Selasa, 17 Februari 2015

ALTRUISME ITU SUDAH LAYU


Picture source: Click!



Kemarin selepas magrib saya berjalan di area sekitar kampus IPB Dramaga, tepatnya di wilayah Babakan Tengah. Sambil bersaing dengan angkot dan motor yang melaju tanpa terlalu menghiraukan pejalan kaki, saya terus menyusuri jalanan yang di pinggirnya terdapat selokan mampet. Kalau anak IPB atau alumninya mungkin familiar dengan wilayah ini, setidaknya di sinilah salah satu pusat kost-kostan dan juga tempat kuliner yang cukup enak dan murah. Saya berjalan dari arah Pangkalan Angkot menuju Tembok Berlin (area tembok yang dianalogikan seperti pemisah Jerman Barat dan Jerman Timur, tembok ini memisahkan antara area kampus dengan pemukiman penduduk). Separuh langkah sebelum sampai di Tembok Berlin saya berpapasan dengan seorang lelaki  peminta-minta yang tengah duduk dan menengadahkan tangan. 

“Kak, minta Kak, belum makan Kak” ucapnya dengan suara memelas dan juga bergetar. Peminta-minta itu memakai kaos oblong warna kuning, sendal jepit, dan juga celana panjang yang kumal. Dalam gelap, wajahnya terlihat tidak karuan.

Tapi alih-alih iba, perasaan saya justru sudah menjadi kebal dengan fenomena peminta-minta di area sekitar kampus. Termasuk dengan kasus yang satu ini. Saya tahu laki-laki peminta-minta ini sejak saya awal TPB (tahun 2007). Saat itu area di dalam kampus IPB belum rapi seperti sekarang, area parkir di depan Dekanat FEM saat ini dulunya adalah lahan yang tidak terpakai dengan bangunan kantin yang sudah rusak. Jalanan menuju perpustakaan pusat (LSI) juga masih jalan setapak. Di situlah pertama kali saya bertemu dengan laki-laki tersebut dan dengan kalimat sama yang juga saya dengar semalam. Pada saat itu, saya dan teman asrama yang bertemu dengan laki-laki tersebut berinisiatif untuk menyerahkan sebagian uang jajan kami untuk laki-laki itu, pada saat itu dia berujar akan pulang ke desanya tapi tidak punya ongkos. Kami berdua (saya dan teman saya) selayaknya mahasiswa baru yang polos dan belum tahu banyak informasi tentang kampus serta merta percaya pada ucapannya. Pada saat itu motifnya adalah ingin menolong, just it.

Beberapa bulan kemudian, ketika saya melewati lokasi yang sama, saya bertemu kembali dengan lelaki peminta-minta itu. Masih dengan dandanan yang sama dan perkataan yang sama. Saat itu rasanya saya ingin menghardik atau apa pun, saya geram karena dia tidak memenuhi perkataannya untuk pulang kembali ke desanya. Lalu berangsur saya mulai tahu banyak sekali modus meminta-minta di dalam kampus, termasuk banyak sekali modus pencurian. Oke, saya sudah memberikan stempel di kepala orang itu untuk tidak menghiraukannya lagi. Bulan berganti, tahun juga berlalu. Pada masa melewati semester demi semester kuliah S1 saya, tidak terhitung saya bertemu dengan orang itu, dengan gaya dan perkataan yang sama. Di berbagai tempat, dekat perpustakaan pusat, di koridor fakultas, di dekat tembok berlin, di jalanan Babakan Tengah. Rasa kasihan saya sudah hilang, jangankan untuk membantu, saya justru merasa tidak rela mengapa orang yang kelihatan sehat dan sebenarnya mampu untuk bekerja itu meminta-minta di area tempat lalu lintas mahasiswa. Hipotesa saya, sebenarnya orang itu tidak akan bertahan untuk meminta-minta di area yang sama (kampus) jika dia tidak memperoleh pendapatan yang cukup. Sesuatu jika diulangi berkali-kali, hasilnya akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan tersebut dapat saja melenakan bagi pelakunya, mungkin sama halnya dengan laki-laki peminta-minta tersebut.

