Sabtu, 17 Januari 2015

Pulang



Saat-saat seperti ini/ Pintu telah terkunci lampu telah mati/ kuingin pulang/ Tuk segera berjumpa denganmu//

Waktu-waktu seperti ini/ Di dalam selimut harapkan mimpi bayangan pulang/ Tuk segera berjumpa denganmu//

Kuingin kau tahu/ku bergetar merindukanmu/hingga pagi menjelang//

(Ingin Pulang-Sheila on 7)


Sebab perasaan bukan perkara kalkulasi satu tambah satu sama dengan dua. 

Kamu ingat? Si Jenius Einstein bilang bahwa tidak semua hal yang dapat dihitung bisa diperhitungkan, sebaliknya tidak selalu yang dapat diperhitungkan bisa dihitung. Perkara waktu, ia dapat dihitung dengan ukuran detik hingga tahun tapi moment di dalamnya bukan sesuatu yang bisa kita tentukan sebagai deret geometri maupun aritmatika. Sebaliknya, sebaik atau seburuk apa pun moment yang terlewati juga bukanlah ukuran untuk kita selalu merasa bahagia atau sebaliknya kecewa. Ada hal-hal di dunia yang tidak bisa kita jawab dengan logika.

Pasti kamu ingin protes. Bentuk protes dengan mengiyakan argumentasiku begitu saja. Pelan-pelan kamu akan mengizinkanku berbicara apa saja sampai tenggorokanku hampir kering dan aku terbatuk, lalu kamu bertanya “sudah?” 

Setelah itu aku akan mengangguk sambil mengambil gelas minumku, bukan karena haus tapi karena aku canggung. Aku harus segera bersiap menerima komentarmu yang meski sepenggal kata tapi bisa membuatku berpikir berhari-hari. Kamu tersenyum sambil matamu yang berwarna cokelat teduh menatap. 

“Kadang, sesuatunya harus berjalan begitu saja tanpa kita pertanyakan. Kita bertemu, bertukar cerita, kemudian akrab. Lalu suatu kali berpisah karena keputusan yang kadang ketika dipikirkan bisa lucu atau justru menjadi beban. Seperti yang kamu bilang soal Si Jenius Einstein-mu itu, tidak semua yang bisa dihitung dapat diperhitungkan, atau sebaliknya. Aku sependapat, memang ini jalannya. Soal perasaan, bukan tentang logika matematika yang ketika kamu pertanyakan lebih lanjut akan kamu temui persamaannya, rumusnya. Soal perasaan, jika kamu  berlebihan mempertanyakan dan memikirkannya, hasilnya akan berakhir dengan penghakiman.” Lalu kamu tersenyum.

Ini yang membuatku merasa kalah. Sebuah kekalahan yang aku senangi, mendengar setiap jawabanmu selalu membuatku merasa menjadi yang seharusnya. Memang ini jalannya, memang harus begini. Aku tahu setelah ini saat aku tak lagi banyak bicara, kamu pun akan diam. Kamu akan mengomentari sesekali “serius amat” dan aku menjawab datar “lagi mikir”.

“Eh ada yang cantik” katamu.

“Mana?” seketika aku berhenti dari aktivitas ‘lagi mikir’-ku.

“Ini di sebelahku” lalu kamu tersenyum memalingkan wajah, mungkin kamu juga tengah berpikir mati-matian mengapa jawaban itu keluar dari mulutmu. Ternyata kita membuktikan sendiri kata-kata Si Jenius Einstein-ku itu. Kusebut itu Einstein-ku, karena kamu tidak suka Einstein, kamu lebih suka tokoh dengan badan bergelembung aneh yang selalu main-main dengan bola api, Sungoku di Kartun Dragon Ball. 

---- 

Soal perasaan, aku berlatih untuk tidak memperhitungkannya, ia akan menemukan jawabannya sendiri pada saatnya, ke tempat seharusnya ia berlabuh. Bukan begitu? Ia akan kembali ke tempat seharusnya ia pulang.


Sesaat mata terpejam/ Tirai imaji membuka/ Semakin ku terlelap/ Semakin jelas hangat senyuman/ Tak ingin terjaga sampai aku pulang//

Sesaat mata terpejam/ Bintang-bintang menari indah/ Iringi langkahmu rangkai mimpi yang semakin dalam/ Tak ingin terjaga sampai aku pulang//

(Ingin Pulang-Sheila on 7)


Jawabanmu mungkin hanya seutas senyum lugu yang membuatku terharu. Tidak bisa diperhitungkan. Bisa esok pagi atau pun nanti lagi, suatu hari.

-Bogor setelah hujan-
 17 Januari 2015 00:24 WIB