Rabu, 11 Maret 2015

Rahasia Itu Tidak Ada

www.goodreads.com
 “Kita tidak boleh lupa bahwa impian manusia dalam sekejap bisa berubah menjadi kegandrungan. Betapa cita-cita bisa menggelapkan kebijakan seorang pemimpin. Dalam mengejar keberuntungan, kita harus membentengi diri dari niat-niat kotor dan berusaha bertindak dengan keberanian dan penuh kepribadian, jujur, serta terhormat.”

(Strategi Hideyoshi, hal 81-82)





Saya membaca buku yang berjudul Strategi Hideyoshi, sebuah karya fiksi yang dikaitkan dengan kisah seorang Samurai Jepang bernama Hideyoshi. Ketertarikan saya untuk membaca buku ini diawali dengan satu kata yang muncul di dalam buku itu yaitu “petani”. Saya pikir buku ini bercerita tentang petani secara utuh, ternyata dengan penokohan petani yang mencari tahu kebijaksanaan Hideyoshi. Pada awalnya saya masih buta sama sekali tentang siapa itu Hideyoshi yang ternyata sangat terkenal dalam sejarah pembangunan Negeri Matahari Terbit, Jepang. Dua orang petani yang bernama Jiro dan Gonsuke mencari Hideyoshi untuk menggali kebijaksanaan. Buku ini membuat saya terbawa dalam kisah kebijaksanaan Hideyoshi yang dituturkan secara ringan dan sederhana, jauh berbeda dengan kebanyakan buku-buku motivasi yang menjamur di toko buku. Mungkin karena setiap kisahnya dituturkan dalam gaya fiksi.


Hideyoshi seorang yang digambarkan kecil, muka mirip monyet, dan berasal dari kalangan sangat miskin menjadi tokoh nyata yang difiksikan dalam alur-alur gagasan bijaksana. Buku ini tidak menceritakan Hideyoshi sebagai tokoh yang berwujud namun lebih kepada nilai-nilai kebijaksanaan dan ajaran Bushido yang dipahami oleh orang-orang yang telah berguru pada Hideyoshi. Salah satu hal yang paling menarik adalah tentang kebijaksanaan yang disebutkan bahwa: RAHASIA ITU TIDAK ADA.
 

Beberapa kutipan yang menurut saya penting dan mengena yaitu:


“Takdir tidak membedakan-bedakan siapa pun dalam mencurahkan keberuntungan.”

“Keberuntungan ditingkatkan melalui usaha manusia sendiri.”

“Seseorang bisa mengasah bakatnya melalui pengabdian tanpa kenal putus asa sehingga keberuntungan dapat menghampirinya.”

“Keberuntungan tidak dibentuk dengan sendirinya, kekuatan ini muncul karena pengabdian seseorang dalam mengerahkan keterampilan dan usahanya sendiri. Ia meraih keberuntungan dengan memanfaatkan kesempatan.”

“Rasa syukur mengundang keberuntungan.”

Makna “rahasia itu tidak ada” dijelaskan melalui bagaimana seorang Hideyoshi memahami tentang keberuntungan yang bisa diperoleh seseorang. Hal terpenting bukanlah menunggu keberuntungan itu datang, tetapi bagaimana mengusahakan keberuntungan itu dapat terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwa kekuatan doa bukan dari bagaimana kita melantunkannya setiap hari sampai kening berwarna hitam, tetapi doa terwujud dari sejauh mana kita mengusahakannya dalam bentuk nyata.

 
Lalu mengapa rahasia itu tidak ada? Banyak orang yang percaya bahwa setiap kesuksesan seseorang memiliki kunci khusus yang menyebabkan tidak setiap orang mampu mencapainya. padahal kesuksesan dijanjikan kepada semua orang yang mau mengusahakannya. Setiap orang sudah tahu bahwa “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, halal pangkal berkah” dan sebagainya, sesuatu yang sudah berlaku umum tidak menjadi rahasia lagi. 

Hidup ini bukan milik segelintir orang yang menguasai pasar-pasar dunia, bukan pula milik para ilmuwan yang menciptakan doktrin-doktrin kehidupan, juga bukan milik para penguasa yang memegang kendali atas parlemen dan rakyat. Hidup ini adalah keputusan kita sendiri, kita perlu percaya bahwa sesuatu yang paling mampu mengendalikan kita adalah kehendak kita sendiri –selain kehendak Tuhan juga berlaku, tentunya-. 

Toyotomi Hideyoshi orang yang memiliki kebijaksanaan, memperoleh keberuntungan yang tidak disangka oleh banyak orang adalah sosok yang mengusahakan keberuntungannya dengan mengabdi. Melalui pengabdiannya, loyalitasnya, meskipun diawali dengan menjadi pembawa sandal seorang bangsawan namun kemudian ia memperoleh nilai hidup yang tidak semua orang bisa dapatkan. Mengapa? Karena ia mengusahakan keberuntungannya dengan penuh keyakinan dan rasa syukur. 

Tabik,
Bogor, 11 Maret 2015