Selasa, 29 Oktober 2013

Happy Birthday Obin :D


Happy Birthday Obin :D
Seorang sahabat mengatakan bahwa setiap hari adalah hari kejujuran sedunia: untuk bisa mengakui kelebihan dan kekurangan orang lain serta menjadi diri kita sendiri. Berada di sekitar orang yang kita sayangi sekaligus menyayangi kita juga adalah bagian yang sangat membahagiakan dalam hidup. Tetap menjadi diri kita sendiri di tengah begitu banyaknya tekanan untuk “menjadi bukan diri kita” juga merupakan bagian yang harus disyukuri dan dipertahankan (tentunya untuk hal-hal yang baik). Semua proses itu bisa terjadi seiring dengan berjalannya waktu, ya, menjadi tua adalah saatnya mejadi lebih dewasa, menjadi semakin bijak dan pantas untuk berada di titik umur kita sekarang.
 
23, bukan angka yang biasa. Barangkali untuk sebagian orang hanya sekedar angka yang bisa ditulis dengan ballpoint atau spidoll merk apa saja, diketikkan di atas keyboard atau keypad dengan berbagai cara. Tapi 23 kali ini adalah “dua puluh tiga” penanda bahwa telah ada hampir dari seperempat abad hidup yang dihabiskan untuk banyak hal. Sudah ada banyak orang yang ditemui, buku-buku yang dibaca, film yang ditonton, musik-musik yang didengarkan, juga gagasan-gagasan yang didiskusikan. Sampai di bilangan 23 adalah cacah yang tidak hanya sekedar angka, tapi esensinya luar biasa untuk selalu terus dan terus harus disyukuri.

Selamat Ulang Tahun, Obin. Kata orang bijak hidup adalah tempat singgah sementara untuk sesuatu yang lebih abadi. Tapi karena kita manusia biasa, cukuplah kita pahami bahwa hidup adalah melakukan hal-hal baik yang tidak hanya untuk memuaskan ego kita tetapi bisa juga memberikan manfaat bagi sesama dan semesta. Di usia 23 ini semoga senantiasa menjadi pribadi yang menyenangkan, pribadi yang selalu meningkatkan kapasitas, menyayangi dan disayangi, juga hal-hal baik lainnya yang mungkin sederhana tetapi maknanya akan menjadi sangat istimewa.

Kita akan selalu punya sejumput makna dari bagaimana kita mengenal orang lain. Dan bagi saya Obin adalah adik, sahabat, teman diskusi yang menyenangkan. Kadang begitu kekanakan tapi dalam banyak hal juga menjadi sangat dewasa. Obin adalah manusia yang rela didandani ala hijabers oleh anggota Kuil Cinta, dan hal ini menunjukkan bahwa kamu adalah bagian dari keluarga mereka, keluarga bagi sahabat-sahabat yang menyayangimu. Tetap semangat dan humble ya adikku, sukses studinya (sukses ujian akuntansinya yaaa), kalau beli HP jangan lupa beli sinyalnya juga, yang setia sama Yulia, jangan lama-lama kuliah S2-nya (cepet lulus dengan baik), dan semoga selalu menjadi yang membanggakan dan dibanggakan oleh semua orang. Amin (kalau mau traktir jangan tanggung-tanggung ye!)

Have a very blessing year on your 23th. 

Bogor, 29 Oktober 2013
21:56

Jumat, 18 Oktober 2013

Make it Worth

Picture from here: click!
Perumpamaannya sederhana, apa yang harus dilakukan ketika seseorang berada di tengah-tengah, kemudian ragu untuk mengambil langkah ke depan (maju) atau mundur, apa yang harus dilakukan? Itu topik diskusi kami, saya dan sahabat saya di sela-sela waktu menjelang magrib beberapa waktu yang lalu. 

"Kalau sesuatunya itu belum pernah kita alami, sebaiknya maju untuk tahu seperti apa. Jika ternyata tidak cocok, biar pengalaman menjadi guru yang terbaik.Namun jika sudah pernah merasakan atau mengalami dan konteks saat ini adalah ingin mengulanginya, plus ada keraguan didalamnya maka sebaiknya tinggalkan, sebab itu pertanda yang tidak baik." Tutur sahabat saya dalam pembahasan itu.

Tidak ada yang saya tanggapi, saya hanya mencerna perkataan itu sambil berpikir, manusia yang cerdas tidak akan jatuh ke lubang yang sama berkali-kali, apa bedanya dengan keledai sebagai simbol hewan yang bodoh? Jika bisa meloncat kenapa harus jatuh? Apa fungsi akal jika manusia tetap bodoh. Saya mencoba mengalirkan pembahasan ini pada pemikiran yang demikian.

