Selasa, 08 September 2015

Semua Ada Ahlinya



Picture form here: Click!

"Repetition is the mother of skill."
 (Anthony Robbins)

 
Berbicara tentang keahlian tidak selalu dihubungkan dengan level pendidikan. Sayangnya salah kaprah penafsiran bahwa orang yang ahli adalah orang yang berpendidikan membuat berbagai profesi menjadi termarginalkan. Misalnya pembuat bakso dan gorengan, tukang tambal ban, tukang parkir, pedagang kaki lima dan berbagai profesi lain di sektor informal. Sewaktu saya mengambil mata kuliah sosiologi kemiskinan di jurusan Sosiologi Pedesaan IPB, saya ingat pernah ada pembahasan kritik terhadap Undang-undang kita mengenai pengertian sektor informal yang sebenarnya kurang tepat untuk diterapkan. Persoalannya adalah soal keahlian yang dianggap linear dengan ijazah seseorang. 


Kenyataannya keahlian seseorang tidak melulu ditentukan dari pendidikannya. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting, tetapi bukan penentu utama. Kalau seseorang mau menjadi ahli penyakit hewan misalnya, dia harus kuliah hingga memperoleh gelar doktor dari jurusan patologi hewan, itu benar. Kemudian jika sang doktor patologi hewan tersebut berkendara kemudian di tengah perjalanan ban mobilnya bocor dan karena ia tidak memiliki keahlian untuk mengganti ban dengan ban serep maka ia mencari tukang tambal ban untuk memasangkannya. Ilustrasi tersebut kira-kira menunjukkan bahwa orang yang ahli dalam satu bidang belum tentu bisa di bidang lainnya. Sang doktor patologi hewan tidak ahli mengenai tambal ban dan sebaliknya tukang tambal ban juga tidak ahli mengenai vaksin apa yang digunakan jika sapi mengalami infeksi jamur di seluruh kulitnya. Semua sudah ada porsinya masing-masing.

Sekali lagi keahlian menurut saya tidak selalu linear dengan pendidikan. Keahlian adalah soal keterampilan yang terus diasah dan menjadi brand  seseorang dalam kehidupannya. Salah kaprahnya negeri ini memaknai keahlian kemudian tidak hanya meminggirkan profesi tertentu, tetapi juga di lembaga pendidikan sendiri sebagai tempat “ditempanya” keahlian seseorang juga kerap terjadi marginalisasi program studi tertentu. Program studi A dianggap lebih bonefide daripada program studi B, mahasiswa fakultas A lebih pintar dari pada fakultas B karena ilmu yang dipelajari dianggap lebih “sulit”. Mirisnya hal tersebut berlangsung terus-menerus dan bahkan sudah diluar kesadaran, seakan-akan sudah wajar untuk menyudutkan satu jurusan dengan jurusan yang lainnya. Kenyataan sebenarnya, tidak ada program studi yang lebih baik, tidak ada ilmu yang lebih sulit, tidak ada mahasiswa yang lebih pintar. Sebab jika komparasi-komparasi yang selama ini menjamur itu benar, maka satu-satunya tolak ukur kepintaran dan keahlian hanyalah indeks prestasi kumulatif. Kenyataannya: TIDAK.

Dalam ajaran agama disebutkan jika sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Kembali lagi ke analogi doktor patologi hewan, jika dia memaksakan diri untuk mengatasi ban bocornya sendirian padahal dia tidak memiliki keahlian dalam bidang itu maka besar kemungkinan akan salah atau terjadi kecelakaan selanjutnya. Sebaliknya jika tukang tambal ban dipaksa untuk mengatasi penyakit infeksi jamur pada sapi, mungkin saja dia akan ikut terinfeksi. Sama halnya dengan mahasiswa yang selama ini merasa jurusan A lebih bagus daripada jurusan B, dalam hal sederhana misalnya, seorang mahasiswa komunikasi yang ahli dalam negosiasi diminta untuk menyelesaikan soal algoritma, hasilnya mungkin tidak maksimal. Sebaliknya mahasiswa matematika diminta untuk membuat iklan produk, hasilnya juga mungkin tidak maksimal. Analogi tersebut tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Semua keahlian bisa dipelajari dan proses belajar itu tidak hanya terbatas di bangku sekolah. Doktor patologi bisa mempelajari cara tambal ban, tukang tambal ban bisa belajar menyuntuk sapi, mahasiswa komunikasi bisa belajar matematika, mahasiswa matematika bisa belajar cara mengiklankan produk. Namun yang disebut ahli adalah mereka yang menekuni. Ada banyak orang tanpa gelar profesor, doktor, master, sarjana yang justru sangat ahli dalam satu bidang tertentu. Terima kasih untuk pembuat bakso, pembuat donat, tukang sampah, ibu laundry, tukang tambal ban, pembuat ikan asap, dan semua ahli di dunia yang tak bergelar.

