Rabu, 31 Desember 2014

Kaleidoskop 2014


Kita tidak pernah tahu kapan semuanya akan dimulai, pun kita tidak akan pernah tahu kapan ada akhirnya. Sebagai manusia, kehebatan kita hanya sebatas menduga, memprediksi, atau dalam makna berikutnya yang lebih sering kita lakukan adalah berprasangka. 2014 memiliki makna yang mendalam bagi banyak orang, bisa terkait karena resolusi yang dibuat di penghujung tahun 2013 lalu melibatkan diri terwujud satu persatu di tahun ini, atau pun karena banyak hal yang tak terduga justru terjadi.

Bagi saya sendiri ini tahun yang besar dimana saya beroleh kesempatan untuk belajar dan merenungi banyak hal. Di awal tahun saya beroleh cobaan sakit tipus, DBD, sekaligus gangguan hati yang membuat saya sadar sekali bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat tertinggi yang diperoleh manusia. Saya kemudian tahu bahwa seberapa besar ambisi manusia, Tuhan selalu memiliki jalan yang terbaik, tegurannya dan barangkali juga cara menggugurkan dosa-dosa hambaNya adalah melalui sakit.

Hari-hari berikutnya saya menjadi mengerti mengapa keseimbangan diri antara akal, hati, dan perbuatan merupakan bentuk perwujudan kesempurnaan manusia. Lalu mengapa manusia menjadi tidak sempurna? Sebab keseimbangan tersebut tercerabut oleh ambisi yang menggebu-gebu terlebih jika dikaitkan dengan persoalan materi dan hedonisme. Untuk hal ini saya belajar bahwa ujung dari kepuasan manusia bukan dari seberapa banyak digit rupiah yang dimilikinya namun dari seberapa mampu ia mensyukuri hidupnya. Tuhan selalu mencukupkan kehidupan manusia dengan caraNya. Semakin berusaha manusia memupuk kekayaan (juga kekuasaan) maka kecukupan yang dianugerahkan tidak akan berarti apa-apa sebab ‘nafsu untuk memperoleh lebih’ mengalahkan suara hati untuk bersyukur.

2014 membawa saya untuk merenungi setiap jalinan yang saya bangun dalam interaksi saya dengan orang lain, mulai dari yang terdekat dengan diri saya (keluarga) juga semua orang di sekitar saya. Saya berniat untuk menomorsatukan keluarga saya sebelum interaksi saya dengan orang lain, mengasihi orang tua saya, memberikan yang terbaik, melindungi adik saya, melakukan apa pun yang saya bisa untuk mereka. Barangkali yang baru berhasil saya lakukan adalah tidak merepotkan mereka dan selalu mendoakan mereka. Keluarga batih saya adalah mereka yang tidak pernah pergi meninggalkan meskipun tahu seberapa buruk kondisi saya. Selanjutnya, saya tahu hidup saya di perantauan bukan apa-apa jika tidak ada orang-orang baik di sekitar saya, mereka adalah sahabat yang sangat baik. Menerima segala kelebihan dan kekurangan saya, memuji dan mengkritik, menanyakan kabar seperlunya dan tidak berlebihan, tapi saya tahu mereka selalu ada untuk saya kapan pun saya berucap tentang kegelisahan mereka selalu menjadi pendengar yang sangat baik. Didengarkan adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagi seseorang.

Ada sebagian orang yang barangkali hanya hadir sebentar di tahun 2014 ini, tapi tetap saja mereka adalah manusia-manusia yang memberikan hikmah kepada saya, baik atau pun buruk itu adalah pelajaran yang tetap saja berharga. Untuk mereka yang barangkali juga sudah lupa kapan bertemu, lupa bagaimana bisa sampai berjumpa, saya mengingatnya dengan baik untuk pelajaran-pelajaran yang bermakna.

Tahun ini bagi saya juga menjadi sebuah tahun yang menguras energi, untuk menilai mana yang tepat diterima sebagai informasi yang baik dan layak atau informasi yang sebaiknya dibiarkan saja. Pemilu Legislatif dan Pemilu presiden sejak akhir semester awal hingga sampai pertengahan semester kedua di tahun ini merupakan peristiwa besar dan bersejarah dalam hidup saya. Banyak perdebatan akibat perbedaan pandangan, banyak sekali caci maki di media, teman kehilangan teman, dan berbagai kejadian lainnya yang banyak saya resapi dan lihat di media. Demikian, manusia hanya sering menuntut tanpa sadar apa kewajibannya sebagai makhluk yang waras. Sekarang, barangkali caci maki tersebut masih berlangsung tanpa ada suara yang terdengar, tanpa ada huruf yang terbaca, tetapi yang perlu saya (dan kita) sadari adalah kebaikan dalam kehidupan berwarga negara adalah ketika diri kita sendiri mengusahakan yang terbaik untuk dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia tercinta ini, di bidang apa pun, dengan keterampilan apa pun yang baik dan bermanfaat.

