Minggu, 10 November 2013

Lelaki Senja

Copyright @turasih90


“Aku merindukan senja” katanya ketika pendar matahari tak lagi semarak. Teduh menutupi kota, tidak terlampau terang tapi bisa diperkirakan bahwa hari ini memang tidak turun hujan. Aku duduk di dekatnya, seorang lelaki yang berujar bahwa ia tengah merindukan senja.

Kita menghadapi takdir kita masing-masing, menghitung waktu yang tidak tahu sebenarnya tengah dihitung maju atau dihitung mundur, itu soal persepsi. Barangkali juga kita tidak akan pernah sampai ke masa depan karena yang kita jalani adalah hari ini, yang selalu diharapkan harus lebih baik dari kemarin. Aku menimbang apakah senja yang dirindukan oleh lelaki itu adalah senja yang lebih baik dari kemarin. Atau justru senja yang sama dari waktu sebelumnya, yang berarti ia tengah merindukan momen di masa lalu. Pada senja yang mungkin saja ia temui di waktu yang terbaik bersama juga dengan orang yang istimewa. Laki-laki itu memandangiku, seperti sedang membaca yang aku pikirkan.

“Apa?” tanyaku sambil memperhatikan alisnya yang tebal, aku suka bentuk alis itu.

“Kamu punya sesuatu yang bisa kamu ingat dari masa lalu?” tanyanya.

“Tentu saja ada, kenangan. Yang mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu berharga, tapi aku ingin menemukannya kembali.” Jawabku. Sebab tidak seperti ia yang merindukan senja, aku merindukan lebih dari sekedar senja, aku rindu kenangan dan memori dari senja-senja yang pernah aku lewati.

Memori, sesuatu yang melekat, melebihi ambang dari apa yang kita pikirkan tetapi sudah merasuk ke hati. Memori itu tentang kesadaran, tidak hanya berbicara mengenai apa yang bisa diingat oleh otak kiri dan otak kanan, setidaknya itu memori menurut pemahamanku.

“Ah kamu, selalu saja terlalu analitis untuk membahas sesuatu yang biasa” ucapannya menimpali jawabanku kemudian ia menyesap rokok yang ukurannya tinggal setengah batang. Aku tersenyum, bukan karena ucapannya, tapi aku begitu senang dengan kehadirannya saat ini. Dan yang paling aku sukai darinya adalah senyumnya ketika membalas senyumanku, lalu tangannya ketika mengacak rambutku, itu adalah bahasa keakrabannya yang membuatku jatuh cinta. Tentu saja itu hanya sekian dari begitu banyak yang tidak bisa aku jelaskan mengapa aku jatuh cinta padanya, lelaki itu. Lelaki yang sedang merindukan senja, juga memori yang kubangun tentangnya, tentang perjalanan mencintainya sampai saat ini sampai detik ini.

****
Hari-hari yang kulewati menjadi sedemikian rumit setelah saat itu, saat pertama kali aku tahu bahwa aku mencintai seseorang yang barangkali menjadi titik balik bagaimana aku memaknai perjalanan. Aku mengutuhkan pencarianku akan makna mencintai darinya, aku menemukan dalam dirinya: ketulusan, keterbukaan, kerumitan, kesulitan, dan keterbalasan. Bukankah cinta itu kombinasi dari macam-macam rasa yang kita sendiri sukar untuk mendefinisikannya? Iya, apa sih mencintai, mengapa mencintainya, mengapa mencemburuinya? Atau mengapa di antara 33 propinsi dengan lebih dari 200 juta penduduk, mengapa pilihan jatuh padanya? Jawaban selogis dan seanalitis apa pun akan kamu tolak baik dengan halus maupun mentah-mentah.

Bagiku lelaki itu seperti magnet yang memiliki kutub berlawanan denganku, ia memiliki gravitasi yang tidak mampu aku hindari. Mungkin karena dia Aquarius yang sangat easy going, dan kenyataanya meskipun sering dikatakan bahwa aku stubborn, tapi justru aku sangat masuk dengan gaya bercanda Aquarius yang mengalir. Unsur air selalu menyejukkan (bukankah begitu?) dibanding unsur tanah milik Capricorn yang selalu lebih keras dan egois, tapi tentu saja membumi. 

