami, pernah saya lewati. Dan tentu saja, saya sangat sangat bersyukur hidup dengan suami saya yang sangat luar biasa. Benar, Tuhan tidak pernah mengingkari janji, menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Menciptakan pasangan dari manusia laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi.

Saya mencoba berpikir dan bertindak dengan lebih sederhana, tapi mudah-mudahan lebih berarti. Tidak ada salahnya seorang perempuan memiliki kebebasan berpikir, bagi saya itu harus, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu untuk mengelola pemikiran/gagasan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bukan untuk melawan pendapat orang lain secara asal-asalan, apalagi menjadi tidak hormat kepada pasangan. Perempuan yang memiliki kebebasan berpikir seharusnya memiliki kesadaran untuk terus menerus meningkatkan kapasitas diri dan meng-upgrade kemampuannya untuk membangun keluarga yang semakin baik. Mampu mengasihi generasi penerus yang ia kandung, lahir, dan besarkan dengan didikan yang cerdas baik secara intelektual maupun emosional.

Tidak ada salahnya juga perempuan mandiri sejak sebelum menikah. Banyak makna mandiri di sini, misalnya mandiri secara finansial dan kemandirian sikap. Sepanjang hal tersebut tidak mengurangi esensi dari kehidupan bersama yang dibangun oleh pasangan suami istri. Kemandirian finansial seorang perempuan ketika sudah bersuami harus dipahami sebagai sebuah upaya supporting  yang tentu saja tidak berlebihan dan tidak meminggirkan peran suami, apalagi membuat seorang istri merasa lebih superior. Kemandirian sikap misalnya, tidak manja berlebihan dan mampu menjaga nama baik keluarga ketika suami berada di luar rumah.

Membangun  komitmen sebagai perempuan dari seorang lajang menjadi seorang istri adalah transformasi besar. Benar bahwa akan ada banyak hal yang mungkin tidak lagi sama seperti ketika masih lajang, namun saya percaya akan ada lebih banyak hal baik yang terjadi saat ini, karena saya menjalaninya bersama pasangan saya yang terbaik, tidak lagi sendiri.

Bima, 01 September 2015
14:53 WITA