Selasa, 31 Maret 2015

The Power of 'Take Care'


Picture source: Click!
"Take care of your body. It's the only place you have to live." 
-Jim Rohn-

Beberapa waktu yang lalu setelah uring-uringan dengan tingkat kesabaran yang perlu terus di-upgrade, alhasil saya mengalami flu berat sebagai imbas dari ketidaksabaran saya sendiri. Kondisi hidung yang terus meler dan kepala yang juga ikut pusing membuat pagi saya sedikit kacau saat itu. Dalam kondisi demikian, saya harus segera ke kampus karena ada jadwal mengajar.

"Take Care...."  satu pesan yang saat itu sedikit saya abaikan sebagai efek dari ketidaksabaran saya sebelumnya.

Pukul 08.30 WIB saya  menuju ke lokasi dimana angkot 03 biasa mangkal di Baranangsiang yaitu depan pintu Kebun Raya Bogor (KRB). Sambil menahan hidung saya yang  bersin-bersin dan kepala yang terasa berat, saya terus berjalan sampai mata menemukan satu angkot yang sedang ngetem. Saya langsung naik dan tidak terlalu memperhatikan kondisi angkot. Saya hanya sadar bahwa di dalam angkot tersebut ada satu penumpang laki-laki yang duduk di sebelah sopir dan satu lagi penumpang laki-laki duduk di bangku isi empat di belakang.Setelah saya ada satu penumpang perempuan yang kemudian naik sehingga total penumpang pada saat itu adalah 3 di belakang dan 1 di depan. Setelah penumpang terakhir masuk, angkot melaju kencang melewati rumah sakit PMI dan berbelok ke arah sempur. 

Saya membuka tas dan mengecek pesan hp saya dan belum sadar dengan kondisi angkot. Pada saat membuka hp, di jalanan sekitar lapangan sempur, penumpang laki-laki yang duduk di belakang tiba-tiba mepet ke arah saya dan memperhatikan resleting tas saya yang terbuka. Buru-buru saya masukkan hp dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa meski sebenarnya jantung sudah deg degan parah karena cemas akan terjadi hal yang mengerikan (dicopet, koban pelecehan seksual, dll). Dalam posisi penumpang laki-laki yang masih duduk di sebelah saya, saya mencoba untuk memperhatikan sekitar. Kondisi benar-benar tidak saya harapkan, kondisi jalanan macet dan bukan waktu yang tepat untuk turun. Pikiran saya sudah menuntuk untuk segera turun, saya ingat pesan sahabat saya yang beberapa hari sebelumnya mengalami situasi yang mencekam di angkutan kota juga. "Kalau ada gerak-gerik yang mencurigakan, mending turun."

Dari ujung mata saya, penampilan lelaki yang duduk mepet ke sebelah saya (dalam kondisi bangku angkot sangat lowong) tampak biasa dan justru terlihat seperti orang gila dan atau mabuk. Jantung saya makin terpompa. Sambil terus erat memegang tas, saya berdoa semoga macet di jalur Jalan Jalak Harupat segera usai, saya akan segera turun di depan Istana Bogor. Pada saat berharap, tiba-tiba laki-laki yang di sebeah saya tadi langsung berpindah tempat duduk ke sebelah perempuan yang naik setelah saya. Perempuan itu tengah membuka dompetnya. Mungkin memang ini orang gila, pikir saya. Penumpang perempuan itu mengedipkan matanya ke arah saya dan seperti memberi kode untuk segera turun. Tidak berapa lama, kendaraan mulai berjalan dan hampir sampai di dekat lampu merah depan Sekolah Regina Pacis. Akhirnya saya bilang ke sopir angkot untuk turun. Dalam kondisi was-was, saya buru-buru turun dan mencoba untuk menenangkan diri bahwa tadi di dalam angkot saya masih baik-baik saja.

