Selasa, 29 April 2014

Musik, Sebuah Teman Bising

Source of picture: click!

"When my headphones go in, my life automatically becomes a music video" -unknown-

Mendengarkan musik yang ada di playlist secara acak menurut saya merupakan suatu keasyikan tersendiri. Beberapa lagu saya simpan di memory card telepon seluler dengan genre yang tidak saya batasi. Tidak pandang itu pop, rock, R & B, alternative, country, qasidah, dangdut, keroncong, campur sari, campur-campur sesuai selera telinga. Tidak juga memisahkan apakah itu lagu berbahasa Indonesia, Inggris, Korea, Jepang, Jawa, Arab, dan bahkan ada satu lagu Batak yang suka sekali saya dengarkan, judulnya Dung Sonang Rohangku dinyanyikan oleh Geraldine Sianturi yang merupakan soundtrack film Demi Ucok. Bagi saya mendengarkan musik itu soal seni, soal menikmati. Bukan sebagai arena untuk membanding-bandingkan mana yang 'dikira' baik dan mana yang 'dikira' buruk. Seni, setiap orang punya jalurnya sendiri.

Mendengarkan musik secara acak itu seperti memberikan kejutan kecil dalam hidup. Kejutan kecil dari lagu yang tiba-tiba terputar dan kemudian berganti ke lagu yang lain setelahnya adalah kejutan sederhana yang membuat saya berekspresi sekenanya. Tidak perlu diatur untuk selalu tersenyum namun kadang juga mengernyitkan dahi, semuanya adalah tentang menikmati apa yang saya dengarkan.

Ada benarnya jika musik dikatakan sebagai salah satu cara terbaik untuk escape. Bukan dimaknai lari dari persoalan, tetapi dengan musik saya sendiri merasa tenggelam dalam dialognya. Tenggelam dalam tabuhan drum, petikan bass dan gitar, gesekan biola, atau pun tiupan suling. Musik elektrik atau pun disko juga sering membuatku bisa menggerakkan kepala atau kaki sembari membaca maupun menulis. Benar-benar sebuah escape yang tepat dari kebisingan dunia, sebba musik adalah kebisingan itu sendiri. Kebisingan yang memenuhi diri saya dengan energi.

Meski tidak dibesarkan dengan musik seperti apa yang dikatakan oleh penemuan ahli bahwa Mozart adalah musik yang bagus untuk janin, tapi entah kenapa saya punya ketertarikan sendiri terhadap irama dan lagu. Ibu saya tidak pernah tahu ada seorang composer bernama Mozart, bahkan hingga kini mungkin selera musik beliau terbatas pada Dewi Yull, Nia Daniati, dan penyanyi-penyanyi pop lainnya serta beberapa lagu dangdut. Pun ayah saya yang tidak tahu instrumen Bethoven tetapi sangat menggilai Rhoma Irama, Mansyur S, Meggy Z, Ona Sutra, dan juga penyanyi-penyanyi sekelasnya. Barangkali pertama kali saya berkenalan dengan irama diluar lagu Balonku, Lihat Kebunku, atau pun Soundtrack Ular Putih, maka lagu dangdut adalah irama dan melodi yang familiar di telinga saya saat kecil. Saya ingat lagu pertama yang saya dengar adalah lagu Sapu Tangan Merah yang dipopulerkan oleh Chaca Handika. Selanjutnya saya bisa klop dengan musik dangdut meskipun tidak bisa menyanyikannya dengan baik.

Meskipun saya tidak piawai bermusik, saya selalu menikmatinya. Musik menemani saya mengerjakan soal matematika (dulu waktu masih belajar matematika), menemani saya menghapal (saya lebih cepat menghapal jika telinga saya mendengarkan instrumen tertentu), menemani saya membaca, menemani saya menulis, menemani saya makan, menemani saya di angkutan kota. Musik adalah teman bising di tengah kebisingan.

Selamat menikmati musik, selamat mendengarkan. Kali ini saya sedang mendengarkan lagu Home Where the Heart Is dari Lady Antebellum :D

Dramaga-Bogor, 28 April 2014 pukul 23:57 WIB


Rabu, 16 April 2014

Doa Pagi: Untuk Cahaya

Untuk Cahaya,

Ketika pagi masih ranum, purnama semalam juga masih menyisakan cahayanya. Sebentar, embun juga tengah mencari jalan menuju pucuk-pucuk daun sebelum mentari menyirnakannya dengan evaporasi yang sempurna.

Di pagi yang ranum, barangkali aku yang terus-menerus menuturkan namamu. Berkali-kali menyelipkannya dalam doa-doa pagi. Kuhaturkan pada genggaman waktu setiap jengkal dari langkahmu siang nanti. Aku ingin menuntaskan permohonanku sebelum matahari mendewasakan waktu. Di pagi yang masih muda, aku merapalnya.

Mungkin layaknya kisah Ibrahim ketika ia menebak apakah bulan, bintang, dan matahari yang manakah yang menjadi tuhannya. Atau juga kisah Musa yang berguru pada Khidir mengenai makna kesabaran di sebagian kehidupannya. Mungkin demikianlah jiwa muda, selalu bergerilya pada tanya tentang kehidupan yang tak kunjung habis.

