Jumat, 15 Mei 2015

Tentang Pertemuan



Untuk Dhamar,


Di sinilah ketakjubanku atas tujuan penciptaan manusia menjadi sebuah bukti bagi diriku sendiri. Jadilah kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, dijodohkan dari jenis kita sendiri dalam kesyukuran dan kebahagiaan. Demikianlah kita yang saling menemukan dengan kehendak mulia. Kita adalah dua manusia yang akhirnya mendapati jawaban atas pertanyaan hidup tentang waktu terbaik untuk bertemu. Kita mengambil keputusan tanpa perlu dipaksakan, kita yakin tanpa tendensi keangkuhan. Aku dan kamu saling mendapati kesempatan terbaik yang telah dinantikan di sepanjang hidup kita sebelumnya.


Ingatkah bagaimana kita saling menyapa? Dua orang asing yang canggung akan bahasanya masing-masing. Kita berkehendak namun bijak, menyadari bahwa ada yang Maha Membolak-balikkan hati. Lalu waktu membuat kita akrab dan menjadi dua orang manusia yang saling mengisi, dua manusia yang saling menguatkan. Parasmu dalam imajiku, suaramu dalam setiap dengarku menjadi nyata dalam suatu waktu. Kita telah akrab meskipun belum saling menatap, kita telah saling percaya meskipun interaksi kita sebatas gelombang suara.


Saat itu, kutitipkan diri pada sebuah gerbong kereta dari Selatan ke Utara. Menuju ke arahmu. Partikel udara Ibu kota lalu menjadi bagian dari episode pertemuan kita yang pertama. Pertemuan yang menjadi jalan untuk saling meyakinkan diri, menyelami hati dan jalan pikir masing-masing. Barangkali saat itu adalah perkenalan kita yang sebenarnya. Kita adalah dua orang asing yang belum pernah saling bertemu namun memutuskan untuk saling mengulurkan tangan, kemudian menyatukan hati.


Sebelum bertemu denganmu, aku adalah seorang pemimpi yang berpetualang dalam imajinasiku sendiri. Mengangankan perjalan terjauh ke tempat-tempat di berbagai penjuru dunia, memberitakannya, dan menikmati kebanggaannya. Pada akhirnya aku sadar bahwa perjalanan terjauh bukanlah soal jarak, bukan tentang kebanggaan mengunjungi tempat-tempat terbaik. Perjalanan terjauh adalah tentang kebahagiaan yang kita usahakan terus menerus, kita pupuk di keseharian kita hingga menjadi waktu-waktu yang berkualitas. Kali ini, versi perjalanan terjauhku adalah menjadi pendampingmu setiap waktu. 


Jika bertemunya dua orang yang saling menyayangi adalah bentuk melengkapi yang saling menghebatkan, maka sesungguhnya kita tidak memerlukan orang yang sempurna untuk membuat kita menjadi hebat. Sebab melengkapi adalah mengisi ruang, bukan memaksakan sesuatu yang sudah penuh. Kita tahu bahwa waktu-waktu yang kita lewati tidak akan selalu mudah, hari-hari yang kita jalani tidak akan selalu sesuai dengan harapan. Tetapi dengan bersama kita akan saling menguatkan dan kita terus menghebatkan.


Pada bilangan usiamu yang ke-27 aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah lahir ke dunia, terima kasih telah hadir, terima kasih telah menepati janji untuk menjalin ikatan suci. Semoga Penggenggam Hati selalu meluruskan niat kita, selalu menguatkan langkah kita, selalu  membaikkan kebersamaan kita. Selamat ulang tahun kekasihku, mari bersiap-siap untuk kebersamaan yang panjang. Setiap waktu, di hari-hari berikutnya, di tahun-tahun yang akan datang kita akan mengenang bagaimana kita bertemu dan bagaimana kita jatuh cinta.


Selamat Ulang Tahun, Dhamar;

Kota Hujan, 15 Mei 2015

Minggu, 10 Mei 2015

IF THEY WERE THE PRESIDENT



Picture Source: Click!
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." 
--Soekarno-- 

Kamis lalu saya masuk kelas praktikum yang saya ampu dengan pembahasan yang sangat menarik. Mata Kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan (KOK) di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. kali ini membahas tema kepemimpinan. Topik khusus yang dipilih adalah “If I Were The President”, mahasiswa saya ajak untuk berselancar di alam kritisnya untuk membuat essay dengan topik tersebut di minggu sebelumnya. Kemudian hari ini mahasiswa mempresentasikan gagasannya di depan rekan-rekannya.

Di sini saya menemukan bahwa cikal bakal pemimpin negeri yang kritis dan cerdas sedang tumbuh dan berkembang. Seorang mahasiswi bernama Astrid mempresentasikan dengan bergas mengenai imajinasinya di masa yang akan datang: hukum mati koruptor di Indonesia. Kemudian, mahasiswi selanjutnya yang mempresentasikan essaynya adalah Caca, dia menyampaikan keprihatinannya atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia: kurangi jatah fasilitas untuk pejabat dan menteri dan alihkan untuk subsidi masyarakat miskin. Suaranya sedikit gemetar ketika menyampaikan keperihatinannya akan banyaknya masyarakat miskin yang menjadi gelandangan dari lansia hingga anak kecil. Lalu presentasi disusul oleh mahasiswa yang lainnya yang hampir sama menyampaikan persoalan krusial negeri ini: kemiskinan, pendidikan, keamanan, kesehatan, dan kasus korupsi.

Indonesia harus optimis dengan generasi yang kritis dan tidak apatis seperti mereka. Negeri gemah ripah loh jinawi ini punya anak kandung Ibu Pertiwi yang memiliki visi misi hebat untuk masa depan. Kehebatan itu tumbuh dari proses pendidikan yang benar dan menciptakan kesadaran kritis (conscientization) bahwa setiap orang harus berdaya. Saya bangga mendengarkan paparan rekan-rekan mahasiswa mata kuliah KOK tersebut, seperti berpetualang ke alam pikir yang masih segar dengan niat perjuangan tanpa embel-embel gengsi ataupun politisasi.

Membayangkan jika salah satu di antara mereka menjadi pemimpin Indonesia dengan kepedulian dan idealisme yang masih sama seperti saat ini maka alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini. Merah putih akan berkibar gagah bukan karena tiangnya yang tinggi tetapi sebab makna merah darah dan putih tulang benar-benar menunjukkan anatomi badan Indonesia yang merdeka. Alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini memiliki generasi penerus yang cerdas, hingga gema Indonesia Raya tidak sekedar aransemen musik tetapi ruh dari kejayaan tertinggi yang diperoleh dari optimisme dan kepedulian.

Saya bangga dengan adik-adik mahasiswa itu yang tengah mempertajam daya pikir dan kepekaannya atas persoalan negeri ini. Mereka yang memilih untuk menuliskan gagasan mereka dengan bijak dibanding berkoar-koar dengan pengeras suara tanpa tahu tujuannya. Saya tahu essay yang mereka buat bukan pekerjaan instan, mereka membaca dan mengolah informasi menggunakan daya nalar mereka dengan sangat baik. Selamat Indonesia, ada penerusmu yang tengah tumbuh dan berkembang.  Saya bangga menjadi Indonesia.

Bogor, 10 Mei 2015