Tidak ada adegan pencopetan atau pelecehan seksual, tapi saya tetap merasa harus waspada melihat gerak-gerik penumpang yang aneh. Maraknya kasus pembegalan, pencurian dan pencopetan di kendaraan publik rasanya menjadi alarm bagi setiap orang untuk tetap waspada di mana pun berada. Tidak berapa lama saya men-stop angkot lagi dan menelpon sahabat saya yang pernah mengalami hal serupa (kasusnya lebih mencekam) di dalam angkot jurusan Cisarua-Sukasari. Dari cerita saya, disimpulkan oleh sahabat saya bahwa mungkin laki-laki yang ada di dalam angkot memang punya niat tidak baik (mencopet) atau juga ganggan kejiwaan seperti hypersex. It was terrible! Daymare!

Karena jam menunjukkan hampir pukul 10 dan saya harus masuk kelas pukul 10.15, saya memutuskan untuk naik ojeg dari terminal Laladon sampai kampus IPB. Dalam perjalanan, terjadi percakapan dengan tukang ojeg.

"Kesiangan ya Teh?" tanya Bapak Ojeg.
"Hehe tadi di sempet ganti angkot dari Baranangsiang Pak, pas turun saya berhenti dulu, ada orang yang gelagatnya aneh di angkot."
"Wah hati-hati Teh, dulu Bapak pernah jadi sopir angkot 03, pernah juga kejadian ada orang mepet-mepet gitu ngambil barang milik penumpang. Bapak nggak bisa apa-apa meskipun sudah kelihatan dari kaca depan."
"....."
"Biasanya berkomplot gitu Teh..."
"...."
"Hati-hati Teh lain kali ya, bukan curiga tapi waspada."

Hari itu ketika baru masuk kelas, saya mengawali kelas dengan cerita perjalanan saya dari Baranangsiang hingga Dramaga kepada teman-teman mahasiswa yang mengikuti Praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan. Hari yang menegangkan di waktu pagi, tapi memberikan saya pelajaran berharga tentang makna doa yang sederhana: Take care. Kemudian saya ingat bagaimana ketika terjadi tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 akhir tahun 2014 lalu yang menyadarkan sesiapa bahwa kalimat sederhana seperti "have a safe flight" memiliki makna yang mendalam dan menjadi doa. Then, i thought that "take care" also has a great meaning to everyone who walk somewhere. Juga, tentang ketidaksabaran yang efeknya menjadi tidak baik bagi konsentrasi

Keep take care of ourself, tetap waspada. Terlebih, hati-hati kalau naik angkutan umum.

Bogor, 31 Maret 2015

Senin, 23 Maret 2015

Melengkapi

Jika bertemunya dua orang untuk saling menyayangi adalah bentuk melengkapi yang saling menghebatkan, maka sesungguhnya kita tidak memerlukan orang yang sempurna untuk membuat kita menjadi hebat. Sebab melengkapi adalah mengisi kekosongan, bukan memaksakan sesuatu yang sudah penuh.
   -Turasih-


Rabu, 11 Maret 2015

Rahasia Itu Tidak Ada

www.goodreads.com
 “Kita tidak boleh lupa bahwa impian manusia dalam sekejap bisa berubah menjadi kegandrungan. Betapa cita-cita bisa menggelapkan kebijakan seorang pemimpin. Dalam mengejar keberuntungan, kita harus membentengi diri dari niat-niat kotor dan berusaha bertindak dengan keberanian dan penuh kepribadian, jujur, serta terhormat.”

(Strategi Hideyoshi, hal 81-82)





Saya membaca buku yang berjudul Strategi Hideyoshi, sebuah karya fiksi yang dikaitkan dengan kisah seorang Samurai Jepang bernama Hideyoshi. Ketertarikan saya untuk membaca buku ini diawali dengan satu kata yang muncul di dalam buku itu yaitu “petani”. Saya pikir buku ini bercerita tentang petani secara utuh, ternyata dengan penokohan petani yang mencari tahu kebijaksanaan Hideyoshi. Pada awalnya saya masih buta sama sekali tentang siapa itu Hideyoshi yang ternyata sangat terkenal dalam sejarah pembangunan Negeri Matahari Terbit, Jepang. Dua orang petani yang bernama Jiro dan Gonsuke mencari Hideyoshi untuk menggali kebijaksanaan. Buku ini membuat saya terbawa dalam kisah kebijaksanaan Hideyoshi yang dituturkan secara ringan dan sederhana, jauh berbeda dengan kebanyakan buku-buku motivasi yang menjamur di toko buku. Mungkin karena setiap kisahnya dituturkan dalam gaya fiksi.


