Selasa, 04 Februari 2014

Ironi



Setiap pagi di rumah ini saya selalu merasakan kehangatan, setiap orang selalu punya alarm sendiri yang membuat mereka bergegas untuk beraktifitas. Dan alarmku justru masih menyuruhku untuk bermalas-malasan dengan dalih bahwa ini adalah sebuah liburan. Dasar sarjana banyak alasan, batinku. Dibalik selimut aku bisa menerka apa yang sedang mereka lakukan sehabis sholat subuh tadi, ibuku pasti sudah selesai menanak nasi dari tungku yang umurnya sudah lebih dari satu windu. Meskipun ada magic jar, ibuku selalu yakin bahwa beras yang dimasak di atas tungku rasanya akan lebih enak, aku akui memang demikian. Sebentar lagi ibu akan sibuk dengan rajangan bumbu-bumbu untuk masakan yang akan beliau siapkan hari ini. Ayahku  juga sudah sibuk mengasah gaman[1] untuk nanti ketika matahari mulai muncul beliau akan berangkat ke kebun. Dan aku masih malas-malasan dibalik selimut, dasar sarjana banyak alasan!

Ketika bangun aku sudah mendapati sarapan pagi yang terhidang di atas meja, lengkap dengan gorengan kesukaanku. Meski aku sarjana yang tidak tahu diri ketika berada di rumah, aku selalu dimanja dengan hal-hal yang aku sukai di sini. Pulang ke rumah adalah semacam aktifitas untuk memuaskan nostalgia. Ibu dan ayahku selalu memaklumi jika anaknya pulang akan lebih banyak tidur dibandingkan ikut sibuk di dapur atau kebun. 

Aku meneguk teh manis hangat dan menikmati pisang goreng yang masih diselimuti bekas minyak. Ada dua orang lagi yang menambah riuh pagi ini, Pak Muji dan Pak Narjo, dua orang buruh tani yang ikut membantu ayah memugar beberapa tanaman di kebun kami. Mereka ikut berkumpul di dapur, menikmati kopi pagi sebelum jam tujuh nanti berangkat ke kebun dengan menenteng cangkul dan gaman. Kebetulan tungku di rumah kami diletakkan di satu ruang terbuka sehingga bisa menjadi tempat berkumpul meski hanya satu putaran orang yang maksimal berisi lima orang.

Aku senyum menyapa mereka, ah, selalu saja orang yang pulang dari Jakarta dianggap istimewa. Mereka menghormatiku sebagai orang yang saat ini sudah berhasil berkerja kantoran. 

“Ngunjuk Mbak[2]” tawar Pak Muji ketika ia mendekatkan gelas berisi kopi hitam ke mulutnya.

“Monggo Pak, suwun[3]” jawabku.

“Ara, sini lihat sebentar” panggil Ayahku. Beliau sedang merapikan gaman dan mengganti bajunya dengan atribut untuk ke ladang. Bukan baju khusus, tapi biasanya adalah baju yang sudah jelek dan tidak lagi dipakai sehari-hari. Aku bergegas menuju tempat Ayahku berdiri, tangannya menunjuk pohon pisang.

“Petani Ra, untuk uang dua puluh ribu harus menunggu empat bulan dengan buah pisang yang tandannya sebesar itu” kata Ayahku, menunjukkan kenyataan. Aku tidak berkomentar, hanya tersenyum. Apa yang perlu dikomentari oleh sarjana banyak alasan ini?

Kenyataan yang ditunjukkan oleh Ayahku adalah nyata-nyatanya kehidupan yang dijalani oleh ribuan petani di negeri ini. Ironis, aku adalah anak petani yang dibanggakan karena sudah lulus sarjana dan saat ini bekerja di belakang meja di sebuah perusahaan ritel berbasis pertanian yang terkenal di kancah nasional, bahkan tahun ini merambah kegiatan ekspor impor produk pertanian. Aku digadang-gadang dan dipercaya menjadi manajer di tingkat regional yang gajinya ratusan kali lipat dari harga setandan pisang yang tadi ditunjukkan Ayahku. Urusan suplay dan demand produk sudah aku hapal di luar kepala, puluhan ton yang bisa aku monitor setiap minggunya. Dan jujur saja tidak satu pun di antara produk itu yang berasal dari tanah yang digarap oleh orang tuaku, tanah yang subur karena kerja keras mereka yang keringatnya tidak pernah dihitung sebagai bagian dari HOK[4].

Pernah suatu kali Ayahku sangat bersemangat untuk bisa memasok beberapa hasil pertanian ke tempatku bekerja, aku pun hampir menyanggupi saat itu. Apa yang aku butuhkan bisa disiapkan oleh ayahku dengan memanfaatkan jejaring petani ladang maupun petani hortikultur yang ada di desaku. Indonesia itu kaya raya lho, desa tempatku lahir meskipun tidak familiar dengan susu dan keju tapi kami sehat dengan hasil berkebun dan berladang. Aku menimbang-nimbang jika dengan menjadi pembeli bagi produk pertanian lokal bisa memberikan kontribusi bagi pendapatan Ayah dan petani di desaku, alangkah mulianya pekerjaanku. Apa pun jenis perusahaan yang menaungi dan menggajiku saat ini tidaklah penting, yang penting keberpihakan yang bisa aku wujudkan, berpihak pada mereka yang marginal.

