Selasa, 10 Februari 2015

Don't Rush Thing

Picture source: click!



“The best thing in life are worth waiting for, fighting for, believing in, 
and just never letting go of” -Author Unknown- 


            Sebuah obrolan antara serius dan tidak serius antara dua orang perempuan muda. Tentang persoalan yang tidak akan pernah usai sampai tiba masanya, tentang hidup dan kehidupan. Dua perempuan itu sebaya, seumuran dan sama-sama punya pendirian yang tegas tentang kehidupan masing-masing. Boleh dikatakan bahwa mereka memiliki prinsip yang kokoh dengan kedewasaan yang relatif melesat lebih matang dibanding perempuan lain seusianya.


I like being independent
Not so much of an investment
No one to tell me what to do
I like being by myself
Don’t gotta entertain anybody else
No one to answer to
(Dear No One-Tori Kelly)

Sama. Mereka punya pemahaman bahwa sejatinya perempuan adalah makhluk yang merdeka. Merdeka dari kecurangan stigma sosial tentang pengejawantahan makna perempuan ke dalam nilai dan norma yang melekat sehari-hari. Soal perempuan kelak akan menikah dan kemudian menjadi istri, menjadi ibu rumah tangga, menjadi pendidik bagi anak-anaknya akhirnya menjadi  detail bahan obrolan. Perempuan layak mendapatkan tempat di mana pun untuk berkespresi, mengenyam pendidikan tinggi, memperoleh kesempatan bekerja di company, mendapatkan peluang untuk menjelajahi pelosok-pelosok negeri. Menjadi seseorang yang merdeka atas dirinya, atas apa yang ingin diraihnya. Tanpa syarat atas ketabuan bahwa perempuan sebaiknya berada di rumah. Sepertinya itu bagian dari hak asasi manusia. Menjadi diri sendiri dan tidak perlu terbebani dengan acara atau tindak-tanduk untuk menghibur orang lain. Baik atau tidak baik, menghibur atau tidak menghibur, selamanya masyarakat selalu punya takaran sendiri. Mengurusi hal yang seperti itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan.

Namun, mereka memang hidup di atas pondasi norma. Perempuan hidup di antara perempuan dan laki-laki, di antara masyarakat. Perlahan, yang berdiri sendiri juga akan tumbang, bisa jadi karena ditebang atau memang tidak kuat hembusan angin. Dua perempuan muda itu berkelakar, menelusur kisah hidup masing-masing yang ketika diurai semuanya adalah soal tuntutan eksternal.

Kesepian paling tinggi adalah ketika kita tidak tahu lagi apa yan harus kita capai. Bell curve sudah sampai pada titik kulminasi. Pencapaian tertinggi mungkin sudah pernah terlewati sampai semua hal menjadi biasa saja. Pertanyaan-pertanyaan itu kali ini mendengung, menyusuri saraf indera telinga yang terdalam. Kapan menikah? Pendidikan bagi perempuan memang penting tapi jangan lupa kodrat bahwa nanti perempuan akan menghasilkan keturunan? Sirine ambulance atau mobil patroli polisi akan terdengar sama saja ketika pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu keluar dari mulut para manusia yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi pujangga atau ulama. Lalu jari-jari tangan tidak lagi sampai untuk menakar hitung-hitungan kalkulatif soal berapa umur menikah, dalam jangka waktu berapa lama akan melahirkan, berapa anak yang akan dilahirkan. Usia seakan habis menjadi sebuah patokan bahwa saatnya sudah terlalu mepet, sudah terlampau dekat. Mungkin persoalannya bukan tentang berapa anak yang menjadi target harus dilahirkan. Tapi betapa sering tolak ukur pribadi yang bersumber dari ego mengarahkan pada ketakutan.

Mereka berdua menuju ke satu arah namun berlainan pandang. Yang terbersit di benak keduanya sama, norma sosial memberikan satu aturan: kamu perempuan, ada kalanya memang harus mengalah. Mengakui bahwa diri tidak  slelalu tegar seperti yang ditunjukkan, mengakui bahwa hati akan sulit berkompromi jika terlalu mengedepankan logika, mengerti bahwa proses pendewasaan yang sesungguhnya sedang terus menerus di jalani.

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end
(Dear No One-Tori Kelly)

Kadang yang dibutuhkan oleh seorang keras kepala adalah sebuah kekalahan untuk mengerti bahwa tidak selalu yang mengangkat harkat adalah sebuah kemenangan. Pada saatnya yang akan datang adalah dia yang mampu mengalahkan, yang tahu bahwa seorang keras kepala hanya perlu dibimbing dan bukan didebat.

I don’t really like big crowds
I tend to shut people out
I like my space, yeah
But I’d love to have a soul mate
God will give him to me someday
& I know it’ll be worth the wait
So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song
(Dear No One – Tori Kelly) 

Berhenti menghakimi, keduanya menyadari. Sudah cukup norma yang terbangun di atas pondasi yang disebut masyarakat mengejawantahkan pemahaman tentang perempuan atas cakrawalanya yang luas terhadap dunia. Lalu obrolan mengalir bersama surutnya isi gelas yang tadinya penuh berisi green tea blend. Membicarakan satu persatu yang datang dan pergi, yang memupuk kesadaran bahwa seseorang yang benar-benar mencintai tidak akan pernah pergi sesulit apa pun kondisinya. Don’t rush thing, anything worth having is worth waiting for.

Bogor, 10 Februari 2015

Lagu Tori Kelly dapat dinikmati di link ini: Tori Kelly-Dear No One