Mari berhenti untuk memandang sebelah mata mengenai profesi tertentu sebab semuanya butuh keahlian, dan keahlian itu diasah terus menerus.

Bima, 08 September 2015
14:21 WITA

Selasa, 01 September 2015

Membangun Komitmen Sebagai Perempuan



Picture from here: click!
"You don't marry someone you can live with, you marry the person you can't live without."
 -Author Unknown-

Sebelumnya dalam benak saya terbersit bahwa kebebasan sebagai seorang perempuan akan terenggut seiring dengan pengambilan keputusan untuk menikah. Sampai akhirnya saya berada dalam kondisi menjadi seorang istri. Bagi saya sekarang, menjadi istri bukan mengambil hak kebebasan seorang perempuan. Menjadi istri adalah titik balik untuk menjadi perempuan yang sebenarnya, sebuah transformasi besar untuk membangun generasi dan upaya perbaikan diri terus-menerus.

Mengapa saya sebut ini adalah sebuah transformasi besar? Sebagai seorang perempuan yang mengedepankan kebebasan berpikir, pada awalnya sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan ego pribadi yang seringkali merasa paling benar, terlalu keras dengan diri sendiri, atau pun rasa mandiri yang selama ini sudah melekat cukup membuat repot upaya untuk menerima pendapat orang lain (read: pasangan, suami).  Tapi mungkin inilah keajaiban dan berkah pernikahan, perlahan, justru sisi perempuan saya muncul. Alih-alih merasa repot dengan segala yang melekat pada diri saya yang cukup keras kepala selama ini, saya menjadi bersyukur dengan setiap kondisi yang pernah saya alami, pernah saya lewati. Dan tentu saja, saya sangat sangat bersyukur hidup dengan suami saya yang sangat luar biasa. Benar, Tuhan tidak pernah mengingkari janji, menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Menciptakan pasangan dari manusia laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi.

Saya mencoba berpikir dan bertindak dengan lebih sederhana, tapi mudah-mudahan lebih berarti. Tidak ada salahnya seorang perempuan memiliki kebebasan berpikir, bagi saya itu harus, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu untuk mengelola pemikiran/gagasan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bukan untuk melawan pendapat orang lain secara asal-asalan, apalagi menjadi tidak hormat kepada pasangan. Perempuan yang memiliki kebebasan berpikir seharusnya memiliki kesadaran untuk terus menerus meningkatkan kapasitas diri dan meng-upgrade kemampuannya untuk membangun keluarga yang semakin baik. Mampu mengasihi generasi penerus yang ia kandung, lahir, dan besarkan dengan didikan yang cerdas baik secara intelektual maupun emosional.

Tidak ada salahnya juga perempuan mandiri sejak sebelum menikah. Banyak makna mandiri di sini, misalnya mandiri secara finansial dan kemandirian sikap. Sepanjang hal tersebut tidak mengurangi esensi dari kehidupan bersama yang dibangun oleh pasangan suami istri. Kemandirian finansial seorang perempuan ketika sudah bersuami harus dipahami sebagai sebuah upaya supporting  yang tentu saja tidak berlebihan dan tidak meminggirkan peran suami, apalagi membuat seorang istri merasa lebih superior. Kemandirian sikap misalnya, tidak manja berlebihan dan mampu menjaga nama baik keluarga ketika suami berada di luar rumah.

Membangun  komitmen sebagai perempuan dari seorang lajang menjadi seorang istri adalah transformasi besar. Benar bahwa akan ada banyak hal yang mungkin tidak lagi sama seperti ketika masih lajang, namun saya percaya akan ada lebih banyak hal baik yang terjadi saat ini, karena saya menjalaninya bersama pasangan saya yang terbaik, tidak lagi sendiri.