Tapi semuanya serba tai kucing! Aku hanyalah sarjana banyak alasan yangn seketika itu juga kehilangan alasan. Aku mencoba membuat cashflow untuk pasokan produk yang bisa disuplai oleh ayahku. Hasilnya minus. Realita yang aku hadapi kali ini adalah soal pertarungan ideologi keberpihakan dengan ideologi ketamakan dan harga diri yang terlanjur diukur dari gaji yang kudapat. Aku saat ini membela perusahaan yang tengah menggajiku dengan konsekuensi aku menyepakati konsekuensi perusahaan. Untuk menjadi pemasok di perusahaanku, seseorang harus punya modal minimal hitungan tujuh ratus juta hingga satu milyar. Hitung-hitungan sederhananya seperti ini, petani harus mampu memasok minimal tujuh ton per 3 hari, dan secara kontinu jika dihitung adalah melakukan sembilan kali pengiriman dalam waktu satu bulan. Sembilan kali pengiriman tersebut baru dibayar. Bayaran itu akan disesuaikan dengan jumlah produk yang lolos quality control, produk yang tidak lolos akan dikembalikan ke petani.

Itu hal gila bagiku. Keberpihakanku pada petani kali ini dibatasi oleh prosedur, sering aku mentertawakan diriku sendiri. Pertama, yang kupelajari dulu sewaktu di bangku kuliah adalah sifat petani mengedepankan safety first[5], itulah mengapa ketika mereka menjual produk maka kecenderungannya dengan metode cash and carry atau ada uang ada barang. Tidak apa-apa setandan pisang hari ini dihargai dua puluh ribu daripada menunggu dihargai seratur ribu tapi uangnya diperoleh satu bulan kemudian. Lalu apa jadinya jika sembilan kali pengiriman dengan kapasitas minimal 60 ton baru dibayar sekali? Bagaimana nasib produk yang tidak lolos kontrol? Busuk dan dibuang, lalu keringat petani yang tidak dihitung dalam HOK dikemanakan? Kedua, perubahan musim dan cuaca yang tidak bisa lagi diprediksi dengan mudah akibat perubahan iklim menyebabkan petani mengalami kerugian, gagal panen atau pun hasil yang tidak maksimal. Apa jadinya jika harus memenuhi kuota perusahaan ritel dengan metode konsinyasi yang sedemikian rumit untuk ukuran petani? Bahkan tanah-tanah mereka pun harganya tidak semahal modal utama yang harus dimiliki untuk menjadi seorang pemasok. Ketiga, aku terlanjur dihargai sebagai pekerja kantoran yang juga membuat orang tuaku bangga.

Aku menghabiskan teh manis yang isinya tinggal seperempat gelas. Teh yang tidak pernah dipajang di gerai perusahaan ritel tempatku bekerja, tapi rasanya bagiku melebihi teh yang harganya puluhan ribu untuk beberapa celup. Ini adalah teh buatan ibuku sendiri. Kali ini aku berpikir, sangat sederhana dalam bayangan tapi rumit dalam kenyataan. Ada benarnya juga pemerintah menggalakkan bernasnya UKM[6] sehingga bisa mengoptimalkan produk-produk lokal dan menjadi wadah kreatifitas petani. Tapi kenapa modal UKM dibatasi dengan kisaran dibawah 300 juta? Selebihnya ketika melebihi modal itu maka harus pindah ke lokasi industri yang notabene ada di kota? Kapan petani dan pengusaha kecil akan maju jika modal selalu dibatasi oleh prosedur undang-undang? Katanya mau membangun pedesaan tapi kebijakan tetap saja bias kota.

Ah rumit kan? Aku menjadi semakin yakin bahwa sarjana masa kini dicetak untuk membuat banyak alasan. Setidaknya alasan untuk mempertahankan sumber nafkahnya, kegagahannya kerja di kantoran, dan mengesampingkan rasa bersalah atas ketidakberdayaan mengangkat ideologi yang semasa kuliah digenggam erat.

“Ra, tolong ambilkan kalkulator di meja belajar adik kamu” ayah berseru dari belakang rumah.

Aku membawakan kalkulator dan menyerahkan padanya. Pak Muji dan Pak Narjo sudah berangkat lebih dulu ke kebun. Beliau menekan tombol angka di kalkulator dan mengalikan dengan bilangan rupiah.

Ndak nyampe Bu kalau cuma 5 kwintal, ndak  nutup untuk bayar tenaga orang” kata ayahku pada Ibu.

“Kenapa Yah?” tanyaku.

“Musim seperti ini harga salak paling mahal dua ribu lima ratus sekilo, kalau 5 kwintal cuma sejuta lebih, bayaran tenaga sudah banyak” terang ayahku.

Aku membatin. Anjing! Harga sekilo salak di gerai ritel perusahaan tempatku kerja adalah sembilan belas ribu. Jelas-jelas kualitasnya di bawah yang bisa diproduksi di desa ini. Mataku panas membayangkan getirnya perjuangan Ayah dan Ibuku serta ribuan petani yang membanggakan kesarjanaan anaknya. Sarjana yang dibayar oleh pembunuh petani kecil, korporasi. Hitung-hitungan matematik seperti apa yang bisa masuk dalam logikaku bahwa konsep agribisnis yang diagung-agungkan mampu menguntungkan petani-petani kecil. Nyatanya, kali ini aku hanya bisa menelan ludah menghadapi ironi ini.

Banjarnegara, 01 Februari 2014


[1] Pisau besar yang mirip dengan sabit
[2] Minum Mbak
[3] Silakan Pak, terimakasih
[4] Hari Orang Kerja, hitungan untuk upah.
[5] James C. Scott memberikan pemahaman bahwa petani cenderung menghindari situasi yang dapat merugikan mereka.
[6] Usaha kecil menengah