Banyaknya kejadian bencana di tahun ini juga membuka mata dan kesadaran saya bahwa kuasa manusia benar-benar hanya seperti debu di padang pasir. Bahkan tidak berlebihan juga jika dikatakan, jika kita ingin mengetahui dunia maka celupkan jari kita ke dalam lautan, air yang tersisa di telunjuk kita itulah dunia. Tuhan Maha Besar dengan segala KuasaNya. Kepedihan tentang bencana bertubi-tubi hadir di penghujung tahun ini, banjir di berbagai daerah di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan, berlanjut pada bencana tanah longsor yang melanda kampung halaman saya sendiri, kebakaran pasar-pasar pusat ekonomi di Wonosobo dan Solo, juga jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Betapa rejeki, jodoh, dan mati memang ada di dalam genggamanNya, manusia hanya mampu mengusahakan dan memasrahkan.

Lalu apa yang tersisa jika keserakahan dan ambisi mendominasi ikrar resolusi tahun berikutnya?

Cukuplah berkah di tahun 2014 ini mengantarkan kesadaran untuk menjemput kebaikan-kebaikan yang dapat lebih bermanfaat di tahun berikutnya. Cukuplah teguran di tahun 2014 ini menjadi arena kontemplasi yang mengantar kesadaran kita sebagai manusia untuk menyeimbangkan akal, hati, dan perbuatan di tahun-tahun berikutnya. Semoga kita beroleh umur panjang dan berkah, rezeki yang halal dan berkah, juga kebahagiaan-kebahagiaan yang terwujud dari rasa syukur yang terus menerus.

Selamat menyambut tahun baru. Selamat menjadi pribadi yang bermanfaat.




Penghujung akhir tahun 2014 yang sunyi, 31 Desember 2014
Pagentan-Banjarnegara-Jawa Tengah

Jumat, 17 Oktober 2014

Perumpamaan

Para pujangga menciptakan susastra yang mewah untuk kekasihnya
Menyelipkan makna dan rima pada setiap kata
Mengumpamakan kota-kota sebagai persinggahan yang selalu manis jika dilewati berdua
Mereka bilang,

Jakarta itu senja
Bandung adalah embun
 Bogor merupakan hujan
Dan  bagaimana mungkin aku meniru para pemanis kata untuk mengumpamakan kita, seperti kota-kota yang memiliki perumaannya?

Kita adalah cinta yang saling menemukan, keindahan pada binar mata yang saling menatap
Menyiratkan harapan tentang cinta yang tak berkesudahan
Padamu kutitipkan hati
Padamu kupercayakan kecintaan yag tak perlu lagi definisi.

Baranangsiang, 15 Oktober 2014

Selasa, 07 Oktober 2014

Surga

Picture from here: Click!
Siapa saya yang berani bicara tentang surga? Bukan seorang agamawan, bukan pula ahli ibadah. Tapi surga milik siapa saja bukan? Bukan hanya milik orang yang bersorban atau pun para rahib di tempat-tempat suci. Surga, itu bukan perkara agama, meski mungkin banyak yang tidak setuju tapi saya ingin melepaskan atribut agama dalam hal surga kali ini. Sudah terlalu banyak agama dan kepercayaan di dunia ini, jika surga selalu dikaitkan dengan agama maka ia juga menjadi sedemikian banyak versinya. Lalu ini surga versi saya? bukan juga, saya hanya mencoba merenungi apa yang saya dengar di suatu sore pada sebuah angkutan kota.

Seorang pengamen menggunakan penutup kepala dari ikat batik yang warnanya sudah pudar. Mungkin sudah terkena sinar matahari ratusan hari dan dicuci dengan sabun colek puluhan kali. Celana pendek kumal yang ia kenakan pas dengan sendal jepit merk pasaran yang sudah tipis. Akhir-akhir ini saya lihat postingan di instagram bahwa sandal yang serupa menjadi sedemikian top karena pernah dikenakan oleh artis Korea.  Tapi siapa peduli jika yang mengenakannya adalah seorang pengamen di sebuah angkutan kota dengan kaos oblong longgar yang bagian lehernya sudah melar?