Bima, 01 September 2015
14:53 WITA

Rabu, 17 Juni 2015

Marhaban Ya Ramadhan

Picture source: Click!

Semalam akhirnya mendengarkan keputusan sidang isbat yang disampaikan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin, bahwa awal ramadhan diputuskan pada tanggal 18 Juni 2015. Sebelumnya pimpinan organisasi masyarakat PP Muhammadiyah juga sudah menyampaikan bahwa Muhammadiyah menentukan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari kamis tanggal 16 Juni 2015. Akhirnya pelaksanaan awal puasa yang biasanya berbeda hari antara Muhammadiyah dan pemerintah bisa berlangsung sama tahun ini. Semoga Idul fitrinya juga tidak terbelah jadi dua. Alhamdulillahirabbil 'alamin...

Postingan ini tidak akan membahas penentuan awal Ramadhan, hanya sebuah ketak-ketik sederhana untuk merayakan sukacita awal bulan yang sangat tenang, bulan penuh hikmah, bulan kekhusyukan. Time flies so fast, kayaknya baru kemarin lebaran idul fitri, sekarang udah Ramadhan lagi, umur sudah terus berkurang, amal belum maksimal, hidup harus banyak dibenahi. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk menghirup udara ramadhan yang selalu terasa lebih sejuk dari biasanya. Semoga puasa tahun ini menjadi kebaikan bagi semua.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1436 H, semoga menjadi ibadah yang berkah....

Taqabbalallahu minna wa minkum, Taqabbal yaa kariim...Minal aidin wal faizin...
Marhaban ya Syahro Shiam.. Marhaban Ya Syahro Mubarook

Jumat, 15 Mei 2015

Tentang Pertemuan



Untuk Dhamar,


Di sinilah ketakjubanku atas tujuan penciptaan manusia menjadi sebuah bukti bagi diriku sendiri. Jadilah kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, dijodohkan dari jenis kita sendiri dalam kesyukuran dan kebahagiaan. Demikianlah kita yang saling menemukan dengan kehendak mulia. Kita adalah dua manusia yang akhirnya mendapati jawaban atas pertanyaan hidup tentang waktu terbaik untuk bertemu. Kita mengambil keputusan tanpa perlu dipaksakan, kita yakin tanpa tendensi keangkuhan. Aku dan kamu saling mendapati kesempatan terbaik yang telah dinantikan di sepanjang hidup kita sebelumnya.


Ingatkah bagaimana kita saling menyapa? Dua orang asing yang canggung akan bahasanya masing-masing. Kita berkehendak namun bijak, menyadari bahwa ada yang Maha Membolak-balikkan hati. Lalu waktu membuat kita akrab dan menjadi dua orang manusia yang saling mengisi, dua manusia yang saling menguatkan. Parasmu dalam imajiku, suaramu dalam setiap dengarku menjadi nyata dalam suatu waktu. Kita telah akrab meskipun belum saling menatap, kita telah saling percaya meskipun interaksi kita sebatas gelombang suara.


Saat itu, kutitipkan diri pada sebuah gerbong kereta dari Selatan ke Utara. Menuju ke arahmu. Partikel udara Ibu kota lalu menjadi bagian dari episode pertemuan kita yang pertama. Pertemuan yang menjadi jalan untuk saling meyakinkan diri, menyelami hati dan jalan pikir masing-masing. Barangkali saat itu adalah perkenalan kita yang sebenarnya. Kita adalah dua orang asing yang belum pernah saling bertemu namun memutuskan untuk saling mengulurkan tangan, kemudian menyatukan hati.


Sebelum bertemu denganmu, aku adalah seorang pemimpi yang berpetualang dalam imajinasiku sendiri. Mengangankan perjalan terjauh ke tempat-tempat di berbagai penjuru dunia, memberitakannya, dan menikmati kebanggaannya. Pada akhirnya aku sadar bahwa perjalanan terjauh bukanlah soal jarak, bukan tentang kebanggaan mengunjungi tempat-tempat terbaik. Perjalanan terjauh adalah tentang kebahagiaan yang kita usahakan terus menerus, kita pupuk di keseharian kita hingga menjadi waktu-waktu yang berkualitas. Kali ini, versi perjalanan terjauhku adalah menjadi pendampingmu setiap waktu. 


