Senin, 26 Mei 2014

Negeri Laskar Pelangi

Tahun 2014 merupakan kesempatan kedua saya bisa berkunjung ke Pulau Belitung, wilayah provinsi daerah kepulauan Bangka Belitung. Bisa dibilang ini destinasi impian saya yang pertama kali bisa saya selami lewat novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sebelum bisa menginjakkan kaki di Belitung (masyarakat asli akan menyebutnya Belitong), saya membayangkan bisa menikmati pantai dengan batu-batu besar tempat Bu Muslimah mengajak murid-murid Laskar Pelangi  untuk belajar di luar kelas. Saya juga membayangkan jalanan yang dilewati oleh Ikal ketika akan membeli kapur di Manggar. Awalnya saya hanya bermimpi untuk bisa menjadi saksi hidup bahwa sesungguhnya setting novel yang ditulis Andrea Hirata benar-benar nyata. Hingga akhirnya kesempatan mengunjungi Belitong tiba dan saya jatuh hati dengan tempat ini.

Kurang lebih saya menempuh perjalanan satu jam dari Jakarta ke Belitong dengan menggunakan pesawat. Dan kali itu adalah pengalaman pertama bisa menginjakkan kaki di Bandar Udara H.AS. Hanandjoeddin di Tanjungpandan.

Foto: Dok. Pribadi

Meskipun tergolong kecil, Bandara H.AS. Hanandjoeddin ini merupakan salah satu nadi transportasi yang menjadi penghubung antar-pulau (khususnya Jakarta, Palembang, dan Bangka-Tanjung Pinang). Perjalanan itu selalu memberikan makna, meskipun hanya dengan melihat kondisi langit tempat kita berdiri. Saya selalu merasa beruntung bisa datang ke Belitong, sampai hari ini.

Jika diperhatikan, infrastruktur di Kota Tanjungpandan sudah cukup memfasilitasi siapa pun yang mengunjungi tempat ini. Bahkan ketika menelusuri jalur menuju Kabupaten Belitung Timur, jalannya pun sudah beraspal halus. Ini yang selalu menjadi perbandingan saya ketika di Jawa, jalanannya lebih sering bolong dan kasar. Pada kesempatan pertama mengunjungi Belitong di tahun 2013 saya mendapatkan berkah cuaca yang sangat cerah sehingga bisa menikmati alam dalam sorotan sinar matahari yang penuh.
Di outdoor hall yang dipersiapkan untuk kunjungan presiden ke Belitong

Pantai Tanjung Tinggi (terkenal dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi)


Pulau Belitong mendapatkan berkah alam bahari yang amat luar biasa. Pasir putih, laut biru, serta batu-batu yang mencuat di lautan menambah eksotika alam laut yang mungkin hanya bisa ditemusi secara khas di wilayah ini. Bahkan di beberapa tempat seperti di Desa Terong (jalur menuju arah Pantai Tanjung Tinggi jika berangkat dari Kota Tanjungpandan), terdapat wilayah daratan yang dipenuhi dengan bebatuan yang sangat besar.

Menurut ceritanya, konon nama Belitong diawali dari nama Biliton pada masa kolonial, nama yang berasal dari batuan luar angkasa yang jatuh di wilayah tersebut. Batu yang sampai saat ini terkenal dengan batu satam, dan jika berkunjung ke Belitong, di Kota Tanjungpandan terdapat satu tugu batu satam. Lokasi tugu tepat berada di seberang hotel Biliton.

Impresi saya untuk Pulau Belitong: more and more we explore Indonesia, we will realize that God is good :)