Sabtu, 25 Januari 2014

PRAYA



Aku menemukan kenyamanan di sini, tempat yang berbeda namun memiliki atmosfer yang hampir mirip dengan tempatmu. Seperti  menemukan dirimu dari sudut yang lain. Aku merasa sedikit betah di sini, menikmati malam dengan secangkir cokelat hangat. Tapi bagaimana pun, dengan begini aku merasakan bahwa berada di dekatmu ternyata adalah salah satu hal terbaik yang pernah aku alami dalam perjalanan. Tempat ini semacam nostalgia, seperti di penghujung malam ketika kita tak habis-habisnya bercerita tentang asa dan saling mentertawakan dunia. Lalu aku sadari bahwa kali ini ingatan itu terlalu jauh untuk kujangkau, besok saja, sesekali kita buang ingatan dan hanya ada bersama realita. Kali ini, aku ingin menghabiskan waktu menyusuri sudut-sudut yang tak hingar, jalananan yang tak terlampau bingar. Di sini di sebuah kota, Praya, ketika aku terpisah ribuan kilometer dari tempatmu.

Ada pancaran sinar lampu yang pendarnya menjadi sedemikian artistik oleh ornamen rotan yang berada di sekelilingnya. Ada secangkir cokelat hangat di hadapanku, juga tak lupa pegangan manusia yang tak luput dari perkembangan zaman: gadget. Kuamati statusmu di salah satu media sosial “mother how are you today..” demikianlah itu menjadi ihwal yang menarik bagiku sebab kamu bukanlah orang yang suka untuk mengupdate status dengan sering. Mungkin kau sedang merindu Ibumu, atau sedang memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan perempuan mulia dan tangguh yang telah melahirkanmu ke dunia ini. Apapun itu, yang jelas bagiku itu sangat manis.

Tempat ini seperti Teras Vanilla, sebuah beranda yang kuharapkan menjadi tempat bertemunya kasih sayang dan keikhlasan. Meskipun pada kenyataannya kita justru mentertawakan moment ketika pertama kali mengunjungi tempat itu bersama-sama. Aku suka caramu memberikan kejutan pada saat itu, “Coba ambilkan botol minum di bawah jok” katamu. Aku kebingungan karena rasa-rasanya orang akan menaruh botol minum di pintu mobil atau pun di sebelah bangku dan bukan di bawah jok. Dengan bodohnya aku melakukan itu, mencari botol minum yang tidak ada. Surprise, kita sampai di Teras Vanilla. Aku membatin saat itu, sedemikian manis kamu memperlakukan perempuan, sudah berapa perempuan yang kamu perlakukan seperti itu?

***

Praya menjadi pijakan dimana aku bisa kembali berpikir obyektif tentangmu. Menelusuri lorong-lorong ingatan bagaimana aku mengagumimu, bagaimana aku berusaha menyembunyikan mimik kekaguman ketika berada di dekatmu, bagaimana aku menjadi perempuan yang merasa begitu bodoh ketika merindukanmu. Semuanya bercampur di sini. Di saat kamu sepertinya tengah berusaha untuk menghindar tapi segan, aku sedang mencari-cari jawaban atas semua itu. Jawaban dari bagaimana kamu tersenyum, atau pun mungkin kamu sudah jengah melihatku dan mencoba pelan-pelan pergi.Tidakkah kamu tahu bahwa aku perempuan yang tidak pernah memiliki kosakata menyerah? Bahkan ketika aku tahu di sekelilingku banyak sekali yang meracuni supaya aku menjaga jarak denganmu, aku tetap bergerak: aku masih keras kepala ternyata.

Aku mematut potretmu, mengamati rautmu. Aku berdoa, Tuhan jika dekat saatnya aku berpisah dengan orang yang aku cintai dari awal aku melihatnya maka cepatkan, mudahkan, dan hapuskan segala kekaguman atasnya. Tuhan, Engkau yang memberikan kemudahan untuk mengawali, berikan juga kemudahan untuk mengakhirinya.

Praya, 17 November 2013, 21:54 WITA