Pengamen tersebut memetik gitar kecilnya, beberapa kata yang pertama keluar dari mulutnya terdengar sumbang. Sepanjang jalan dari Tugu Kujang hingga Lapangan Sempur, Kota Bogor, dia mengulangi reff lagu dua kali. Lamat saya dengar lagu itu familiar di telinga saya, milik Band Ungu yang judulnya saya tidak tahu.

Sesungguhnya manusia takkan bisa, menikmati surga tanpa iklas di hatinya*
Kalimat lirik itu diulang beberapa kali selama dia bernyanyi dua reff sampai akhirnya dia mendapatkan recehan yang jumlahnya mungkin tidak seberapa. Ia mengucapkan terima kasih kemudian turun di saat angkot yang saya tumpangi berjalan seperti kura-kura di tengah kemacetan Kota Bogor sore hari.

"Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya, sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya, sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya...." satu baris lirik itu selanjutnya memenuhi tempurung kepala saya. Dan bayangan-bayangan tentang surga yang selama ini didefinisikan oleh orang-orang di tempat suci menjadi tidak sepadan di pikiran saya.

Barangkali surga bukanlah gambaran di suatu tempat yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, ada buah-buahan lezat, bidadari-bidadari yang cantik, atau pun kursi-kursi kebesaran seperti yang digambarkan di film Cleopatra atau pun cerita Seribu Satu Malam. Surga itu, ketika seorang pengamen beroleh recehan yang tak seberapa tetapi tetap berterimakasih meskipun sebenarnya ia mengangankan setumpuk nominal yang lebih banyak. Surga itu, ketika kita masih bisa melihat kebaikan meskipun dunia sesak dengan hal-hal yang memunculkan kebencian dan konflik. Surga itu, tetap mensyukuri pekerjaan yang kita miliki meskipun tidak dianggap luar biasa karena kita tahu ada ribuan orang diluar sana yang sangat menginkan pekerjaan kita.  Surga itu ketika mendengar orang-orag yang kita kasihi dalam kondisi sehat dan dalam keberkahan. Surga itu, ketika kita tetap berjuang meskipun sulit.

Surga itu tentang bersyukur...

"Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga tanpa iklas di hatinya...."

*Penggalan  lirik lagu Band Ungu-Sesungguhnya.

Baranangsiang, 07 Oktober 2014


Senin, 15 September 2014

Doa Pagi

Kasihku,

Pagi merambat menumbuhkan tunas-tunas muda yang semalam masih tersembunyi.

Sebelum ia menjelma cahaya, ada doa yang tersusun rapi. Luruh dalam subuh,

Doa hati yang merapat pada satu keyakinan tentang mencintai.

"Tuhan, pertemukanlah aku dengan ia yang mencintai-Mu, mencintai ilmu yang Engkau titipkan pada tunas-tunas yang Kau tumbuhkan sepagi ini."

Di antara nyanyian-nyanyian suci yang mengiringi langkah sebelum terbitnya matahari, setiap pagi, doa itu menjadi harapan.

Kasihku,

Pagi telah menjelma matahari, ia menguatkan tunas yang bertumbuh.

Doa itu, mempertemukan kita yang selama ini jauh.

Bogor, 15 September 2014

Senin, 26 Mei 2014

Negeri Laskar Pelangi

Tahun 2014 merupakan kesempatan kedua saya bisa berkunjung ke Pulau Belitung, wilayah provinsi daerah kepulauan Bangka Belitung. Bisa dibilang ini destinasi impian saya yang pertama kali bisa saya selami lewat novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sebelum bisa menginjakkan kaki di Belitung (masyarakat asli akan menyebutnya Belitong), saya membayangkan bisa menikmati pantai dengan batu-batu besar tempat Bu Muslimah mengajak murid-murid Laskar Pelangi  untuk belajar di luar kelas. Saya juga membayangkan jalanan yang dilewati oleh Ikal ketika akan membeli kapur di Manggar. Awalnya saya hanya bermimpi untuk bisa menjadi saksi hidup bahwa sesungguhnya setting novel yang ditulis Andrea Hirata benar-benar nyata. Hingga akhirnya kesempatan mengunjungi Belitong tiba dan saya jatuh hati dengan tempat ini.

Kurang lebih saya menempuh perjalanan satu jam dari Jakarta ke Belitong dengan menggunakan pesawat. Dan kali itu adalah pengalaman pertama bisa menginjakkan kaki di Bandar Udara H.AS. Hanandjoeddin di Tanjungpandan.

Foto: Dok. Pribadi

Meskipun tergolong kecil, Bandara H.AS. Hanandjoeddin ini merupakan salah satu nadi transportasi yang menjadi penghubung antar-pulau (khususnya Jakarta, Palembang, dan Bangka-Tanjung Pinang). Perjalanan itu selalu memberikan makna, meskipun hanya dengan melihat kondisi langit tempat kita berdiri. Saya selalu merasa beruntung bisa datang ke Belitong, sampai hari ini.

