Rabu, 28 Januari 2015

Soal Kamus Makna KPM



Barangkali ada yang nganggap niat banget saya sampai posting beginian, atau juga malah ada yang nganggap saya kurang kerjaan juga, apa pun itu akhirnya tetep ada yang baca. Hehe. Jadi begini, tadi malam menjelang pukul sepuluh WIBB (Waktu Indonesia Bagian Bogor) ada pesan whatsapp masuk. Jeng jeng, yang muncul adalah meme kamus yang lagi nge-trend sekarang, soal makna-makna tempat atau pun benda tapi dibikin artinya kekinian banget. Khalayak netizen apalagi yang mainannya instagram atau path mungkin sudah terbiasa dengan meme semacam itu. Tapi kali ini menjadi sedikit riweuh  suasananya karena yang dibikin makna itu jurusan waktu kuliah S1. KPM (Komunikasi Pengembangan Masyarakat) yang sekarang bertransformasi menjadi SKPM (Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat).


Jadi gini meme kamusnya:



Sumber: @tweetipb


Awalnya nggak terlalu merhatiin, tapi pas tadi pagi buka aplikasi path ternyata banyak moment repath dan beberapa komentar muncul. Nah kalau boleh saya mau ikut komen juga (kalau nggak boleh juga akan tetap komen, kok). Anyway, dari sudut pandang pemasaran meme ini cukup berhasil apalagi kalau dilihat sebagai konsumsi infotainment, soalnya banyak yang komen juga. Artinya kalau dikomenin khalayak aware soal informasi yang ada. Oke sip! Karena makna nomor 4 disebutkan bahwa analisis dan resume jurnal adalah makanan sehari-hari, jadi mau coba analisis dikit, siapa tahu makanan waktu kuliah dulu masih ada sarinya meskipun nggak banyak :D


Baiklah, mulai dari pengertian pertama. Departemen paling bahagia saat TPB.


Pagi tadi ketika saya buka aplikasi path, ternyata banyak moment repath dengan komentar macam-macam. Misalnya komentar saya sendiri: “waktu TPB gue harus nangis-nangis gara-gara Kimia sama Kalkulus” itu mata kuliah yang bikin mata bengkak, bukan karena belajar tapi karena nangis nggak bisa ngerjain ujian (emang dasar saya yang nggak pandai). Dan saya yakin di angkatan saya (angkatan tahun 2007 alias 44) banyak merasakan hal yang sama. Rantai karbon bergandengan membentuk molekul nilai IPK yang sungguh sangat MENGENASKAN. That’s fact, jadi pantes aja anak KPM pada jaman itu (saya pikir mulai dari angkatan 44-47) protes bahwa masa TPB nya bukan sebagai bagian dari departemen paling bahagia karena harus menghadapi kenyataan pahit sama mata kuliah eksakta. Beda kasusnya kalau angkatan 42-43 KPM, mungkin jadi masa paling abu-abu, masa penerawangan. Jaman dulu milih jurusan udah kayak ngantri beli bensin di menit-menit terakhir mau ada kenaikan BBM. Ngurutin dari angka 1 sampai 32 departemen yang dulu ada, kalau nggak dapat jurusan yang sesuai ya dilempar, salah satunya mungkin di lempar ke KPM. Jadi bahagianya bukan saat TPB tapi bahagianya justru pas udah masuk di KPM. Nah kalau angkatan 48 ke sini (sekarang angkatan 51), mungkin merasa bahwa TPB nya lebih bahagia, alhamdulillah, artinya perjuangan para pendahulu ada hasilnya (baca: masa-masa sulit telah berlalu). Tapi kebahagiaan anak TPB jaman dulu (42-47, cmiiw) mungkin adalah kelas kuliah yang disatukan lintas departemen dari A sampai I jadi temen-temennya nyebar ke mana-mana, gebetannya juga ada di mana-mana. Setahu saya dan berdasarkan informasi kalau sistem TPB yang sekarang sistemnya lebih disatukan dalam satu jurusan/satu fakultas.