Benar bahwa ketika kita memberi, sebaiknya memang karena kita ingin memberi. Tidak ada motif lain selain karena mau menolong atau disebut perilaku altruistik. Namun demikian dalam kasus saya, kenyataan untuk berbuat altruistik itu sudah luntur dengan pengalaman empiris yang berulang-ulang dan kejadiannya sama dengan personal yang sama juga. Alih-alih untuk ‘menyembuhkan’ ketidakberdayaan, perilaku altruistik yang ada justru kadang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk memperoleh keuntungan. Dari sisi yang sama, altruistik ini justru menyuburkan atau mempertahankan perilaku fatalis dari orang-orang yang enggan untuk bekerja keras dan berpikir dapat memperoleh penghasilan dari cara instan dengan meminta-minta. Sekali lagi, hipotesa saya, jika orang itu merasa tidak tercukupi penghasilannya selama menjadi peminta-minta di kampus, saya yakin dia tidak akan bertahan hingga tadi malam saya lewat jalan Babakan Tengah. Waktu dari 2007 hingga 2015 bukanlah jangka yang sebentar untuk menilai apakah sebaiknya kita menolong untuk memberi atau memilih untuk sama sekali tidak berempati.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa sedekah (memberi) itu penting dan bahkan diajarkan dalam agama mana pun, dalam norma keluarga dan masyarakat. Namun dengan catatan, memberi yang tepat untuk kepentingan memberdayakan dan bukan melenakan serta menciptakan ketergantungan. 

Bogor, 17 Februari 2015

Selasa, 10 Februari 2015

Don't Rush Thing

Picture source: click!



“The best thing in life are worth waiting for, fighting for, believing in, 
and just never letting go of” -Author Unknown- 


            Sebuah obrolan antara serius dan tidak serius antara dua orang perempuan muda. Tentang persoalan yang tidak akan pernah usai sampai tiba masanya, tentang hidup dan kehidupan. Dua perempuan itu sebaya, seumuran dan sama-sama punya pendirian yang tegas tentang kehidupan masing-masing. Boleh dikatakan bahwa mereka memiliki prinsip yang kokoh dengan kedewasaan yang relatif melesat lebih matang dibanding perempuan lain seusianya.


I like being independent
Not so much of an investment
No one to tell me what to do
I like being by myself
Don’t gotta entertain anybody else
No one to answer to
(Dear No One-Tori Kelly)

Sama. Mereka punya pemahaman bahwa sejatinya perempuan adalah makhluk yang merdeka. Merdeka dari kecurangan stigma sosial tentang pengejawantahan makna perempuan ke dalam nilai dan norma yang melekat sehari-hari. Soal perempuan kelak akan menikah dan kemudian menjadi istri, menjadi ibu rumah tangga, menjadi pendidik bagi anak-anaknya akhirnya menjadi  detail bahan obrolan. Perempuan layak mendapatkan tempat di mana pun untuk berkespresi, mengenyam pendidikan tinggi, memperoleh kesempatan bekerja di company, mendapatkan peluang untuk menjelajahi pelosok-pelosok negeri. Menjadi seseorang yang merdeka atas dirinya, atas apa yang ingin diraihnya. Tanpa syarat atas ketabuan bahwa perempuan sebaiknya berada di rumah. Sepertinya itu bagian dari hak asasi manusia. Menjadi diri sendiri dan tidak perlu terbebani dengan acara atau tindak-tanduk untuk menghibur orang lain. Baik atau tidak baik, menghibur atau tidak menghibur, selamanya masyarakat selalu punya takaran sendiri. Mengurusi hal yang seperti itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan.

Namun, mereka memang hidup di atas pondasi norma. Perempuan hidup di antara perempuan dan laki-laki, di antara masyarakat. Perlahan, yang berdiri sendiri juga akan tumbang, bisa jadi karena ditebang atau memang tidak kuat hembusan angin. Dua perempuan muda itu berkelakar, menelusur kisah hidup masing-masing yang ketika diurai semuanya adalah soal tuntutan eksternal.