Beberapa waktu lalu aku berdebat dengannya, tentang logika dan kemunafikan. Mencintai seseorang itu seakan mencerabut nalar antara yang harus dan tidak harus, yang mesti dan tidak mesti. Tapi bagiku nalar itu adalah memproses. Apa bedanya mencintai dengan hukum jual beli jika setiap kali diposisikan “apakah ia pantas” atau “ia tidak lebih baik”? Kenyataannya sekarang kami  mengagumi satu sama lain tanpa berpikir apa yang lebih ia miliki dan apa yang lebih aku miliki. Dan aku tidak tahu apakah karena proses itu akhirnya aku mulai jatuh cinta dan semakin dalam rasa itu semakin tumbuh subur diluar nalar? Mencintai itu tentang jujur pada diri sendiri, tidak munafik dengan hati, dan membiarkan nalar bekerja pada porsinya. 

Beberapa waktu tidak bersua dengannya, rasanya terlalu lama, tapi aku menjadikan momen ini sebagai sarana untuk menguji apa makna merindu dan menunggui saat-saat bertemu lagi. Ia—lelaki senja itu—memiliki segudang bahasa yang renyah dan membuatku tertawa lepas ketika bersamanya. Mungkin ia tahu bahwa aku terlalu bodoh untuk jatuh cinta, bahkan ketika aku belum tahu apa pun tentangnya dan juga setelah aku tahu sebagian darinya: aku tetap mencintainya. Apa logikanya mencintai orang yang tidak pernah kita ketahui identitasnya? Bukankah terlalu sulit mengenali sesuatu yang terlanjur tidak kita kenali? Bagiku itu hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang dibuat untuk menghindar dan menjengahkan perasaan, lari dari kesadaran bahwa alam ini diatur dengan keseimbangannya untuk saling mengasihi bahkan kepada sesuatu yang tidak pernah kita ketahui, sesuatu yang belum kita kenali.

Ada beberapa pesan yang masuk ke handphone-ku, kubiarkan, sebab dari sekian banyak sesungguhnya aku menunggui satu pesan darinya. Pesan yang mungkin saja meruntuhkan penantianku selama beberapa hari ini, aku merindukannya. Kemudian masuk lagi satu pesan singkat, aku mengeceknya. Lelaki Senja itu mengirimi pesan, sebuah pertanyaan yang singkat tapi membuatku hidup. Ya, cinta itu menghidupkan, cinta itu menumbuhkan.

Apa kabar?

Baik, bagaimana kamu?

Aku baik.

Aku kangen.

Aku juga.

Sesingkat itu, dan kami (mungkin) atau lebih tepatnya aku sedang mencerna bagaimana perasaanku kali ini. Sebegitu mewahkah perasaan ini? Hingga yang singkat pun terasa memperpanjang napasku berkali-kali lipat? Ia merindukanku, Lelaki Senja itu merindukan perempuan yang mengaguminya, perempuan yang membangun memori tentangnya.

****
“Mencintai itu perlu keberanian, termasuk keberanian untuk melepaskan” akhirnya aku kembali berdialog dengannya. Tentu saja setelah berlama-lama tidak bertemu, setelah pesan kangen saat itu akhirnya kami memutuskan untuk berjumpa.

“Kamu sedang menyimpulkan?” tanyanya. Ya, dia sedang lebih banyak bertanya padaku, seperti sedang menguji sesuatu yang masih ia ragukan.

“Menurutmu?” Aku membalikkan pertanyaan itu, karena aku pun perlu membuat suatu konklusi yang mungkin ia maksud.

“Keberanian yang kamu maksudkan masih terlalu samar untuk dibuat sebagai kesimpulan. Kamu mencintai, maka kamu harus melindungi, memperjuangkan, kenapa kamu tega melepaskan jika kamu benar-benar mencintai?”

“Apa bedanya dengan memenjarakan kebahagiaan jika kita tidak bisa membuat orang yang kita cintai berbahagia?”

“Cinta itu tidak selamanya bebas seperti definisi kita, kita hanya belum tahu saja.”

“Aku mencintaimu” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku. “Tapi bukankah aku harus berbesar hati 
untuk melepaskanmu kapan saja waktu itu tiba?”

“Itu yang kumaksud, bahwa terkadang kita sudah memiliki kesepakatan dengan kehidupan, entah yang membebaskan atau pun yang membuat kita harus memenuhi kesepakatan itu dengan terpaksa. Kita tidak pernah tahu. Dan bahkan apakah pertemuan kita telah direncanakan, kita tidak tahu. Apakah perasaan kita telah disiapkan? Kita tidak tahu.”