Jika bertemunya dua orang yang saling menyayangi adalah bentuk melengkapi yang saling menghebatkan, maka sesungguhnya kita tidak memerlukan orang yang sempurna untuk membuat kita menjadi hebat. Sebab melengkapi adalah mengisi ruang, bukan memaksakan sesuatu yang sudah penuh. Kita tahu bahwa waktu-waktu yang kita lewati tidak akan selalu mudah, hari-hari yang kita jalani tidak akan selalu sesuai dengan harapan. Tetapi dengan bersama kita akan saling menguatkan dan kita terus menghebatkan.


Pada bilangan usiamu yang ke-27 aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah lahir ke dunia, terima kasih telah hadir, terima kasih telah menepati janji untuk menjalin ikatan suci. Semoga Penggenggam Hati selalu meluruskan niat kita, selalu menguatkan langkah kita, selalu  membaikkan kebersamaan kita. Selamat ulang tahun kekasihku, mari bersiap-siap untuk kebersamaan yang panjang. Setiap waktu, di hari-hari berikutnya, di tahun-tahun yang akan datang kita akan mengenang bagaimana kita bertemu dan bagaimana kita jatuh cinta.


Selamat Ulang Tahun, Dhamar;

Kota Hujan, 15 Mei 2015

Minggu, 10 Mei 2015

IF THEY WERE THE PRESIDENT



Picture Source: Click!
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." 
--Soekarno-- 

Kamis lalu saya masuk kelas praktikum yang saya ampu dengan pembahasan yang sangat menarik. Mata Kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan (KOK) di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. kali ini membahas tema kepemimpinan. Topik khusus yang dipilih adalah “If I Were The President”, mahasiswa saya ajak untuk berselancar di alam kritisnya untuk membuat essay dengan topik tersebut di minggu sebelumnya. Kemudian hari ini mahasiswa mempresentasikan gagasannya di depan rekan-rekannya.

Di sini saya menemukan bahwa cikal bakal pemimpin negeri yang kritis dan cerdas sedang tumbuh dan berkembang. Seorang mahasiswi bernama Astrid mempresentasikan dengan bergas mengenai imajinasinya di masa yang akan datang: hukum mati koruptor di Indonesia. Kemudian, mahasiswi selanjutnya yang mempresentasikan essaynya adalah Caca, dia menyampaikan keprihatinannya atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia: kurangi jatah fasilitas untuk pejabat dan menteri dan alihkan untuk subsidi masyarakat miskin. Suaranya sedikit gemetar ketika menyampaikan keperihatinannya akan banyaknya masyarakat miskin yang menjadi gelandangan dari lansia hingga anak kecil. Lalu presentasi disusul oleh mahasiswa yang lainnya yang hampir sama menyampaikan persoalan krusial negeri ini: kemiskinan, pendidikan, keamanan, kesehatan, dan kasus korupsi.

Indonesia harus optimis dengan generasi yang kritis dan tidak apatis seperti mereka. Negeri gemah ripah loh jinawi ini punya anak kandung Ibu Pertiwi yang memiliki visi misi hebat untuk masa depan. Kehebatan itu tumbuh dari proses pendidikan yang benar dan menciptakan kesadaran kritis (conscientization) bahwa setiap orang harus berdaya. Saya bangga mendengarkan paparan rekan-rekan mahasiswa mata kuliah KOK tersebut, seperti berpetualang ke alam pikir yang masih segar dengan niat perjuangan tanpa embel-embel gengsi ataupun politisasi.

Membayangkan jika salah satu di antara mereka menjadi pemimpin Indonesia dengan kepedulian dan idealisme yang masih sama seperti saat ini maka alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini. Merah putih akan berkibar gagah bukan karena tiangnya yang tinggi tetapi sebab makna merah darah dan putih tulang benar-benar menunjukkan anatomi badan Indonesia yang merdeka. Alangkah beruntungnya masa depan bangsa ini memiliki generasi penerus yang cerdas, hingga gema Indonesia Raya tidak sekedar aransemen musik tetapi ruh dari kejayaan tertinggi yang diperoleh dari optimisme dan kepedulian.