Kesepian paling tinggi adalah ketika kita tidak tahu lagi apa yan harus kita capai. Bell curve sudah sampai pada titik kulminasi. Pencapaian tertinggi mungkin sudah pernah terlewati sampai semua hal menjadi biasa saja. Pertanyaan-pertanyaan itu kali ini mendengung, menyusuri saraf indera telinga yang terdalam. Kapan menikah? Pendidikan bagi perempuan memang penting tapi jangan lupa kodrat bahwa nanti perempuan akan menghasilkan keturunan? Sirine ambulance atau mobil patroli polisi akan terdengar sama saja ketika pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu keluar dari mulut para manusia yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi pujangga atau ulama. Lalu jari-jari tangan tidak lagi sampai untuk menakar hitung-hitungan kalkulatif soal berapa umur menikah, dalam jangka waktu berapa lama akan melahirkan, berapa anak yang akan dilahirkan. Usia seakan habis menjadi sebuah patokan bahwa saatnya sudah terlalu mepet, sudah terlampau dekat. Mungkin persoalannya bukan tentang berapa anak yang menjadi target harus dilahirkan. Tapi betapa sering tolak ukur pribadi yang bersumber dari ego mengarahkan pada ketakutan.

Mereka berdua menuju ke satu arah namun berlainan pandang. Yang terbersit di benak keduanya sama, norma sosial memberikan satu aturan: kamu perempuan, ada kalanya memang harus mengalah. Mengakui bahwa diri tidak  slelalu tegar seperti yang ditunjukkan, mengakui bahwa hati akan sulit berkompromi jika terlalu mengedepankan logika, mengerti bahwa proses pendewasaan yang sesungguhnya sedang terus menerus di jalani.

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end
(Dear No One-Tori Kelly)

Kadang yang dibutuhkan oleh seorang keras kepala adalah sebuah kekalahan untuk mengerti bahwa tidak selalu yang mengangkat harkat adalah sebuah kemenangan. Pada saatnya yang akan datang adalah dia yang mampu mengalahkan, yang tahu bahwa seorang keras kepala hanya perlu dibimbing dan bukan didebat.

I don’t really like big crowds
I tend to shut people out
I like my space, yeah
But I’d love to have a soul mate
God will give him to me someday
& I know it’ll be worth the wait
So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song
(Dear No One – Tori Kelly) 

Berhenti menghakimi, keduanya menyadari. Sudah cukup norma yang terbangun di atas pondasi yang disebut masyarakat mengejawantahkan pemahaman tentang perempuan atas cakrawalanya yang luas terhadap dunia. Lalu obrolan mengalir bersama surutnya isi gelas yang tadinya penuh berisi green tea blend. Membicarakan satu persatu yang datang dan pergi, yang memupuk kesadaran bahwa seseorang yang benar-benar mencintai tidak akan pernah pergi sesulit apa pun kondisinya. Don’t rush thing, anything worth having is worth waiting for.

Bogor, 10 Februari 2015

Lagu Tori Kelly dapat dinikmati di link ini: Tori Kelly-Dear No One

Jumat, 06 Februari 2015

Mengapa Nikah Siri?

Picture Source: click!
"Marriage is neither heaven nor hell, it is simply purgatory"
(Abraham Lincoln)



Berawal dari sebuah foto yang diunggah oleh seorang rekan di kampus dengan visualisasi sepasang pengantin yang tersenyum sumringah, obrolan di dalam grup media sosial itu pun berlangsung. Pasalnya di dalam foto pengantin itu tertulis “Paket Nikah Siri Super Hemat (Rahasia Terjaga)”, kemudian tercantum beberapa fasilitas yang diperoleh yaitu: (1) Wali hakim ustad yang mengerti hukum Islam dan sudah menjalankan rukun Islam ke lima (Haji); (2) Sudah termasuk dua orang saksi; (3) Khutbah Nikah dan tausiah setelah akad nikah; (4) Surat keterangan jika diinginkan. Syarat yag diperuntukkan bagi konsumen ada dua yaitu: (1) Calon mempelai wanita janda atau jika gadis minimal berusia 22 tahun; (2) Kedua mempelai memenuhi syarat menikah sesuai syariat islam. Harga untuk satu termin nikah siri dibandrol Rp 2.500.000. 