Jika diperhatikan, infrastruktur di Kota Tanjungpandan sudah cukup memfasilitasi siapa pun yang mengunjungi tempat ini. Bahkan ketika menelusuri jalur menuju Kabupaten Belitung Timur, jalannya pun sudah beraspal halus. Ini yang selalu menjadi perbandingan saya ketika di Jawa, jalanannya lebih sering bolong dan kasar. Pada kesempatan pertama mengunjungi Belitong di tahun 2013 saya mendapatkan berkah cuaca yang sangat cerah sehingga bisa menikmati alam dalam sorotan sinar matahari yang penuh.
Di outdoor hall yang dipersiapkan untuk kunjungan presiden ke Belitong

Pantai Tanjung Tinggi (terkenal dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi)


Pulau Belitong mendapatkan berkah alam bahari yang amat luar biasa. Pasir putih, laut biru, serta batu-batu yang mencuat di lautan menambah eksotika alam laut yang mungkin hanya bisa ditemusi secara khas di wilayah ini. Bahkan di beberapa tempat seperti di Desa Terong (jalur menuju arah Pantai Tanjung Tinggi jika berangkat dari Kota Tanjungpandan), terdapat wilayah daratan yang dipenuhi dengan bebatuan yang sangat besar.

Menurut ceritanya, konon nama Belitong diawali dari nama Biliton pada masa kolonial, nama yang berasal dari batuan luar angkasa yang jatuh di wilayah tersebut. Batu yang sampai saat ini terkenal dengan batu satam, dan jika berkunjung ke Belitong, di Kota Tanjungpandan terdapat satu tugu batu satam. Lokasi tugu tepat berada di seberang hotel Biliton.

Impresi saya untuk Pulau Belitong: more and more we explore Indonesia, we will realize that God is good :)

Selasa, 29 April 2014

Musik, Sebuah Teman Bising

Source of picture: click!

"When my headphones go in, my life automatically becomes a music video" -unknown-

Mendengarkan musik yang ada di playlist secara acak menurut saya merupakan suatu keasyikan tersendiri. Beberapa lagu saya simpan di memory card telepon seluler dengan genre yang tidak saya batasi. Tidak pandang itu pop, rock, R & B, alternative, country, qasidah, dangdut, keroncong, campur sari, campur-campur sesuai selera telinga. Tidak juga memisahkan apakah itu lagu berbahasa Indonesia, Inggris, Korea, Jepang, Jawa, Arab, dan bahkan ada satu lagu Batak yang suka sekali saya dengarkan, judulnya Dung Sonang Rohangku dinyanyikan oleh Geraldine Sianturi yang merupakan soundtrack film Demi Ucok. Bagi saya mendengarkan musik itu soal seni, soal menikmati. Bukan sebagai arena untuk membanding-bandingkan mana yang 'dikira' baik dan mana yang 'dikira' buruk. Seni, setiap orang punya jalurnya sendiri.

Mendengarkan musik secara acak itu seperti memberikan kejutan kecil dalam hidup. Kejutan kecil dari lagu yang tiba-tiba terputar dan kemudian berganti ke lagu yang lain setelahnya adalah kejutan sederhana yang membuat saya berekspresi sekenanya. Tidak perlu diatur untuk selalu tersenyum namun kadang juga mengernyitkan dahi, semuanya adalah tentang menikmati apa yang saya dengarkan.

Ada benarnya jika musik dikatakan sebagai salah satu cara terbaik untuk escape. Bukan dimaknai lari dari persoalan, tetapi dengan musik saya sendiri merasa tenggelam dalam dialognya. Tenggelam dalam tabuhan drum, petikan bass dan gitar, gesekan biola, atau pun tiupan suling. Musik elektrik atau pun disko juga sering membuatku bisa menggerakkan kepala atau kaki sembari membaca maupun menulis. Benar-benar sebuah escape yang tepat dari kebisingan dunia, sebba musik adalah kebisingan itu sendiri. Kebisingan yang memenuhi diri saya dengan energi.