Saya bangga dengan adik-adik mahasiswa itu yang tengah mempertajam daya pikir dan kepekaannya atas persoalan negeri ini. Mereka yang memilih untuk menuliskan gagasan mereka dengan bijak dibanding berkoar-koar dengan pengeras suara tanpa tahu tujuannya. Saya tahu essay yang mereka buat bukan pekerjaan instan, mereka membaca dan mengolah informasi menggunakan daya nalar mereka dengan sangat baik. Selamat Indonesia, ada penerusmu yang tengah tumbuh dan berkembang.  Saya bangga menjadi Indonesia.

Bogor, 10 Mei 2015


Selasa, 31 Maret 2015

The Power of 'Take Care'


Picture source: Click!
"Take care of your body. It's the only place you have to live." 
-Jim Rohn-

Beberapa waktu yang lalu setelah uring-uringan dengan tingkat kesabaran yang perlu terus di-upgrade, alhasil saya mengalami flu berat sebagai imbas dari ketidaksabaran saya sendiri. Kondisi hidung yang terus meler dan kepala yang juga ikut pusing membuat pagi saya sedikit kacau saat itu. Dalam kondisi demikian, saya harus segera ke kampus karena ada jadwal mengajar.

"Take Care...."  satu pesan yang saat itu sedikit saya abaikan sebagai efek dari ketidaksabaran saya sebelumnya.

Pukul 08.30 WIB saya  menuju ke lokasi dimana angkot 03 biasa mangkal di Baranangsiang yaitu depan pintu Kebun Raya Bogor (KRB). Sambil menahan hidung saya yang  bersin-bersin dan kepala yang terasa berat, saya terus berjalan sampai mata menemukan satu angkot yang sedang ngetem. Saya langsung naik dan tidak terlalu memperhatikan kondisi angkot. Saya hanya sadar bahwa di dalam angkot tersebut ada satu penumpang laki-laki yang duduk di sebelah sopir dan satu lagi penumpang laki-laki duduk di bangku isi empat di belakang.Setelah saya ada satu penumpang perempuan yang kemudian naik sehingga total penumpang pada saat itu adalah 3 di belakang dan 1 di depan. Setelah penumpang terakhir masuk, angkot melaju kencang melewati rumah sakit PMI dan berbelok ke arah sempur. 

Saya membuka tas dan mengecek pesan hp saya dan belum sadar dengan kondisi angkot. Pada saat membuka hp, di jalanan sekitar lapangan sempur, penumpang laki-laki yang duduk di belakang tiba-tiba mepet ke arah saya dan memperhatikan resleting tas saya yang terbuka. Buru-buru saya masukkan hp dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa meski sebenarnya jantung sudah deg degan parah karena cemas akan terjadi hal yang mengerikan (dicopet, koban pelecehan seksual, dll). Dalam posisi penumpang laki-laki yang masih duduk di sebelah saya, saya mencoba untuk memperhatikan sekitar. Kondisi benar-benar tidak saya harapkan, kondisi jalanan macet dan bukan waktu yang tepat untuk turun. Pikiran saya sudah menuntuk untuk segera turun, saya ingat pesan sahabat saya yang beberapa hari sebelumnya mengalami situasi yang mencekam di angkutan kota juga. "Kalau ada gerak-gerik yang mencurigakan, mending turun."

Dari ujung mata saya, penampilan lelaki yang duduk mepet ke sebelah saya (dalam kondisi bangku angkot sangat lowong) tampak biasa dan justru terlihat seperti orang gila dan atau mabuk. Jantung saya makin terpompa. Sambil terus erat memegang tas, saya berdoa semoga macet di jalur Jalan Jalak Harupat segera usai, saya akan segera turun di depan Istana Bogor. Pada saat berharap, tiba-tiba laki-laki yang di sebeah saya tadi langsung berpindah tempat duduk ke sebelah perempuan yang naik setelah saya. Perempuan itu tengah membuka dompetnya. Mungkin memang ini orang gila, pikir saya. Penumpang perempuan itu mengedipkan matanya ke arah saya dan seperti memberi kode untuk segera turun. Tidak berapa lama, kendaraan mulai berjalan dan hampir sampai di dekat lampu merah depan Sekolah Regina Pacis. Akhirnya saya bilang ke sopir angkot untuk turun. Dalam kondisi was-was, saya buru-buru turun dan mencoba untuk menenangkan diri bahwa tadi di dalam angkot saya masih baik-baik saja.