Lalu pertanyaan yang muncul di kepala saya, mengapa pernikahan dikomodifikasi sedemikian “murah” dan seakan-akan diobral begitu saja? Murah di sini bukan dalam artian nominal dua juta lima ratus ribu rupiah, terlalu sempit menggunakan ukuran uang untuk mengatakan sesuatu murah atau mahal karena kita harus melihat konteks di mana dan bagaimana uang itu dipertukarkan. Menurut saya murah dalam hal ini lebih bermakna pernikahan menjadi sedemikian mudah digunakan oleh orang sebagi bentuk usaha yang mungkin bisa memenuhi cash flow bisnisnya. Logikanya, uztad yang menikahkan punya event organizer sendiri atau dia dipromosikan oleh event organizer tertentu untuk menjadi penghulu akad?

Nikah siri atau nikah di bawah tangan merupakan fenomena sosial yang masih kerap terjadi di masyarakat. Kalau ditilik dari UU No. 1 Tahun 1974 kawin di bawah tangan (siri) seharusnya tidak terjadi lagi karena salah satu kewajiban dalam pernikahan adalah harus dicatat negara alias ada buku nikah. Disadari atau tidak sebenarnya ketika mendengar kata nikah siri, sikap yang kemudian muncul mengarah ke penilaian tidak baik, ada yang dikorbankan, atau justru punya justifikasi “wah ini nggak bener, kalau bukan artis biasanya pejabat atau orang yang kelebihan uang yang ngelakuin nikah siri”. Nah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri membolehkan nikah siri asal niatnya baik dan semua rukun nikah terpenuhi. Rukun nikah mulai dari calon mempelai laki-laki dan perempuan, wali, dua orang saksi laki-laki, mahar, serta ijab qobul. Masing-masing dari poin rukun tersebut memiliki syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya sebuah pernikahan, jadi, sahnya nikah bukan ketika penghulu bertanya sah kemudian dijawab dengan koor “Saaaaaaahhhh” tapi jika semua syarat dalam rukun dapat terpenuhi. Itu persoalan fiqih nikah yang saya sendiri tidak memiliki kapasitas untuk bicara panjang lebar. Sepanjang ingatan saya dulu ketika SMA belajar Fiqih, satu yang masih saya ingat adalah soal saksi. Kriteria orang menjadi saksi diantaranya adalah laki-laki, berakal, tidak sedang melakukan dosa kecil dan dosa besar (adil), serta beberapa syarat lain. Terlebih bagi perempuan, tidak akan sah pernikahannya tanpa ada wali dari pihaknya. Berdoa saja bahwa iklan paket nikah siri tersebut bertujuan baik, jika tidak saya khawatir mengenai rukun dan syaratnya apakah telah sempurna. 

Dalam kacamata pribadi saya sebagai seorang perempuan, saya dengan tegas menyampaikan bahwa saya tidak sepakat dengan nihak siri atau nikah dibawah tangan tersebut. Bagi saya sesuatu yang diniatkan baik harus dilakukan dengan baik dan jelas.

Apa sebenarnya tujuan dari nikah siri? Karena biaya pernikahan mahal, supaya tidak diketahui oleh publik, ingin menghalalkan hubungan seksual suami istri? Atau yang lebih advance melalui pertimbangan bisnis merupakan pertukaran jasa? Tidak sedikit dari tujuan nikah siri adalah diluar tujuan pernikahan yang dipahami oleh seorang muslim yakni untuk beribadah dan menyempurnakan agamanya. 