Hideyoshi seorang yang digambarkan kecil, muka mirip monyet, dan berasal dari kalangan sangat miskin menjadi tokoh nyata yang difiksikan dalam alur-alur gagasan bijaksana. Buku ini tidak menceritakan Hideyoshi sebagai tokoh yang berwujud namun lebih kepada nilai-nilai kebijaksanaan dan ajaran Bushido yang dipahami oleh orang-orang yang telah berguru pada Hideyoshi. Salah satu hal yang paling menarik adalah tentang kebijaksanaan yang disebutkan bahwa: RAHASIA ITU TIDAK ADA.
 

Beberapa kutipan yang menurut saya penting dan mengena yaitu:


“Takdir tidak membedakan-bedakan siapa pun dalam mencurahkan keberuntungan.”

“Keberuntungan ditingkatkan melalui usaha manusia sendiri.”

“Seseorang bisa mengasah bakatnya melalui pengabdian tanpa kenal putus asa sehingga keberuntungan dapat menghampirinya.”

“Keberuntungan tidak dibentuk dengan sendirinya, kekuatan ini muncul karena pengabdian seseorang dalam mengerahkan keterampilan dan usahanya sendiri. Ia meraih keberuntungan dengan memanfaatkan kesempatan.”

“Rasa syukur mengundang keberuntungan.”

Makna “rahasia itu tidak ada” dijelaskan melalui bagaimana seorang Hideyoshi memahami tentang keberuntungan yang bisa diperoleh seseorang. Hal terpenting bukanlah menunggu keberuntungan itu datang, tetapi bagaimana mengusahakan keberuntungan itu dapat terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwa kekuatan doa bukan dari bagaimana kita melantunkannya setiap hari sampai kening berwarna hitam, tetapi doa terwujud dari sejauh mana kita mengusahakannya dalam bentuk nyata.

 
Lalu mengapa rahasia itu tidak ada? Banyak orang yang percaya bahwa setiap kesuksesan seseorang memiliki kunci khusus yang menyebabkan tidak setiap orang mampu mencapainya. padahal kesuksesan dijanjikan kepada semua orang yang mau mengusahakannya. Setiap orang sudah tahu bahwa “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, halal pangkal berkah” dan sebagainya, sesuatu yang sudah berlaku umum tidak menjadi rahasia lagi. 

Hidup ini bukan milik segelintir orang yang menguasai pasar-pasar dunia, bukan pula milik para ilmuwan yang menciptakan doktrin-doktrin kehidupan, juga bukan milik para penguasa yang memegang kendali atas parlemen dan rakyat. Hidup ini adalah keputusan kita sendiri, kita perlu percaya bahwa sesuatu yang paling mampu mengendalikan kita adalah kehendak kita sendiri –selain kehendak Tuhan juga berlaku, tentunya-. 

Toyotomi Hideyoshi orang yang memiliki kebijaksanaan, memperoleh keberuntungan yang tidak disangka oleh banyak orang adalah sosok yang mengusahakan keberuntungannya dengan mengabdi. Melalui pengabdiannya, loyalitasnya, meskipun diawali dengan menjadi pembawa sandal seorang bangsawan namun kemudian ia memperoleh nilai hidup yang tidak semua orang bisa dapatkan. Mengapa? Karena ia mengusahakan keberuntungannya dengan penuh keyakinan dan rasa syukur. 

Tabik,
Bogor, 11 Maret 2015