Rabu, 21 Januari 2015

Tentang Titik Nol



“Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali.”

-Agustinus Wibowo-


“Berhentilah membaca aksara-aksara dan berteori panjang lebar. Menceburlah ke jalan, jalanilah jalan, resapilah jalan. Mungkin di sana, di ujung jalan, akan kau temukan sebuah kitab kosong tanpa aksara.”

-Agustinus Wibowo-

Picture from: click!

Sederet kata di atas adalah buah pikir penulis yang bagi saya, sangat saya hormati, di usia muda ia melahirkan karya yang muncul dari hati. Agustinus Wibowo. Saya berharap suatu hari bisa bertemu dan berbagi gagasan, meskipun barangkali pengetahuan saya masih sangat jauh dari apa-apa yang ia peroleh dari pengalamannya berkelana, saya ingin menimba ilmunya. Awalnya, berkali-kali saya temui buku berjudul Titik Nol di rak Toko Buku Gramedia, tapi saya tak menghiraukannya dengan satu alasan buku itu terlalu tebal dan cukup mahal di kantong mahasiswa pasca yang nyambi kerja dengan kebutuhan uang buku seabreg, apalagi saat semester dua. Entah atas dasar dorongan apa kemudian suatu kali saya ingin sekali membaca buku bersampul biru kuning dengan gambar anak kecil yang sedang melompat dengan gagah dari atas pohon, disaksikan oleh temannya yang masih berpegangan di batang pohon. Lalu di satu kesempatan ketika saya punya rejeki, saya ke Gramedia, dan bertanya kepada pegawainya mengenai buku Titik Nol, waktu itu tidak ada di etalase. Pramuniaga menjawab bahwa yang ada adalah edisi bundel berisi tiga buku karya Agustinus, yaitu Garis Batas, Selimut Debu, dan Titik Nol. Setelah saya hitung dan masuk dalam budget, saya putuskan untuk membeli edisi bundel itu. Lantas tidak langsung saya baca, saya biarkan beberapa waktu karena isinya tingkat tinggi. Jujur saja ini bukan buku yang mudah saya cerna pada awalnya, ceritanya terlalu serius. Tapi karena itulah saya menjadi demikian jatuh cinta pada karya-karyanya.

Di satu kesempatan, saya mengikuti rombongan pendakian ke Mahameru. Berangkat tanggal 29 Desember 2013 dari Bogor menuju Malang. Di situlah awal mula saya baca Titik Nol, dengan rasa bosan, terkantuk-kantuk di kereta. Saya baca dan saya temukan satu makna baru: tentang jauh, tentang safarnama. Buku itu saya baca bergantian dengan rekan-rekan di kereta. Dan jujur saja, itu salah satu harta yang paling saya jaga selama pendakian karena perjalanan terus menerus diguyur hujan. Buku jadi lembab dan sedikit basah di pucuknya. Saya hanya baca beberapa puluh halaman pertama saja. Kemudian selesai begitu saja, tidak saya lanjutkan sampai beberapa bulan kemudian. 

Saya lihat buku itu di atas rak yang tidak terlalu rapi di kamar saya, bersatu dengan dua buku lainnya, Garis Batas dan Selimut Debu. Kemudian saya punya niatan untuk membaca kembali. Saya baca, terus terus terus, dan saya larut dalam setiap kisahnya. Tentang ibunda, tentang pemikiran yang muncul dari sebuah perjalanan panjang. Lalu saya lelah membacanya, saya berhenti lagi. Hingga saya temukan lagi keinginan untuk melanjutkan, saya bawa buku itu dalam satu tugas ke Papua-ke Sarmi dan Mimika- yang dipercayakan oleh USAID pada akhir November 2014. Saya baca lanjutan buku itu yang sudah mencapai halaman 300-an, di sela-sela kegiatan, di dalam pesawat, lalu berhenti lagi. Hingga akhirnya, minggu kedua bulan Januari 2015 saya niatkan membaca sampai akhir, tapi hanya beberapa lembar, dan kemarin 19 Januari 2015, saya akhirnya rampung membaca buku ini. Dengan air mata yang bercucuran, dengan hati yang tersentuh oleh setiap kata yang berbaris rapi yang Agustinus tuliskan untuk Mamanya. 

Bagi saya, ini adalah karya besar. Maha Karya manusia yang mampu mendalami dirinya, mengartikulasikan perjalanan dan pemikirannya. Sebagai peminat ilmu sosial khususnya Sosiologi, saya menilai Agustinus memiliki satu sense metodologi riset sosial yang mungkin tanpa ia sadari melekat dalam setiap aktivitasnya selama berjalan di India, Nepal, juga negara pecahan Unisoviet. Saya iri, sangat iri dengan kelihaiannya mendeskripsikan suasana, dengan kemampuannya menceritakan apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. 

Dari karya ini saya belajar bagaimana kejujuran dalam menghasilkan karya akan menghasilkan dampak yang luar biasa bagi pembacanya. Benar saja jika karya ini dikatakan membuka cakrawala baru dalam dunia travel writing, saya acung jempol. Selama ini travel writing dikenal dengan tulisan-tulisan tentag eksotika suatu tempat, menjual budaya dan mengkomodifikasi foto-foto eksklusif. Travel writing menjadi ajang untuk menunjukkan ‘saya pernah kemana’ ‘saya makan apa’ ‘saya beli oleh-oleh apa’ ‘saya naik pesawat apa’, dan seterusnya. Tapi dalam karya Agustinus, saya menemukan sisi lain dari travel writing yang sangat jujur, bagaimana keindahan bagi turis seringkali adalah titik nadir dari kejenuhan warga lokal, bagaimana negara-negara dengan trending topik berita dunia adalah kantong-kantong kemiskinan dan kriminal paling mengerikan, bagaimana mati adalah hakikat yang setiap waktu dapat ditemui oleh para pejalan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya membayangkan, seandainya saya yang ada di posisi Agustinus saat ia dirampok, saat ia dipukuli, saat ia harus menerobos perbatasan negara, saat harus hanyut di sungai dan hampir mati di Tibet, saat harus tidak mandi selama sebulan dan muka berkerak, saat harus masuk ke tempat pelacuran dan justru ditanya berapa harganya oleh laki-laki, saat kena hepatitis di India, saat harus minum susu yang diludahi oleh tokoh tua untuk mengobati penyakitnya, saat harus mendengar bom dan memotret tubuh yang berserak, saat harus menghadapi kenyataan bahwa penduduk yang ia potret hanya makan jawawut, saat harus melihat anak kurang gizi, terlebih saat mendapat telepon bahwa ibunya meninggal dunia, saya membayangkan, saya tidak sanggup untuk itu semua.

Seketika tangis saya pecah ketika menyelesaikan akhir buku ini. Sebuah buku yang jujur, yang menunjukkan hakikat manusia, dari kosong menjadi kosong, dari titik nol, kembali ke titik nol. Saya banyak belajar dari proses membaca yang lebih dari setahun ini. Terimakasih Agustinus Wibowo, atas karyanya, atas bukunya.  

Tabik.
Bogor, 21 Januari 2015