Sekali waktu saya pernah mengikuti ujian terbuka seorang calon doktor (pada saat itu, sekarang sudah jadi doktor) yang disertasinya membahas tentang nikah siri. Salah satu penemuannya adalah bahwa nikah siri merupakan bagian dari strategi nafkah perempuan di desa penelitiannya. Melalui ukuran kepemilikan aset, indikator perubahan setelah nikah siri serorang perempuan misalnya adalah dari sebelumnya tidak memiliki aset menjadi memiliki aset seperti uang, hewan ternak, atau rumah, tergantung dari mas kawin yang ditentukan. Lalu mengapa nikah siri dilakukan di desa tersebut? Nikah siri dilakukan karena sudah ada broker-nya, kemudian stigma yang diberikan kepada perempuan sebagai perawan tua atau janda dianggap tidak bermartabat dibanding mereka yang bersuami sehingga nikah siri dianggap langkah yang lebih baik dibanding tidak menikah. Fenomena lain misalnya yang terjadi di daerah puncak, Jawa Barat. Nikah siri dilakukan oleh penduduk pendatang dari Timur Tengah yang kemudian menikahi janda/gadis setempat dan bahkan terikat kontrak. Sebagian alasannya adalah dibanding melakukan zina.


Apabila pertimbangannya adalah biaya mahal, nikah siri dibandrol murah sebesar Rp 2.500.000, maka bagi saya lebih rasional memilih nikah melalui KUA dengan biaya administrasi Rp 600.000 jika diselenggarakan di luar KUA dan Rp 50.000 jika diselenggarakan di KUA. Secara hukum jelas diakui oleh negera dan pertanggungjawabannya pun tegas. Apabila pertimbangannya ingin sembunyi dan tidak diketahui publik maka harus ditilik lagi mengapa publik tidak harus tau, apakah pernikahan yang dilakukan merupakan dosa sosial yang besar, sedang sembunyi dari orang tua atau istri tua, atau memang ada hal yang tidak perlu saya debat. Apabila ingin menghalalkan hubungan seksual suami istri, bagi saya terlalu mendiskreditkan posisi perempuan karena yang lebih leluasa melakukan akad nikah adalah laki-laki. Yang jelas, saya tidak sependapat dengan nikah siri yang dipahami secara sembrono oleh pihak yang ingin meraup keuntungan.

Kasihan sekali jika perempuan menjadi objek komodifikasi pernikahan dengan dalih bahwa hal itu dibolehkan oleh agama. Meskipun itu soal pilihan rasional yang melekat pada individu namun menjadi tidak sinkron ketika pernikahan dimaknai dalam aras hukum (nilai dan norma) tetapi dipraktekkan pada arena ekonomi. Pernikahan yang dimaknai sebagai dalam aras nilai dan norma berada di level kelembagaan dengan pemahaman bahwa ketika sesuatu tidak berjalan sebagai mana mestinya akan dikenai sanksi mulai dari ditegur, dicela, dihukum, atau dikucilkan.  Oleh karenanya ada rukun dan syarat, ada adabnya, ada juga talak ketika memang sudah tidak dapat disatukan. Tetapi ketika praktek pernikahan ada di arena ekonomi maka yang menjadi titik berat adalah soal suply dan demand  yang pertimbangannya ada pada input minimal dengan output maksimal.  Apabila pertimbangan ekonomi berjalan maka dalam keadaan rugi atau kolaps kapan saja ikatan perikahan itu bisa menjadi tidak sahih lagi. Barangkali demikianlah nikah siri dalam tempurung kepala saya. 

Tabik.

Baranangsiang, 06 Februari 2015

Catatan: Ini pandangan pribadi saya, tanpa tendensi pada agama tertentu, karena saya muslim maka yang ada dalam tempurung kepala saya adalah bagaimana rukun dan syarat nikah secara islam.

Kamis, 05 Februari 2015

FEBRUARY RAIN




Picture source: click!


Bogor, 2 Februari 2015


Aku menengok sejenak ke jendela kaca di sebelah kubikel meja kerja. Ada hujan yang deras. Butirannya meloncat-loncat di atas area parkir mobil yang berlapis aspal. Bukan sesuatu yang mencengangkan untuk melihat atau pun merasakan air langit jatuh di Kota Hujan. Tapi kali ini, suaranya melebihi musik yang aku putar dari kanal youtube di desktop kerja. Lalu ia membawa ingatan masa kecil. Sepertinya dua puluh tahun yang lalu, saat hujan sederas ini aku tengah memandangi jendela rumah, melihat loncatan air pada iringan sungai kecil dadakan di jalanan yang masih tanah. Bertanya-tanya kenapa air menari-nari seperti itu, bertanya apakah aku akan kedinginan jika bermain dalam rimanya karena ibuku selalu melarang jika aku ingin hujan-hujanan. Katanya nanti demam. Di depan jendela saat hujan, aku kecil bertanya kapan ayah pulang dari perantauan, mungkin sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi sebuah bentuk kerinduan aku kecil kepada ayahnya. 