Meski tidak dibesarkan dengan musik seperti apa yang dikatakan oleh penemuan ahli bahwa Mozart adalah musik yang bagus untuk janin, tapi entah kenapa saya punya ketertarikan sendiri terhadap irama dan lagu. Ibu saya tidak pernah tahu ada seorang composer bernama Mozart, bahkan hingga kini mungkin selera musik beliau terbatas pada Dewi Yull, Nia Daniati, dan penyanyi-penyanyi pop lainnya serta beberapa lagu dangdut. Pun ayah saya yang tidak tahu instrumen Bethoven tetapi sangat menggilai Rhoma Irama, Mansyur S, Meggy Z, Ona Sutra, dan juga penyanyi-penyanyi sekelasnya. Barangkali pertama kali saya berkenalan dengan irama diluar lagu Balonku, Lihat Kebunku, atau pun Soundtrack Ular Putih, maka lagu dangdut adalah irama dan melodi yang familiar di telinga saya saat kecil. Saya ingat lagu pertama yang saya dengar adalah lagu Sapu Tangan Merah yang dipopulerkan oleh Chaca Handika. Selanjutnya saya bisa klop dengan musik dangdut meskipun tidak bisa menyanyikannya dengan baik.

Meskipun saya tidak piawai bermusik, saya selalu menikmatinya. Musik menemani saya mengerjakan soal matematika (dulu waktu masih belajar matematika), menemani saya menghapal (saya lebih cepat menghapal jika telinga saya mendengarkan instrumen tertentu), menemani saya membaca, menemani saya menulis, menemani saya makan, menemani saya di angkutan kota. Musik adalah teman bising di tengah kebisingan.

Selamat menikmati musik, selamat mendengarkan. Kali ini saya sedang mendengarkan lagu Home Where the Heart Is dari Lady Antebellum :D

Dramaga-Bogor, 28 April 2014 pukul 23:57 WIB


Rabu, 16 April 2014

Doa Pagi: Untuk Cahaya

Untuk Cahaya,

Ketika pagi masih ranum, purnama semalam juga masih menyisakan cahayanya. Sebentar, embun juga tengah mencari jalan menuju pucuk-pucuk daun sebelum mentari menyirnakannya dengan evaporasi yang sempurna.

Di pagi yang ranum, barangkali aku yang terus-menerus menuturkan namamu. Berkali-kali menyelipkannya dalam doa-doa pagi. Kuhaturkan pada genggaman waktu setiap jengkal dari langkahmu siang nanti. Aku ingin menuntaskan permohonanku sebelum matahari mendewasakan waktu. Di pagi yang masih muda, aku merapalnya.

Mungkin layaknya kisah Ibrahim ketika ia menebak apakah bulan, bintang, dan matahari yang manakah yang menjadi tuhannya. Atau juga kisah Musa yang berguru pada Khidir mengenai makna kesabaran di sebagian kehidupannya. Mungkin demikianlah jiwa muda, selalu bergerilya pada tanya tentang kehidupan yang tak kunjung habis.

Sebentar lagi aku selesai mendoakanmu, purnama semalam sudah benar-benar redup. embun-embun telah luruh dan sebagian lagi jatuh ke atas tanah. Mungkin besok lagi aku akan mendoakanmu dalam rapal-rapal permohonan, sebab doa terbaik adalah bukan ketika kita merapal di setiap sujud namun doa yang menjadi laku dalam perjalanan hidup. Itulah doa yang sungguh-sungguh, doa yang dijelmakan dalam tingkah bermakna. Kucukupi mendoakanmu di pagi ini, hari ini yang harus kita lakukan adalah memenuhi janji. Menegakkan panji-panji kemuliaan sebagai manusia, melaksanakan titah kesempurnaan makhluk sebagai khalifatul fil ardl: memimpin diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

Kusudahi mendoakanmu, pagi sudah mendewasa. Selamat meneruskan gerilya untuk pertanyaan-pertanyaan hidup yang masih terus merasuki keingintahuanmu. Selamat meneruskan semangat muda yang membuatmu mencari jawab atas setiap peristiwa yang terjadi di waktu-waktumu. Selamat pagi, doaku, yakinlah serumit apapun pertanyaan hidup namun ia akan sampai pada satu titik: selesai.

“Rabbana aa tinaa min ladun ka rohmatawwahayyi’ lanaa min amrinaa rosyada”

-Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS. Al-Kahfi: 10)-

Dramaga, 16 April 2014  
Selamat ulang tahun, manusia yang selalu membanggakanku, adikku: Nurhayati, cahaya kehidupan bagi kami.