"Menghindar atau hadapi?"

"Hadapi" jawabnya. Saya juga tidak perlu bertanya mengapa harus dihadapi, bukankah pengecut sekali jika manusia menghindari apa yang seharusnya dihadapi? Tapi seringkali timbul paradoks, bahwa sebaik-baik cara menghadapi adalah menghindar itu sendiri. Nah, untuk yang satu ini perlu penelaahan khusus, paradoks itu muncul karena ada perasaan mendua (ambivalensi) serta keraguan itu sendiri.

 "Memulai atau menunggu? apakah bermakna jika melakukan pengorbanan yang lebih, seperti terus berlari  untuk sesuatu yang ia sendiri naik mobil."

"Pastikan sesuatu yang  dikejar itu memang benar ingin dikejar, akan tidak bermakna dan tidak penting juga jika memaksakan diri."

"Sesuatu itu memang benar ingin dikejar, dan memang harus dikejar. Jika dianalogikan dengan berlari mengejar sesuatu yang ada di dalam mobil, maka begini, penumpang yang ada di dalam mobil itu beberapa kali keluar memberikan minum dan juga memberikan semangat supaya si pelari tetap kuat untuk melakukannya. Tapi namanya juga lari kadang ngos-ngosan, kadang mau berhenti, dan banyak godaan di jalan, ada yang mengajak ke pinggir, ada yang mengejek dan ada juga yang menyoraki sebagai tidak tahu diri. Tapi tidak sedikit juga yag terus menyemangati."

Diskusi ini menjadi panjang barangkali, tapi memang harus ada kesimpulan dari topik absurd yang sudah kami mulai. Seperti biasa, bagi saya persahabatan bukan masalah sebutan, persahabatan adalah soal makna dan seberapa kami bisa saling berbagi tentang berbagai hal yang bermanfaat. Jadi menurut saya picik sekali jika seseorang membatasi sebuah hubungan hanya dengan sebutan nama. Saya berprinsip, siapa pun yang saya kenal maka dia harus mendapatkan hal positif dari saya dan juga sebaliknya. Bukan masalah take and give, tapi give more and God will do His task

Lalu sahabat saya menjawab, setelah beberapa saat terdiam. Mungkin ia berpikir kata-kata apa yang paling tepat untuk bisa disampaikan kepada saya yang bawelnya luar biasa ketika ingin mengetahui sesuatu. Meskipun dalam hal ini, saya juga punya versi jawaban sendiri, tetapi saya berusaha untuk bisa obyektif dengan diri saya sendiri. Sebab beda kepala, beda cerita.

"Terkadang, sesuatu akan senang jika mengejar/dikejar. Tapi setelah terkejar justru merasa bingung dan aneh. Akhirnya yang dilakukan adalah menjauh untuk dikejar lagi. Pertama yang harus dilakukan adalah mengukur seberapa kuat dan sabar kamu mengejar, jika dua hal tersebut tidak bisa kamu penuhi, sebaiknya jangan dipaksakan. Kedua, pastikan bahwa ia akan membawamu untuk ikut naik ke dalam mobil, tidak selamanya kamu akan berlari. Ketiga, jika poin pertama dan kedua sudah kamu pastikan maka terus semangat untuk berlari dan mengejar, usaha keras pasti akan dibalas setidaknya oleh Tuhan."

Saya mafhum. Lalu obrolan kami berhenti sejenak. Saya tidak mengumpan pertanyaan apa pun, hanya berpikir bagaimana mengetahui bahwa sesuatu itu pasti atau tidak pasti. Tuhan Maha Tahu tentang kepastian itu. Sore itu menjadi sore introspeksi, sedikit obrolan yang membuka mata, bahwa seberapa pun besar keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu sesungguhnya ada tangan yang Maha Menggenggam apa yang kita inginkan itu.

"Saya ingin belajar menyerah" kata saya dalam hati, tapi buru-buru saya hapus pemikiran itu. Lalu saya mengirimkan pesan ke sahabat saya, ucapan terimakasih atas obrolan ringan yang barangkali absurd tetapi bermakna hingga bisa saya tuliskan. Optimisme itu baik, optimis yang baik bukanlah over confident.

"Jangan menyerah, melanjutkan berlari atau tidak itu adalah pilihan" kata sahabat saya. Saya tahu kenapa bisa nyambung setiap kali kami berbicara, frekuensi kami sama.

"Tidak akan menyerah, sebab satu-satunya yang menguatkan kita adalah keyakinan" balas saya. Ya, saya lebih percaya diri dan yakin ke depannya, berhasl atau tidak itu soal bonus, hal yang terpenting mengenai apa yang kita jalani adalah prosesnya.

