Minggu, 10 Mei 2015

IF THEY WERE THE PRESIDENT



Picture Source: Click!
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." 
--Soekarno-- 

Kamis lalu saya masuk kelas praktikum yang saya ampu dengan pembahasan yang sangat menarik. Mata Kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan (KOK) di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. kali ini membahas tema kepemimpinan. Topik khusus yang dipilih adalah “If I Were The President”, mahasiswa saya ajak untuk berselancar di alam kritisnya untuk membuat essay dengan topik tersebut di minggu sebelumnya. Kemudian hari ini mahasiswa mempresentasikan gagasannya di depan rekan-rekannya.

Di sini saya menemukan bahwa cikal bakal pemimpin negeri yang kritis dan cerdas sedang tumbuh dan berkembang. Seorang mahasiswi bernama Astrid mempresentasikan dengan bergas mengenai imajinasinya di masa yang akan datang: hukum mati koruptor di Indonesia. Kemudian, mahasiswi selanjutnya yang mempresentasikan essaynya adalah Caca, dia menyampaikan keprihatinannya atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia: kurangi jatah fasilitas untuk pejabat dan menteri dan alihkan untuk subsidi masyarakat miskin. Suaranya sedikit gemetar ketika menyampaikan keperihatinannya akan banyaknya masyarakat miskin yang menjadi gelandangan dari lansia hingga anak kecil. Lalu presentasi disusul oleh mahasiswa yang lainnya yang hampir sama menyampaikan persoalan krusial negeri ini: kemiskinan, pendidikan, keamanan, kesehatan, dan kasus korupsi.

Indonesia harus optimis dengan generasi yang kritis dan tidak apatis seperti mereka. Negeri gemah ripah loh jinawi ini punya anak kandung Ibu Pertiwi yang memiliki visi misi hebat untuk masa depan. Kehebatan itu tumbuh dari proses pendidikan yang benar dan menciptakan kesadaran kritis (conscientization) bahwa setiap orang harus berdaya. Saya bangga mendengarkan paparan rekan-rekan mahasiswa mata kuliah KOK tersebut, seperti berpetualang ke alam pikir yang masih segar dengan niat perjuangan tanpa embel-embel gengsi ataupun politisasi.

Membayangkan jika salah satu di antara mereka menjadi pemimpin Indonesia dengan kepedulian dan idealisme yang masih sama seperti saat ini maka alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini. Merah putih akan berkibar gagah bukan karena tiangnya yang tinggi tetapi sebab makna merah darah dan putih tulang benar-benar menunjukkan anatomi badan Indonesia yang merdeka. Alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini memiliki generasi penerus yang cerdas, hingga gema Indonesia Raya tidak sekedar aransemen musik tetapi ruh dari kejayaan tertinggi yang diperoleh dari optimisme dan kepedulian.

Saya bangga dengan adik-adik mahasiswa itu yang tengah mempertajam daya pikir dan kepekaannya atas persoalan negeri ini. Mereka yang memilih untuk menuliskan gagasan mereka dengan bijak dibanding berkoar-koar dengan pengeras suara tanpa tahu tujuannya. Saya tahu essay yang mereka buat bukan pekerjaan instan, mereka membaca dan mengolah informasi menggunakan daya nalar mereka dengan sangat baik. Selamat Indonesia, ada penerusmu yang tengah tumbuh dan berkembang.  Saya bangga menjadi Indonesia.

Bogor, 10 Mei 2015