Senin, 07 April 2014

Filosofi Packing

dok. pribadi


Suatu kali ketika saya mengobrol dengan seorang teman yang tinggal di Pekanbaru melalui telepon, ia mengatakan bahwa keesokan harinya akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Seperti biasa, basa-basi ala Indonesia, saya hanya mengucapkan (dan  mendoakan) semoga dia selamat sampai tujuan. Kemudian dia bertanya kepada saya, “apa inti dari perjalanan menurutmu?” Saya menjawab dengan beberapa penjabaran bahwa perjalanan adalah sarana belajar, mengenal, dan tentu saja kesempatan untuk mendapatkan inspirasi. Dia menggumam dan saya merasa bahwa dia menganggap jawaban saya sudah terlalu umum. Jawaban yang akan mendapat nilai A jika ditulis dikertas ujian tetapi tidak mewakili yang sebenarnya diinginkan oleh si penanya.

Kemudian saya mengembalikan pertanyaan kepada teman saya tersebut, dengan ringan dia menjawab, “inti dari perjalanan adalah PACKING”. Saya lantas tertawa ketika teman saya menekankan kata packing pada jawabannya. Lantas tanpa direncanakan obrolan saat itu beralur pada pembahasan, mengapa packing
 
Mengutip dari Oxford Dictionary, packing merupakan bentuk kata benda yang tidak dapat dihitung atau uncountable dan memiliki dua arti: 1. Process of packing goods; 2. Material used for packing delicates object, to protect them. 

 Pada setiap kesempatan, tidak hanya ketika ingin bepergian biasanya sebagian besar orang lebih fokus pada apa yang akan dilakukan dan  mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan saat ini. Hingga seringkali ketika sudah tiba di tempat tujuan ada yang lupa untuk dibawa. Packing bagi teman saya adalah bentuk persiapan ketika akan melakukan perjalanan,  meskipun hanya  menyisipkan kaos kaki cadangan di saku tas juga menjadi penting baginya. Memang tidak semua orang memiliki tipe detail dan penuh persiapan, tapi bagaimana pun sekedar persoalan kaos kaki cadangan seringkali juga membuat kewalahan di tempat tujuan karena tidak dipersiapkan dengan baik.
 
Saya pernah mengalami hal yang membuat saya cukup panik akibat ketelodoran saya sendiri. Waktu itu perjalanan ke Kabupaten Bengkalis di Provinsi Riau. Rasa-rasanya semua persiapan sudah saya matangkan, ternyata ketika sampai di Bengkalis dan saya membongkar isi tas ada satu yang saya lupa yaitu kotak make up saya. Meskipun bukan tipe perempuan yang rajin berdandan, tapi setidaknya saya perlu pelembab untuk kulit muka dan juga lip balm. Payahnya saya lupa dan harus merogoh kocek untuk membeli di sana. Dari situ kemudian saya teringat kembali dengan percakapan yang mengalir bersama sahabat saya, betapa pentingnya packing. Betapa pentingnya persiapan.

“Banyak orang yang begitu fokus dengan masa depan hingga mereka lupa bagaimana untuk menikmati hari ini.” Kata sahabat saya waktu itu. “Tapi sefokus apa pun niatan seseorang untuk menikmati hari ini, setidaknya hari esok perlu dipikirkan dengan baik.” Tentunya makna packing bagi setiap orang berbeda-beda. Meskipun demikian makna dasarnya bisa menjadi sama yaitu persiapan sebelum pergi, entah kemana pun tujuannya. Selamat packing, selamat mempersiapkan perjalanan, selamat mempersiapkan hari esok.

Salam.
Dramaga-Bogor, 06 April 2014

Kamis, 06 Februari 2014

50 ALASAN ORANG BEKERJA NAMUN TETAP MENCARI PEKERJAAN



Pada akhir tahun 2013 di Jakarta diselenggarakan BUMN Career Day, perhelatan yang ditujukan bagi para pencari kerja ini diserbu oleh ribuan orang. Event yang sama juga sering diadakan berupa job fair yang juga sangat diminati oleh ribuan pencari kerja di Indonesia. Berdasarkan data BPS Jumlah angkatan kerja sejak Februari 2010 hingga Februari 2013 relatif terus meningkat. Pada Februari 2012 jumlah angkatan kerja sebanyak 115. 998.062 jiwa sedangkan pada Februari 2013 jumlahnya mencapai 121.191.712 jiwa atau jika dikalkulasikan mengalami peningkatan sebesar 4,47 persen. Rusli (2012) mendefinisikan angkatan kerja sesuai pendekatan labour force dimana angkatan kerja adalah yang aktif secara ekonomi (mencari pekerjaan) dengan dua kemungkinan: mendapatkan pekerjaan yang digolongkan bekerja (employed persons) dan yang belum atau tidak mendapatkan pekerjaan digolongkan sebagai pengangguran (unemployed persons). Berdasarkan jumlah angkatan kerja yang telah disebutkan terdapat golongan pengangguran terbuka yang dalam pengertian Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu mereka yang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, atau sudah punya pekerjaan tetapi belum dimulai.