Sebentar lagi aku selesai mendoakanmu, purnama semalam sudah benar-benar redup. embun-embun telah luruh dan sebagian lagi jatuh ke atas tanah. Mungkin besok lagi aku akan mendoakanmu dalam rapal-rapal permohonan, sebab doa terbaik adalah bukan ketika kita merapal di setiap sujud namun doa yang menjadi laku dalam perjalanan hidup. Itulah doa yang sungguh-sungguh, doa yang dijelmakan dalam tingkah bermakna. Kucukupi mendoakanmu di pagi ini, hari ini yang harus kita lakukan adalah memenuhi janji. Menegakkan panji-panji kemuliaan sebagai manusia, melaksanakan titah kesempurnaan makhluk sebagai khalifatul fil ardl: memimpin diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

Kusudahi mendoakanmu, pagi sudah mendewasa. Selamat meneruskan gerilya untuk pertanyaan-pertanyaan hidup yang masih terus merasuki keingintahuanmu. Selamat meneruskan semangat muda yang membuatmu mencari jawab atas setiap peristiwa yang terjadi di waktu-waktumu. Selamat pagi, doaku, yakinlah serumit apapun pertanyaan hidup namun ia akan sampai pada satu titik: selesai.

“Rabbana aa tinaa min ladun ka rohmatawwahayyi’ lanaa min amrinaa rosyada”

-Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS. Al-Kahfi: 10)-

Dramaga, 16 April 2014  
Selamat ulang tahun, manusia yang selalu membanggakanku, adikku: Nurhayati, cahaya kehidupan bagi kami.

Senin, 07 April 2014

Filosofi Packing

dok. pribadi


Suatu kali ketika saya mengobrol dengan seorang teman yang tinggal di Pekanbaru melalui telepon, ia mengatakan bahwa keesokan harinya akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Seperti biasa, basa-basi ala Indonesia, saya hanya mengucapkan (dan  mendoakan) semoga dia selamat sampai tujuan. Kemudian dia bertanya kepada saya, “apa inti dari perjalanan menurutmu?” Saya menjawab dengan beberapa penjabaran bahwa perjalanan adalah sarana belajar, mengenal, dan tentu saja kesempatan untuk mendapatkan inspirasi. Dia menggumam dan saya merasa bahwa dia menganggap jawaban saya sudah terlalu umum. Jawaban yang akan mendapat nilai A jika ditulis dikertas ujian tetapi tidak mewakili yang sebenarnya diinginkan oleh si penanya.

Kemudian saya mengembalikan pertanyaan kepada teman saya tersebut, dengan ringan dia menjawab, “inti dari perjalanan adalah PACKING”. Saya lantas tertawa ketika teman saya menekankan kata packing pada jawabannya. Lantas tanpa direncanakan obrolan saat itu beralur pada pembahasan, mengapa packing
 
Mengutip dari Oxford Dictionary, packing merupakan bentuk kata benda yang tidak dapat dihitung atau uncountable dan memiliki dua arti: 1. Process of packing goods; 2. Material used for packing delicates object, to protect them. 

 Pada setiap kesempatan, tidak hanya ketika ingin bepergian biasanya sebagian besar orang lebih fokus pada apa yang akan dilakukan dan  mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan saat ini. Hingga seringkali ketika sudah tiba di tempat tujuan ada yang lupa untuk dibawa. Packing bagi teman saya adalah bentuk persiapan ketika akan melakukan perjalanan,  meskipun hanya  menyisipkan kaos kaki cadangan di saku tas juga menjadi penting baginya. Memang tidak semua orang memiliki tipe detail dan penuh persiapan, tapi bagaimana pun sekedar persoalan kaos kaki cadangan seringkali juga membuat kewalahan di tempat tujuan karena tidak dipersiapkan dengan baik.
 
Saya pernah mengalami hal yang membuat saya cukup panik akibat ketelodoran saya sendiri. Waktu itu perjalanan ke Kabupaten Bengkalis di Provinsi Riau. Rasa-rasanya semua persiapan sudah saya matangkan, ternyata ketika sampai di Bengkalis dan saya membongkar isi tas ada satu yang saya lupa yaitu kotak make up saya. Meskipun bukan tipe perempuan yang rajin berdandan, tapi setidaknya saya perlu pelembab untuk kulit muka dan juga lip balm. Payahnya saya lupa dan harus merogoh kocek untuk membeli di sana. Dari situ kemudian saya teringat kembali dengan percakapan yang mengalir bersama sahabat saya, betapa pentingnya packing. Betapa pentingnya persiapan.

“Banyak orang yang begitu fokus dengan masa depan hingga mereka lupa bagaimana untuk menikmati hari ini.” Kata sahabat saya waktu itu. “Tapi sefokus apa pun niatan seseorang untuk menikmati hari ini, setidaknya hari esok perlu dipikirkan dengan baik.” Tentunya makna packing bagi setiap orang berbeda-beda. Meskipun demikian makna dasarnya bisa menjadi sama yaitu persiapan sebelum pergi, entah kemana pun tujuannya. Selamat packing, selamat mempersiapkan perjalanan, selamat mempersiapkan hari esok.

Salam.
Dramaga-Bogor, 06 April 2014