Minggu, 11 Januari 2015

Detik Pertama



Picture from here: Click!

Pada detik pertama, barangkali itu jawabannya. 

Hati seperti apa yang masih bisa menerima kehadiran seseorang yang pernah memberikan lara? Perilaku sebijak apa yang masih mendorong otot pipi untuk tersenyum menyambut kehadiran seseorang yang sempat melemparkan garam pada luka? Tidak semua orang mampu, tidak semua orang bisa menerima. Tapi kamu mematahkan semuanya, pada detik pertama itu, kamu tersenyum dan dengan binar mata yang teduh menyambut hangat sebuah kedatangan, “apa kabar?”

Ingatan tentangmu seperti denting piano dari lagu yang pernah kamu nyanyikan, dulu sekali. Nadanya meneduhkan, menarik dua senti bibir untuk tersenyum lebih lebar, serupa kesahajaanmu yang tidak pernah kamu ada-adakan. Dari situ, perlahan terbangun sebuah pemahaman bahwa yang kita cari ternyata bukan terletak di sebuah tempat yang mewah, yang kita cari jawabannya ada di hati kita: ketenangan.

Benar, mencintai adalah tentang membebaskan, bukan mengikat. 

Menemukan diri sendiri, menyadari sepenuhnya apa yang dibutuhkan, berdamai dengan ego, mengarahkan diri pada sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya, barangkali itulah esensi dari membebaskan. Membebaskan karena mencintai. Tidak ada perasaan yang dipaksakan, tidak ada usaha yang terlalu keras untuk membuat topeng diri. Kamu, mampu menciptakan semua itu.

Hati seperti apa yang kamu miliki, hingga tak sedikit pun muncul keberanganmu? Kebebasan jiwa semacam apa yang sudah kamu rasakan, hingga setiap hal berusaha kamu maknai dengan baik? Kamu tidak marah, kamu tidak geram, tapi justru yang demikian lah yang mampu membuat kerinduan bertumbuh subur, kerinduan yang tidak disadari sebelumnya.

Mulai detik pertama ketika mata sejenak bersitatap. Aku menemukan diriku yang ternyata merindukanmu, terus-menerus.

Baranangsiang-Bogor
11 Januari 2015