Kamis, 05 Februari 2015

FEBRUARY RAIN




Picture source: click!


Bogor, 2 Februari 2015


Aku menengok sejenak ke jendela kaca di sebelah kubikel meja kerja. Ada hujan yang deras. Butirannya meloncat-loncat di atas area parkir mobil yang berlapis aspal. Bukan sesuatu yang mencengangkan untuk melihat atau pun merasakan air langit jatuh di Kota Hujan. Tapi kali ini, suaranya melebihi musik yang aku putar dari kanal youtube di desktop kerja. Lalu ia membawa ingatan masa kecil. Sepertinya dua puluh tahun yang lalu, saat hujan sederas ini aku tengah memandangi jendela rumah, melihat loncatan air pada iringan sungai kecil dadakan di jalanan yang masih tanah. Bertanya-tanya kenapa air menari-nari seperti itu, bertanya apakah aku akan kedinginan jika bermain dalam rimanya karena ibuku selalu melarang jika aku ingin hujan-hujanan. Katanya nanti demam. Di depan jendela saat hujan, aku kecil bertanya kapan ayah pulang dari perantauan, mungkin sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi sebuah bentuk kerinduan aku kecil kepada ayahnya. 

Mataku berkaca-kaca mengingat masa-masa di mana dalam otakku belum terbersit sama sekali soal proses terjadinya hujan melalui konveksi, evaporasi, kondensasi, lalu presipitasi. Istilah itu masih terlalu jauh dari kepalaku saat itu. Aku kecil akan menghentikan pandangannya ke arah jendela dan beralih ke tempat tidur untuk pura-pura tidur siang atau mengamati ibunya yang saat itu masih muda tengah menjahit rok hijau seragam TK-nya yang jahitannya jatuh. Sebagian waktu yang lain saat hujan, aku kecil juga kerap menunggui ibunya di depan tungku, menggorengkan singkong untuknya.  Aku kecil dan ibunya adalah dua perempuan terpaut usia yang tengah bertoleransi dengan hujan dan kerinduan. Tanpa terasa air mataku menetes meskipun kutahan. Kerinduan memang tidak selalu semuluk makna kata tapi ia lebih dalam karena menjelma di lubuk kejujuran yang paling dalam. 



Memories of childhood were the dreams that stayed with you after you woke
-Julian Barnes
                

      Seandainya aku kecil sadar bahwa kelak ketika ia dewasa, waktu-waktu bersama ibunya menjadi semakin sedikit barangkali ini yang akan ia lakukan: aku kecil akan bersama ibunya terus-menerus, menggamitnya setiap kali ia berjalan, duduk bersebelahan ketika ia di rumah, memeluknya ketika tidur, semuanya demi dekat dan dapat selalu mencium aroma tubuh ibunya. Kesadaran itu ternyata lambat datang pada seorang anak, tapi sudah disadari lebih dini oleh ibunya. Maka perempuan yang aku panggil ibu selalu ada di dalam jangkauan anaknya karena tahu bahwa kelak ketika si anak dewasa kesempatan berdekatan adalah kesempatan yang langka.

         Juga, apabila aku kecil sadar bahwa kelak ketika ia dewasa, waktu-waktu bersama ayahnya menjadi semakin sedikit barangkali ini yang akan ia lakukan: aku kecil akan bersama ayahnya terus-menerus, menggamitnya setiap kali ia berjalan, duduk bersebelahan ketika ia di rumah, memeluknya ketika tidur, semuanya demi dekat dan dapat selalu mencium aroma tubuh ayahnya. Kesadaran itu ternyata lambat datang pada seorang anak, tapi sudah disadari lebih dini oleh ayahnya. Maka laki-laki yang aku panggil ayah selalu berusaha memenuhi keinginan anaknya karena tahu bahwa kelak ketika si anak dewasa akan ada pria pilihan yang akan menggantikan kedekatannya.

                Semakin beranjak dewasa, semakin hadir pula kesadaran bahwa kenyataan kebersamaan dengan orang tua adalah waktu-waktu yang sangat berharga. Mereka barangkali bukan sosok yang luar biasa yang mampu menjawab setiap pertanyaan anaknya, tapi mereka memberikan jalan supaya anaknya mendapatkan jawaban dengan menyekolahkan. Mereka juga bukan sosok kaya raya yang bisa memenuhi setiap permintaan anaknya, tapi mereka punya satu jurus jika kita mau memperoleh sesuatu yakni berusaha. Mereka bukan dokter yang mampu mendiagnosa sakit atau membuatkan resep ilmiah ketika anaknya sakit, tapi mereka melakukannya dengan mencarikan obat. Wajar saja jika kerinduan itu datang, memori kita tentang orang tua terlampau kuat. Sesendu inikah kerinduan? Menggantung dalam kumpulan air mata yang tertahan di sudut kelopak, menciptakan kesunyian pada riuh hujan yang semakin deras.