Meskipun bekerja mungkin memiliki tujuan esensial yang berbeda-beda bagi masing-masing orang namun terdapat tujuan yang sama dari inti bekerja yaitu guna memenuhi kehidupan hidup, meskipun bisa saja seseorang bekerja untuk kepuasan. Pada kenyataannya saat ini banyak terjadi fenomena berpindah kerja atau sering diistilahkan “kutu loncat” dimana baru bekerja beberapa bulan di tempat A kemudian sambil mencari pekerjaan di tempat B dan jika diterima akan berpindah pekerjaan. Fenomena tersebut bukan lagi sebagai sesuatu yang asing karena telah lazim terjadi. 

Tulisan ini mencoba untuk merangkum dan menjelaskan alasan-alasan mengapa orang memilih untuk tetap mencari pekerjaan meskipun ia tengah menjalani suatu pekerjaan tertentu. Alasan-alasan tersebut dikumpulkan oleh penulis melalui analisis isi dari berita-berita di media massa untuk kemudian dirangkum menjadi dan dihasilkan 50 alasan mengapa seseorang cenderung mencari atau ingin pindah pekerjaan.



Bekerja dan Makna Kerja

Definisi Badan Pusat Statistik tentang bekerja adalah mereka yang melakukan suatu pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit 1 jam yang secara kontinu dalam seminggu yang lalu (seminggu sebelum pencacahan). Pekerjaan merupakan cerminan sosial bagi seseorang, sebuah pekerjaan melekatkan prestise dan kesan tertentu pada diri seorang pekerja.

Berdasarkan Drucker (1993) kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran dan tubuhnya, manusia mengorganisir pekerjaan, membuat benda-benda yang dapat membantu pekerjaannya tersebut, dan menentukan tujuan akhir dari kerjanya. Dapat juga dikatakan bahwa kerja merupakan aktivitas yang hanya unik (dalam artian di atas) manusia. Di dalam Kitab Suci Yahudi yang sudah berusia sangat tua diceritakan bagaimana kerja merupakan hukuman Tuhan kepada manusia, karena ia tidak patuh pada perintah-nya. Sekitar 2600 tahun yang di Yunani, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul Work and Days. Di dalamnya ia berpendapat, bahwa kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia.

Selanjutnya Drucker berpendapat bahwa kerja adalah sesuatu yang sifatnya impersonal dan obyektif. Dalam arti ini kerja adalah tugas. Untuk bekerja berarti orang menerapkan logika dan aturan yang berguna untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam kerja ada logika yang mengatur arus kerja tersebut. “Kerja”, demikian Drucker, “membutuhkan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, dan mengontrol proses.” Kerja sendiri memiliki empat dimensi yaitu: 1) Dimensi fisiologis, dimana menekankan bahwa manusia bukanlah mesin yang bisa dioperasikan begitu saja; 2) Dimensi psikologis, dimana orang perlu bekerja namun kadang juga kerja menjadi sesuatu yang sangat berat; 3) Dimensi sosial kerja, kerja menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk bertemu dan menjalin relasi; 4) Dimensi ekonomi kerja, dimana untuk hidup orang perlu bekerja; 5) Dimensi kekuasaan kerja, dalam organisasi selalu ada relasi-relasi kekuasaan, baik secara implisit ataupun eksplisit.

Alasan Orang Mencari Pekerjaan Baru

Berdasarkan hasil identifikasi berita dan artikel media massa, saya mengklasifikasikan beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mencari pekerjaan meskipun ia tengah bekerja. Faktor yang dimaksud adalah penghasilan (materi), faktor keamanan, kebebasan dan jaminan masa depan, faktor psikis, faktor lingkungan kerja, faktor interaksi dengan orang lain, dan faktor spasial. Berdasarkan 50 alasan yang telah dikumpulkan diklasifikasikan ke dalam faktor-faktor tersebut:

Faktor penghasilan (materi), meliputi:
  1. Gaji yang kurang di pekerjaan yang tengah digeluti, motivasi mencari pekerjaan adalah mencari uang.
  2. Ada kebutuhan yang mendesak yang ingin dicapai, misalnya membeli rumah atau kendaraan
  3.  Baru saja menikah dan membutuhkan penghasilan lebih
  4. Coba-coba mencari peruntungan baru
  5. Gaji (take home pay) yang sudah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup, Adanya kenaikan gaji/th dan itupun selalu lebih kecil dari kenaikan harga kebutuhan pokok.
Faktor keamanan, kebebasan dan jaminan masa depan, meliputi:
  1.  Sebelumnya bekerja di perusahaan swasta, kemudian memilih mencari kerja di BUMN supaya kehidupan dan masa depan lebih terjamin
  2.  Ingin mencari pekerjaan tetap 
  3.  Sulit mendapatkan waktu luang di pekerjaan yang sekarang
  4. Merasa tua di jalan karena pergi pagi pulang malam
  5. Ingin keluar dari zona nyaman
  6.  Hak cuti tidak terpenuhi karena pekerjaan yang overload
  7. Jam kerja yg berlebihan tapi tidak ada uang lembur 
  8.  Pekerjaan yang sekarang tidak menyediakan training peningkatan kapasitas
  9. Sedang berencana untuk mendirikan bisnis sendiri namun belum yakin untuk memulai langkah pertama, sehingga mencari pekerjaan baru diharapkan menjadi batu loncatan
  10. Selalu pulang kantor paling malam, karena pekerjaan yang overload
  11. Mencari pekerjaan yang cocok dengan pendidikan
Faktor psikis, meliputi:
  1. Pekerjaan yang lama tidak sesuai passion
  2. Menyalurkan bakat
  3. Tidak bahagia di pekerjaan yang sekarang
  4. Perbedaan nilai moral dengan perusahaan
  5. Ketidakseimbangan Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan  
  6. Stress berkepanjangan
  7. Ingin membangun reputasi yang lebih baik
  8. Sudah tidak memiliki motivasi untuk bangun pagi dan bekerja
  9.  Tidak merasa bangga dengan pekerjaan yang sedang dijalani
  10.  Iri dengan karir orang lain
  11. Kurang percaya diri dalam pekerjaan yang sedang digeluti
       Faktor Lingkungan Kerja, meliputi:
  1.  Suasana kerja yang tidak nyaman
  2. Karier mentok, mencari jenjang karier yang lebih baik
  3. Pekerjaan baru lebih menantang
  4. Tidak Cocok Lagi dengan Lingkungan Perusahaan (Atasan, Rekan Kerja, dan Budaya)
  5.  Berganti profesi sama dengan berpetualang
  6. Ingin mencari suasana baru
  7. Perusahaan tempat bekerja sekarang hampir bangkrut
  8. Skill dan kemampuan tidak cocok dengan kebutuhan perusahaan dan pihak perusahaan menginginkan yang lebih
  9.  Memiliki masalah dengan manajemen
  10. Kebijakan perusahaan tidak menarik lagi
  11. Tidak ada arahan dan penghargaan yang jelas
  12. Politik kantor yang terlalu rumit dan tidak kondusif
      Faktor Interaksi dengan Orang Lain, meliputi:
  1.  Tidak dihargai dipekerjaan yang lama
  2. Rekan kerja terlalu ambisius
  3. Bekerja keras sendirian
  4. Rekan sekantor memiliki kebiasaan buruk
  5. Rekan sekantor saling melempar kesalahan
  6.  Atasan tidak adil dan pilih kasih, tidak tegas dalam mengambil keputusan
  7. Tidak ada teman kantor yang bisa diajak bercanda/diskusi/sharing. Intinya Anda tidak memiliki teman baik di kantor
  8.  Pekerjaan yang dilakukan tidak mendapatkan pengakuan, pujian dari atasan atau rekan kerja
        Faktor Spasial, meliputi:
  1. Tidak nyaman dengan kondisi kota tempat bekerja
  2. Ingin berkantor dengan jarak yang lebih dekat
  3. Keluarga pindah ke kota lain dan perusahaan dimana seseorang bekerja tidak memiliki cabang di kota yang dimaksud

Penutup

Bekerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, dengan bekerja manusia ada dan memenuhi kehidupannya. Dalam perkembangannya kerja tidak hanya terkait bagaimana seseorang mengeluarkan energi tetapi juga meliputi berbagai dimensi kehidupan yang mempengaruhi alasan mengapa seseorang bekerja. Dengan demikian, bukan menjadi hal yang aneh juga ketika seseorang tidak puas dengan pekerjaan yang tengah digelutinya dan memilih mencari pekerjaan lain demi sesuatu yang dianggapnya lebih baik.

Referensi

Drucker, Peter. 1993. Management: Tasks, Responsibilities, and Practices, New York:      Truman Talley Books.

Rusli, Said. 2012. Pengantar Ilmu Kependudukan [edisi revisi]. Jakarta: LP3ES.

http://www.antaranews.com/berita/390227/mereka-datang-ke-jakarta-untuk-mencari-kerja             (www.antaranews.com, senin 12 Agustus 2013 diunduh Desember 2013).