Rabu, 09 Oktober 2013

Representasi Sosial: Parawali


Bendera Parawali
Semalam saya bertemu dengan sahabat saya dan membicarakan hal-hal sederhana yang seringkali mungkin dianggap tidak bermakna untuk sebagian orang. Salah satu hal yang kami bicarakan adalah Parawali. Apa itu Parawali? Itu adalah fans grup band Wali. Mengapa sampai pembahasan obrolan kami mengarah ke topik itu, kami juga tidak menyadari sebabnya. Yang jelas, kami tiba-tiba langsung tertawa ketika dari tempat makan yang kami singgahi terdengar lagu Nenekku Pahlawanku, lagu yang digadang-gadang Wali dalam album mereka yang paling baru (saya tidak mengikuti perkembangannya, tetapi kalau diminta menyanyi saya hapal liriknya). Kemudian sahabat saya mengatakan, "Tuh idola lu nyanyi, apa nama fans-nya?" 

"Parawali" kemudian kami sama-sama tertawa.

Apa yang mendasari mengapa kami tertawa? Ya, dalam istilah psikologinya kami memiliki pengetahuan akan makna yang sama terhadap lagu wali (representasi sosial) yang menjadikan kami 'nyambung' ketika baru saja mengucapkan istilah Parawali. Representasi sosial ini diperkenalkan pertama kali oleh Sergei Moscovici pada tahun 1961 dengan bertolak dari konsep representasi kolektif Emile Durkheim. Bahasa sederhananya, representasi sosial ini adalah hasil dari interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok yang menyebabkan munculnya pengetahuan yang sama akan makna dari objek, ide, atau peristiwa tertentu. Intinya, representasi sosial itu produk dari interaksi dan komunikasi. 

Kembali ke pembahasan Parawali, mengapa saya yang bukan fans Wali dan sahabat saya yang juga bukan fans Wali memiliki skema dan pengetahuan yang relatif sama terhadap grup Wali? Jawabannya simpel, kami terbiasa untuk menolak lagu-lagu Wali yang sebenarnya sangat easy listening, liriknya sederhana dan mudah dicerna akal. Umumnya manusia, semakin berusaha menolak sesuatu justru akan semakin mengingatnya-dalam hal apapun. Musik wali itu menurut saya sangat merakyat, dari orang tua sampai anak-anak bisa mendengarkannya, jadi jangan heran kalau saya juga hapal beberapa lagunya meskipun saya bukan Parawali sejati. Saya dan sahabat saya punya representasi sosial yang sama mengenai Wali-meskipun kami tidak mau disebut Parawali.

Saya menuliskan ini karena kebetulan habis belajar teori representasi sosial dan kebetulan obrolan kami semalam bisa menambah pengetahuan saya tentang teori tersebut. Belajar dengan memberikan contoh dari apa yang kita alami sendiri akan jauh lebih mudah untuk diingat dibandingkan bersusah payah mencari contoh yang keren tapi mudah dilupakan. 

Tabik.