Minggu, 18 Mei 2014

Melangkah



Sudah terlalu lama kita menyambangi kenangan-kenangan bisu yang teronggok di sudut ruang pikir. Mengiba pada logika padahal tengah menuruti rasa. Perlahan satu demi satu lebur seperti buih ombak yang terseret ke tepian pantai. Seharusnya memang sudah kita sadari, semua ada saatnya, semua sudah ada batasnya. Hidup bukan lagi tentang perkara penghambaan diri pada peristiwa-peristiwa dengan cara memuji atau pun mengutuknya. Sesekali waktu, dalam keterpekuran, kita perlu berbicara pada jiwa, berdialog di ruang sunyi diri dan meyakinkan bahwa peristiwa adalah pengalaman dan ia bukanlah sembahan. 


Hal ini terjadi berkali-kali: berlaku ragu bukan karena tidak tahu tetapi justru karena kita terlalu mengikat hidup yang sendu. Padahal pijak langkah kita bukan ketika ia ragu menapak, langkah berlalu karena benar-benar menjejak. Maka tinggalkanlah keterpurukan dan mulailah dengan ketegasan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang tidak hanya menutrisi jasad kita, sesuatu yang juga menghidupkan jiwa kita. Setiap kita sedang membangun ingatan, menciptakan kisah-kisah terbaik dalam hidup, dan bagaimana pun keadaannya, ketika kita memaksa lupa, sebenarnya kita sedang menolak lupa. Jika demikian, mari ciptakan ingatan yang baik yang akan kita syukuri ketika suatu hari kita mengenangnya.


Tidak ada manusia yang tidak pernah merasa takut, demikian kita, makhluk sempurna yang terlalu rumit untuk didefinisikan. Waktu yang kita lewati adalah kesempatan dimana sebenarnya kita sedang mengakrabi diri kita sendiri. Maka bukankah lebih baik  kita sulam waktu menjadi hari-hari yang indah, hari-hari yang berkualitas? 


Biarkan setiap ingatan menjalar, menjadi sulur-sulur kenangan yang menumbuhkan pohon kehidupan. Baik atau buruk, membahagiakan atau penuh luka, semuanya memiliki porsi untuk menjadi akar yang siap mengokohkan langkah kita. Kesuksesan kita tidak selalu ditentukan oleh kenangan indah atau pun masa lalu yang terus-menerus menyenangkan. Bukankah kita tahu bahwa pemuka bumi yang hebat muncul dari kesederhanaan, rasa sakit, dan mereka yang sebelumnya terpuruk tetapi akhirnya bisa berdamai dengan dirinya?


Lekas sembuh jiwa-jiwa kita, jiwa yang pengecut dengan rasa takut. Jiwa yang melemah karena merasa rendah, ini adalah momen untuk menuju puncak syukur pada Dia yang kamu (dan aku) percaya, Dia yang kita yakini. Ini adalah sarana untuk menghargai detik-detik yang kita punya dengan cara yang lebih bijaksana. Kelak, pada malam-malam dimana kita merasa gelap dan dingin, maka izinkan cahaya diri kita berpijar. Izinkan juga cahaya sekitar kita menyala agar melengkapi dan menghangatkan. Kelak, pada waktu dimana kita merasa ragu untuk melangkah, maka izinkan kesempatan berjalan di sisi kita.

Ruang 3 X 4 meter, Dramaga-Bogor, 18 Mei 2014 12:51