“Sampai waktu itu tiba aku tidak tahu juga sejauh mana kekuatan kesiapanku untuk melepasmu. Aku mungkin gagal untuk bisa bersamamu, tapi setidaknya aku bisa puas dengan usahaku.” Aku melampiaskan pemahamanku, meskipun kita semua tahu bahwa mencintai tanpa bisa memiliki adalah seperti racun yang mampu membunuh secara berlahan. Aku tidak bisa berpaling untuk mencintai orang lain, yang kulakukan adalah menunggu.

Lelaki itu diam, mengalihkan pandangannya ke barat. Hari ini senja muncul dengan selamat, memadukan warna magenta dan jingga di ufuk peraduan matahari.

“Aku mencintaimu tanpa aku tahu alasannya” katanya kemudian. Mendengarnya seperti ada sesuatu yang mangalir lebih cepat di aliran darahku. Sesuatu yang membahagiakan namun pilu. Ya, tanpa tahu alasannya. Aku pun mengikuti bahasa diamnya kemudian, menengadahkan kepala ke arah langit, berharap ada keajaiban datang dari sana, suatu keajaiban yang mampu menyatukan kami yang mampu saling mencintai.

****
Lelaki itu bertanya tentang kenangan yang ingin kutemukan kembali dari masa lalu. Ia merajuk, mencemburui cerita tentang kisah cintaku sebelumnya. Aku suka sekali jika ia cemburu sesekali waktu, membumbui rindu yang sukar kami definisikan. Aku ingin menemukan kenangan yang kusimpan pada sekotak kaca penuh dengan rasa ragu dan ketidakyakinan, aku ingin melarung ketidakyakinan itu ke hamparan kehidupan, melepaskan keraguan dan menjadikannya sebagai pelajaran paling berharga. Kenangan dari ratusan senja yang pernah aku lewati, kenangan masa kecil sebelum aku hidup sesak di Ibu kota, kenangan kejayaan ketika remaja, semua-semua tentang rasa ingin tahu mengapa kehidupan berjalan seperti ini. Juga setiap hal yang melekat pada memori dari kenangan itu. Lelaki itu kebingungan dengan jawabanku, sebab aku ingin menemukan masa lalu untuk sesuatu yang kini kujalani (mungkin) dengannya.

Lalu aku bertanya mengapa ia merindukan senja.

Ia tersenyum, aku selalu jatuh hati pada senyum itu. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang aku sendiri juga kelimpungan memaknainya sebab ia bukan tipe yang analitis tapi entah kenapa kali ini ia filosofis. Jika ada orang yang merindukan bulan, kemudian beberapa lagi merindukan bintang, maka biarkan ia merindukan senja. Senja bukanlah sore yang biasa, ia tidak bisa selalu hadir dengan perpaduan warna yang menentramkan, tapi ia selalu dinanti kapan waktunya tiba: menenangkan, menyenangkan, membahagiakan. Senja yang jingga memiliki kegairahan untuk mensyukuri warna-warni yang muncul seharian. Senja yang temaram memberikan keleluasaan untuk menyatukan kening dengan debu pada sujud-sujud yang khusyuk. Senja yang pekat memberikan keyakinan akan hadirnya hari setelah hari ini.

Ada yang mengambang di mataku, telaga yang pecah tapi kutahan agar tak tumpah. Lelaki senjaku, apakah kamu yakin akan hadirnya hari setelah hari ini? Hari di saat kita tetap bisa bersama-sama mencelotehkan kerinduan, mentertawakan lelucon hidup, mewujudkan memori-memori yang mendewasakan perjalanan. Aku meyakini hari itu tanpa harus kujelaskan mengapa, sebab mencintaimu tidak perlu alasan apa-apa. Sebab telah kularung keraguan atas rasa-rasa yang mengiba, rasa yang menciptakan syak wasangka. Aku meyakini senja yang kamu nantikan selanjutnya.

Lelaki itu menatapku. Mengajakku menyusuri jalanan di tepian Tanjung Pendam, kali ini malam. Aku merasakan hangat telapak tangannya yang menggandengku erat. Biarlah terus seperti ini, batinku, agar kamu tetap di dekatku. Biarlah terus seperti ini, agar aku tetap berjalan bersamamu.

Bogor, 10 November 2013
10:27'