Saya hapus pikiran saya tentang belajar menyerah, tidak ada kata menyerah untuk sesuatu yang bisa diusahakan. Mengukur batas kemampuan bukan berarti menyerah, sebab terus melanjutkan dengan tidak berlari itu juga bagian dari usaha, itu bukan menyerahkan diri pada keadaan. Menyerah berarti tidak percaya pada kemampuan Tuhan yang Maha Bisa.

Setiap orang harus dewasa, bukan growing older tetapi growing up. Saya mengerti, mungkin ada banyak yang tidak setuju dengan konsep 'jangan menyerah' versi saya, apa yang saya katakan bahwa berhenti itu bukan menyerah tetapi suatu pilihan juga bisa saja menuai protes. Tapi hidup penuh dengan teka-teki, kadang kita perlu sangat percaya diri bahwa kita memiliki sesuatu, tetapi di satu sisi kita juga harus menyisihkan ruang untuk menerima bahwa sesungguhnya kita tidak pernah memiliki apa-apa. Menjadi diri sendiri, jangan pernah memberika judgment kepada orang lain kemudian merasa mampu membentuk orang itu sesuai keinginan kita. Dalam status seperti apa pun, keluarga, pacar, sahabat, atau sekedar kolega.

Jangan menyerah.

Ketika segala sesuatunya masih samar, tugas pribadi kita lah untuk memperjelas dan mempertegas. Tidak pernah ada jalan mulus untuk sesuatu yang worth it bagi hidup kita. Stay positive, tomorrow will be amazing.

Salam,
Cibanteng-Bogor, 18 Oktober 2013 17:56



Rabu, 09 Oktober 2013

Representasi Sosial: Parawali


Bendera Parawali
Semalam saya bertemu dengan sahabat saya dan membicarakan hal-hal sederhana yang seringkali mungkin dianggap tidak bermakna untuk sebagian orang. Salah satu hal yang kami bicarakan adalah Parawali. Apa itu Parawali? Itu adalah fans grup band Wali. Mengapa sampai pembahasan obrolan kami mengarah ke topik itu, kami juga tidak menyadari sebabnya. Yang jelas, kami tiba-tiba langsung tertawa ketika dari tempat makan yang kami singgahi terdengar lagu Nenekku Pahlawanku, lagu yang digadang-gadang Wali dalam album mereka yang paling baru (saya tidak mengikuti perkembangannya, tetapi kalau diminta menyanyi saya hapal liriknya). Kemudian sahabat saya mengatakan, "Tuh idola lu nyanyi, apa nama fans-nya?" 

"Parawali" kemudian kami sama-sama tertawa.

Apa yang mendasari mengapa kami tertawa? Ya, dalam istilah psikologinya kami memiliki pengetahuan akan makna yang sama terhadap lagu wali (representasi sosial) yang menjadikan kami 'nyambung' ketika baru saja mengucapkan istilah Parawali. Representasi sosial ini diperkenalkan pertama kali oleh Sergei Moscovici pada tahun 1961 dengan bertolak dari konsep representasi kolektif Emile Durkheim. Bahasa sederhananya, representasi sosial ini adalah hasil dari interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok yang menyebabkan munculnya pengetahuan yang sama akan makna dari objek, ide, atau peristiwa tertentu. Intinya, representasi sosial itu produk dari interaksi dan komunikasi. 

Kembali ke pembahasan Parawali, mengapa saya yang bukan fans Wali dan sahabat saya yang juga bukan fans Wali memiliki skema dan pengetahuan yang relatif sama terhadap grup Wali? Jawabannya simpel, kami terbiasa untuk menolak lagu-lagu Wali yang sebenarnya sangat easy listening, liriknya sederhana dan mudah dicerna akal. Umumnya manusia, semakin berusaha menolak sesuatu justru akan semakin mengingatnya-dalam hal apapun. Musik wali itu menurut saya sangat merakyat, dari orang tua sampai anak-anak bisa mendengarkannya, jadi jangan heran kalau saya juga hapal beberapa lagunya meskipun saya bukan Parawali sejati. Saya dan sahabat saya punya representasi sosial yang sama mengenai Wali-meskipun kami tidak mau disebut Parawali.

Saya menuliskan ini karena kebetulan habis belajar teori representasi sosial dan kebetulan obrolan kami semalam bisa menambah pengetahuan saya tentang teori tersebut. Belajar dengan memberikan contoh dari apa yang kita alami sendiri akan jauh lebih mudah untuk diingat dibandingkan bersusah payah mencari contoh yang keren tapi mudah dilupakan. 

Tabik.