Rabu, 31 Desember 2014

Kaleidoskop 2014


Kita tidak pernah tahu kapan semuanya akan dimulai, pun kita tidak akan pernah tahu kapan ada akhirnya. Sebagai manusia, kehebatan kita hanya sebatas menduga, memprediksi, atau dalam makna berikutnya yang lebih sering kita lakukan adalah berprasangka. 2014 memiliki makna yang mendalam bagi banyak orang, bisa terkait karena resolusi yang dibuat di penghujung tahun 2013 lalu melibatkan diri terwujud satu persatu di tahun ini, atau pun karena banyak hal yang tak terduga justru terjadi.

Bagi saya sendiri ini tahun yang besar dimana saya beroleh kesempatan untuk belajar dan merenungi banyak hal. Di awal tahun saya beroleh cobaan sakit tipus, DBD, sekaligus gangguan hati yang membuat saya sadar sekali bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat tertinggi yang diperoleh manusia. Saya kemudian tahu bahwa seberapa besar ambisi manusia, Tuhan selalu memiliki jalan yang terbaik, tegurannya dan barangkali juga cara menggugurkan dosa-dosa hambaNya adalah melalui sakit.

Hari-hari berikutnya saya menjadi mengerti mengapa keseimbangan diri antara akal, hati, dan perbuatan merupakan bentuk perwujudan kesempurnaan manusia. Lalu mengapa manusia menjadi tidak sempurna? Sebab keseimbangan tersebut tercerabut oleh ambisi yang menggebu-gebu terlebih jika dikaitkan dengan persoalan materi dan hedonisme. Untuk hal ini saya belajar bahwa ujung dari kepuasan manusia bukan dari seberapa banyak digit rupiah yang dimilikinya namun dari seberapa mampu ia mensyukuri hidupnya. Tuhan selalu mencukupkan kehidupan manusia dengan caraNya. Semakin berusaha manusia memupuk kekayaan (juga kekuasaan) maka kecukupan yang dianugerahkan tidak akan berarti apa-apa sebab ‘nafsu untuk memperoleh lebih’ mengalahkan suara hati untuk bersyukur.

2014 membawa saya untuk merenungi setiap jalinan yang saya bangun dalam interaksi saya dengan orang lain, mulai dari yang terdekat dengan diri saya (keluarga) juga semua orang di sekitar saya. Saya berniat untuk menomorsatukan keluarga saya sebelum interaksi saya dengan orang lain, mengasihi orang tua saya, memberikan yang terbaik, melindungi adik saya, melakukan apa pun yang saya bisa untuk mereka. Barangkali yang baru berhasil saya lakukan adalah tidak merepotkan mereka dan selalu mendoakan mereka. Keluarga batih saya adalah mereka yang tidak pernah pergi meninggalkan meskipun tahu seberapa buruk kondisi saya. Selanjutnya, saya tahu hidup saya di perantauan bukan apa-apa jika tidak ada orang-orang baik di sekitar saya, mereka adalah sahabat yang sangat baik. Menerima segala kelebihan dan kekurangan saya, memuji dan mengkritik, menanyakan kabar seperlunya dan tidak berlebihan, tapi saya tahu mereka selalu ada untuk saya kapan pun saya berucap tentang kegelisahan mereka selalu menjadi pendengar yang sangat baik. Didengarkan adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagi seseorang.

Ada sebagian orang yang barangkali hanya hadir sebentar di tahun 2014 ini, tapi tetap saja mereka adalah manusia-manusia yang memberikan hikmah kepada saya, baik atau pun buruk itu adalah pelajaran yang tetap saja berharga. Untuk mereka yang barangkali juga sudah lupa kapan bertemu, lupa bagaimana bisa sampai berjumpa, saya mengingatnya dengan baik untuk pelajaran-pelajaran yang bermakna.

Tahun ini bagi saya juga menjadi sebuah tahun yang menguras energi, untuk menilai mana yang tepat diterima sebagai informasi yang baik dan layak atau informasi yang sebaiknya dibiarkan saja. Pemilu Legislatif dan Pemilu presiden sejak akhir semester awal hingga sampai pertengahan semester kedua di tahun ini merupakan peristiwa besar dan bersejarah dalam hidup saya. Banyak perdebatan akibat perbedaan pandangan, banyak sekali caci maki di media, teman kehilangan teman, dan berbagai kejadian lainnya yang banyak saya resapi dan lihat di media. Demikian, manusia hanya sering menuntut tanpa sadar apa kewajibannya sebagai makhluk yang waras. Sekarang, barangkali caci maki tersebut masih berlangsung tanpa ada suara yang terdengar, tanpa ada huruf yang terbaca, tetapi yang perlu saya (dan kita) sadari adalah kebaikan dalam kehidupan berwarga negara adalah ketika diri kita sendiri mengusahakan yang terbaik untuk dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia tercinta ini, di bidang apa pun, dengan keterampilan apa pun yang baik dan bermanfaat.

Banyaknya kejadian bencana di tahun ini juga membuka mata dan kesadaran saya bahwa kuasa manusia benar-benar hanya seperti debu di padang pasir. Bahkan tidak berlebihan juga jika dikatakan, jika kita ingin mengetahui dunia maka celupkan jari kita ke dalam lautan, air yang tersisa di telunjuk kita itulah dunia. Tuhan Maha Besar dengan segala KuasaNya. Kepedihan tentang bencana bertubi-tubi hadir di penghujung tahun ini, banjir di berbagai daerah di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan, berlanjut pada bencana tanah longsor yang melanda kampung halaman saya sendiri, kebakaran pasar-pasar pusat ekonomi di Wonosobo dan Solo, juga jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Betapa rejeki, jodoh, dan mati memang ada di dalam genggamanNya, manusia hanya mampu mengusahakan dan memasrahkan.

Lalu apa yang tersisa jika keserakahan dan ambisi mendominasi ikrar resolusi tahun berikutnya?

Cukuplah berkah di tahun 2014 ini mengantarkan kesadaran untuk menjemput kebaikan-kebaikan yang dapat lebih bermanfaat di tahun berikutnya. Cukuplah teguran di tahun 2014 ini menjadi arena kontemplasi yang mengantar kesadaran kita sebagai manusia untuk menyeimbangkan akal, hati, dan perbuatan di tahun-tahun berikutnya. Semoga kita beroleh umur panjang dan berkah, rezeki yang halal dan berkah, juga kebahagiaan-kebahagiaan yang terwujud dari rasa syukur yang terus menerus.

Selamat menyambut tahun baru. Selamat menjadi pribadi yang bermanfaat.




Penghujung akhir tahun 2014 yang sunyi, 31 Desember 2014
Pagentan-Banjarnegara-Jawa Tengah