Selasa, 07 Oktober 2014

Surga

Picture from here: Click!
Siapa saya yang berani bicara tentang surga? Bukan seorang agamawan, bukan pula ahli ibadah. Tapi surga milik siapa saja bukan? Bukan hanya milik orang yang bersorban atau pun para rahib di tempat-tempat suci. Surga, itu bukan perkara agama, meski mungkin banyak yang tidak setuju tapi saya ingin melepaskan atribut agama dalam hal surga kali ini. Sudah terlalu banyak agama dan kepercayaan di dunia ini, jika surga selalu dikaitkan dengan agama maka ia juga menjadi sedemikian banyak versinya. Lalu ini surga versi saya? bukan juga, saya hanya mencoba merenungi apa yang saya dengar di suatu sore pada sebuah angkutan kota.

Seorang pengamen menggunakan penutup kepala dari ikat batik yang warnanya sudah pudar. Mungkin sudah terkena sinar matahari ratusan hari dan dicuci dengan sabun colek puluhan kali. Celana pendek kumal yang ia kenakan pas dengan sendal jepit merk pasaran yang sudah tipis. Akhir-akhir ini saya lihat postingan di instagram bahwa sandal yang serupa menjadi sedemikian top karena pernah dikenakan oleh artis Korea.  Tapi siapa peduli jika yang mengenakannya adalah seorang pengamen di sebuah angkutan kota dengan kaos oblong longgar yang bagian lehernya sudah melar?

Pengamen tersebut memetik gitar kecilnya, beberapa kata yang pertama keluar dari mulutnya terdengar sumbang. Sepanjang jalan dari Tugu Kujang hingga Lapangan Sempur, Kota Bogor, dia mengulangi reff lagu dua kali. Lamat saya dengar lagu itu familiar di telinga saya, milik Band Ungu yang judulnya saya tidak tahu.

Sesungguhnya manusia takkan bisa, menikmati surga tanpa iklas di hatinya*
Kalimat lirik itu diulang beberapa kali selama dia bernyanyi dua reff sampai akhirnya dia mendapatkan recehan yang jumlahnya mungkin tidak seberapa. Ia mengucapkan terima kasih kemudian turun di saat angkot yang saya tumpangi berjalan seperti kura-kura di tengah kemacetan Kota Bogor sore hari.

"Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya, sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya, sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya...." satu baris lirik itu selanjutnya memenuhi tempurung kepala saya. Dan bayangan-bayangan tentang surga yang selama ini didefinisikan oleh orang-orang di tempat suci menjadi tidak sepadan di pikiran saya.

Barangkali surga bukanlah gambaran di suatu tempat yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, ada buah-buahan lezat, bidadari-bidadari yang cantik, atau pun kursi-kursi kebesaran seperti yang digambarkan di film Cleopatra atau pun cerita Seribu Satu Malam. Surga itu, ketika seorang pengamen beroleh recehan yang tak seberapa tetapi tetap berterimakasih meskipun sebenarnya ia mengangankan setumpuk nominal yang lebih banyak. Surga itu, ketika kita masih bisa melihat kebaikan meskipun dunia sesak dengan hal-hal yang memunculkan kebencian dan konflik. Surga itu, tetap mensyukuri pekerjaan yang kita miliki meskipun tidak dianggap luar biasa karena kita tahu ada ribuan orang diluar sana yang sangat menginkan pekerjaan kita.  Surga itu ketika mendengar orang-orag yang kita kasihi dalam kondisi sehat dan dalam keberkahan. Surga itu, ketika kita tetap berjuang meskipun sulit.

Surga itu tentang bersyukur...

"Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya...."

*Penggalan  lirik lagu Band Ungu-Sesungguhnya.

Baranangsiang, 07 Oktober 2014