Pengertian kedua, mayoritas wanita badai namun miskin pria. Kalau ini nggak banyak komen karena kenyataannya jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak daripada laki-laki.



Pengertian ketiga, hobi ngomong. Saya nggak hobi ngomong (ini beneran), cuma pada saat di KPM memang dilatih untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Nah hasilnya karena diajarin komunikasi, setiap saat adalah waktu untuk berkomunikasi buat anak KPM. Satu mulut anak KPM mewakili sepuluh orang ngomong. Pernah dapat kritik dari adik kelas “Kak, kalau minor ada anak KPM itu asli berisik banget”. Tapi salutnya, anak KPM kalau ngasih argumen memang bagus (yang bagus), mungkin ngomong bukan hobi lagi tapi sudah terinternalisasi sebagai proses pembelajaran. (Kalau komen via tulisan bukan ngomong?)



Pengertian keempat, analisis dan resume jurnal adalah makanan sehari-hari. Anak-anak KPM pasti ngalamin dapat tugas banyak untuk menganalisa bacaan baik dari jurnal maupun bahan bacaan lain. Tapi nggak sehari-hari banget kok, ada waktu kosong kalau libur, sehari-hari masih makan nasi bagi yang suka nasi.



Itu analisis ngawur dari empat pengertian KPM di meme kamus tersebut sesuai versi saya. Nah yang heboh adalah caption terakhir dengan pernyataan “masyarakat aja diperhatiin apalagi pacaran sama anak KPM”. Ada netizen yang mengubahnya jadi “masyarakat aja diperhatiin apalagi nikah sama anak KPM”. Mungkin gemes karena udah masanya nikah tapi kamusnya masih nyantumin pacaran. Jadi asumsi saya, mungkin yang bikin meme masih jomblo, nggak apa-apa, setiap kesulitan akan bertemu jalan kemudahannya, setiap kejombloan akan bertemu dengan jalan pasangannya.

Karena tujuannya untuk menghibur, nggak ada salahnya juga dimaknai empat poin itu, cuma karena lintas generasi angkatan jadi berasa nggak sreg dikit. kecuali memang tujuannya ilmiah mungkin harus sesuai kaidah pembuatan definisi operasional seperti yang didapat jaman BMI,MPS, SP, Proposal, Skripsi, de el el. Nah anak KPM pasti inget masa-masa itu.



Overall, untuk analisis ngawur saya, itu sudut pandang pribadi sebagai lulusan dan sampai sekarang masih suka muncul tiba-tiba di KPM sambil nyengir karena capek naik tangga ke lantai 5. Soal meme, itu kreativitas, soal komen juga kreativitas (nggak mau kalah). Yang jelas, kalau ditanya gimana perasaannya (pernah) jadi mahasiswa KPM, bangga tentunya. Dalam hati, saya sedang teriak yel-yel “we are the FEMA KPM, we are the FEMA KPM, Ka Pe Em” sambil bayangin masa-masa cupu hingga beranjak dewasa muda di sana (masih nyoba nganalisis ngawur pake teori POD). Masing-masing kepala akan punya memorinya sendiri tentang KPM, untuk saya, saya bangga pernah menjadi bagiannya. Berkenalan dengan leluhur seperti Karl Marx, Max Weber, Paulo Freire, Ivan Pavlov, Clifford Geertz, Robert Redfield, dan teman-temannya. Siapa itu, sudah lupakan saja, nanti jadi komen panjang lagi. Yang terpenting selama di KPM bisa berkenalan, berteman, dan bersahabat dengan orang-orang hebat, dosen, teman seperjuangan, kakak kelas, adik kelas, Pak Piat, Pak Haji, Trio Macan, semuanyaaaaa. KPM juara banget! Selamat sudah akreditasi internasional :)


Sekian, salam hijau toska! 

28 Januari 2015 (Masih Waktu Indonesia Bagian Bogor Sebelum Makan Siang)