Jumat, 16 Mei 2014

Memahami

Picture from: click!


Pagi ini saya mendengar sebuah percakapan yang terjadi di kotak besi Bus Trans Pakuan yang membawa saya dari shelter Bubulak hingga shelter Rumah Sakit PMI, Bogor. Percakapan yang terjadi antara seorang penumpang laki-laki dan helper bus perempuan. Laki-laki itu saya tebak usianya di atas 55 tahun dengan perawakan kurus dan jambang yang sedikit berwarna putih, sang helper  rasanya tidak jauh usianya dari saya sekitar 24 tahun. 

“Apa kabar Pak?” tanya Helper  sambil tersenyum dan memberikan karcis kepada si Bapak.

"Baik, kamu jarang kelihatan?” si Bapak menimpali.

“Suka di-rolling Pak gilirannya, jadi kadang saya tugas siang” jawab si Mbak helper.

"Iya saya selalu naik jam segini.”

“Iya nggak ketemu saya ya Pak, Bapak sehat? Gimana dagangnya lancar?” dan percakapan itu berlanjut bahkan sampai di Shelter Universitas Ibnu Khaldun, sebelumnya sang Bapak naik dari Shelter Giant Yasmin. 
 
Saya kemudian berpikir dan membatin, bahkan komunikasi pun bisa terbangun di antara dua orang yang tidak saling mengenal. Yang menentukan kualitasnya adalah bagaimana dua orang tersebut bisa saling bersepakat untuk terus memberi kesempatan. Ada banyak hal yang memang tidak bisa dipaksakan dan dicocokkan, tetapi hal-hal tersebut layak diberi kesempatan. Dan kesepakatan tersebut harus ditawarkan setiap hari oleh kedua belah pihak. Tebakan saya, Mbak Helper  dan Bapak Penumpang tadi sudah beberapa kali bertemu di atas Bus Trans Pakuan. Mungkin pagi ini adalah pertemuan yang kesekian setelah lama tidak saling melihat dan menyapa satu sama lain. 

Saya mengabaikan faktor apakah mungkin mereka sebenarnya bertetangga, atau mungkin memiliki hubungan kekerabatan, hal yang lebih menarik bagi saya adalah kita manusia memiliki satu kelebihan yaitu berkomunikasi. Bahwa kita adalah homo sapiens  yang berakal, yang sadar hidup dalam relasi interpersonal. Kita hidup dalam sudut pandang masing-masing, namun kita tidak boleh memaksakan sudut pandang kita terhadap orang lain. Oleh karenanya, berkomunikasi adalah jembatan untuk saling memahami, pondasi dari terbangunnya toleransi. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari hubungan antarmanusia selain saling memahami, jangan pernah memaksakan ketidakcocokan untuk menjadi padu, jangan memaksakan bahwa garis akan selalu lurus. Hidup kita bukan potongan-potongan puzzle yang akan selalu pas sesuai dengan harapan, hidup kita adalah puzzle acak yang memerlukan waktu tidak sebentar untuk bisa membuatnya pas. 

Dan kapan kita tahu jika tidak pernah berani untuk membangun pemahaman melalui komunikasi yang baik? Jangan pernah minta untuk dipahami jika kita masih terkungkung dengan tempurung sudut pandang yang kaku.

Baranangsiang, Bogor 16 Mei 2014 13:22