Tidak ada adegan pencopetan atau pelecehan seksual, tapi saya tetap merasa harus waspada melihat gerak-gerik penumpang yang aneh. Maraknya kasus pembegalan, pencurian dan pencopetan di kendaraan publik rasanya menjadi alarm bagi setiap orang untuk tetap waspada di mana pun berada. Tidak berapa lama saya men-stop angkot lagi dan menelpon sahabat saya yang pernah mengalami hal serupa (kasusnya lebih mencekam) di dalam angkot jurusan Cisarua-Sukasari. Dari cerita saya, disimpulkan oleh sahabat saya bahwa mungkin laki-laki yang ada di dalam angkot memang punya niat tidak baik (mencopet) atau juga ganggan kejiwaan seperti hypersex. It was terrible! Daymare!

Karena jam menunjukkan hampir pukul 10 dan saya harus masuk kelas pukul 10.15, saya memutuskan untuk naik ojeg dari terminal Laladon sampai kampus IPB. Dalam perjalanan, terjadi percakapan dengan tukang ojeg.

"Kesiangan ya Teh?" tanya Bapak Ojeg.
"Hehe tadi di sempet ganti angkot dari Baranangsiang Pak, pas turun saya berhenti dulu, ada orang yang gelagatnya aneh di angkot."
"Wah hati-hati Teh, dulu Bapak pernah jadi sopir angkot 03, pernah juga kejadian ada orang mepet-mepet gitu ngambil barang milik penumpang. Bapak nggak bisa apa-apa meskipun sudah kelihatan dari kaca depan."
"....."
"Biasanya berkomplot gitu Teh..."
"...."
"Hati-hati Teh lain kali ya, bukan curiga tapi waspada."

Hari itu ketika baru masuk kelas, saya mengawali kelas dengan cerita perjalanan saya dari Baranangsiang hingga Dramaga kepada teman-teman mahasiswa yang mengikuti Praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan. Hari yang menegangkan di waktu pagi, tapi memberikan saya pelajaran berharga tentang makna doa yang sederhana: Take care. Kemudian saya ingat bagaimana ketika terjadi tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 akhir tahun 2014 lalu yang menyadarkan sesiapa bahwa kalimat sederhana seperti "have a safe flight" memiliki makna yang mendalam dan menjadi doa. Then, i thought that "take care" also has a great meaning to everyone who walk somewhere. Juga, tentang ketidaksabaran yang efeknya menjadi tidak baik bagi konsentrasi

Keep take care of ourself, tetap waspada. Terlebih, hati-hati kalau naik angkutan umum.

Bogor, 31 Maret 2015

Senin, 23 Maret 2015

Melengkapi

Jika bertemunya dua orang untuk saling menyayangi adalah bentuk melengkapi yang saling menghebatkan, maka sesungguhnya kita tidak memerlukan orang yang sempurna untuk membuat kita menjadi hebat. Sebab melengkapi adalah mengisi kekosongan, bukan memaksakan sesuatu yang sudah penuh.
   -Turasih-


Rabu, 11 Maret 2015

Rahasia Itu Tidak Ada

www.goodreads.com
 “Kita tidak boleh lupa bahwa impian manusia dalam sekejap bisa berubah menjadi kegandrungan. Betapa cita-cita bisa menggelapkan kebijakan seorang pemimpin. Dalam mengejar keberuntungan, kita harus membentengi diri dari niat-niat kotor dan berusaha bertindak dengan keberanian dan penuh kepribadian, jujur, serta terhormat.”