Mataku berkaca-kaca mengingat masa-masa di mana dalam otakku belum terbersit sama sekali soal proses terjadinya hujan melalui konveksi, evaporasi, kondensasi, lalu presipitasi. Istilah itu masih terlalu jauh dari kepalaku saat itu. Aku kecil akan menghentikan pandangannya ke arah jendela dan beralih ke tempat tidur untuk pura-pura tidur siang atau mengamati ibunya yang saat itu masih muda tengah menjahit rok hijau seragam TK-nya yang jahitannya jatuh. Sebagian waktu yang lain saat hujan, aku kecil juga kerap menunggui ibunya di depan tungku, menggorengkan singkong untuknya.  Aku kecil dan ibunya adalah dua perempuan terpaut usia yang tengah bertoleransi dengan hujan dan kerinduan. Tanpa terasa air mataku menetes meskipun kutahan. Kerinduan memang tidak selalu semuluk makna kata tapi ia lebih dalam karena menjelma di lubuk kejujuran yang paling dalam. 



Memories of childhood were the dreams that stayed with you after you woke
-Julian Barnes
                

      Seandainya aku kecil sadar bahwa kelak ketika ia dewasa, waktu-waktu bersama ibunya menjadi semakin sedikit barangkali ini yang akan ia lakukan: aku kecil akan bersama ibunya terus-menerus, menggamitnya setiap kali ia berjalan, duduk bersebelahan ketika ia di rumah, memeluknya ketika tidur, semuanya demi dekat dan dapat selalu mencium aroma tubuh ibunya. Kesadaran itu ternyata lambat datang pada seorang anak, tapi sudah disadari lebih dini oleh ibunya. Maka perempuan yang aku panggil ibu selalu ada di dalam jangkauan anaknya karena tahu bahwa kelak ketika si anak dewasa kesempatan berdekatan adalah kesempatan yang langka.

         Juga, apabila aku kecil sadar bahwa kelak ketika ia dewasa, waktu-waktu bersama ayahnya menjadi semakin sedikit barangkali ini yang akan ia lakukan: aku kecil akan bersama ayahnya terus-menerus, menggamitnya setiap kali ia berjalan, duduk bersebelahan ketika ia di rumah, memeluknya ketika tidur, semuanya demi dekat dan dapat selalu mencium aroma tubuh ayahnya. Kesadaran itu ternyata lambat datang pada seorang anak, tapi sudah disadari lebih dini oleh ayahnya. Maka laki-laki yang aku panggil ayah selalu berusaha memenuhi keinginan anaknya karena tahu bahwa kelak ketika si anak dewasa akan ada pria pilihan yang akan menggantikan kedekatannya.

                Semakin beranjak dewasa, semakin hadir pula kesadaran bahwa kenyataan kebersamaan dengan orang tua adalah waktu-waktu yang sangat berharga. Mereka barangkali bukan sosok yang luar biasa yang mampu menjawab setiap pertanyaan anaknya, tapi mereka memberikan jalan supaya anaknya mendapatkan jawaban dengan menyekolahkan. Mereka juga bukan sosok kaya raya yang bisa memenuhi setiap permintaan anaknya, tapi mereka punya satu jurus jika kita mau memperoleh sesuatu yakni berusaha. Mereka bukan dokter yang mampu mendiagnosa sakit atau membuatkan resep ilmiah ketika anaknya sakit, tapi mereka melakukannya dengan mencarikan obat. Wajar saja jika kerinduan itu datang, memori kita tentang orang tua terlampau kuat. Sesendu inikah kerinduan? Menggantung dalam kumpulan air mata yang tertahan di sudut kelopak, menciptakan kesunyian pada riuh hujan yang semakin deras.