(Strategi Hideyoshi, hal 81-82)





Saya membaca buku yang berjudul Strategi Hideyoshi, sebuah karya fiksi yang dikaitkan dengan kisah seorang Samurai Jepang bernama Hideyoshi. Ketertarikan saya untuk membaca buku ini diawali dengan satu kata yang muncul di dalam buku itu yaitu “petani”. Saya pikir buku ini bercerita tentang petani secara utuh, ternyata dengan penokohan petani yang mencari tahu kebijaksanaan Hideyoshi. Pada awalnya saya masih buta sama sekali tentang siapa itu Hideyoshi yang ternyata sangat terkenal dalam sejarah pembangunan Negeri Matahari Terbit, Jepang. Dua orang petani yang bernama Jiro dan Gonsuke mencari Hideyoshi untuk menggali kebijaksanaan. Buku ini membuat saya terbawa dalam kisah kebijaksanaan Hideyoshi yang dituturkan secara ringan dan sederhana, jauh berbeda dengan kebanyakan buku-buku motivasi yang menjamur di toko buku. Mungkin karena setiap kisahnya dituturkan dalam gaya fiksi.


Hideyoshi seorang yang digambarkan kecil, muka mirip monyet, dan berasal dari kalangan sangat miskin menjadi tokoh nyata yang difiksikan dalam alur-alur gagasan bijaksana. Buku ini tidak menceritakan Hideyoshi sebagai tokoh yang berwujud namun lebih kepada nilai-nilai kebijaksanaan dan ajaran Bushido yang dipahami oleh orang-orang yang telah berguru pada Hideyoshi. Salah satu hal yang paling menarik adalah tentang kebijaksanaan yang disebutkan bahwa: RAHASIA ITU TIDAK ADA.
 

Beberapa kutipan yang menurut saya penting dan mengena yaitu:


“Takdir tidak membedakan-bedakan siapa pun dalam mencurahkan keberuntungan.”

“Keberuntungan ditingkatkan melalui usaha manusia sendiri.”

“Seseorang bisa mengasah bakatnya melalui pengabdian tanpa kenal putus asa sehingga keberuntungan dapat menghampirinya.”

“Keberuntungan tidak dibentuk dengan sendirinya, kekuatan ini muncul karena pengabdian seseorang dalam mengerahkan keterampilan dan usahanya sendiri. Ia meraih keberuntungan dengan memanfaatkan kesempatan.”

“Rasa syukur mengundang keberuntungan.”

Makna “rahasia itu tidak ada” dijelaskan melalui bagaimana seorang Hideyoshi memahami tentang keberuntungan yang bisa diperoleh seseorang. Hal terpenting bukanlah menunggu keberuntungan itu datang, tetapi bagaimana mengusahakan keberuntungan itu dapat terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwa kekuatan doa bukan dari bagaimana kita melantunkannya setiap hari sampai kening berwarna hitam, tetapi doa terwujud dari sejauh mana kita mengusahakannya dalam bentuk nyata.

 
Lalu mengapa rahasia itu tidak ada? Banyak orang yang percaya bahwa setiap kesuksesan seseorang memiliki kunci khusus yang menyebabkan tidak setiap orang mampu mencapainya. padahal kesuksesan dijanjikan kepada semua orang yang mau mengusahakannya. Setiap orang sudah tahu bahwa “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, halal pangkal berkah” dan sebagainya, sesuatu yang sudah berlaku umum tidak menjadi rahasia lagi. 

Hidup ini bukan milik segelintir orang yang menguasai pasar-pasar dunia, bukan pula milik para ilmuwan yang menciptakan doktrin-doktrin kehidupan, juga bukan milik para penguasa yang memegang kendali atas parlemen dan rakyat. Hidup ini adalah keputusan kita sendiri, kita perlu percaya bahwa sesuatu yang paling mampu mengendalikan kita adalah kehendak kita sendiri –selain kehendak Tuhan juga berlaku, tentunya-. 

Toyotomi Hideyoshi orang yang memiliki kebijaksanaan, memperoleh keberuntungan yang tidak disangka oleh banyak orang adalah sosok yang mengusahakan keberuntungannya dengan mengabdi. Melalui pengabdiannya, loyalitasnya, meskipun diawali dengan menjadi pembawa sandal seorang bangsawan namun kemudian ia memperoleh nilai hidup yang tidak semua orang bisa dapatkan. Mengapa? Karena ia mengusahakan keberuntungannya dengan penuh keyakinan dan rasa syukur. 

Tabik,
Bogor, 11 Maret 2015